<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135</id><updated>2012-02-16T22:19:54.831+07:00</updated><category term='1977'/><category term='1976'/><category term='Seleksi Asrama'/><category term='Hogwarts'/><category term='Danau'/><category term='Ruang Bawah Tanah'/><category term='Diagon Alley'/><category term='visualisasi'/><category term='Pesta Awal Tahun'/><category term='Here'/><category term='Halloween'/><category term='1978'/><category term='family'/><category term='Disturbed Sanctuary'/><category term='All Alone'/><category term='surat'/><category term='Aula Besar'/><category term='Leaky Cauldron'/><category term='1974'/><category term='Latihan Dansa'/><category term='Dedalu Perkasa'/><category term='You&apos;re Still The One'/><category term='profile'/><category term='OOC'/><title type='text'>Ténèbres Aile: Étage de Noir Étoile</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-1148932892314022507</id><published>2009-04-05T12:49:00.001+07:00</published><updated>2009-04-05T12:53:57.076+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Here'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Bawah Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1978'/><title type='text'>Here #2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Amarah tak akan membawa manusia kemanapun. Seperti gelombang tsunami besar yang datang bergulung-gulung tanpa diundang, menyapu habis pantai dan peradaban manusia, dan pergi sama cepatnya dengan menyisakan kerusakan besar dan penderitaan. So anger is. Dia datang begitu mendadak, membutakan mata manusia, dan pergi sama mendadaknya dengan hanya menyisakan kerusakan yang terkadang sulit untuk diperbaiki. Dan penyesalan. Penyesalan tak tampak, yang akan lebih sulit untuk diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persisnya itulah yang terjadi pada diri pemuda pirang jangkung berusia lima belas tahun ini. Sorot mata hijaunya yang keruh dan membara karena amarah, perlahan melunak saat sosok seorang gadis muda seusianya yang berurai air mata tertangkap oleh daerah pandangan matanya. Janette menangis. Bahkan saat gadis itu berkata dia tak apa, bahasa tubuhnya mengatakan hal yang bertolak belakang. Rigel sudah menakutinya, mungkin? Pemuda itu sudah berlagak seperti seekor kucing betina sombong yang terinjak ekornya dan mencakar membabi buta. &lt;em&gt;Sempurna.  Aku menghancurkan harga diriku sendiri di depan Jane,&lt;/em&gt; pikir pemuda itu pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarah yang tadi begitu membara menghilang begitu saja, tanpa meninggalkan bekas apapun kecuali penyesalan. Seseorang dalam dirinya yang tadi begitu semangat memakinya bodoh dan memompa sejumlah besar tenaga pada otot-ototnya sehingga dia berlari tanpa dia sadari saat melihat Kane Dietrich Pavarell —bolehkah dia tambahkan kata 'brengsek' di sini?— menyentuh bibir Janette dan melayangkan tinjunya tanpa henti, kini menguap seperti vampir terkena matahari San Francisco. Oke. Bukan berarti Pavarell tidak berhak mendapatkan hukuman. Tapi kan dia bisa menggunakan cara lain, bukannya cara kasar seperti kuli pelabuhan? Menggunakan Cruciatus, misalnya. Atau meng-Imperio pemuda Asia itu untuk menjatuhkan dirinya sendiri dari menara Astronomi. Atau apapun yang tidak mengharuskannya mengotori tangannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;And her tears made him being more miserable.&lt;/em&gt; Melihat butiran bening itu berjatuhan tanpa henti dan suara terpatah-patah gadis itu karena masih terisak, amarah Rigel kembali menggelegak —dan merasa menyesal sekaligus amat sangat bodoh di saat yang sama. Kepalan tangannya bergemeretak, berusaha menekan amarah yang mungkin akan membuatnya melakukan entah-apa yang lebih merusak. Dan untunglah Pavarell brengsek itu sudah menghilang dari hadapan mereka dengan ekor terkulai di antara kedua kakinya. Emosi Rigel pada pemuda itu sudah mencapai taraf yang bisa membuat Rigel mendatangkan seekor Naga Ekor-Berduri dewasa, dan mengumpankan Pavarell. Ibu jari Rigel dengan lembut menghapus butiran bening itu dari pipi Janette. Lembut. Mengingatkan Rigel akan marshmallow yang selalu dipanggangnya di perapian Palais du Noir saat musim dingin di masa kanak-kanaknya. Menyadari Janette tidak keberatan ketika Rigel merangkulnya, dia merasa lega. Dibimbingnya gadis itu melewati lubang dinding pintu masuk asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Rigel, kau seharusnya tidak memukul Pavarell."&lt;/span&gt; Pemuda itu menyeringai miris.  &lt;em&gt;Jane, tahukah kau kalau ucapanmu itu malah menambah berat penyesalanku?&lt;/em&gt; Dan Rigel hanya bisa membisu. Merasakan dingin tubuh Janette yang bersandar padanya. "Badanmu dingin sekali. Sini, duduk dekat perapian," katanya, dan membawa gadis itu duduk di sofa depan perapian. Iya. Dia sadar kalau kata-katanya itu bukanlah jawaban atau sanggahan atas perkataan Janette. Malah, terdengar lebih seperti mengalihkan topik pembicaraan. Entahlah. Rigel sendiri tak tahu harus berkata apa. Membela diri? Memaki Pavarell? &lt;em&gt;Hell.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pecundang.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, akuilah Rigel, kau hanyalah seonggok pecundang yang bergerak tanpa berpikir terlebih dulu. Pecundang yang berlagak seperti seorang pangeran gagah berkuda putih yang menghunuskan pedangnya demi menyelamatkan sang Puteri, tapi ternyata hanyalah onggokan pecundang tak berotak. Dan kau masih belum juga sadar kenapa Rigel bisa menyesal seperti ini? Satu: Janette bukanlah gadis&lt;em&gt;nya.&lt;/em&gt;  Terlebih lagi, dia bukan milik siapa-siapa.  Dia &lt;em&gt;bebas.&lt;/em&gt;  Jadi siapa dia, berhak memukuli pria lain yang menyentuh kedua bibir ranum itu? &lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;em&gt;Apa matamu buta? Tidakkah kau lihat Pavarell mabuk berat sampai tidak sadar siapa yang diciumnya? Aku tak bisa membiarkan Janette dicium orang semacam itu!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; Yeah.  Tetap saja, Rigel bukanlah siapa-siapa.  Hanya seseorang yang kebetulan dekat dengan Janette. &lt;br /&gt;Dua: Suka tidak suka Kane Dietrich Pavarell adalah seniornya.  &lt;em&gt;AbdiNya,&lt;/em&gt; yang meskipun bertentangan dengan nurani remaja tanggung itu karena Pavarell brengsek dan selalu memasang ekspresi apa-kau-lihat-lihat-kucolok-matamu itu, dia adalah abdiNya. Abdi Sang Pangeran Kegelapan nan agung. Abdi seseorang yang dipujanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiga: Demi Dewa Neptunus sang Penguasa Lautan, tolong kirimkan ombakmu yang terbesar untuk membersihkan kerak yang menutupi otak Rigel, agar dia ingat kalau dia adalah &lt;em&gt;Prefek.&lt;/em&gt; Terlebih, ini malam pertamanya menjalankan tugas resmi sebagai Prefek. Dan dia sudah menghancurkannya, dengan bertindak gegabah dan berlagak seperti tukang pukul bayaran. Sempurna. Dia tak akan heran kalau besok pagi Dumbledore memanggilnya ke kantornya, dan mencopot lencana Prefeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embusan napas panjang keluar dari hidung pemuda itu. Berat. Tangannya membelai rambut halus Janette, berusaha mengulur waktu untuk menjawab. "Maaf," bisiknya parau. Dan kenapa malah kata itu yang keluar? "Gelap mata, yeah. Aku emosi dan sakit hati melihat dia mencium paksa dirimu, dan detik berikutnya aku bahkan tak sadar apa yang kulakukan," penyangkalan? Mungkin. Entahlah. Rigel meletakkan dagunya di puncak kepala Janette, dan mereguk aroma khas gadis itu, membiarkannya merasuk melalui kedua hidungnya, dan menenangkan otot-ototnya yang tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tahukah kau, Jane, kalau aku sakit hati melihatnya menciummu? He beats me. Dia mencurimu dariku. Dia mencuri dirimu yang sangat berharga untukku.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel mengangkat kepalanya, menatap kedua bola mata sembab Janette. Berusaha menghiraukan rasa pedihnya setiap kali melihat kedua mata itu sembab. "Kau marah?"&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/448098/1/"&gt;Here&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, Ruang Bawah Tanah, 1978.  Post ke-2.  Timeline setelah Pesta Awal Tahun Ajaran 1978/1979.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Interaksi dengan Kane Dietrich Pavarell, Shaula Khan, dan Janette Blizzard.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-1148932892314022507?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/1148932892314022507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=1148932892314022507&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/1148932892314022507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/1148932892314022507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/here-2.html' title='Here #2'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-3923520141473203071</id><published>2009-04-05T12:46:00.002+07:00</published><updated>2009-04-05T12:49:47.880+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Here'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Bawah Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1978'/><title type='text'>Here #1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahu sesuatu yang disebut insting? Atau firasat, atau naluri, semua itu sama saja. Well, dia tinggal bertahun-tahun dengan tiga orang wanita yang selalu meributkan mengenai sesuatu yang mereka sebut sebagai 'insting wanita', jadi jangan salahkan Rigel kalau lama kelamaan dia sedikit banyak memperhatikan firasatnya. Terutama kalau dia merasakan sesuatu yang buruk akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam ini perasaan itu menghinggapinya begitu tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja dia bisa, Rigel ingin menyerahkan tugas mengantar anak-anak kelas satu ini ke asrama pada Prefek lain dan bergelung di dalam selimutnya, mencoba menyingkirkan perasaan tidak enak yang menyapanya tiba-tiba. Slytherin punya &lt;em&gt;empat&lt;/em&gt; Prefek, dan, well, meski berat mengakuinya, satu Ketua Murid, jadi, kenapa harus &lt;em&gt;dia&lt;/em&gt; dan Goscinny yang membawa barisan bocah-bocah ini seperti guru Taman Kanak-Kanak? Sekalian saja beri dia maraccas, dan suruh dia menyanyikan lagu anak-anak. But—yeah, dia memerlukan lencana itu tetap berada di tangannya, jadi dia tak bisa melempar tugasnya begitu saja. &lt;em&gt;Mon Dieu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekor matanya menangkap sosok Janette yang juga ikut rombongan mereka keluar Aula Besar. Timah yang menggelayuti perutnya seketika bertambah berat dan menggelegak. Taruhan seratus Galleon, ini ada apa-apanya dengan Pavarell. Seseorang dalam tubuhnya meneriakkan kata-kata perintah untuk tetap di luar dan menemani gadis itu saat Janette menelengkan kepalanya, menyapa Rigel yang berdiri di depan tembok batu berlumut kehijauan —pintu masuk Asrama Slytherin, kalau kau belum tahu— sebelum pemuda jangkung itu membisikkan kata kuncinya. Ragu. Jelas-jelas seluruh anggota tubuhnya, bahkan pikirannya, meneriakkan satu perintah yang sama: Ajak Janette masuk. Atau temani dia, kalau gadis itu berkeras untuk tetap menemui Pavarell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kenyataan tak mengizinkan semua keinginan manusia terwujud. Melawan nalurinya, Rigel menyunggingkan senyum perpisahan pada Janette. Mengikuti anak-anak kelas satu masuk, dan menerangkan pada mereka di mana kamar mereka—serta membacakan peraturan dalam asrama. Persis seperti lima tahun lalu: hanya saja, kali ini Rigel yang memberikan instruksi. Dan —demi sesuatu yang disebut 'menghargai privasi orang lain'— Rigel memilih mengawasi Janette dari ambang pintu asrama. Melawan seseorang dari dalam dirinya yang terus menerus memaki-nya &lt;em&gt;stupide&lt;/em&gt; karena tidak menarik Janette masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All hail Lucifer the King of the Devil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kalau kau merebus Rigel di dasar neraka terdalam, rasa bersalah itu tak bisa hilang.  Karena, &lt;em&gt;guess what?&lt;/em&gt; He probably had done the biggest mistake in his life.  &lt;em&gt;Rien! Sial! Sial! SIAL! Bodoh!&lt;/em&gt; "Jane!" seru Rigel begitu keluar dari Asrama. Seseorang dalam dirinya kini mengalirkan kekuatan yang cukup besar pada kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"YOU!" umpat Rigel—kedua tangannya menarik kerah kemeja idiot pemabuk itu.&lt;br /&gt;"FILTHY—!" satu pukulan.&lt;br /&gt;"—IDIOT—!" itu dua.&lt;br /&gt;"—PATHETIC—!" itu tiga.&lt;br /&gt;"—DRUNKER!!" empat.  Empat tinjunya melayang sekuat tenaga, satu-satu seiring kata-katanya ke wajah &lt;em&gt;tampan&lt;/em&gt; Pavarell.  Haruskah dia tambahkan, hidung itu tak akan lurus lagi setelah beberapa pukulan darinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelumnya aku menaruh sedikit hormat padamu, terlebih karena kau adalah abdi-Nya. Ternyata aku salah, eh?" desis Rigel rajam, suaranya sarat dengan amarah yang membara di matanya. Tak pernah dia berbicara sekejam ini pada seorang Pureblood. "Sampah. Pengecut menyedihkan yang lari pada minuman keras karena kehilangan kekuasaan," Rigel menggertakkan giginya. Seolah belum puas, tinjunya kembali melayang. Lima. "Sudah sadar dari mabukmu, sekarang? HAH?!" Enam. "Sampah! Sekotor Muggle! Kau layak dihancurkan dengan cara Muggle!" Tujuh. Total tujuh tinju sarat dengan kekuatan seorang pemuda murka mendarat di wajah dan ulu hati anak Asia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah jijik dengan kata-katanya sendiri, Rigel melepaskan cengkeramannya di kerah baju Pavarell, dan mendorongnya keras, membuat pemuda Asia itu jatuh tersungkur. Tepat di kaki seorang gadis yang baru Rigel sadari keberadaannya di sana kira-kira lima detik yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang kau sadar kalau pacar kecilmu ini tidak sesuci kelihatannya, Miss Khan?" ujarnya kasar. "Kalian berdua punya banyak hal untuk dibicarakan, tampaknya," kesinisan semakin terasa di setiap kata-katanya. Rigel berbalik. Dia sudah muak bahkan hanya melihat wajah menyedihkan Pavarell. Sosok Janette terlihat rapuh di hadapannya dengan air mata membasahi seluruh wajahnya. Dipikir-pikir lagi, baru kali ini Rigel melihat gadis itu menangis. Sial. Pemikiran itu malah menambah rasa bersalahnya, membuatnya semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tak apa, Jane?" tanya Rigel penuh kecemasan. Perlahan, disentuhnya kedua bahu gadis itu yang terpaku bersandar ke dinding. &lt;em&gt;Merlin, hukum aku yang membiarkannya berduaan dengan setan pemabuk itu,&lt;/em&gt; batinnya miris. "Kita masuk sekarang, ya?" tawarnya, masih dengan suara penuh kelembutan. Perlahan, seolah memperlakukan porselen mahal dari Cina, Rigel merengkuh tubuh gadis itu. Berharap bisa melakukan sesuatu untuk menebus rasa bersalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan aku. Tidak seharusnya kutinggalkan kau berduaan dengan bajingan pemabuk itu," sesalnya. Penyesalan yang tak akan bisa hilang.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/448098/1/"&gt;Here&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, Ruang Bawah Tanah, 1978.  Post ke-1.  Timeline setelah Pesta Awal Tahun Ajaran 1978/1979.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan Kane Dietrich Pavarell, Shaula Khan, dan Janette Blizzard.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-3923520141473203071?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/3923520141473203071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=3923520141473203071&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/3923520141473203071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/3923520141473203071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/here-1.html' title='Here #1'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-3720825825330055458</id><published>2009-04-04T19:10:00.006+07:00</published><updated>2009-04-04T19:47:59.908+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='visualisasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OOC'/><title type='text'>Parade Signature</title><content type='html'>Giliran gw yang ngepost sekarang, fufufu.  Cuma pingin majang beberapa signature &lt;s&gt;abalan&lt;/s&gt; keluarga du Noir yang sesiangan tadi gw bikin &lt;s&gt;dan mengakibatkan laptop ngehang, seperti biasa, karena HD gw kepenuhan&lt;/s&gt; .  Belom semua, sih.  Beberapa masih gw cari pic rendernya.  Here we go, siggy abalan bikinan gw sang amatir inih :-&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Xavier Thibault du Noir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPqpAfLFI/AAAAAAAAAHs/xrFQglORQ_s/s1600-h/xavier.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPqpAfLFI/AAAAAAAAAHs/xrFQglORQ_s/s400/xavier.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320809078742527058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bokapnya Rigel, visualisasi John Malkovich.  Pic aslinya close up, kecil pula.  Bikin gw bingung diapain, akhirnya di-duplicate ajalah, teknik paling abal, huakakak.  Tambah texture dan di-duplicate 2x, bagian selain latar di-blur biar mukanya &lt;s&gt;mulus tanpa noda&lt;/s&gt; keliatan jelas.  Font-nya.... aduh gw keknya bener-bener kudu nyari font handwriting yang oke -.-a&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Eléonore Margaux Grimaldi du Noir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPMIjIYiI/AAAAAAAAAHU/u1Wmy_b5r90/s1600-h/eleonore.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPMIjIYiI/AAAAAAAAAHU/u1Wmy_b5r90/s400/eleonore.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320808554633388578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nyokapnya Rigel, visualisasi Miranda Otto.  Ini juga, kebanyakan pic-nya close up dengan ukuran dibawah 500 px.  Jujur gw bingung ngakalin yang pic-nya segede gituan doang, bruakakakak.  Maklum masih amatir :3.  Yang ini BG-nya kosong banget, dan gw kaga ada texture yang cocok buat BG-nya itu.  Begitu pula sama texture bokeh-nya, keknya kaga cocok dah :-? Aneh sumpah, padahal koleksi texture gw ada banyak, termasuk lighting.  Tapi pas dimasukin ke siggy-nya.... erh.  Kaga ada yang cocok =___=" Quote-nya &lt;s&gt;yang juga sukses bikin gw kicer nyariin quote yang pas&lt;/s&gt; diambil dari lagunya Within Temptation, Our Promise.  &lt;s&gt;SUBHANALLAH YA TUHAAAAANNN INI BAND GILA KEREN MANGSTAB AJIB MAMPUSSSS!!!!!!!!!!!!!! LO SEMUA KUDU DENGERIN!!! POKOKNYA KUDU DENGERIIIINN!!!&lt;/s&gt; Ehm.  Maaf, sisi liar gw mulai memberontak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Callista Dorian Grimaldi du Noir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPLyzWeUI/AAAAAAAAAHE/5xpwWu8zkgU/s1600-h/callista.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPLyzWeUI/AAAAAAAAAHE/5xpwWu8zkgU/s400/callista.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320808548795840834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kakak pertama Rigel, visualisasi Kate Bosworth.  Keknya gw salah pilih pic deh ==a Pic aslinya emang burem dan berbintik-bintik, tapi rambutnya lagi bergelombang dan panjang, cocok buat image-nya Callista.  Sukses bikin gw DB berat juga &lt;s&gt;kapan juga sih gw kaga DB?&lt;/s&gt; Ancur lah pokoknya yang inih ==a Kapan-kapan gw ganti lagi dah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Coraline Ronja du Noir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPMJtrc0I/AAAAAAAAAHM/hK7KuN4w8UU/s1600-h/coraline.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPMJtrc0I/AAAAAAAAAHM/hK7KuN4w8UU/s400/coraline.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320808554946065218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Chara tambahan yang sebelumnya kaga direncanain, ide mendadak dari Bagas.  Dia sepupunya Rigel dari pihak ayah, anak dari Jean-Baptiste, adiknya Xavier.  Nama Coraline gw yang ngasih, gw lagi suka nama itu :3 Kalo jadi, nih chara dimasukin term depan.  Visualisasi Taylor Swift &lt;s&gt;udah ada yang pake belon sih di IH?&lt;/s&gt; Siggy yang ini yang paling gampang dan gw kaga DB saat bikinnya.  Kasih 1 texture parchment sama 1 texture yang dipake di kedua siggy sebelumnya, trus tambah text.  Kendalanya, lagi-lagi, di font sama texture bokeh ==a ARH..... kok susah amat yak nyari font sama texture yang cocok? Huhuhuhu *pundung di pojokan*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Rigel Deveraux Grimaldi du Noir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPMIMq0cI/AAAAAAAAAHc/HCOzG02amFw/s1600-h/rigel+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPMIMq0cI/AAAAAAAAAHc/HCOzG02amFw/s400/rigel+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320808554539176386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;s&gt;Sang oknum&lt;/s&gt; Rigel, visualisasi Ed SPeleers &lt;s&gt;keknya udah pada tau semua dah yah? Bruakakak&lt;/s&gt; Ini siggy gw bikin beberapa hari lalu.  Cacat abis, yeah.  Sekali liat juga ketauan ==* Ijo-nya terlalu pekat, dan lagi-lagi, texture bokeh-nya kaga ada yang cocok.  Sigh.  Padahal gw demen banget sama pic yang ini.  Quote-nya dari lagu The Click Five, Addicted to Me.  Cocok lah buat Rigel xD&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Celeste Rosaline Freull du Noir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPMQTBGsI/AAAAAAAAAHk/YlLAC2FUCjA/s1600-h/celestebloody.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPMQTBGsI/AAAAAAAAAHk/YlLAC2FUCjA/s400/celestebloody.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320808556713286338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;s&gt;MAI BEIBEEEEEEEHHHH!!!!!!!!! *peluk-peluk*&lt;/s&gt; Ehm.  Chara pertama paling pertama-pertamanya gw di dunia RPG, visualisasi Amy Lee.  Iyeh, tau, tua.  Bahkan lebih tua dari Ed Speleers yang merupakan visualisasi ayahnya, muakakakak.  Tapi gw demen sih sama Amy Lee.  Gothic, trus selalu pake gaun.  Bener-bener pas sama image Celeste di kepala gw.  &lt;s&gt;Well, sebenernya lama setelah gw maenin Celeste, gw baru tau ada artis J-Rock yang namanya Olivia Lufkin, dan lebih cocok sama image-nya Celeste.  Blasteran Jepang, pula.  Tapi sudahlah... terlanjur satu image sama Amy Lee sih xD&lt;/s&gt; Siggy yang ini siggy yang paling gw suka, kesannya dark-dark gimanaaaa.... gituh.  Dibikinin sama Manda, dalam rangka masa-masa gelap-nya Celeste *prikitiw* saat di Hogsid dulu.  Sayang belon sempet dipajang.  Hiks.  Gw pajang di sini aja dah.  Tengs yah Mand :-*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lainnya, nyusul =)) Clémence belon gw bikin, susah nyari pic Diane Kruger dan Yukie Nakama yang posenya rada normal dikit dan pake baju =__=*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-3720825825330055458?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/3720825825330055458/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=3720825825330055458&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/3720825825330055458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/3720825825330055458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/parade-signature.html' title='Parade Signature'/><author><name>Mikan Kaoru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00138727090746850379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos-222.friendster.com/e1/photos/22/28/30908222/658987698l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddPqpAfLFI/AAAAAAAAAHs/xrFQglORQ_s/s72-c/xavier.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-7242414309730276767</id><published>2009-04-03T18:24:00.002+07:00</published><updated>2009-04-03T18:29:36.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1977'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dedalu Perkasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halloween'/><title type='text'>Halloween Party #5</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rigel terus berjalan dan berjalan, matanya menatap lurus ke depan, tanpa melirik sedikitpun pada McFadden yang berjalan beriringan di sampingnya, meski tangannya masih menggenggam tangan kanan McFadden. See? Di mana lagi kau bisa menemukan pria yang begitu pengertian seperti Rigel? Dia tahu kalau McFadden masih terkejut dengan ciuman itu—kau bisa melihatnya dari ekspresi gadis itu yang seperti habis ditampar setelah ciuman itu berakhir—dan perlu waktu untuk menenangkan dirinya. Oh, Rigel juga tidak melupakan kalau McFadden &lt;em&gt;membalas&lt;/em&gt; ciumannya dengan sama bergairahnya. Rigel tak melupakan pipi McFadden yang bersemu merah meski berekspresi seperti ingin menampar dirinya. Kesimpulannya: McFadden juga &lt;em&gt;menyukai&lt;/em&gt; ciuman itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Noir, about that dance,"&lt;/span&gt; Kata-kata pertama yang keluar dari bibir gadis itu setelah mereka berciuman. Rigel akhirnya menoleh, mendapati kalau McFadden sudah meletakkan tangannya di atas pundak Rigel. Alisnya terangkat sebelah. &lt;em&gt;Yakin ingin berdansa di sini, eh?&lt;/em&gt; Rigel tak keberatan, jelas. Meski dia lebih menyukai berdansa berdua saja di Ruang Rekreasi atau-Kamar Kebutuhan, mungkin? Siapa tahu dia bisa mendapatkan &lt;em&gt;ciuman kedua.&lt;/em&gt; Rigel berayun mengikuti gerakan tubuh McFadden, musik yang sama sekali bukan musik waltz mengiringi dansa mereka. Sama sekali bukan masalah. Dengan cepat mereka berua bisa menyesuaikan rima dan tempo dengan musik yang dipersembahkan Klub Musik. Hm. Satu lagi kelebihan McFadden dibanding gadis-gadis lainnya. Gadis ini &lt;em&gt;pintar berdansa&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Monsieur Noir. That kiss—you will not do it again,"&lt;/span&gt; Sebentuk senyuman tersungging di wajah Rigel.  "A-hah, atau apa, Mademoiselle?" tantangnya.  &lt;span style="color: gray;"&gt;Or I'll make sure you will never see the sunrise again,"&lt;/span&gt; Tolong jangan buat Rigel tertawa terbahak-bahak. Dia berbisik lirih ditelinga gadis itu, "Koreksi aku kalau aku salah, Mademoiselle, tapi—&lt;em&gt;kau menyukainya&lt;/em&gt;—I can see that.  Untuk apa mengekang dirimu sendiri kalau kau &lt;em&gt;menginginkannya?&lt;/em&gt;" Rigel membalas ucapan gadis itu telak.  &lt;em&gt;Plaisez,&lt;/em&gt; dia Rigel du Noir.  Kalah dari seorang perempuan tak ada dalam kamus seorang Rigel du Noir.  "Kau akan menginginkannya &lt;em&gt;lagi.&lt;/em&gt;  Saat itu tiba, kau akan datang sendiri padaku," tambahnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Akhirnya kita berdansa juga di pesta Halloween, Monsieur Noir,"&lt;/span&gt; senyuman manis mengiringi kata-katanya, membuat sebuah senyum di wajah Rigel merekah pelan. Kau tahu? Pergi bersama seorang senior ternyata bukanlah sebuah ide buruk. Malah, mungkin, bisa dibilang &lt;em&gt;hampir sempurna.&lt;/em&gt; Ingatkan dia untuk memasukkan nama McFadden dalam daftar siapa-gadis-yang-harus-dia-ajak-untuk-jadi-pasangan kalau nanti sebuah pesta lain dilangsungkan. "Sebuah kehormatan bagiku bisa berdansa denganmu, Mademoiselle," jawab Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;em&gt;This is Halloween, this is Halloween&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;em&gt;Halloween! Halloween! Halloween! Halloween!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;em&gt;Halloween! Halloween!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah.  Ini Halloween.  Halloween seorang &lt;em&gt;du Noir.&lt;/em&gt;  Dia bersenang-senang dengan cara&lt;em&gt;nya&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya hanya &lt;em&gt;du Noir&lt;/em&gt; yang bisa merubah Halloween menjadi ajang Pesta Dansa.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/447782/12/"&gt;Halloween Party&lt;/a&gt;, Dedalu Perkasa, 1977.  Post ke-4.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Interaksi dengan yang disebutkan di atas.  Song Credits: This Is Halloween.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-7242414309730276767?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/7242414309730276767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=7242414309730276767&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/7242414309730276767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/7242414309730276767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/halloween-party-5.html' title='Halloween Party #5'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-915151558440320286</id><published>2009-04-03T18:21:00.000+07:00</published><updated>2009-04-03T18:24:31.926+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1977'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dedalu Perkasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halloween'/><title type='text'>Halloween Party #4</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Pertanyaan apa yang tidak akan pernah bisa kalian jawab iya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel terpekur memikirkannya. Well, untuk saat ini sebenarnya banyak hal yang tidak ingin dia jawab iya. Misalnya, bila dia ditanya apakah dia ingin tinggal di Rumah Hantu ini selamanya. Atau apakah dia bersedia berciuman dengan hantu pria berewokan itu di bawah &lt;em&gt;mistletoe&lt;/em&gt;.  Ew.  Memikirkannya saja Rigel sudah ingin muntah.  Masih ada sejuta orang lain yang lebih baik untuk dicium di bawah &lt;em&gt;mistletoe&lt;/em&gt; selain pria tua pucat berewokan dengan bau menusuk dan... &lt;em&gt;er, apa itu dagingnya yang mengelupas di wajahnya? Yucks.&lt;/em&gt;  McFadden, misalnya.  &lt;em&gt;Speaking of that—&lt;/em&gt; Rigel mencuri pandang penuh arti pada gadis di sebelahnya itu.  Sebuah seringai samar tak kentara terbentuk di wajahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Pertanyaan apa yang tidak akan pernah bisa kalian jawab iya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok, tok. Hello, Monsieur Rigel. Sebaiknya segera kembalikan pikiranmu ke alam nyata saat ini juga, karena apa? Karena kau sedang terjebak dengan indahnya di dalam sebuah ruangan aneh penuh ramuan yang pasti tak kalah anehnya bersama sesosok pria tua sinting yang dia masih belum yakin apakah itu hantu, poltergeist, mayat hidup, atau manusia. Bahkan McFadden pun setuju dan berkomentar tentang kalau orang itu gila, dan berdiri semakin rapat dengannya. Rigel mengerdipkan matanya pelan, dan kembali memikirkan pertanyaan pria tua itu. Ekor matanya menangkap sebentuk tengkorak di tangan si pria tua, dan—ergh. Mereka &lt;em&gt;saling berbisik.&lt;/em&gt;  Rigel memutar bola matanya.  Rasanya seperti melihat dua orang gadis tukang gosip sedang berbisik-bisik berbagi gosip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua partnernya tak memberikan bantuan berarti dalam menjawab pertanyaan ini. Rigel mendengus kesal. Okelah, dia maklum kalau McFadden terdiam, mungkin saking ketakutannya gadis itu tak bisa berpikir apa-apa selain berkomentar kalau orang itu sudah gila. Tapi &lt;em&gt;Reiflein?&lt;/em&gt; Oh, please. Kalau pemuda itu juga tak berbicara karena membeku saking ketakutannya, Rigel punya bahan tertawaan bagus untuk seluruh Slytherin sampai Chaser itu lulus dari Hogwarts. "Bantu berpikir apa jawaban yang dia minta, bisa kan? Kecuali kalau kalian ingin tinggal di sini selamanya," akhirnya kata-kata itu terucap dari mulut Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara panjang bel terdengar bergema di seluruh ruangan.  Mau tak mau Rigel terkejut.  &lt;em&gt;Geez.  Apa lagi ini?&lt;/em&gt; Suatu sinyal-kah? Sebab—Rigel mendapati pria tua dengan cengiran sinting di wajahnya itu tiba-tiba terjatuh dan tertidur. Alisnya terangkat sebelah. &lt;em&gt;Apa ini berarti waktu bermain-main di Rumah Hantu sudah selesai, hm?&lt;/em&gt; Well, sayang sekali kalau begitu. Rasanya mereka baru saja akan memulai permainan. Apa ini karena mereka datang terlambat ke Pesta Halloween?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel menyadari sebuah pintu tiba-tiba menjeblak terbuka di belakang si pria tua dengan cengiran sinting di wajahnya itu. Dan—oh! Mereka tiba-tiba bisa bergerak kembali. Sepertinya benar, kalau begitu. Sudah waktunya bagi mereka untuk keluar ruangan. Dia pun mendapati McFadden merangkul lengannya erat saat bunyi bel itu terdengar, dan buru-buru melepaskannya dengan gugup. Roda-roda otak Rigel berputar cepat. Sebelum McFadden sempat melangkah Rigel menarik lembut tangannya, melingkarkan tangan kanannya di pinggang ramping McFadden—dan &lt;em&gt;menciumnya.&lt;/em&gt;  Tepat di bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mm—not bad&lt;/em&gt;, batin Rigel. Yeah, kapan lagi dia bisa mencium bibir McFadden yang terkenal itu? Rigel yakin ini bukanlah ciuman pertama McFadden—ayolah, dia sudah kelas enam! Keterlaluan kalau belum pernah berciuman. Terutama tahun lalu, saat Pesta Dansa. Rasanya hampir semua pasangan, bahkan anak-anak ingusan yang masih kelas dua atau kelas tiga, sudah berciuman. Tak masalah. Toh ini pun bukan saat pertama baginya. Rigel tak mempermasalahkan dengan siapa McFadden pernah berciuman sebelumnya. Yang penting—saat ini McFadden adalah miliknya. Dan dia tidak salah memilih orang untuk dicium. Rigel memejamkan matanya, berusaha menghirup sebanyak mungkin aroma khas tubuhnya. He wants to capture the taste of her little delicate lips, forever. Rasa manis bibirnya membuat Rigel lupa kalau mereka sedang berada di dalam Rumah Hantu—oh, dan dengan Reiflein berdiri di samping mereka, menonton seluruh adegan ciuman mereka. Tapi—&lt;em&gt;memangnya dia peduli?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And after some times that seems to be forever—they've broke. Wajah Rigel masih berada begitu dekat dengan McFadden, ujung hidungnya hampir menyentuh kulit lembut McFadden yang bagaikan kaca. Rigel menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma khas McFadden yang hampir membuatnya mabuk kepayang sebanyak-banyaknya. Tangan kanan Rigel menyentuh dagu McFadden, Ibu jarinya mengelus pelan bibir mungil gadis itu yang merekah merah. Sebentuk senyuman melengkung di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"There's something that we shouldn't missed under the mistletoe," katanya, tatapan matanya masih terkunci di kedua bola mata hitam milik McFadden. Dia kembali menggamit tangan McFadden, mengenggamnya lembut. Dia mengangguk saat McFadden mengajak mereka keluar, dan menarik tangan gadis itu. "Kau juga, Reiflein. Kecuali kalau kau masih ingin menemani pria tua sinting itu," katanya santai tanpa menoleh lagi ke arah Chaser Slytherin itu. Peduli setan kalaupun nanti dia marah. Bukan urusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendapati sebuah selasar mirip dengan selasar sebelumnya terbentang di depan mereka. Rigel menyusuri selasar itu hingga mendapati sebuah tangga kayu reyot—menuruninya, kembali menyusuri lorong gelap berdebu penuh sarang laba-laba, hingga—akhirnya. Pintu keluar. Rigel memutar pegangannya yang sudah berkarat dan menariknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara malam terasa amat sangat segar setelah begitu lama terperangkap di dalam ruangan pengap penuh bau tidak jelas. Rigel menarik napasnya dalam-dalam, membersihkan kembali paru-parunya yang tercemar oleh bau bensin, debu, dan jamur di dalam rumah itu. Samar-samar terdengar suara sekelompok orang menyanyi. Ah, ya. Pesta masih belum selesai rupanya. Di depan mereka tampak sekelompok orang berkerumun, dengan sekelompok lain berdiri terpisah, memakai topeng di wajah mereka. Klub musik, eh? Rigel melirik kedua partnernya sekilas dan meneruskan berjalan menuju kerumunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Parfummu wangi, McFadden.  Cocok untukmu," ujarnya lirih di telinga gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/447782/12/"&gt;Halloween Party&lt;/a&gt;, Dedalu Perkasa, 1977.  Post ke-4.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan yang disebutkan di atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-915151558440320286?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/915151558440320286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=915151558440320286&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/915151558440320286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/915151558440320286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/halloween-party-4.html' title='Halloween Party #4'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-8947533863693822236</id><published>2009-04-03T18:13:00.002+07:00</published><updated>2009-04-03T18:21:34.747+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1977'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dedalu Perkasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halloween'/><title type='text'>Halloween Party #3</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Boleh saja McFadden menyembunyikan wajahnya dengan alibi apapun. Boleh saja McFadden menyembunyikannya di balik tawa kecil yang dia perdengarkan. Mata Rigel yang jeli tetap dapat menangkap rona kemerahan yang menyemburat di kedua pipi pucatnya sebagai respon atas perkataan Rigel sebelumnya. Bibir Rigel melengkung, membentuk sebuah seringai penuh arti sembari matanya tertuju pada Rumah Hantu yang akan mereka masuki. Tanpa memandang lagi pada McFadden, mereka menuju Rumah Hantu dengan tangan kanan McFadden tergenggam mantap di tangan kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah mereka terhenti saat sebuah suara memanggil nama McFadden. Atsuko Reiflein, Chaser Slytherin, tahun keenam. Well, kebetulan saja Rigel tahu&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="on" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="img/blank.gif" alt="Justify Full" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, namanya disebut tiga kali dalam setahun di lapangan Quidditch yang selalu dia kunjungi setiap pertandingan. Dia tidak pikun, &lt;em&gt;please.&lt;/em&gt; Rigel menaikkan alis kirinya melihat penampilan Reiflein. Persis orang yang baru sadar dari mabuk dan tak ingat dia sedang berada di mana dan sedang melakukan apa. Ditambah kostumnya yang &lt;em&gt;sama sekali&lt;/em&gt; tidak sesuai dengan tema, membuat dia semakin terlihat memiliki gangguan otak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Euh.. Noir. Apa kau tidak apa-apa jika Atsuko ikut bersama kita?" &lt;/span&gt;Rigel mengedikkan bahunya isyarat tidak-apa-silakan-saja-asal-dia-tidak-mengacau-atau-apalah. Oh, yeah. Reputasi Reiflein—terutama di kalangan para Slytherin—lebih daripada sekedar &lt;em&gt;Chaser Tim Quidditch Slytherin.  Kau tahu apa maksudnya.&lt;/em&gt; "Ayo masuk. Kita tidak diharapkan untuk berdiri terus di sini sampai pagi," tambah Rigel. Sempat tertangkap ekor matanya McFadden yang menggamit lengan Reiflein. Rigel kembali menaikkan sebelah alisnya sebelum dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak bersikap berlebihan. &lt;em&gt;Avance.  Jangan biarkan siapapun membuatmu bertindak norak dan memalukan di depan umum.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara di dalam Rumah hantu lembap dan apak. Sarang laba-laba menggantung dimana-mana, kertas pelapis dinding terkelupas, menampakkan permukaan plester pelapis, hancur di beberapa bagian, memperlihatkan bata penyusun. SUmber penerangan hanya dari beberapa batang lilin yang menyala di tempat lilin yang menempel di dinding. Rigel menaikkan sebelah alisnya. Begitu bodohnyakah para panitia hingga mereka tak diperbolehkan memakai Lumos, dan diharapkan meraba-raba dalam kegelapan? Oh, &lt;em&gt;please.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel bisa merasakan McFadden bergerak agak ke belakang saat mereka berjalan masuk. Tangan kirinya meremas lembut tangan kanan McFadden, meyakinkannya kalau tak akan ada hal buruk yang terjadi. Apa sih yang bisa disediakan sekumpulan cecunguk berusia tak lebih dari tiga belas tahun? Well, harus dia akui set Rumah Hantu dan segala kuburan serta aksesorisnya ini cukup lumayan. Tapi Rigel tidak berharap lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus berjalan, sesekali mencoba membuka beberapa pintu yang tertutup. Beberapa terkunci, beberapa jelas-jelas terdengar jeritan atau apalah, menandakan kelompok lain ada di dalam. Berjalan semakin jauh dan semakin jauh, mereka akhirnya tiba di depan sebuah tangga yang sepertinya menuju ke lantai dua. Rigel melirik kedua teman sekelompoknya, memberi tanda naik-saja-atau-kita-lumutan-di-sini. Hati-hati, Rigel melangkah naik. Tangga kayu reyot itu berderak setiap kali kakinya menapak. &lt;em&gt;Rien.&lt;/em&gt;  Jangan sampai tangganya ambruk saat mereka masih menaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah koridor panjang dan gelap, dengan kondisi hampir sama seperti lantai di bawah terbentang begitu mereka tiba di lantai dua. Ralat. &lt;em&gt;Agak&lt;/em&gt; sedikit berbeda. Udara di sini sedikit tercampur bau cairan pembersih murahan, serta bau sesuatu yang dia kenali sebagai bau bensin. Bahan bakar untuk kendaraan Muggle, yeah, tentu saja dia tahu, dari mana lagi kalau bukan dari Père-nya yang&lt;em&gt;tercinta?&lt;/em&gt; Bau bensin itu semakin lama semakin kuat saat mereka berjalan, hingga tiba di ujung koridor dimana terdapat pintu kayu dengan handle berkarat. Mengerling pada kedua partnernya, Rigel membuka pintu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau bensin dan cairan pembersih murahan menyengat begitu mereka masuk.  &lt;em&gt;Jadi sumber bau itu dari sini?&lt;/em&gt; Berbeda dengan ruangan di bawah, dinding dan lantai ruangan ini dari batu hitam licin berlumut. Rak-rak kayu reyot berjejalan miring, dimuati guci dan botol pelbagai ukuran. Rigel hampir muntah melihat sesuatu yang tergantung di dinding di samping kirinya. &lt;em&gt;Foto Potter?! Yang benar saja!&lt;/em&gt; Berikutnya apa, muncul di cover buku Hewan-Hewan Fantastis dan Di Mana Mereka Bisa Ditemukan? Sepertinya iya. Potter sudah dikategorikan sebagai &lt;em&gt;dark creatures&lt;/em&gt; dengan dipasangnya foto dirinya di RUmah Hantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel merasakan tangan McFadden bergelayut di lengan bajunya.  &lt;em&gt;Mulai ketakutan, eh?&lt;/em&gt; Rigel meremas lagi tangan McFadden, menenangkannya. "Tenanglah, tak perlu ketakutan. Kau bersama dua orang pria yang bisa melindungimu kalau ada apa-apa," ujarnya. Dia kemudian merangkul McFadden sesaat. "Jangan jauh-jauh dariku," tambahnya karena McFadden semakin mundur. Rigel terpaksa berhenti sejenak, menyesuaikan langkahnya dengan McFadden. Saat kakinya kembali hendak melangkah, ingin memeriksa isi ruang—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUNGGU DULU! Kenapa dia tiba-tiba tak bisa bergerak?! Matanya nanar menyisir seluruh isi ruangan. Tak ada apapun yang aneh. Memutuskan untuk mendongak ke atas, Rigel mendapati sesuatu ebrgelantungan di seluruh langit-langit. Dia tertawa hampa menyadari apa itu. Mistletoe. &lt;em&gt;YANG BENAR SAJA! Dasar anak-anak ingusan tak berotak! Ini Halloween atau Pesta Natal?!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersentak saat sesosok pria dengan seluruh rambut di kepalanya tumbuh tak beraturan serta mencuat kemana-mana (baca: rambut, kumis, jenggot, cambang, bahkan mungkin bulu hidungnya juga) tiba-tiba muncul di hadapan mereka, mengaduk sesuatu yang menguarkan asap tipis membubung. Sekilas Rigel yakin dia mencium wangi bunga yang sebelum nya pernah dia cium. Tapi dia tak ingat bunga apa dan di mana. Rigel menggelengkan kepalanya pelan. Untuk apa dipikirkan, heh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu menatap mereka dengan tatapan aneh disertai seringai mengerikan. Rigel riba-riba merasa jengah ditatap begitu lama oleh seseorang yang nampaknya adalah hantu. Telunjuk pria itu tiba-tiba menunjuk ke arah salah satu dinding. Rigel mengayunkan pandangannya: sebuah tulisan yang nampaknya terbuat dari darah—Rigel yakin masih melihat tulisannya mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: chiller;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: chiller;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;"Pertanyaan apa yang tidak akan pernah kalian bisa jawab iya?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel mengerutkan keningnya. "Maksudnya kita harus menjawab pertanyaan itu?" tanya Rigel pada kedua rekannya. Terus terang dia bingung. Ini benar-benar di luar dugaannya. Tadinya dia mengira akan ditakut-takuti dengan sejumlah hantu norak. Dia sama sekali tidak mengira para hantu itu akan memberi mereka pertanyaan. &lt;em&gt;Pertanyaan yang tak akan bisa kujawab iya? Pertanyaan macam apa itu?&lt;/em&gt; "Pertanyaannya menjebak.  Bagaimana menurut kalian?" kembali Rigel bertanya pada kedua rekannya.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/447782/12/"&gt;Halloween Party&lt;/a&gt;, Dedalu Perkasa, 1977.  Post ke-3.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan yang disebutkan di atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-8947533863693822236?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/8947533863693822236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=8947533863693822236&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/8947533863693822236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/8947533863693822236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/halloween-party-3.html' title='Halloween Party #3'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-6155739331419041594</id><published>2009-04-03T17:52:00.001+07:00</published><updated>2009-04-03T18:13:04.029+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1977'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dedalu Perkasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halloween'/><title type='text'>Halloween Party #2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh tidak seharusnya pesta seorang Rigel du Noir terganggu hanya karena melihat &lt;em&gt;dia&lt;/em&gt; pergi dengan orang lain, bukan dengan&lt;em&gt;nya&lt;/em&gt;.  &lt;em&gt;Come on, Rigel.  Apa yang harus kau keluhkan? Kau pergi dengan gadis yang tak kalah hebatnya dengan dia!&lt;/em&gt; Yeah. Gadis yang dia ajak atas nama kenekatan. Sepertinya atmosfer Bulan Oktober memang sedang merasuki otaknya kali ini, karena dia melakukan kegilaan itu. Mempertaruhkan harga dirinya dengan mengajak seorang gadis yang bukan hanya dua tingkat di atasnya, tapi juga tidak begitu akrab dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya dia sadar, Halloween tidak sama dengan Pesta Dansa. Seharusnya kata-kata itu tercetak besar-besar di dalam otak Rigel. Mengikuti standar kalangan umum, Halloween seharusnya waktu untuk bersenang-senang dan menggila, bukan untuk berdansa atau ber-romantis ria. But, hey! Lupakah kau kalau yang sedang kita bicarakan di sini adalah Rigel? Karena—dia—adalah—Rigel du Noir.* Pergi dengan para gadis juga merupakan salah satu cara untuk bersenang-senang. Dan menggila. Jadi, &lt;em&gt;nikmati sajalah.&lt;/em&gt;  Tidak semua orang bisa &lt;em&gt;berhasil&lt;/em&gt; mengajak seorang gadis cantik terpelajar. Terlebih kalau dia lebih tua dua tahun darimu. And he must say, Recha McFadden tak sama seperti para gadis kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Beautiful as always, Mademoiselle. Tak salah aku memintamu untuk pergi bersamaku ke Pesta Halloween. Bolehkah aku mengharapkan satu dansa setelah pesta selesai?" sebuah sapaan, diikuti oleh seulas senyum memuji, tak lupa kecupan ringan di atas punggung tangan kanan si gadis. McFadden menanggapi dengan senyuman, semburat kemerahan muncul di pipinya, membuatnya semakin manis. Sudut bibir Rigel tersungging kecil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;em&gt;"About the dance. Menurutmu kita akan berdansa dengan lagu hantu?"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Berdansa &lt;em&gt;berdua saja,&lt;/em&gt; maksudku," Rigel menekankan kata-katanya, matanya menatap dalam kedua bola mata hitam itu. Berusaha membuatnya mengerti. Ya, ya, tak mungkin kan mereka menyelipkan satu sesi dansa di Pesta Halloween? Rigel tak yakin anak-anak itu termasuk golongan orang-orang yang senang &lt;em&gt;berdansa.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya tidak buruk juga pergi dengan McFadden. Gadis ini tahu tata krama, serta terpelajar. Bukan seperti gadis-gadis kebanyakan. Dia bersiul dalam hatinya. Yeah. Spesial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup untuk membuatnya melupakan amarah menggelegak yang sesaat dirasakannya saat melihat &lt;em&gt;dia&lt;/em&gt; pergi dengan orang lain.  Benar juga.  Nikmati sajalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel tersenyum tipis mendengar tanggapan McFadden saat dia meminjamkan jubahnya. "Yeah, di dalam Kastil jauh lebih hangat, wajar kalau kau tak sadar. Nevermind, kau bisa melepasnya kalau kepanasan di dalam Rumah Hantu nanti," timpalnya. Dia kembali tertawa mendengar tanggapan McFadden tentang candaannya. "Tak mungkin Dumbledore mengizinkan mereka memasukkan Dementor ke sekolah," jawabnya ringan. Oh, please. Dumbledore terlalu &lt;em&gt;baik hati&lt;/em&gt; untuk hal itu. "Takut padamu, hm? Aku tak merasa begitu. Takut menghadapi kenyataan kalau mereka sudah mati sementara kau masih hidup, cantik, dan pergi dengan pasangan setampan diriku, mungkin iya," tambah Rigel lagi. Dia menggamit lengan McFadden, dan bersama mereka masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Be ready, then."&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/447782/12/"&gt;Halloween Party&lt;/a&gt;, Dedalu Perkasa, 1977.  Post ke-2.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dengan yang disebutkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-6155739331419041594?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/6155739331419041594/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=6155739331419041594&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/6155739331419041594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/6155739331419041594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/halloween-party-2.html' title='Halloween Party #2'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-4307891729995191003</id><published>2009-04-03T17:35:00.003+07:00</published><updated>2009-04-03T18:05:31.059+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1977'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dedalu Perkasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halloween'/><title type='text'>Halloween Party #1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesta Halloween, hm? Merayakan hari yang, menurut sejarah, sebenarnya adalah hari dimana roh para orang mati turun ke bumi. Semua orang yang masih hidup memakai kostum hantu, &lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Justify Full" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;berusaha membuat para roh orang mati tersebut mengira mereka adalah bagian dari para roh, sehingga terbebas dari gangguan. Entah kenapa Rigel tak pernah bisa menganggap hal itu sebagai sesuatu yang serius. Alih-alih, amat sangat konyol. Yang benar saja. Anak usia lima tahun juga tahu kalau sekali lihat saja manusia dan hantu itu berbeda. Atau mungkin, setelah jadi roh tingkat kecerdasan mereka menurun hingga tak bisa membedakan sesama roh dengan manusia hidup? Mungkin. Mana dia tahu, dia kan belum pernah jadi roh? Setahunya, Baron Berdarah tidak kehilangan keagungan dan wibawa yang dimilikinya semasa dia hidup, meski dia sudah jadi roh. Atau hantu, menurut bahasa awamnya. Tidak seperti Peeves yang sudah kehilangan otak. Oh, ralat. Peeves Poltergeist, bukan hantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bertanya kenapa benak Rigel langsung melayang kemana-mana. Dia sendiri tak tahu kenapa benaknya lebih sering melayang tanpa izin akhir-akhir ini. Dan lagi —mimpi buruk. Ya. Setiap malam mimpi demi mimpi yang menggelisahkan bergiliran menghantui tidurnya. Terasa begitu jelas hingga membuatnya lelah dalam tidurnya, dan menguap secepat embun pagi saat dia membuka mata. Sudah berapa lama? Seminggu? Dua minggu? Entahlah, dia tak menghitung. Apa katamu? Karena atmosfer bulan Oktober yang menyeramkan? Oh, simpan pikiranmu. Seorang pemuda tegap seperti Rigel yang mendapatkan ruang bawah tanah dengan koridor batu lembap dan suram sebagai tempat tinggalnya sebagai empat tahun terakhir, kini terkena efek samping dari aura Bulan Oktober yang kau bilang menyeramkan? Peeves bakal lebih dulu jadi Menteri Sihir sebelum itu terjadi—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay, STOP! Geez, Rigel, tak sadarkah kau sedang berada di mana dan dengan siapa? Tengok ke sampingmu kalau kau lupa sedang bersama siapa, yang jelas kau-tidak-sendirian. Atau setidaknya ini sudah memasuki waktu yang mereka janjikan untuk bertemu dan berangkat bersama dari Ruang Rekreasi Asrama Slytherin ke Pesta Halloween sebagai satu grup. &lt;em&gt;Grup?&lt;/em&gt; Rigel mengangkat alisnya. Setahunya baru ada dia dengan gadis itu di grupnya. Entah apakah itu bisa disebut grup. Tapi, apa menurutmu Rigel akan peduli? Yang penting dia bisa bersenang-senang. Dia &lt;em&gt;butuh&lt;/em&gt; bersenang-senang untuk mengalihkan pikirannya dari firasat buruk yang selalu menghantuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beautiful as always, Mademoiselle. Tak salah aku memintamu untuk pergi bersamaku ke Pesta Halloween. Bolehkah aku mengharapkan satu dansa setelah pesta selesai?" sebuah sapaan, diikuti oleh seulas senyum memuji, tak lupa kecupan ringan di atas punggung tangan kanan si gadis. "Shall we go now, Miss McFadden?" kali ini, sikunya terulur otomatis. Okay, okay. Dia tahu ini Pesta Halloween, bukannya pesta dansa. Dia sadar dandanan mereka berdua lebih mirip pakaian yang dikenakan para putri dan pangeran saat pesta dibanding kostum Halloween (Termasuk pedang panjang di pinggangnya. Dia jadi rindu berlatih pedang. Sudah berapa lama keahliannya tak diasah?). Salahkan para panitia yang melarang mereka mengenakan kostum hantu, kalau begitu. Well, tapi dia harus bersyukur Mère-nya tidak mengirimkan pakaian yang terlalu aneh. Kemeja plus tunik kulit berwarna cokelat-lithium, celana kulit, ditambah jubah dan pedang, membuatnya benar-benar terlihat seperti pangeran. &lt;em&gt;Yeah.  Dia kan Pangeran keluarga Noir.&lt;/em&gt;. Oh, dan jangan lupakan tongkat sihirnya. Pikirmu Rigel lupa identitasnya sebagai penyihir? Seorang penyihir tak akan pernah meninggalkan tongkat sihirnya sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;Walking hand in hand with a magnificent woman, in a magnificent attributes.&lt;/span&gt; Semua yang melihat juga mengira mereka akan pergi ke Pesta Dansa. Atau bergosip ria untuk mereka yang menyadari siapa gadis yang berjalan bersamanya ini. Berani taruhan, mereka bergosip tentang dirinya, yang baru kelas empat, pergi dengan anak kelas &lt;em&gt;enam&lt;/em&gt;.  &lt;em&gt;Comme si il s'inquiète.&lt;/em&gt; Belum tentu Merlin Yang Agung sendiri tahu kenapa Rigel berpikir akan mengajak anak perempuan pertama yang tertangkap oleh ekor matanya saat dia membaca pengumuman Pesta Halloween di Papan Pengumuman Slytherin Common Room.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara dingin menusuk tulang menyambut mereka begitu melangkahkan kaki di pelataran Kastil. Rigel melirik McFadden yang hanya mengenakan sehelai gaun, tanpa mantel atau apapun. "Tak membawa mantelmu, McFadden? Ini hampir penghujung musim gugur," ujar Rigel. Dia menghentikan langkahnya, dan membuka simpul tali emas pengikat jubahnya, dan menyampirkannya ke sekeliling bahu gadis itu. "Forgive my rudeness of not remind you about this weather before we go," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;Atau mungkin, nasib sudah sengaja mengaturnya agar saat itu hanya melihat McFadden di depannya, dan mengajak gadis itu?&lt;/span&gt; Entahlah. Rigel malas memikirkannya. Terlalu banyak hal lain yang juga memerlukan perhatiannya. Saat ini, misalnya. Dimana mereka telah tiba di tempat Pesta, tepatnya beberapa puluh meter dari Dedalu Perkasa. Rigel terkejut sendiri melihat tempat itu sudah berubah begitu drastis. RUmah hantu, tanah pekuburan, tumpukan Jack-O-Lantern, bahkan kelelawar hidup. Okay. Meski panitia terdiri dari anak-anak yang masih bau kencur, patut dia akui dekorasinya bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis Rigel sedikit terangkat saat mendengar mereka diharuskan masuk ke dalam Rumah Hantu itu. Terlebih, dilarang menggunakan tongkat sihir. Well, &lt;em&gt;membawa&lt;/em&gt; bukan berarti menggunakan, kan? Lagipula tak akan ada yang melihat tongkat sihirnya tersembunyi di dalam kantung khusus di sarung pedangnya. Dia melirik McFadden yang berjalan beriringan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanpa tongkat sihir, eh? Yah, kurasa apapun yang ada di dalam sana sudah cukup gentar dengan pedang," ujarnya mengomentari perkataan MC. "Kurasa lebih baik kita masuk sekarang. Kau tak takut hantu, kan?" Rigel mengedip di akhir kalimatnya, sedikit menggoda Seniornya itu. Melangkah beriringan, mereka memasuki Rumah Hantu—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Itu Jane, kan?&lt;/em&gt; Pikiran Rigel langsung teralih.  Jane.  Dengan &lt;em&gt;dia.&lt;/em&gt;  Rahang Rigel mengeras sesaat.  &lt;em&gt;Monsieur Rigel, sebaiknya kau tidak melupakan kau sedang bersama siapa sekarang.&lt;/em&gt; Oh, dia tidak lupa kalau dia sedang bersama McFadden, jelas. Rigel gentleman sejati. Dia tak akan mengecewakan siapapun wanita yang sedang bersamanya. Hanya saja—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa &lt;em&gt;sedikit&lt;/em&gt; kesepian, boleh, kan?&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;- &lt;strong&gt;Comme si il s'inquiète&lt;/strong&gt; = Kayak dia peduli saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread Event &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/447782/8/"&gt;Halloween Party&lt;/a&gt;, Dedalu Perkasa, 1977.  Post ke-1.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan chara-chara yang disebutkan, credits beberapa quote dan deskripsi pada mereka -mulai males-&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-4307891729995191003?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/4307891729995191003/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=4307891729995191003&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/4307891729995191003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/4307891729995191003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/halloween-party-1.html' title='Halloween Party #1'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-8231193216782152747</id><published>2009-04-03T16:59:00.001+07:00</published><updated>2009-04-03T17:06:36.199+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='You&apos;re Still The One'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Danau'/><title type='text'>You're Still The One #2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Friday nampak salah tingkah saat Rigel menyapanya. Rigel mengedikkan bahunya sedikit. Malu, mungkin? Well, dia kan memang belle, apa salahnya kalau Rigel jujur dan bilang dia cantik? Rigel memang tak pernah tega melihat perempuan bersedih dan murung. Hal itu selalu membuatnya merasa bersalah, merasa tidak bisa melindungi mereka dengan baik. Meski itu gadis yang baru saja dia kenal, seperti Friday. Rigel tersenyum, mengingat kalimat dari surat Callista yang baru saja dibacanya. Tak masalah bagi dia, dia sudah terbiasa dikelilingi para perempuan. Dia sudah terbiasa memperhatikan mereka, dan memastikan mereka baik-baik saja. Rasanya, sudah seperti naluri dalam dirinya sendiri. Dorongan untuk selalu melihat setiap perempuan yang dikenalnya tersenyum bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Aku tidak murung kok, aku cuma serius memandangi danau. Duduklah, Noir."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friday akhirnya menampakkan senyumnya. Agak berbeda dari senyumnya yang biasa, yang ini membuatnya terlihat lebih manis. Rigel membalas senyumnya, dan duduk di sebelah Friday. Matahari bergerak turun perlahan, menyelimuti mereka dengan sinar keemasan. Betul-betul sore menjelang musim gugur yang indah, kalau mengabaikan angin semakin kencang dan semakin dingin. Rigel merapatkan jubahnya, masih enggan kembali ke kastil. Kalau perlu, dia ingin berada di luar selama mungkin. DIa benci memikirkan dia harus kembali ke kamarnya. Oh, bukan. Itu bukan kamar&lt;em&gt;nya&lt;/em&gt;. Itu kamar dia dan beberapa anak lain. Rigel semakin benci mengingat fakta kalau sekarang dia harus berbagi kamar dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepertinya bukan hanya kau yang serius menikmati pemandangan di danau," ucapnya. Rigel mengedikkan kepalanya ke arah beberapa orang yang juga berada di situ. Pemain biola yang sepertinya kakak kelasnya, dan sekarang mengganti lagunya, beberapa anak lain yang baru saja datang, dan.. Rigel mengenali sosoknya hanya dengan sekali lihat. Kapten Tim Quidditch Slytherin! Siapa anak Slytherin yang tidak mengenalnya? Tim asrama mereka terkenal karena tahun kemarin memenangkan Piala Asrama dan tidak pernah dikalahkan. Melipatgandakan keinginan Rigel unuk ikut bergabung dengan Tim Asrama. Well, untuk yang satu ini, dia bersedia bersikap rendah hati. Dia tidak tahu kemampuannya sejauh apa, karena jarang sekali mendapat kesempatan bisa bermain dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat jelas dari ekspresi si Kapten, kalau dia masih terpukul karena pertandingan kemarin. Bukan cuma dia. Rigel pun terpukul. Dia kecewa karena merasa permainan Tim Slytherin yang kemarin dia saksikan, tidak pantas disebut sebagai permainan Tim pemenang Piala Quidditch. Entahlah. Mungkin dia memang belum melihat yang terbaik dari tim asramanya. Membuatnya semakin bernafsu mengikuti seleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Kau anak tunggal, Noir? Atau punya kakak? Aku punya kakak lelaki yang keren sekali, tetapi dia sekolah di Durmstrang."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel mengalihkan pandangannya dari si Kapten. Dia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Friday. Terlihat sekali kalau Friday sangat membanggakan kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku punya dua kakak, keduanya perempuan dan sekolah di Beauxbatons. Callista kelas lima, Clémence kelas tiga," jawab Rigel. "Kau harus tahu bagaimana rasanya punya dua kakak perempuan. Mereka cerewet, dan kadang bisa jadi sangat menyebalkan karena sok mengatur. Tapi biar bagaimanapun," tatapan matanya menerawang saat mengingat kedua kakaknya, rasa rindu yang bertumpuk semakin membuncah di dadanya, "Mereka berdua kakak terbaik di seluruh dunia. Aku berharap aku sekolah di Beauxbatons juga alih-alih di sini. Jadi tidak perlu terpisah dari mereka. Apalagi Clémence, tubuhnya lemah. Aku selalu khawatir terjadi sesuatu yang buruk kalau tidak melihatnya," katanya, tanpa sadar malah bercerita panjang lebar tentang Clémence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku jadi ingin kenal dengan kakakmu, BonClay. Kenapa dia tidak sekolah di sini?" Rigel balas bertanya. Pertanyaan bodoh, sebetulnya. Bisa dibilang, mereka berdua berada dalam kondisi yang sama. Sama-sama sekolah di sekolah yang berbeda dengan saudara kandung mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf kalau pertanyaanku salah. Hanya ingin tahu, tak ada maksud apa-apa. Tak perlu menjawab kalau pertanyaanku ini menyinggungmu," Rigel berkata dengan nada meminta maaf dalam kata-katanya. Rigel benar-benar berharap dia tidak salah bicara. &lt;em&gt;Stupide! Untuk apa menanya-nanyakan hal itu? Ikut campur urusan orang saja!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara mendesis di belakangnya menarik perhatiannya. Rigel sontak menoleh, dan melihat seorang gadis berambut coklat lebat menyulut beberapa batang kembang api. Rigel menghela napas, lega ada yang bisa membuatnya mengalihkan topik pembicaraan. Bibirnya terbuka, hendak berkomentar, ketika dia menyadari ada sesuatu yang salah pada kembang api itu. Sangat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kembang api Muggle," dengusnya pelan. Rigel tahu, tidak baik mengumpat di depan seorang gadis. Ketidaksukaannya pada apapun yang berembel-embel Muggle membuatnya tidak bisa mengontrol sikapnya. Rigel segera memperhatikan ekspresi Friday. Friday sepertinya Pureblood, karena gadis itu masuk Slytherin juga, dan menulis menggunakan pena bulu. Tapi, siapa yang tahu tentang pendapatnya mengenai Muggle? Terus terang, Rigel belum pernah berhadapan dengan Pureblood Pecinta Muggle, meski dia sudah pernah beberapa kali mendengar mereka. Rigel tak tahu harus berbuat apa. Dia berharap dalam hati, semoga apapun reaksi Friday selanjutnya, tidak membuat mereka jadi saling membenci.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/446433/1/"&gt;You're Still The One&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, Danau, 1974 (Best Thread).  Post ke-2. (dan sukses WB serta berakhir dengan menelantarkan thread)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan Friday BonClay (peserta thread banyak).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-8231193216782152747?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/8231193216782152747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=8231193216782152747&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/8231193216782152747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/8231193216782152747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/youre-still-one-2.html' title='You&apos;re Still The One #2'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-8143806621476213988</id><published>2009-04-03T16:36:00.003+07:00</published><updated>2009-04-03T16:56:38.738+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='You&apos;re Still The One'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Danau'/><title type='text'>You're Still The One #1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah sudah berapa lama Rigel berdiri termenung di tepi danau, matanya memandang kosong riak air yang memantulkan langit musim gugur. Makin menjelang musim gugur, cuaca semakin dingin, tapi dia lebih memilih berada di luar kastil daripada berada di dalam. Semakin lama, suasana di dalam kastil semakin mirip... Palais du Noir. Satu-satunya tempat yang dia rindukan saat ini, tempat dimana Rigel ingin sekali pulang. Istana tempat dia menghabiskan masa kecilnya, dimana setiap sudutnya sudah habis ia jelajahi, setiap sentinya sudah pernah dia datangi. Di musim gugur seperti ini, dia biasa menghabiskan waktu di pekarangan istananya, memetik buah apel atau beri, atau membantu Mère di kebun bunganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel menutup matanya, menghirup angin yang membawa aroma musim gugur dalam-dalam. Mencoba memutar ulang kembali film kenangan akan dia dan Mère di Palais, sebagai pengobat rindu. Apa yang sedang dilakukan Mère saat ini? Siapa yang membantunya mengurus kebun bunganya sekarang? Ya Rigel tahu para peri rumahnya pasti akan dengan sigap membantu. Tapi mereka bukanlah manusia. Madame Noir tak bisa mengajak para peri rumah itu bercengkerama sementara mereka mengurus kebun bunga bersama. Itu yang dikhawatirkan Rigel, tak ada yang menemani Madame Noir mengobrol saat menjelang musim gugur seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Rigel menggenggam erat sebuah perkamen dan amplop dengan segel lilin yang sudah terkoyak. Surat dari Callista. Callista dan Clémence sudah kembali ke Beauxbatons beberapa hari setelah Rigel berangkat ke Hogwarts. Rigel membuka lipatan perkamen itu lagi, dan membaca ulang surat dari kakaknya entah untuk yang keberapa kali. Bayangan tentang kedua kakaknya enggan pergi dari benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Mon petit frère,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Comment allez-vous? Apa kau sudah betah di sekolah barumu? Ayo, cerita padaku tentang sekolah barumu.  Jangan sampai ada yang terlewat, ya! Sudah dapat teman di sana? Pasti kau hanya berteman dengan para gadis.  Carilah teman sesama laki-laki, Rigel.  Kalau bisa yang tampan, dan undang mereka ke Château du Noir saat liburan musim panas, jadi aku bisa bertemu dengan mereka, hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clémence tidak ingin aku mengatakannya, tapi kupikir tidak baik menyembunyikannya darimu.  Kau tahu kan, aku selalu jujur tentang segala hal padamu.  Kondisi tubuhnya melemah sepulang dari Inggris, jadi sampai sekarang dia belum bisa kembali ke sekolah karena dirawat di rumah.  Ini hanya ketakutanku, semoga saja tidak benar, tapi sepertinya Père tidak akan mengizinkan Clémence kembali lagi ke Inggris.  Yeah, aku tahu ini juga demi Clémence, tapi kalau itu berarti kalian tidak bisa bertemu selamanya, aku tidak terima.  Ini salahku juga, tidak menjaga Clémence dengan baik selama di Inggris kemarin.  Tenang saja, aku akan berusaha bicara lagi dengan Père.  Apapun akan kulakukan agar Père mengizinkan Clémence bisa kembali lagi ke Inggris.  Tidak adil kalau hanya kalian berdua yang menanggung kesalahanku.  Clémence menyukai Inggris, terutama ruang baca di Château du Noir.  Tunggu kabar selanjutnya dariku, ok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaga dirimu baik-baik disana, Mon petit frère.  Jangan dekat-dekat dengan para Darah-Lumpur itu.  Meski dia tampan, jangan berteman dengannya, apalagi mengundang dia ke rumah.  Percuma saja, aku tak mau bertemu dengannya, hahaha.  Au revoir.  Kapan-kapan aku tulis surat lagi untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Votre belle soeur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Callista&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Temanku baru tahu kalau kau tidak masuk Beauxbatons.  Dia langsung bilang ingin pindah ke Hogwarts, hahaha.  Enak saja, aku ogah kalau dia mengincarmu yang masih imut ini.  Akan kupastikan dia tidak bisa pindah.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakinya melangkah menyusuri tepi danau. Rigel tersenyum-senyum sendiri membaca surat dari Callista. Kakaknya yang satu itu memang kocak, dan juga lugas. Tak bisa dipungkiri, dia juga merasa khawatir dengan Clémence. Tubuh Clémence memang lemah. Saat berada di Inggris pun, beberapa kali dia batuk-batuk kecil. Rigel gemas, dia benar-benar penasaran. Seberapa parah kondisi kakaknya itu sampai Père melarangnya kembali ke Inggris? Dia tak ingin memberatkan Clémence, sampai memaksanya kembali ke Inggris hanya demi bertemu dengannya di liburan musim panas. Haruskah dia yang menentang perintah Père dengan nekat kembali ke Perancis saat liburan musim panas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara alunan musik menyadarkan Rigel dari lamunannya. Dia mengangkat kepalanya dari surat Callista, dan baru sadar kalau dia berada di tengah-tengah anak-anak lain. Kebanyakan perempuan, dan sepertinya mereka bukan anak setingkatnya. Rigel tidak melihat mereka saat Seleksi Asrama. Seorang memainkan biola dengan mendayu-dayu, diiringi petikan gitar gadis lain. Permainan mereka sangat bagus, membuat Rigel kembali tenggelam dalam kerinduannya pada Perancis, Mère dan kedua kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok seseorang menarik perhatiannya. Gadis dengan pena bulu pink dan jurnal yang sepertinya tak pernah lepas dari tangannya. Rigel yang biasa melihat gadis itu penuh senyum dan ceria, kini terheran-heran melihatnya terpekur memeluk lututnya. &lt;em&gt;Que se produisent dedans ici? Semuanya terlihat bersedih,&lt;/em&gt; batinnya. Rigel paling tidak tahan bila melihat perempuan, terutama yang dikenalnya, bersedih. Rigel mendekati gadis itu, berusaha mengingat namanya yang disebut saat Malam Seleksi. Friday. Ya, itu namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak biasanya kau murung seperti ini. Tersenyumlah seperti biasa, kecantikanmu tidak terpancar sempurna kalau kau murung," sapa Rigel pada Friday.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;- &lt;strong&gt;Mon petit frère&lt;/strong&gt; = Adik kecilku.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Comment allez-vous?&lt;/strong&gt; = Apa kabar?&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Au revoir.&lt;/strong&gt; = Sampai jumpa.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Votre belle soeur&lt;/strong&gt; = Kakakmu tersayang&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Que se produisent dedans ici?&lt;/strong&gt; = Apa yang terjadi di sini?                           &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/446433/1/"&gt;You're Still The One&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, Danau, 1974 (Best Thread).  Post ke-1.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dengan Friday BonClay (peserta thread banyak).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-8143806621476213988?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/8143806621476213988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=8143806621476213988&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/8143806621476213988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/8143806621476213988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/youre-still-one-1.html' title='You&apos;re Still The One #1'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-7013901700411009221</id><published>2009-04-03T16:14:00.003+07:00</published><updated>2009-04-03T16:30:00.931+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aula Besar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesta Awal Tahun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1978'/><title type='text'>Pesta Awal Tahun Ajaran 1978 #3</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 255, 0);"&gt;&lt;strong&gt;MEJA SLYTHERIN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, serpents.  Tak bisa bertahan untuk tidak &lt;em&gt;mendesis,&lt;/em&gt; hmm? Sebuah asrama dimana para anggotanya saling mendesis, menggigit, dan mencabik demi keuntungan sendiri.  &lt;em&gt;How beautiful.&lt;/em&gt;  Seleksi alam yang menentukan, &lt;em&gt;Cher.&lt;/em&gt; Apakah para penghuninya bisa bertahan dalam sarang ular ini, atau mati seiring waktu diterkam oleh ular lain. Memilih menyerah dan membiarkan ular lain menerkammu? &lt;em&gt;In your dream.&lt;/em&gt; Hal terakhir yang akan dilakukan Rigel, bahkan jika dia sedang mabuk setelah menenggak sepuluh krat Whiski-Api. Tidak sebelum dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Père-nya &lt;em&gt;tersayang&lt;/em&gt; mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"For you too, du Noir. Siapa bilang kau akan hidup melewatinya? Mungkin kau tidak akan seberuntung Pavarell... Who knows?"&lt;/span&gt; Got what he mean? Seringai sinis terbentuk di wajah Rigel seraya mengangkat piala ke arah Morcerf. "Kehormatan besar seorang Morcerf mau bersulang untukku. Mau sekalian bertaruh, Morcerf? Well, kalau kau sebegitu yakinnya aku tak bisa bertahan lebih dari Pavarell," balas Rigel ringan, dengan nada seperti hanya membicarakan apa-menu-makan-siang-kali-ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong soal makanan, desisan para ular usil itu berhasil mengalihkan perhatian Rigel berkali-kali dari steak salmon saus lemon yang sedang dia hadapi. &lt;em&gt;Geez.&lt;/em&gt; Dia tak bisa bertarung dengan perut kosong, kan? Peduli setan dengan mereka yang masih berminat melanjutkan drama yang baru berlangsung setengah babak itu. Biarkan dia menghabiskan makan malamnya dengan tenang, bisa kan? &lt;em&gt;Salahmu, stupide. Abaikan saja desisan mereka. Besar kepala sekali kau, mencaplok setiap pembicaraan yang berdengung di sekitarmu?&lt;/em&gt; FINE, then. Dia menulikan telinganya terhadap cemoohan-cemoohan berikutnya yang saling dilontarkan para penghuni sarang ular ini. &lt;em&gt;Selesaikan makan, antar para bocah kelas satu ini ke asrama, dan tidur. Tulis surat dulu untuk Mère, Callista dan Clémence sebelumnya.&lt;/em&gt;  Rencana yang sempurna, eh? Awas saja kalau ada yang berani menghancurkan rencana sempurnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"—Goscinny, Du Noir, Amakusa, McLight, &lt;em&gt;orang-orang berkualitas,&lt;/em&gt; membuat bangga Salazar Slytherin, dan tentu saja Pangeran Kegalapan, eh? Karena aku yakin tidak ada di antara kalian yang sudah mengurangi nilai asrama secara signifikan, &lt;em&gt;setelahku.&lt;/em&gt;—"&lt;/span&gt; Hmm? Kembali Pavarell berkoar-koar dengan tatapan matanya yang sudah tidak fokus. Hiburan yang menyenangkan, bukan? Melihat mantan Prefek kita yang &lt;em&gt;tercinta&lt;/em&gt; mabuk di malam Pesta Awal Tahun —terlebih lagi, di hadapan seluruh isi Aula Besar. Stress karena Darah-Lumpur itu yang terpilih menjadi Ketua Murid, alih-alih dirinya, eh? Well, well. Rigel berbaik hati meluangkan waktunya meladeni &lt;em&gt;lelucon&lt;/em&gt; ini.  "Senang kalau kau sudah menyadari &lt;em&gt;kualitas&lt;/em&gt; kami bahkan melebihi dirimu, Pavarell," pemuda tanggung berambut pirang itu tak bermaksud menuangkan bensin di atas api. Hanya ingin &lt;em&gt;bersenang-senang&lt;/em&gt;.  Kalau Pavarell diizinkan bersenang-senang, kenapa dia tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Demi otak karatan si Penyihir Sinting Merlin. Demi si Terkutuk Godric Gryffindor yang tak lupa merasuki Topi Seleksi butut dengan ideologi-ideologi tidak masuk akal tentang membela para Darah-Lumpur. Apa yang kau pikirkan, ingin menyiksa Salazar Slytherin dalam kuburnya dengan memasukkan para Darah-Lumpur itu ke asrama kami?&lt;/em&gt; Genggaman tangan Rigel yang memegang pisau dan garpu mengeras.  Giginya bergemeletuk menahan emosi.  &lt;em&gt;Harus berapa ekor tikus kotor lagi yang ingin kau masukkan ke sarang ular ini, topi terkutuk?&lt;/em&gt; Okay.  Tenang, Rigel.  Tenang.  Jangan hancurkan wibawamu dengan melangkah tergesa-gesa dan tanpa perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alangkah &lt;em&gt;baik&lt;/em&gt;nya hatimu, Pavarell, mengkhawatirkan junior &lt;em&gt;manis&lt;/em&gt; kita yang satu ini.  Well, we have a bunch of &lt;em&gt;nice&lt;/em&gt; seniors who are willing to teach this &lt;em&gt;filthy ragged waste from the nobility of blood&lt;/em&gt;. Don't be worry, eh, Pavarell?" dan pemuda Asia pendek berambut pirang itu bersulang, demi Pangeran Kegelapan. Sekarang sudah pasti otaknya tercemar Whiski-Api yang entah sudah berapa gelas ditenggaknya sedari tadi. Seringai sinis kembali menghiasi wajah Rigel. "To the Dark Lord!" Rigel mengikuti kata-kata Pavarell, juga bersulang mengangkat pialanya. &lt;em&gt;Again,&lt;/em&gt; semata-mata hanya untuk menekankan pada gadis Darah-Lumpur itu kalau dia tak memiliki tempat di meja ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak urung, Rigel menangkap Pavarell mengajak janette yang duduk di sampingnya, dan berbisik mencurigakan di telinga gadis itu sebelum beranjak dari Aula Besar. Raut wajah Rigel kembali mengeruh. &lt;em&gt;Black.&lt;/em&gt;  Sudah pasti tentang dia.  &lt;em&gt;Jangan buat dia bertambah murung, Pavarell.  Or you'll be sorry.&lt;/em&gt;  Rigel mengerling Janette, memberinya sebuah senyuman sebelum berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, Goscinny," ujarnya, memberi isyarat pada gadis kurus tinggi itu untuk bangkit dan pergi bersamanya. "All first year. Asrama Slytherin. Tertinggal, aku tak jamin kalian tak akan tersesat," dengan suara lantang Rigel berbicara pada semua junior kelas satunya, dan memberi pandangan pada mereka untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam yang panjang ini harus berakhir, suka atau tidak suka.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/448062/16/"&gt;Pesta Awal Tahun Ajaran&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, Aula Besar, 1978.  Post ke-3.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nicolas Morcerf, Kane Dietrich Pavarell, Janette Blizzard, Voe Goscinny,&lt;/span&gt; dan seluruh siswa kelas satu Slytherin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-7013901700411009221?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/7013901700411009221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=7013901700411009221&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/7013901700411009221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/7013901700411009221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/pesta-awal-tahun-ajaran-1978-3.html' title='Pesta Awal Tahun Ajaran 1978 #3'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-7882660029618260607</id><published>2009-04-03T16:01:00.002+07:00</published><updated>2009-04-03T16:09:38.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aula Besar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesta Awal Tahun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1978'/><title type='text'>Pesta Awal Tahun Ajaran 1978 #2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 255, 0);"&gt;&lt;strong&gt;MEJA SLYTHERIN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"—Berharap menemukan knut tapi kau malah menemukan galleon kutukan, eh? Berdoa saja kau tidak sekedar-ah. Ya. Menjadi pajangan dan tidak melakukan apa-apa selagi benda itu tersemat di dadamu,"&lt;/span&gt; ucapan yang membuat Rigel tak bisa menahan dirinya untuk menyeringai meremehkan senior Asia pendeknya yang sama sekali tidak pantas memiliki rambut pirang. Jadi itu yang kau lakukan selama menjadi Prefek, Pavarell? "Galleon kutukan, Pavarell? Hm. Tak bisa tahu galleon itu akan mengutukku atau malah bisa kugunakan untuk mengutuk orang lain sebelum digunakan, am I right? And thanks for your advice. Melihat dirimu yang sekarang—" Rigel mendelik sinis pada Pavarell yang seolah ingin muntah saat berbicara dengannya "—aku tahu betapa &lt;em&gt;efektif&lt;/em&gt;nya nasehatmu itu," tutupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"—jangan tunjukkan ketidaksukaanmu pada Ketua Murid pilihan Dumbledore, eh? Tidak saat mereka pikir tempat ini adalah tempat paling aman yang ada di muka bumi,"&lt;/span&gt; Rigel tertawa seketika mendengar kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Pavarell.  "Lelucon yang bagus, &lt;em&gt;mantan&lt;/em&gt; Prefek.  Seolah &lt;em&gt;seluruh&lt;/em&gt; isi Slytherin tidak menunjukkan ketidaksukaan mereka pada Sang Ketua Murid, yeah. Kreatif sekali," Rigel hampir bertepuk tangan menyoraki &lt;em&gt;lelucon&lt;/em&gt; murahan Pavarell.  "Perlukah kutambahkan kalau kau dan &lt;em&gt;komplotanmu&lt;/em&gt; akan semakin kegirangan seperti para tikus di pembuangan sampah organik karena mendapatkan semakin banyak &lt;em&gt;mainan?&lt;/em&gt;" Rigel merendahkan suaranya, memastikan hanya dia dan Pavarell yang mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian selanjutnya membuat Rigel malas melanjutkan perbincangan &lt;em&gt;menyenangkan&lt;/em&gt;nya lagi dengan Pavarell. Beradu mulut dengan Morcerf layaknya anak kecil, Rigel semakin kepayahan menahan dengusan meremehkannya untuk mereka berdua. Oh, dan Pavarell berhasil membuatnya lupa kalau di sana ada Friday juga. Benar-benar &lt;em&gt;sempurna.&lt;/em&gt;—Meski kalau boleh dia menambahkan, malas rasanya Rigel terlibat dalam pembicaraan gadis itu dengan Goscinny mengenai, apa lagi kalau bukan Zeev?— Setidaknya Rigel mendapatkan apa yang dilihat si tua bangka pecinta Muggle itu pada diri Pavarell yang membuatnya tidak bisa menjadi Ketua Murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seseorang tolong pukul kepala Rigel juga agar dia tidak berubah menjadi kekanakan seperti itu setelah menerima lencana Prefek, bisa kan?&lt;/em&gt; Siapa tahu itu penyakit yang menyebar dari lencana Prefek yang sudah entah berapa abad diturunkan.  HA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Rigel masih sempat menangkap akhir pembicaraan mereka dimana Pavarell mengajak seisi meja untuk bersulang demi kejayaan Slytherin. Tak urung pemuda tanggung itu mengangkat pialanya juga, dan berhasil menahan senyum mendengar akhir kalimat yang diucapkan Morcerf keras-keras. "Tak bisa lebih setuju lagi denganmu, Morcerf," Rigel iseng menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian yang ia curahkan pada sepotong steak salmon di hadapannya sedikit terusik saat seseorang mengambil tempat duduk di sebelahnya, menggumamkan selamat pada mereka. Seringai Rigel sebelumnya seketika berubah menjadi senyuman khasnya melihat siapa yang datang. "Thanks a lot, again, Jane. Juga untuk ucapan selamatmu saat di kereta," ujarnya lembut. Matanya yang jeli menangkap raut wajah murung Janette yang sama sekali tidak berubah. Sekuali timah panas kembali diguyur ke perut Rigel, menyadari kalau mungkin saja Janette masih murung karena berita Prophet yang &lt;em&gt;itu.&lt;/em&gt; Well, okay, okay. Dia sadar dia terlalu jauh menduga. Bisa saja gadis itu murung karena Void masih sakit. Tak ada salahnya dia tanya, kan? "Bagaimana keadaan Void, Jane? Aku tak keberatan mengantarmu menemui Profesor Kettleburn ataupun Hagrid malam ini. Atau mungkin besok pagi, kalau kau tak mau mengganggu istirahat malam mereka," sambung Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan selamat Janette berlanjut pada Pavarell.  Hmph.  &lt;em&gt;Jane sayang, apa kau belum tahu siapa yang sebenarnya berhak mendapatkan ucapan selamatmu itu? Atau, justru mungkin tidak berhak? Tergantung dari sisi mana kau melihatnya.&lt;/em&gt; Sebelum bibirnya terbuka untuk menanggapi, Goscinny dengan baik hati memberitahu Janette lebih dulu kalau Pavarell tidak memerlukan ucapan selamat. "Beat me, Jane. Kau bahkan tak mau mengucapkan selamat bila tahu siapa yang sesungguhnya harus kau ucapi selamat," Rigel merendahkan nada bicaranya di telinga Janette.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Aku tidak mengerti kenapa kalian begitu senang hanya karena menjadi Prefek? Aku bahkan tidak mengerti tujuan menjadi Prefek—"&lt;/span&gt; Seorang juniornya kembali berkoar-koar. Maksudnya ingin berkomentar betapa tidak penting dan menyedihkannya para Prefek ini, begitu? &lt;em&gt;Hm, beat me. Aku pun berpendapat sama denganmu, juniorku yang manis. Hanya saja, tidak semua orang di dunia ini berpendapat sama dengan kita, sayangnya. Termasuk Père-ku 'tersayang', yang sedihnya menghargaiku hanya seharga lencana murahan ini. Maafkan aku jika kali ini aku harus membantahmu, juniorku. Nasib leherku bergantung pada berhasil tidaknya aku mempertahankan lencana ini.&lt;/em&gt;  Dan Friday dengan manisnya menimpali kata-kata Latimer —ternyata itu namanya— telak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Life, Latimer, is more complicated than what you could expect. So human are. Senang menjadi Prefek? Well, define happy, then. Tak ada satu manusia pun yang tidak suka bila tangannya dijatuhi kekuasaan. And trust me, neither of you," Rigel tidak tahan ingin menambahkan kata-kata Friday.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;You'll never understand even a single thing.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread Pesta Awal Tahun Ajaran, Aula Besar, 1978.  Post ke-2.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kane Dietritch Pavarell, Nicolas Morcerf, Janette Blizzard, Voe Goscinny, Ralph K. Latimer.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-7882660029618260607?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/7882660029618260607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=7882660029618260607&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/7882660029618260607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/7882660029618260607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/pesta-awal-tahun-ajaran-1978-2.html' title='Pesta Awal Tahun Ajaran 1978 #2'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-1385123584614934103</id><published>2009-04-03T15:38:00.003+07:00</published><updated>2009-04-03T15:56:07.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aula Besar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesta Awal Tahun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1978'/><title type='text'>Pesta Awal Tahun Ajaran 1978 #1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;AULA DEPAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Justify Full" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Prefek, eh?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan perlahan menaiki undakan depan Kastil Hogwarts, tangan kanan Rigel memain-mainkan lencana keemasan itu di dalam saku jubahnya. Pemuda tanggung berambut pirang kecokelatan itu sengaja berjalan lamat-lamat, menunggu arus manusia yang bergelung saling berebut ingin lebih dulu masuk ke Kastil berlalu begitu saja di hadapannya. Please, dia sudah bukan anak kecil yang menjadikan permainan siapa-yang-duduk-di-meja-asrama-lebih-dulu sebagai pertaruhan hidup-dan-mati seperti yang tampaknya dilakukan banyak junior-juniornya —yang mana, sebenarnya, tak pernah dilakukan Rigel sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya di kastil tua ini. Apa itu berarti dia tak pernah jadi anak kecil, huh? &lt;em&gt;Tch,&lt;/em&gt; bocah-bocah itu saja yang terlalu ingusan. Mental bocah usia lima tahun yang sayangnya terperangkap dalam tubuh remaja usia belasan tahun. Maaf saja, harga diri Rigel terlalu tinggi untuk menjadikan permainan konyol itu sebagai medan pertarungan hidup-dan-mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arus anak-anak yang turun dari kereta Thestral di Undakan Depan mulai berkurang—dia tak bisa melihat Thestral-nya, jelas. Dia belum pernah melihat kematian secara langsung. Tapi itu tidak menjadi penghalang untuk tahu kereta itu ditarik oleh &lt;em&gt;apa&lt;/em&gt;, kan? Hm, mungkin dia bisa membunuh Père-nya &lt;em&gt;tersayang&lt;/em&gt; kapan-kapan. Orang tua botak pengatur itu hilang, dan dia bisa melihat Thestral. Sekali tepuk, dua ekor lalat kena— tangan Rigel yang memain-mainkan lencana Prefek, menarik potongan lempeng logam itu keluar, membuatnya menari-nari di antara jari jemarinya. Anak-anak kelas satu belum tiba, tampaknya? Bisakah dia menarik kesimpulan kalau itu berarti tugasnya belum dimulai? Karena murid-murid kelas dua ke atas sudah tidak lagi memerlukan sambutan Prefek di Meja Asrama mereka—jangan lakukan kalau kau tak ingin dilempari kentang atau tomat— dan mereka juga tak perlu diantar-antar ke Asrama seperti anak umur dua tahun. Oh—oke, dia tetap harus masuk, tak peduli betapapun enggannya dia. Pikiran tinggalkan-saja-tugas-Prefek-merepotkan-itu-pada-Prefek-lain dikalahkan dengan tidak hormat oleh rasa lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Prefek, eh?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel sebenarnya tidak begitu antusias untuk bergabung dalam perebutan tahta Prefek dan Ketua Murid. Untuk apa merepotkan diri sendiri melakukan pekerjaan sukarela mengurus murid-murid Hogwarts? Seolah mereka tak punya Penjaga Sekolah saja. Ironis. Karena ternyata lencana itulah yang justru membuat dia selamat dari pidato rutin Monsieur Noir yang menyembur setiap melihat nilai-nilai Rigel. Tua bangka itu tak bisa diam kalau tidak melihat daftar nilainya dipenuhi dengan huruf O. Rigel mendengus. &lt;em&gt;Seolah aku sudi saja belajar di sini,&lt;/em&gt; batinnya perlahan. Dan karena hal itulah, Rigel harus memastikan lencana itu akan tetap berada di tangannya hingga akhir tahun, dan juga tahun depan. Yang berarti dia harus mulai bertingkah seperti anjing-penjilat dan menghadiahkan beberapa detensi pada beberapa anak, dan memakai label "Penjual Teman" di wajahnya sendiri. Demi agar Père-nya kembali mengizinkannya pulang ke Perancis musim panas tahun depan. Ironis. Haruskah ia mulai memakai kata itu sebagai nama tengah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 255, 0);"&gt;&lt;strong&gt;MEJA SLYTHERIN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oh, bagus.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di saat Rigel mengingat-ingat kembali siapa partnernya yang tertulis di daftar Prefek yang dia terima saat di Kompartemen Prefek tadi, gadis itu berdiri dan melakukan penyambutan untuk para murid kelas satu yang baru selesai diseleksi. Sebelah alisnya terangkat. Okay. Tak ada yang istimewa. Hanya berpartner dengan seorang cewek psycho yang membawa-bawa belati perak kemanapun dia pergi dan tak segan-segan menusukkannya ke jantungmu kalau dia sedang kesal. Tak ada yang istimewa, kecuali peluang Rigel mati lebih dulu daripada Père-nya tiba-tiba meningkat jadi 99,99% karena harus selalu bekerja bersama gadis itu setiap hari, sepanjang tahun, dengan resiko dia mengorek jantungnya satu detik setelah Rigel membuatnya kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Heh. Bagaimanapun, dia itu perempuan. Putar otak, Rigel. Ke mana harga dirimu kalau kau bertekuk lutut di bawah belati peraknya?&lt;/em&gt; Benar juga.  Perempuan.  Rigel sudah memegang kartu As-nya, kalau begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"My, my. Terimakasih Goscinny, sudah menyambut para junior kita yang manis ini bahkan sebelum Prefek yang lain muncul. Keberadaan kami tidak dianggap cukup penting bagimu, rupanya," sapa Rigel. Ups. Did he just say something bad? &lt;em&gt;Like he cares.&lt;/em&gt;  Lagipula dia memang sengaja datang agak terlambat.  "Izinkan aku mengucapkan bagian&lt;em&gt;ku&lt;/em&gt; sekarang, Mademoiselle," Rigel menatap Goscinny dengan sorot mata penuh arti. "Rigel du Noir, your another fifth year Prefect starting from now on. Selamat datang di Slytherin, meski aku yakin partnerku ini sudah mengucapkannya tadi," suara berat pemuda tanggung itu mengalun renyah, diakhiri dengan seringai khasnya yang merekah perlahan. Sadar lencana Prefek-nya masih tergenggam di tangan kanannya—bukannya tersemat secara rapi di dada seperti Goscinny— "Ah, dan ini?" Rigel menjentikkannya ke udara, dan menangkapnya dengan sempurna— "lencana Prefek-ku, tapi kurasa tanpa memakai ini pun kedudukan Prefek tetap ada padaku, kan? Belajarlah untuk mengingat wajahku sebagai Prefek tanpa harus ditempeli lencana ini," ujarnya tangkas, memasukkan kembali lencananya ke dalam saku jubah, dan duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun lalu, dia masih termasuk dalam kelompok orang yang membenci kelompok Prefek tukang pamer tapi tak bisa apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, dia punya resiko dibenci orang lain karena dianggap sebagai Prefek tukang pamer yang tak bisa apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Pavarell yang ternyata duduk dua anak dari seberangnya, kalau dia boleh menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak percaya? Buktinya kedudukan Ketua Murid diserahkan pada Darah Lumpur Tukang Sepatu itu alih-alih Pavarell. Padahal Shoemaker &lt;em&gt;bukanlah&lt;/em&gt; siapa-siapa di tahun sebelumnya.  Bukan Prefek, juga bukan Kapten Quidditch.  Sungguh memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, halo Senior Pavarell.  Sedang merayakan &lt;em&gt;ketidakberhasilanmu&lt;/em&gt; mendapatkan Lencana Ketua Murid? Kalau saja pemakainya sekarang bukanlah Darah-Lumpur, aku sudah bersulang dari tadi," ujarnya santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkan Rigel untuk waspada agar tidak bernasib sama seperti &lt;em&gt;mantan&lt;/em&gt; Prefek dan &lt;em&gt;mantan&lt;/em&gt; Beater di depannya itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/448062/6/"&gt;Pesta Awal Tahun Ajaran&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, Aula Besar, 1978.  Post ke-1.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Voe Goscinny&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kane Dietritch Pavarell&lt;/span&gt; dan seluruh siswa di meja Slytherin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-1385123584614934103?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/1385123584614934103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=1385123584614934103&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/1385123584614934103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/1385123584614934103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/pesta-awal-tahun-ajaran-1978-1.html' title='Pesta Awal Tahun Ajaran 1978 #1'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-237090578749724735</id><published>2009-04-03T15:35:00.003+07:00</published><updated>2009-04-03T15:37:37.141+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OOC'/><title type='text'>OOC</title><content type='html'>Baca ulang post-post Rigel jaman jebot.... ada satu hal yang baru gue sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;90% postnya Rigel isinya cuma tentang cewek dan cewek -ROFL ROFL ROFL-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan... nih chara jebotannya jadi nista abis dah =))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(abaikan entri yang ini, OOC mampus, OOC mampus)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-237090578749724735?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/237090578749724735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=237090578749724735&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/237090578749724735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/237090578749724735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/ooc.html' title='OOC'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-9200842518553963860</id><published>2009-04-03T13:57:00.002+07:00</published><updated>2009-04-03T18:04:58.007+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aula Besar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Latihan Dansa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1976'/><title type='text'>Latihan Dansa #2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;em&gt;With Pleasure..." &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyuman tipis tersungging di bibir Rigel mendengar jawaban gadis itu. With pleasure. Naturellement. Jawaban apa lagi yang diharapkan keluar dari mulut gadis itu selain kebersediaannya? Diajak berdansa oleh seorang bangsawan tampan, kaya dan pureblood seperti Rigel, bodoh kalau ada yang menolak. Rigel menarik lembut gadis itu ke tengah-tengah Aula, di mana beberapa pasangan sudah mulai berdansa mengikuti alunan lagu dari gromofon. Rigel melingkarkan tangan kirinya ke pinggang ramping Vionna, memperlakukan gadis itu layaknya vas porselen termahal di dunia. Tangan kanannya masih belum melepaskan genggamannya pada tangan Vionna, menggamitnya dengan lembut. Keduanya berayun seiring alunan lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;em&gt;"Eh, apakah seperti ini dansa yang kau harapkan? Uhm....maaf jika aku kurang pandai berdansa, maybe... kau bisa mengajariku..."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyuman Rigel kembali merekah perlahan. Well, Rigel bisa melihat kalau gadis ini tidak begitu pandai berdansa. Mati-matian Rigel menahan agar alisnya tidak terangkat atau bibirnya tidak menyunggingkan senyum merendahkan. &lt;em&gt;Rakyat jelata.&lt;/em&gt;  Sangat tidak sepadan bersanding dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Avec plaisir, Mademoiselle," alih-alih memaki gadis itu, Rigel malah tersenyum dan menjawab dengan amat lembut. Rigel membimbingnya perlahan, membisikkan petunjuk demi petunjuk kemana gadis itu harus melangkah. "Hitung sesuai dengan temponya, akan lebih mudah. Satu, langkahkan kaki kananmu. Dua, tarik kaki kirimu jadi sejajar dengan kaki kanan dan bertumpu di atas ujung jari. Tiga, luruskan kakimu. Ulangi lagi dengan kaki yang satunya," Rigel tanpa lelah membisikkan petunjuk-petunjuk ke telinga Vionna. Selang beberapa waktu dia memberi petunjuk tentang posisi tangan. Tanpa lelah, katamu? Oh, &lt;em&gt;droite.&lt;/em&gt;  Capek rasanya berbicara terus menerus sambil tak berhenti bergerak.  Semoga saja kerja kerasnya ini tak sia-sia—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;—Ouch!!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAH! Kan?! Apa Rigel bilang? Baru saja dia mengatupkan kedua bibirnya, gadis itu sudah salah melangkah, hingga Rigel menginjak kakinya. &lt;em&gt;Kau pikir ini salah dia, heh?! Kau yang salah melangkah!&lt;/em&gt; Oh, ok.  Ingat, Rigel.  Jaga manner-mu.  Ok.  Baiklah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perhatikan langkah pasanganmu juga. Kalau dia melangkah ke depan, maka kau melangkah ke belakang," alih-alih memakinya, Rigel melanjutkan instruksinya. Masih dengan senyuman lembutnya. Masih dengan suara menawannya. Well, dia kan Noir. Mengendalikan emosi seperti itu latihan kecil bagi Rigel yang selalu harus menahan emosi saat menghadapi Père-nya. Rigel mengerling sekitarnya. Tertangkap oleh sudut matanya sosok yang sangat familiar. Ann. Senior Hufflepuff-nya. Rigel tersenyum samar, nyaris tak terlihat, berharap Ann masih tetap di situ sebelum latihan dansa ini selesai. Ralat. Ann masih di situ setelah dansanya dengan Vionna selesai. Yep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan ngebass yang membuat telinganya sakit tiba-tiba terdengar menggaung di Aula Besar. Rigel menghentikan dansanya, matanya mencari-cari siapa yang berteriak-teriak dengan tidak sopannya itu. Rigel langsung mual ketika melihat si pelaku. Oke, dia hantu yang lumayan. Badannya bagus. Tariannya oke. Tapi-jangan-suruh-dia-buka-mulut. Euh. Bikin mual saja. Ditambah lagi, Peeves si potergeist sinting itu mengajak seorang anak perempuan kelas satu yang tampaknya sudah mau menemui ajal terbang berputar-putar. Sedetik lagi para guru itu masih bengong menonton 'pertunjukan jalanan' hantu-hantu rendahan itu, maka anak kelas satu berjubah Hufflepuff itu akan menemui ajal. Atau mungkin itu yang lebih baik, agar dia bisa jadi hantu juga dan Peeves tak perlu susah payah menggendongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Well, lagunya sudah berganti. Sepertinya kau akan lebih menikmati berdansa dengan lagu yang lebih riang ini," jangan tanya kenapa Rigel berkata seperti itu. Dia sudah tahu apa jawaban yang akan diberikan oleh gadis itu. Tidak bisa berdansa waltz. Berarti bukan bangsawan. Berarti pula, dia akan lebih senang berjoget dengan lagu konyol seperti ini. &lt;em&gt;Berjoget,&lt;/em&gt; bukan berdansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;Lalu? Apa kau sudi berjoget cha-cha konyol seperti hantu bencong itu kalau Vionna mau berjoget cha-cha, Rigel?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;em&gt;Ha! Pikirmu? Seorang Noir mau berjoget seperti itu dan mempermalukan dirinya di depan publik? Tidak, terima kasih. Langkahi dulu mayatnya sebelum itu terjadi. Yang artinya tak akan pernah terjadi.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;Then, what will you do, Rigel? Meninggalkan Vionna begitu saja?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm.... hmmm.... Setelah kau sebutkan, sepertinya itu ide bagus. Kelihatannya Ann masih menunggu diajak seseorang. Atau, mungkin sebaiknya dia mengajak Jane? Oh, dan jangan lupa. Kau masih belum meminta &lt;em&gt;seorangpun&lt;/em&gt; untuk diajak ke pesta dansa. Jangan lupa untuk meminta salah satu dari mereka, Rigel du Noir. Atau kau akan pergi tanpa pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well, Drake yang sok-tampan itu sudah mengganti kembali lagunya menjadi waltz. Ingin memperlihatkan kembali keahlian berdansanya pada semua orang? Peduli amat. Bukan urusan Rigel. Yang penting kedua hantu sinting itu sudah ditangani. Dan Rigel tak perlu mempertaruhkan martabat dan harga dirinya dengan berjoget tidak jelas di depan publik. Uh-oh. Kau lupa satu hal, Rigel. Kau masih berhadapan dengan Vionna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha-ha.  Pintar.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;- &lt;strong&gt;Naturellement&lt;/strong&gt; = of course.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Avec plaisir&lt;/strong&gt; = dengan senang hati.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;droite&lt;/strong&gt; = right&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/447250/7/"&gt;Latihan Dansa&lt;/a&gt;, Aula Besar, 1976. Post ke-2.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan Vionna McKenzie, Janette Blizzard, Annabelle Roosevelt.  Some Quotes and descriptions credit to those chara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-9200842518553963860?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/9200842518553963860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=9200842518553963860&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/9200842518553963860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/9200842518553963860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/latihan-dansa-2.html' title='Latihan Dansa #2'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-2769215520062449215</id><published>2009-04-03T13:42:00.005+07:00</published><updated>2009-04-03T18:04:09.920+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aula Besar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Latihan Dansa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1976'/><title type='text'>Latihan Dansa #1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dilahirkan di Keluarga Bangsawan Pureblood Terhormat Noir memiliki keistimewaan tersendiri. Segala fasilitas nomor satu, hak-hak istimewa bangsawan yang masih bisa mereka dapatkan meski secara tertulis kedudukan bangsawan di Perancis dianggap sama setelah Revolusi Perancis —yang omong-omong, sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan para penyihir. Itu kan urusannya para Muggle— Tidak jarang keberuntungan lah yang menyapamu terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta Dansa di Hogwarts. Dimana yang diizinkan ikut hanyalah kelas tiga ke atas. Dan, guess what? Dia kelas tiga tahun ini. Betapa beruntungnya dia. Well, he is a Noir, anyway. He &lt;em&gt;deserved&lt;/em&gt; it.  Seorang Rigel du Noir, tak bisa datang ke acara pesta dansa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Better he dead.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;Bagaimana dengan pasangan dansamu nanti, Rigel? Sejauh ini kau belum mengajak siapapun. Tidakkah kau takut kau akan kehabisan gadis cantik untuk diajak berdansa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bercanda, ya? Dia. Rigel. du Noir. Dia bisa mendapatkan gadis yang dia mau semudah dia menjentikkan jarinya. Tidakkah kau lihat sorot mata para gadis yang meleleh di bawah tatapan matanya? Atau mungkin kau melupakan desah napas tertahan rombongan gadis di koridor saat Rigel berlalu di depan mereka, meninggalkan jejak wangi sabun kayu Ivory di belakangnya yang dengan rakus mereka hidup. Well, sejauh ini Rigel memang belum meminta secara langsung pada siapapun. Dia masih memilih. Mana gadis yang paling dia inginkan berdiri di sampingnya saat memasuki Aula Besar. Mana gadis yang paling dia inginkan untuk berdansa dengannya. Dan mana gadis yang &lt;em&gt;pantas&lt;/em&gt; bersanding dengannya.  And well... &lt;em&gt;Latihan dansa.  Hmm... Parfait.  Une bonne chance de choisir la fille,&lt;/em&gt; batin Rigel saat Profesor McGonagall membersihkan lantai Aula Besar setelah waktu makan mereka. Meja-meja panjang Asrama menghilang entah ke mana. &lt;em&gt;Mantera yang bagus, ngomong-ngomong. Kapan McGonagall mengajarkannya, ya? Siapa tahu aku bisa melenyapkan Père. Ha-ha. Kidding. As if.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersandar pada dinding, Rigel mengawasi McGonagall menyalakan gromofon. Musik waltz mengalun lembut. Ah. Kapan terakhir kali pemuda itu berdansa? Sudah lama, pastinya, mengingat kali terakhir dia berdansa adalah saat dia masih tinggal di Perancis. Dia sudah meninggalkan Perancis selama hampir tiga tahun, ingat? Meski begitu, Rigel belum melupakan langkah-langkah dansa yang diajarkan guru Tata Krama-nya dulu. Ayolah. Seorang Noir, tak bisa berdansa? Jangan mengaku Noir, kalau begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Rigel masih mengawasi Profesor McGonagall meminta seorang anak Hufflepuff untuk menjadi pasangannya berdansa —MacManus, kalau dia tidak salah ingat. Salah satu juara Asrama. Rigel mengangkat sebelah alisnya. &lt;em&gt;Nenek tua itu benar-benar akan berdasa? Whoa.  Kesempatan langka.&lt;/em&gt; Rigel mengerling Carey dan juga Sinistra yang ikut bergabung di lantai dansa. Hmm... rupanya para guru yang antusias menyambut pesta dansa ini bukan hanya McGonagall. &lt;em&gt;Commencerons-nous maintenant, le professeur?&lt;/em&gt; Rigel rasanya sudah menunggu selama seabad hingga acara latihan dansa itu dimulai. Matanya mulai menyisir seluruh isi Aula. Mencari-cari siapa yang bisa diajaknya berdansa. Harap dicatat, belum tentu gadis itu akan jadi pasangannya ke pesta dansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mieux vous remerciez à Dieu, filles. Parce que vous êtes les fortunés ce soir.&lt;/em&gt; Rigel memilih random seorang gadis. A-ha. What a coincidence. Rigel mengenal gadis itu. Vionna, yang kebetulan bertemu dengannya di danau tempo hari. Rigel melangkah mantap mendekati gadis itu, tatapan matanya tertuju hanya pada dia. Senyumannya merekah perlahan. "May I have the honour to have a dance with you, Mademoiselle?" sapa Rigel dengan nada lembutnya yang biasa. Tangan kanannya terlipat di depan perutnya, punggung membungkuk singkat. Rigel tidak melepaskan tatapan matanya dari gadis itu. Tanpa menunggu jawaban dari Vionna, Rigel mengangkat tangan kanan gadis itu perlahan, dan mengecup ringan punggung tangannya. "One song, if you don't mind," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;em&gt;Bagaimana kalau dia Mudblood?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;Bodoh kau, Rigel. Stupide. Kenapa tidak kau tanya dulu sebelum mengajaknya berdansa? Siapa tahu dia terlalu GR dan mengira kau akan mengajaknya ke pesta dansa juga. Lebih baik kau berdansa dengan Jembalang daripada dengan Mudblood.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;em&gt;Mudblood? Sepertinya menyenangkan kalau aku mempermainkannya sedikit.  Menarik.  Kita lihat bagaimana nanti reaksinya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;- &lt;strong&gt;Parfait.  Une bonne chance de choisir la fille&lt;/strong&gt; = Sempurna.  Kesempatan bagus untuk menyeleksi para gadis itu.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Commencerons-nous maintenant, le professeur?&lt;/strong&gt; = Bisakah kita mulai, Profesor?&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Mieux vous remerciez à Dieu, filles. Parce que vous êtes les fortunés ce soir.&lt;/strong&gt; = Bersyukurlah, girl.  Karena kaulah yang beruntung malam ini.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Stupide&lt;/strong&gt; = Bodoh.                           &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/447250/2/"&gt;Latihan Dansa&lt;/a&gt;, Aula Besar, 1976, Post ke-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dengan Vionna McKenzie.  Some quote and descriptions credit to her.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-2769215520062449215?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/2769215520062449215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=2769215520062449215&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/2769215520062449215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/2769215520062449215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/dilahirkan-di-keluarga-bangsawan.html' title='Latihan Dansa #1'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-1542901915099880460</id><published>2009-04-03T13:36:00.000+07:00</published><updated>2009-04-03T13:40:31.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seleksi Asrama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hogwarts'/><title type='text'>Seleksi Asrama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba di Stasiun, Rigel dan para murid kelas satu lainnya disambut seseorang —sepertinya dia lebih pantas disebut makhluk— tinggi besar dengan kumis dan jenggot lebat dan acak-acakan. Rigel menaikkan sebelah alis saat melihatnya. Setengah raksasa, dia sudah bisa menebak saat pertama kali melihat makhluk itu. Rigel mendengus merendahkan. Bahkan disebut sebagai seseorang saja, dia tidak berhak mendapatkannya. Sekolah macam apa ini, mempekerjakan makhluk setengah raksasa? Seperti Darah-Lumpur belum cukup saja. Benar-benar sekolah rendahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel mengikuti makhluk itu dengan terpaksa ke arah danau, dan menaiki perahu. Sepertinya ini khusus hanya untuk kelas satu, karena kelas tingkat atas pergi ke arah lain. Rigel melakukan semuanya dengan setengah hati. Dia sudah lelah, dan dia ingin segera tiba. Bukan karena dia tidak sabar ingin bersekolah di situ. DIa hanya kelelahan, dan ingin bisa tidur sesegera mungkin. Rigel teringat perkataan Mère-nya saat di toko es krim. Mereka mengadakan semacam seleksi untuk memasukkan para murid baru ke 4 asrama berbeda. Oh, semoga saja acara seleksi ini tidak berlangsung lama. Rigel ragu dia masih sanggup untuk bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk setengah raksasa itu memandu mereka ke arah kastil. Oke, tidak buruk. Kastilnya lumayan. Terlihat tua, tapi lumayan besar. Di depan pintu masuk ganda besar, seorang wanita paruh baya dengan wajah serius sudah menanti mereka. Sekali lihat, Rigel sudah mendapatkan pesan untuk tidak berbuat macam-macam di hadapan wanita ini kalau dia tidak mau mendapatkan masalah. Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai wakil Kepala Sekolah, dan meminta mereka berbaris dalam barisan dua-dua dan masuk ke dalam Kastil. &lt;em&gt;Berbaris, aku bukan anak kecil lagi,&lt;/em&gt; dengus Rigel. Mereka melewati pintu ganda tinggi besar yang mengingatkannya akan pintu Bank Gringotts. Hanya saja, ini terbuat dari kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyeberangi ruangan kosong yang cukup luas di balik pintu, dan masuk ke pintu ganda lain lagi. Rigel disambut dengan suara celotehan ramai dan sinar kuning lembut, yang ternyata berasal dari ratusan lilin yang melayang sebagai penerangan. Rigel mengangkat kepalanya, melihat ke arah langit-langit. Persis seperti langit di luar. &lt;em&gt;Langit-langit sihir&lt;/em&gt;, batinnya. Agak kampungan, meski sekarang telihat bagus karena kebetulan langit di luar sedang bagus. Ruangan yang ini benar-benar besar. Rigel Tampaknya seluruh murid Hogwarts berkumpul di sini. Semacam tempat untuk makan, barangkali? RIgel memperhatikan, ada 4 meja berbeda. &lt;em&gt;Mungkin setiap meja untuk setiap asrama?&lt;/em&gt; Rigel mrmandang sekilas ke arah keempat meja itu, mencari-cari anak-anak bertampang superior dan aristokrat. Biasanya mereka yang seperti itulah yang berdarah murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di bagian depan ruangan, Profrsor McGonagall menyuruh mereka berhenti dan menghadap ke arah keempat meja. Rigel lagi-lagi menaikkan alisnya. &lt;em&gt;Plaisez, mereka bukanlah barang pameran.  Apa yang akan mereka lakukan terhadap para murid kelas satu?&lt;/em&gt; Rigel benar-benar penasaran apa seleksinya. Semoga saja bukan duel satu lawan satu. Bukan berarti Rigel tidak berani melawan mereka. Dia sedang berada dalam kondisi sangat kelelahan. Dia bahkan tidak yakin dia sanggup untuk mengangkat tongkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor McGonagall mengeluarkan sebuah bangku berkaki tiga, can meletakkan sesuatu —yang membuat Rigel langsung mual saat melihatnya— di atasnya. Rigel bersyukur dia belum makan apapun selain makanan yang dibelinya dari troli di kereta tadi siang. Dia merasa dia bisa muntah saat itu juga. Benda itu terlihat sangat kumuh, dekil, penuh tambalan dan robekan. Mirip dengan sesuatu yang sering dipakai para peri-rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel terkejut melihat apa yang dilakukan benda itu setelahnya. Benda itu bernyanyi! Rigel hampir pingsan, kupingnya sakit mendengar suara dari benda itu. Topi, ternyata. Benda itu sebuah topi. Lagunya menceritakan perbedaan keempat asrama di Hogwarts. &lt;em&gt;Lalu mana asrama yang berisi para Darah Murni? Stupide topi, kau tidak menjelaskan dengan tuntas.&lt;/em&gt; Rigel mengira tidak ada yang bisa mengejutkannya lebih dari itu. Oh, dia salah. Berikutnya, saat Profesor McGonagall mengatakan mereka harus mengenakan topi itu, Rigel ingin berlari pulang saat itu juga. Dia tidak peduli dia akan mendapat masalah dengan Père-nya. Apapunakan dia lakukan demi agar tidak menggunakan topi jelek kumal dan bodoh itu. Bagaimana kalau nanti kebodohan si topi berpindah padanya? Oh, tidak, tidak! Dia tidak bisa menjadi bodoh. Dia tampan, Darah Murni, kaya, dan seorang bangsawan. Dia tidak boleh jadi bodoh, atau itu akan menghancurkan semua reputasi baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rigel tidak bisa berkutik.  Tampaknya inilah seleksi yang dimaksud oleh Madame Noir.  &lt;em&gt;Seleksi, melihat siapa yang paling tahan utnuk direndahkan sedemikian rupa di depan ratusan orang, eh? Aku harus siap-siap untuk membawa koperku pulang, kalau begitu. Aku tidak sudi dipermalukan seperti itu.&lt;/em&gt; Si topi tampaknya meneriakkan nama asrama untuk setiap anak setelah berbisik-bisik sebentar dengan si anak. Rigel komat kamit dalam hati, benar-benar berharap si topi tidak menularkan kebodohan atau hipnotis untuk menjadi Pecinta-Muggle padanya. Harga dirinya akan hancur seketika itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;du Noir, Rigel Deveraux!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel tidak bisa mengelak lagi. Perlahan tapi pasti, urutan absen mendekati namanya. Dan akhirnya, tibalah gilirannya. Rigel masih terus saja berdoa agar topi butut itu tidak merubahnya menjadi Pecinta-Muggle sementara dia berjalan ke arah bangku dan duduk. Dia mengernyit saat topi itu dipakaikan ke kepalanya, dan bersumpah akan mencuci rambutnya sampai benar-benar bersih setelah ini. &lt;em&gt;Oh, ayolah topi bodoh, cepat putuskan! Jangan racuni pikiranku dengan berbagai macam hal tentang menjadi Pecinta-Muggle, awas saja! Dan masukkan aku ke asrama yang berisi para Darah Murni. Kau pasti tidak ingin aku kabur pulang di hari pertama, kan? Karena aku akan melakukannya kalau kau memasukkanku ke sarang para Darah Lumpur itu,&lt;/em&gt; ancam Rigel pada si topi.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/446361/6/"&gt;Seleksi Asrama 1974&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-1542901915099880460?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/1542901915099880460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=1542901915099880460&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/1542901915099880460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/1542901915099880460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/seleksi-asrama.html' title='Seleksi Asrama'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-6488109146013207312</id><published>2009-04-03T13:34:00.001+07:00</published><updated>2009-04-03T13:38:10.885+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Disturbed Sanctuary'/><title type='text'>Disturbed Sanctuary #3</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;''Kau bisa berbahasa Belanda juga?''&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel tersenyum kecil.  &lt;em&gt;Oui , de trajet.  Aku menjawabnya dalam bahasa Belanda juga, kan? Masa itu belum jelas?&lt;/em&gt; Tapi kata-katanya itu tidak sampai terucap. Tidak. Dia tidak ingin menghancurkan kesan pertama anak itu padanya. Gadis yang unik, Rigel bisa tahu walau baru melihatnya beberapa kali. SIapa tahu bisa jadi temannya? Lagipula, sampai sekarang Rigel belum punya satu kenalan pun. Dia terlalu fokus dengan kepindahannya ke Inggris, dengan dia akan berpisah dari Mère dan kakak-kakaknya, sehingga tidak begitu memperhatikan bagian mencari teman baru. Dan, dia juga tidak ingin salah memilih teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ja. Père mengharuskanku untuk belajar bahasa-bahasa di Eropa, untuk memudahkan koneksi, katanya. Tapi baru beberapa yang sudah lancar aku kuasai. Lainnya, sebatas mengenal ditambah sedikit ucapan sehari-hari," jawab Rigel. Sebuah pikiran mengerikan merasuk ke dalam kepalanya. Tunggu dulu. Bagaimana kalau anak ini bukan Pure-Blood? Ditaruh ke mana mukanya kalau semua orang nanti mengetahui dia mengajak kenalan anak yang bukan Pureblood? Oh, tidak, tidak, tidak. Jangan sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; ''Namanya Void. Dia iguana vegetarian, tapi tetap menggigit.''&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu malah memperkenalkan iguananya lebih dulu sebelum namanya. Jelaslah sekarang, kalau gadis itu sangat sayang pada iguananya. Rigel mengulurkan tangannya, ingin membelai iguana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Void, artinya kosong, hampa. Ada maksud tertentu menamainya seperti itu?" tanya Rigel, sama sekali tidak bermaksud merendahkan. Hanya penasaran akan nama yang tidak umum itu. Rigel sekarang mengulurkan kedua tangannya, matanya memberikan tatapan bertanya apakah boleh dia menggendong Void. Rigel belum pernah bermain dnegan iguana. Dia tidak pernah menemukan iguana di hutan belakang rumahnya, dan di rumahnya pun tidak ada iguana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namanya Void, lalu namamu siapa?" ulang Rigel lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;''Janette Blizzard. Lengkapnya Janetianne Ver Leth Blizzard. Panggil aku J saja, atau Janette juga boleh. Asal jangan Janetianne.''&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya anak itu menjawab juga.  Namanya cukup panjang.  Rigel kira hanya dia dan keluarganya yang bernama panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kupanggil Jane, boleh? Panjang juga, namamu. Namaku Rigel Deveraux du Noir. Panggil saja Rigel," ujar Rigel, tidak tahan untuk tidak memamerkan nama panjangnya juga. Sebuah pertanyaan lain mendesak di dalam kepalanya, mendesak untuk keluar. Rigel menghela napas. &lt;em&gt;Semoga saja gadis ini Pureblood.  Kalau tidak, semoga tak ada yang tahu aku sudah berkenalan dengannya,&lt;/em&gt; batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau Pureblood?" tanya Rigel.  Akhirnya.  Kata itu terucap juga dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/446320/"&gt;Disturbed Sanctuary&lt;/a&gt;, Diagon Alley, 1974, post ke-3.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mikey Romanceheart&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Janette Blizzard&lt;/span&gt; (yang ikut banyak tapi Rigel hanya interaksi dengan kedua chara tersebut) Credits quote and some descriptions to those chara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-6488109146013207312?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/6488109146013207312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=6488109146013207312&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/6488109146013207312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/6488109146013207312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/disturbed-sanctuary-3.html' title='Disturbed Sanctuary #3'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-5439406261514816043</id><published>2009-04-03T13:33:00.000+07:00</published><updated>2009-04-03T13:34:26.840+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Disturbed Sanctuary'/><title type='text'>Disturbed Sanctuary #2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak lelaki bodoh itu akhirnya meminta maaf pada gadis berambut hitam si pemilik iguana. Alasan bodoh, mencerminkan kalau orangnya juga bodoh. Jelas saja akan kabur, orang waras mana yang dengan sengaja membuka kandang hewan peliharaannya, terutama yang masih baru? Hewan peliharaanmu akan lepas begitu saja. Kecuali kalau memang burung hantu itu dimaksudkan untuk mengirim surat. Namun gadis si pemilik iguana itu masih bisa menerima alasan anak laki-laki itu. &lt;em&gt;Kalau aku jadi dia, mungkin sudah kumantrai anak laki-laki itu,&lt;/em&gt; batin Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu mengajak iguananya berbicara. Seketika, raut wajahnya menjadi lembut saat berbicara dengan peliharaannya. Persis seperti raut wajah Callista yang melembut saat membantu Mère berkebun. Terlihat jelas kalau anak ini sangat menyayangi iguananya. Yeah, iguana memang keren. Hanya satu hambatan yang membuat Rigel enggan memelihara hewan: Dia tidak begitu suka melakukan pekerjaan mengurus hewan. Hewan-hewan di Palais du Noir semuanya bukan dia yang mengurus, melainkan para peri-rumahnya. Rigel hanya bermain dengan mereka sekali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu mengucapkan terima kasih padanya dalam Bahasa Belanda.  Lagi-lagi Rigel mengangkat alisnya.  &lt;em&gt;Mungkin gadis ini tidak mengira aku bisa berbahasa Inggris? Hm, bagaimana aku harus membalasnya? Dalam bahasa Belanda atau Inggris?&lt;/em&gt; Rigel bimbang sesaat.  Tapi keluar juga kata-kata dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"U bent welkom," katanya sambil tersenyum. Ekspresi lembut gadis itu saat berbicara dengan reptilnya masih terbayang dengan jelas di ingatannya. "Boleh aku tahu siapa namamu, Nona? Murid Hogwarts juga?" tanya Rigel.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/446320/"&gt;Disturbed Sanctuary&lt;/a&gt;, Diagon Alley, 1974, post ke-2.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mikey Romanceheart&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Janette Blizzard&lt;/span&gt; (yang ikut banyak tapi Rigel hanya interaksi dengan kedua chara tersebut) Credits quote and some descriptions to those chara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-5439406261514816043?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/5439406261514816043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=5439406261514816043&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/5439406261514816043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/5439406261514816043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/disturbed-sanctuary-2.html' title='Disturbed Sanctuary #2'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-4460568197143476900</id><published>2009-04-03T13:28:00.002+07:00</published><updated>2009-04-03T13:33:30.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Disturbed Sanctuary'/><title type='text'>Disturbed Sanctuary #1</title><content type='html'>Hari sudah semakin sore ketika mereka akhirnya selesai belanja. Tidak, bukan mereka. Rigel-lah yang sudah selesai. Kedua kakaknya, Callista dan Clémence yang baru saja tiba, segera bergabung dengan Madame Noir, berburu jubah baru di toko jubah. Rigel hanya bisa memutar bola matanya melihat Mère dan kedua kakaknya memburu toko jubah seperti anak kecil memburu penjual es krim. Rigel sudah bosan hanya berdiri mematung tanpa mengerjakan apa-apa. Dia pamit pada Mère dan kedua kakaknya, ingin berjalan-jalan sendirian. Dia mengakui, Diagon Alley bukanlah tempat menarik dan bukan tempat yang cocok untuk berjalan-jalan. Tapi lebih baik daripada harus berdiri menunggui Mère dan kedua kakaknya berbelanja entah sampai kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin sore, jalanan ini semakin sepi. Amat sangat konrtas dengan Diagon Alley saat siang tadi, dimana jalanan penuh sesak dengan orang-orang dari segala macam usia, sampai Rigel merasa udara menyusut saking banyaknya orang yang menghirup udara yang sama di tempat yang sama. Jujur, Rigel lebih menyukai jalanan Diagon Alley saat sepi seperti ini. Dia bisa berjalan dengan santai, tanpa harus tertabrak orang lain atau tersenggol barang belanjaan orang lain. Seorang bangsawan memang seharusnya seperti ini. Sangat tidak pantas seorang bangsawan harus berdesak-desakan pula dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbelok di tikungan dekat Toko Hewan Sihir, Rigel mendapati beberapa anak sedang berdiri berkerumun. Saling membandingkan hewan peliharaannya, mungkin. Rigel sedang tidak ingin masuk ke toko hewan dan menghirup aroma aneh lagi. Sudah cukup tadi dia hampir sesak napas di toko ramuan. Mungkin nanti dia akan membawa salah satu burung hantu yang dipelihara di Château saja. Cukup sebagai alat komunikasi. Rigel memang senang hewan, tapi dia tidak begitu rajin merawatnya. Rigel hanya senang bermain dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak lelaki berambut hitam dengan bodohnya membuka sangkar burung hantu miliknya. Rigel menaikkan alis. Tidak berpikir kalau burung hantunya itu bisa terbang jauh dan kabur? Sungguh bodoh. Sejak tadi dia hanya bertemu dengan orang-orang bodoh. Bagaimana mungkin dia diharapkan bersekolah di sekolah yang penuh dengan Darah-Lumpur dan orang-orang bodoh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar dugaannya. Burung hantu itu terbang seenaknya, menyerang reptil yang digendong seorang anak perempuan berambut hitam. Rigel ingat, ini anak yang duduk semeja dengannya saat pertama dia tiba di Leaky Cauldron. Anak dengan iguana hijaunya yang besar. Apa anak itu menambah peliharaannya lagi sekarang? Berani bertaruh, peliharannya yang lain pastilah reptil juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan itu tampaknya panik saat iguananya diserang. Rigel bergegas mendekat, dan membantu mengusir burung itu. Gadis itu marah-marah pada anak lelaki si pemilik burung hantu dan memaki-makinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau juga bodoh, membuka sangkar burung hantumu begitu saja. Kalau dia kabur, kau akan menyesal seumur hidup sudah menyia-nyiakan uangmu," tambah Rigel.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/446320/"&gt;Disturbed Sanctuary&lt;/a&gt;, Diagon Alley, 1974, post ke-1.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Interaksi dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mikey Romanceheart&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Janette Blizzard&lt;/span&gt; (yang ikut banyak tapi Rigel hanya interaksi dengan kedua chara tersebut) Credits quote and some descriptions to those chara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-4460568197143476900?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/4460568197143476900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=4460568197143476900&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/4460568197143476900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/4460568197143476900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/disturbed-sanctuary-1.html' title='Disturbed Sanctuary #1'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-4833806617745657718</id><published>2009-04-03T13:18:00.003+07:00</published><updated>2009-04-03T13:25:52.992+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Florean Fortescue’s Ice Cream Parlour v.2 (1974) #2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semilir angin yang berhembus mempermainkan rambut pirang Madame Noir yang tergerai panjang. Udara panas rasanya tidak terasa di bawah naungan payung besar di beranda toko. Meski efeknya membuat es krim mereka cepat mencair, Rigel tidak keberatan. Suasana ini membuatnya merasa sedang berada di Perancis, di beranda favoritnya di Palais du Noir, tempat dia sering menghabiskan sore hari. Hampir saja Rigel kelepasan mengatakan kalau dia rindu Perancis. Tidak, dia harus terlihat tegar di depan Mère-nya. DIa tidak mau Madame Noir menjadi khawatir karena belum apa-apa Rigel sudah tidak betah di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel mengalihkan pandangannya, melihat-lihat jalanan di sekelilingnya. Sangat ramai, Diagon Alley jadi terlihat sangat sumpek karena banyaknya orang yang berlalu lalang. Rigel mengernyitkan hidungnya. Diagon Alley jadi terlihat kumuh dan berantakan. Kalau tak ada toko ini yang membuatnya betah, sejak tadi dia mungkin sudah menarik tangan ibunya untuk cepat-cepat menyelesaikan berbelanja. Rigel tak begitu suka berdesakan di tengah kerumunan orang. Dia bangsawan, tidak seharusnya berdesak-desakan dan berebutan tempat layaknya rakyat jelata. Mungkin itu juga yang membuat Madame Noir sudah mengajaknya makan es krim, padahal mereka belum mulai berbelanja. Menghindari kerumunan orang banyak yang membuat sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Rigel menangkap sesosok gadis Asia yang satu meja dengannya saat di leaky Cauldron tadi. Gadis itu sudah ada di dalam toko, entah sejak kapan. Dia memandangi Rigel dan Madame Noir dengan tatapan ketus. Rigel mengangkat alisnya sedikit. Tadi pun, saat di Leaky Cauldron, gadis itu beberapa kali meliriknya tajam. Entah apa yang salah dengannya. Rigel merasa penampilannya sekarang baik-baik saja, tak ada yang aneh. Terlalu tampan, barangkali? Rigel tersenyum geli memikirkan kata-katanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memperhatikan siapa, Rigel?" tanya Madame Noir. Rigel tersentak, dia gelagapan. Tidak menyangka Mère-nya memperhatikan tindak tanduknya sejak tadi. Rigel cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Elle est une belle fille," perkataan Madame Noir berikutnya membuat Rigel hampir tersedak. &lt;em&gt;Rien! Kenapa Mère bisa tahu?&lt;/em&gt; Rigel mengumpat-umpat dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya kalau cantik kenapa?" Rigel akhirnya bersuara. Sedetik kemudian, dia menyesali perkataannya. Itu malah memancing Madame Noir menggodanya lebih jauh. "Mère, dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang anak perempuan yang menatapku tajam saat di leaky tadi. Entahlah, apa salahku padanya. Kenal juga tidak," tambah Rigel. Madame Noir hanya menatap dengan pandangan penuh arti. Rigel memutar bola matanya. Sudahlah. Percuma melayani godaan Mère-nya lebih lanjut. Hanya akan memancing godaan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis berambut hitam mendatangi meja mereka, wajahnya nampak cemas. Rigel amat bersyukur melihat kedatangannya, menyelamatkan dia dari godaan Madame Noir berikutnya. Detik berikutnya, anak itu malah membuat Rigel lagi-lagi hampir menyemburkan es krimnya, kali ini karena tak kuat menahan tawa. Sepertinya gadis itu mengira Rigel dan Madame Noir tidak mengerti bahasa Inggris, karena dia berbicara dalam Bahasa Perancis yang amat sangat buruk sekali, sepatah-sepatah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Nona?" tanya Madame Noir dalam Bahasa Inggris. Rupanya, Madame Noir pun mengerti kalau gadis ini tidak bisa berbahasa Prancis. Madame Noir hanya tersenyum, dan mengikuti arah yang ditunjukkan gadis itu. Tampak di dalam toko sudah terjadi sedikit kekacauan. Seorang gadis lain menumpahkan es krimnya. Rigel geleng-geleng kepala. Apa di Inggris menumpahkan es krim sudah jadi kebudayaan? Tadi di Leaky Cauldron pun, ada seorang anak yang menumpahkan es krimnya ke kepala orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu temanmu yang terkena es krim?" tanya Madame Noir lagi. Dia memberi isyarat pada Rigel untuk masuk. Rigel mengikuti dengan enggan. &lt;em&gt;Untuk apa Mère susah payah menolong anak itu?&lt;/em&gt; Rigel menggerutu dalam hati. Meski sebenarnya dia sudah tahu alasannya. Seorang bangsawan yang baik, harus ramah pada para rakyatnya. Jangan sampai rakyatnya mengira mereka sombong dan tinggi hati. Rigel memasang senyumnya yang biasa, berusaha menyembunyikan kekesalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madame Noir mendekati gadis berambut coklat yang ketumpahan es krim itu. DI sebelahnya, seorang gadis berambut hitam berusaha membersihkan noda es krimnya dengan panik. "Tak usah panik, Nak. Biar kubantu membersihkannya," kata Madame Noir, lagi-lagi dalam bahasa Inggris, dan melambaikan tongkatnya, sambil menggumamkan "Scourgivy." Seketika noda es krim tersebut hilang. Madame Noir kembali tersenyum. Mulutnya terbuka hendak berkata sesuatu, namun apapun yang hendak dia katakan, seketika tenggelam dalam suara ledakan yang cukup keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;DHUARRRR...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mère, montre dehors!!" Rigel refleks menarik Madame Noir tiarap di balik meja terdekat. Dia tidak peduli lagi pada ketiga gadis di sekitarnya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah jangan sampai Mère-nya terluka sedikitpun. &lt;em&gt;Ledakan apa itu?! Apa ada yang menyerang toko ini?&lt;/em&gt; Namun bau yang menguar sedetik kemudian membuatnya langsung tahu apa yang baru saja meledak.  Bom Kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Pour l'amour de Merlin! Siapa orang bodoh yang melemparkan Bom Kotoran di dalam toko?!" seru Rigel marah. Jelas saja dia marah. Dia sudah terlanjur punya perasaan khusus pada toko ini, yang dianggapnya sebagai obat kerinduannya pada Perancis, kampung halamannya. Dan sekarang ada orang bodoh yang melemparkan Bom Kotoran di dalam toko? Rigel bertaruh, orang itu pastilah Darah-Lumpur yang tidak tahu apa-apa tentang dunia sihir, apalagi Bom Kotoran. &lt;em&gt;Orang-orang norak!&lt;/em&gt; umpatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saat ledakan sepertinya sudah mereda, Rigel dan Madame Noir bangun. Seluruh toko tercemari bau kotoran, cipratan kotoran bertebaran di mana-mana. Sekarang berganti dengan hiruk pikuk para pelanggan yang panik dan juga para pelayan toko yang berteriak-teriak menenangkan suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa orang bodoh yang sudah mengacau ini? Tak akan kuampuni!" Madame Noir berseru kesal. Matanya menjelajah sekeliling ruangan, dan berhenti melihat seorang anak berambut coklat pendek yang dikuncir dua, berdiri di tengah kekacauan itu. Kedua tangannya kotor, seperti sudah bisa diduga. Madame Noir langsung menghampiri anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak bodoh! Kau pasti hanya Darah-Lumpur pengacau yang tidak tahu apa-apa dan hanya mengotori Dunia Sihir! Tindakanmu barusan sudah merugikan toko ini! Kemana otakmu?! Kau layak mendapat hukuman!" Madame Noir membentak anak itu, ekspresi kemarahannya benar-benar mengerikan. Seumur hidup, Rigel belum pernah melihat Mère-nya semarah itu. Rigel bergidik, bersyukur bukan dia yang menyebabkan Mère-nya semarah itu. Firasatnya mengatakan, akan terjadi sesuatu karena kemarahan Madame Noir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Petrificus Totalus!" seruan mantap terdengar disusul kilatan cahaya yang menerpa tubuh anak perempuan itu. Seketika badannya menjadi kaku. Rigel hanya melongo, tidak mengira dengan tindakan drastis Mère-nya. Mère yang selama ini selalu anggun dan menjaga tata krama bisa mengerikan seperti itu. Dia mencatat dalam hati untuk tidak membuat Mère-nya marah besar seperti ini. Dia tidak mau menjadi sasaran mantera sebagai hukuman, merci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; "BEGINIKAH CARA KALIAN MEMPERLAKUKAN PELANGGAN??! DASAR MAKHLUK TOLOL KAMPUNG RENDAHAN!"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel menoleh, melihat seorang gadis lainnya yang berteriak marah kepada pegawai toko es krim. Rigel yang tidak terima mereka dimarahi karena kesalahan tolol gadis yang kemungkinan besar Darah-Lumpur itu, balas berteriak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau buta? Jelas-jelas anak itu yang melemparkannya, ini sepenuhnya bukan kesalahan pemilik toko!" teriak Rigel emosi, tangannya menunjuk ke arah anak perempuan yang sekarang sudah mematung di tempatnya. Madame Noir sepertinya tidak menyadari telah terjadi pertengkaran kecil lain, karena sibuk mencari pemilik toko itu di antara beberapa pegawai yang sedang sibuk membersihkan kembali seluruh ruangan. Dalam sekejap, seluruh pelanggan sudah pergi. Tampaknya tinggal mereka yang masih tersisa di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mère, kita pergi saja dari sini!" seru Rigel kesal pada Madame Noir yang sedang berbicara dengan si pemilik. Kontan wanita itu mengangguk. "Aku sudah mengurus pelakunya. Dia sudah kuberi hukuman, terserah pada kalian anak itu mau diapakan. Aku pergi dulu, terima kasih atas jamuan es krimnya," ujar Madame Noir pada si pemilik yang hanya bisa terbengong-bengong dengan wajah pucat melihat tokonya porak poranda hanya dalam beberapa detik. Rigel sudah tidak tahan. Dia berlari ke luar toko, mencari udara segar yang tidak tercemar bau kotoran. Dia bau. Sial. Rupanya tadi dia terkena kotorannya. &lt;em&gt;Aku minta Mère saja untuk membersihkan,&lt;/em&gt; batinnya kesal.  Dia semakin membenci Inggris.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Thread &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/446308/"&gt;Florean Fortescue’s Ice Cream Parlour v.2 (1974),&lt;/a&gt; Diagon Alley, 1974, post ke-2.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Satu thread dengan &lt;strong&gt;Arzu Evenstar, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Aria Duncan, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Athalie Ng, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Evania Goldwin, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Kathleen C. Herdma, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Destiny McLight, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Dreirtne T Droweseunravel, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Sella Bloompicers, Arianne Ravell, Rebelnackle Talented, Charisa Victoricallus, Gabrielle N. McMoney, Reyfan N. Mentzer &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;(Rigel keluar sebelum chara baru bergabung masuk).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;  &lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Credit quotes and some descriptions to those chara.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-4833806617745657718?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/4833806617745657718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=4833806617745657718&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/4833806617745657718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/4833806617745657718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/semilir-angin-yang-berhembus.html' title='Florean Fortescue’s Ice Cream Parlour v.2 (1974) #2'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-1082131522651582584</id><published>2009-04-03T13:05:00.005+07:00</published><updated>2009-04-03T13:26:34.632+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Florean Fortescue’s Ice Cream Parlour v.2 (1974) #1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenyang dengan butterbeer dan sepotong cake, Rigel dan Madame Noir meneruskan perjalanan mereka ke Diagon Alley, melakukan tujuan mereka sebenarnya, berbelanja. Madame Noir jelas sedang berada dalam mood terbaiknya. Sejak tadi wajahnya selalu berseri-seri, tak henti-hentinya dia bercerita pada Rigel tentang sejarah Leaky Cauldron yang sepertinya dia dapatkan dari si bartender --Rigel curiga itu penyebab Madame Noir menghabiskan waktu begitu lama hanya untuk memesan minuman-- tentang Diagon Alley, tentang toko-tokonya, tentang Hogwarts, asrama-asrama di Hogwarts --Rigel hanya bisa melongo setelah hampir lima belas menit Mère-nya bercerita. Dari mana Mère-nya dapat cerita sebanyak itu? Rasanya tadi Rigel hanya berpisah dari Mère-nya sebentar saja. Rigel geleng-geleng kepala. Semakin lama, dia semakin meragukan kebenaran cerita Mère-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel tidak menyangkal, dia senang melihat Mère bahagia seperti ini. Lepas dari tekanan Monsieur Noir si penguasa segalanya, Madame Noir kelihatan kembali jadi dirinya sendiri, yang senang bercerita tentang segala sesuatu, menyapa setiap orang yang berpapasan, senang berbelanja, layaknya wanita normal. Well, tidak begitu drastis memang, Madame Noir masih tetap memperlihatkan keanggunan seorang wanita bangsawan. Dia hanya menyapa orang-orang yang memperlihatkan tanda-tanda pureblood. Sekilas, mungkin tidak ada bedanya dengan Madame Noir yang biasa, tetap seorang wanita bangsawan terhormat yang anggun. Namun Rigel bisa merasakan aura bahagia yang dipancarkan Madame Noir. Dan Rigel bahagia karenanya. Dia rela melakukan apa saja, demi melihat Mère bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"....Ramon bilang, di Hogwarts nanti ada 4 asrama. Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin. Keempat asrama itu dinamakan sesuai dengan nama keluarga para pendiri Hogwarts. Persis seperti yang dikatakan votre Père. Vous savez, Amoureux, Xavier sudah menyelidiki sedikit tentang Hogwarts ini. Sejauh ini keterangannya sesuai dengan cerita Ramon. Sedikit berbeda sistemnya dengan Beauxbatons. Callista dan Clémence bilang, di sana hanya ada asrama Putra dan Putri," Madame Noir masih terus bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mère, beda keempat asrama itu apa? Dari mana mereka menentukan aku masuk ke asrama mana?" tanya Rigel, tidak tahan berkomentar setelah lebih dari lima belas menit mendengarkan. Bagaimanapun, dia yang akan bersekolah, dan dia perlu tahu. Sesaat dia merasa kesal pada Père-nya. Dia baru tahu kalau Père sudah menyelidiki sekolah ini terlebih dulu. &lt;em&gt;Kenapa Père tidak pernah cerita padaku sedikitpun?&lt;/em&gt;Setidaknya, Rigel bisa mempersiapkan diri menghadapi sekolah barunya, membandingkannya dengan Beauxbatons dari cerita kedua kakak perempuannya, Callista dan Clémence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti akan ada semacam seleksi. Sayangnya Ramon tidak mau memberitahuku seleksi seperti apa yang akan mereka adakan. Tapi tenang saja, Mon fils, kau anak cerdas. Kau pasti akan masuk asrama terbaik," balas Madame Noir, sambil tersenyum dan membelai kepala putra tersayangnya lembut. Rigel tidak menjawab apapun. Mau tidak mau, dia sedikit tegang mengetahui kalau mereka akan mengadakan seleksi. &lt;em&gt;Non, Père sudah tahu, tentu saja. Apa yang tidak Père tahu? Dia selalu tahu semuanya. Tapi tak pernah mau memberitahuku apapun,&lt;/em&gt; Rigel membatin pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mère, kita ke toko mana dulu? Sejak tadi kita berjalan, tapi belum masuk ke toko manapun," tanya Rigel, berusaha membelokkan pikirannya dari kekesalan pada Père-nya. Madame Noir tersenyum, menghentikan jalannya sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita ke Gringotts dulu. Ambil uang. Xavier sengaja tidak membawa uang banyak saat perjalanan dari Prancis. Berbahaya, katanya. Dia hanya meminta pada Gringotts di Prancis untuk membuka lemari besi untukmu di Gringotts Inggris, dan memindahkan sejumlah uang untuk biaya hidupmu di sini selama tujuh tahun," jawab Madame Noir lembut. Rigel hanya mengangguk. Seperti biasa, semua atas instruksi Père. Rasanya seumur hidupnya belum pernah melakukan sesuatu tanpa lepas dari instruksi Père. Kesal, tapi mau tak mau dia mengakui, Père selalu memikirkan segalanya dengan rinci. Mereka hampir tak pernah menemui kesalahan saat mengikuti instruksi Père.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak merasa kepanasan, Mon fils? Aku rasanya hampir meleleh. Aku tidak menyangka musim panas di Inggris akan sepanas ini. Istirahat sebentar, bagaimana? Ada toko es krim di sebelah sana. Semoga saja seenak es krim di Prancis," ujar Madame Noir. Rigel membenarkan dalam hati. Dia juga sudah hampir meleleh dipanggang di bawah matahari musim panas. Dia mengikuti arah yang ditunjukkan Madame Noir, dan melihat papan reklame sebuah toko es krim yang sepertinya cukup ramai. Beberapa kursi disusun di beranda toko, lengkap dengan payungnya yang berwarna cerah. Mengingatkannya akan kafe-kafe di Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku anak laki-laki, tidak selemah itu, Mère," balas Rigel sengit. Madame Noir hanya tertawa kecil, dan menjawil ujung hidung putranya. "Oui, je sais, mon fils. Kau kesatria kecilku, tidak boleh lemah," katanya. Rigel meringis pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Florean Fortescue’s Ice Cream Parlour, begitu bunyi papan reklame yang tergantung di atas pintu toko. Rigel menebak, pemiliknya mungkin orang Prancis juga. Begitu memasuki toko, Rigel benar-benar merasakan suasana Prancis. Seolah dia baru saja masuk ke kafe di Prancis. Dia langsugn jatuh cinta pada tempat ini. Tempat pertama yang dia sukai di Inggris, sejak dia datang kemarin. Bahkan tempat ini terasa lebih Prancis daripada Château-nya. Membuatnya merindukan tanah kelahirannya itu. Tanpa dia sadari, ekspresinya berubah sendu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau es krim Tiramisu, Mère," katanya tiba-tiba. Madame Noir memandangi wajah putranya, seolah menangkap ekspresi rindu di wajah Rigel. Dia tersenyum, dan mengangguk. Sementara Madame Noir memesan es krim, mata Rigel menelusuri setiap sudut toko itu, semakin lama perasaan rindunya semakin menggebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau duduk dimana, Amoreux?" suara Madame Noir membuat Rigel tersentak, tersadar dari lamunannya. Rigel memandang ke arah luar, tanpa berbicara menunjuk pada meja di bawah naungan payung berwarna cerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak ingin duduk di dalam dan berkenalan dengan teman-teman barumu? Sepertinya ada banyak anak-anak seumuranmu di sini. Siapa tahu mereka murid Hogwarts juga," kata Madame Noir. Saat itu Rigel baru menyadari kehadiran orang lain di dalam toko. Benar juga kata Mère-nya. Hampir setengah toko itu berisi anak-anak seumurannya. kebanyakan gadis. &lt;em&gt;Belle,&lt;/em&gt; gumamnya pelan.  Sesaat kemudian dia menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Non, Mère.  Aku dengan Mère saja," jawabnya.  &lt;em&gt;Aku bisa berkenalan dengan mereka nanti, di sekolah.  Sedangkan Mère, entah kapan aku bisa bertemu lagi,&lt;/em&gt; batinnya pedih.  Tiba-tiba saja dia sadar, kalau dia akan berpisah lama dari Mère-nya.  &lt;em&gt;Apa Mère tak akan apa-apa hanya tinggal berdua saja dengan Père di rumah? Siapa yang akan menemani Mère merawat kebun bunganya? Père terlalu sibuk, Callista dan Clémence pun hanya ada di rumah saat liburan musim panas. Siapa yang akan menemani Mère sehari-hari? Peri rumah?&lt;/em&gt; Pikiran itu berkecamuk di benaknya, menambah keengganannya untuk bersekolah di Hogwarts. Dia tidak ingin meninggalkan Mère sendirian.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/446308/"&gt;Florean Fortescue’s Ice Cream Parlour v.2 (1974)&lt;/a&gt;, Diagon Alley, 1974.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Satu thread dengan &lt;strong&gt;Arzu Evenstar, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Aria Duncan, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Athalie Ng, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Evania Goldwin, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Kathleen C. Herdma, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Destiny McLight, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Dreirtne T Droweseunravel, &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Sella Bloompicers, Arianne Ravell, Rebelnackle Talented, Charisa Victoricallus, Gabrielle N. McMoney, Reyfan N. Mentzer &lt;span style="font-weight: normal;"&gt;(Rigel keluar sebelum chara baru bergabung masuk).  Credit quotes and some descriptions to those chara.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-1082131522651582584?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/1082131522651582584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=1082131522651582584&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/1082131522651582584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/1082131522651582584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/florean-fortescues-ice-cream-parlour-v2.html' title='Florean Fortescue’s Ice Cream Parlour v.2 (1974) #1'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-4472027555270023107</id><published>2009-04-03T12:52:00.003+07:00</published><updated>2009-04-03T13:27:52.479+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='All Alone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leaky Cauldron'/><title type='text'>All Alone 2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rigel melirik ke arah counter bar, memperhatikan Madame Noir yang masih saja sibuk melakukan entah apa di counter. Rigel menghela napasnya. &lt;em&gt;Se presser en haut , Mère. Je suis tellement qui a soif.  Beli minum saja kenapa mesti lama.&lt;/em&gt; Rigel duduk di kursi yang masih kosong, tanpa menunggu salah seorang dari mereka menjawab sapaannya dia sebelumnya. Toh dia sudah minta izin. Ini bar umum, apa hak mereka melarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Waarom jullie spraken niet Engels?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi, seseorang yang berbahasa asing.  Bahasa Belanda, Rigel mengenalinya.  Rigel mengangkat alisnya.  &lt;em&gt;Étrange. Dia sendiri bisa bahasa Inggris atau tidak, nih? Bertanya kenapa mereka tidak berbahasa Inggris, tapi pakai Bahasa Belanda.&lt;/em&gt;  Rigel memperhatikan gadis yang barusan berbicara.  Rambutnya hitam, tangannya memegang seekor... iguana? Peliharaannya kah? &lt;em&gt;Effronté, jarang ada anak perempuan mau memelihara reptil. Apa dia juga suka reptil lainnya? Suka bertualang juga kah? Aku harus tanya nanti&lt;/em&gt; batin Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak ada alasan khusus. Hanya iseng, karena Nona itu bicara Bahasa Norwegia," jawab Rigel sekenanya, masih tetap memberikan senyumannya. &lt;em&gt;Senyum adalah alat paling ampuh untuk menghadapi para gadis,&lt;/em&gt; begitu yang selalu dikatakan Monsieur Noir padanya. Rigel ingin mengujinya sekarang, apakah kata-kata Père-nya benar? Sebelum ini dia jarang sekali berkesempatan bertemu dengan banyak gadis dalam waktu bersamaan, jadi dia belum pernah membuktikan semua kata-kata ayahnya tentang para gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis bertubuh imut kembali mendatangi meja mereka. Belum apa-apa, gadis itu melemparkan es krim ke anak laki-laki berambut hitam yang duduk semeja dengan mereka. Lagi-lagi, pikiran bahwa orang Inggris semuanya gila merasuk ke dalam otaknya. Sejak pertama tiba di Inggris, tak ada satupun yang berkenan di hatinya. Well, mungkin dia bisa betah nanti di Château du Noir. Bukan, dia harus bisa betah. Pour l'amour de Dieu, itu tempat tinggalnya selama tujuh tahun ke depan! Mau tak mau, dia harus betah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa denganmu, Nona? Tersandung sampai es krim-mu jatuh?" sapa Rigel pada anak itu. Sesaat ada rasa ragu dalam hatinya. Apakah anak ini Pureblood? Dia tidak sudi kalau sampai harus menolong Darah-Lumpur. Mengucapkannya saja sudah membuatnya jijik. Di sisi lain, dia seorang gadis. Sudah seharusnya Rigel menolongnya. Akhirnya Rigel menyodorkan sapu tangannya, untuk membantu anak itu membersihkan es krimnya. "Kau Pureblood?" tanya Rigel otomatis. Sepertinya pertanyaan yang selalu ditanyakannya pada setiap orang yang dia temui, kalau dia tidak yakin akan status darah orang itu. Tidak sopan, memang. Monsieur Noir pasti akan memukul kepalanya, karena Rigel bertanya secara eksplisit. &lt;em&gt;Tanyakan secara halus, Rigel! Jangan sampai dia PureBlood dan tersinggung dengan perkataanmu! Kau bisa tanya apa ayah dan ibunya penyihir, itu lebih baik,&lt;/em&gt; begitu selalu yang diucapkan Monsieur Noir.  Rigel mengedikkan bahunya.  &lt;em&gt;Comme je m'inquiète, itu terlalu panjang.  Père tak akan tahu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"O , Parece venimos desde diferente país does no él?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi, ada yang berbicara bahasa asing, seorang gadis berambut hitam dengan wajah ceria. Oke, kali ini dia menyerah. Dia tidak tahu anak ini bicara bahasa apa. Yang jelas bukan bahasa di dataran Eropa, meski sedikit mirip dengan bahasa Spanyol. Dia pasti tahu kalau itu bahasa yang digunakan di Eropa, hasil dari pelajaran Bahasa-nya di rumah. Seperti biasa, Monsieur Noir-lah yang memaksanya belajar bahasa-bahasa Eropa. Penting kalau mereka ingin perusahaannya merambah seluruh Eropa, katanya. Rigel sekarang menyadari betapa pergunanya pelajaran bahasa ini. Dia bersumpah tidak akan kabur lagi selama pelajaran bahasa. &lt;em&gt;Anak itu bukan dari Eropa, barangkali?&lt;/em&gt; batin Rigel. Rigel yang mulutnya sudah setengah terbuka akan menyapa anak itu, urung saat mendengar apa yang selanjutnya dikatakan gadis itu. Membuatnya tiba-tiba jijik padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; "Ternyata penyihir itu berasal dari semua negara yah. Aku malah menyangka penyihir itu berasal dari bulan, terutama nenek sihir yang cekikikan dan siluetnya menutupi sinar bulan. Ternyata penyihir hanya berasal dari masing-masing negara. Bukankah begitu?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Darah-Lumpur," desis Rigel pelan. Dia sama sekali tidak bermaksud menyembunyikan ketidaksukaannya pada gadis itu. Cantik, Rigel mengakui. Tapi percuma kalau Darah-Lumpur. Gadis itu harus tahu kalau dia sama sekali tidak berhak berada di dunia ini, keberadaannya hanya menambah sampah di dunia sihir. Rigel sama sekali tidak berminat mendengar ocehan gadis itu selanjutnya. Tidak penting. Sejujurnya, saat itu juga Rigel ingin sekali pergi dari situ, dan mencari tempat lain. &lt;em&gt;Tapi, tunggu dulu. Anak yang pakai pena bulu itu masih betah di sini. Jangan-jangan dia bukan Pureblood? Mereka berdua jelas-jelas sudah duduk bersama sejak tadi,&lt;/em&gt; kecurigaan memenuhi benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang menulis memakai pena bulu pink itu sekarang mengoceh dalam Bahasa Spanyol tentang mereka harus bicara dalam bahasa Inggris. Gadis Asia yang duduk di sebelahnya juga menimpali pelan, setuju dengan kata-kata gadis itu. Avancé, dia baru berbicara satu kalimat dalam bahasa asing! Dan itu bukan karena dia tidak sanggup berbahasa Inggris. Rigel hanya iseng, karena ada yang berbicara bahasa Norwegia. Karena Rigel merasa senasib, sama-sama bukan orang Inggris? Rigel mengira gadis itu sama sepertinya, enggan berbahasa Inggris. Darah-Lumpur itu kembali mengoceh dalam bahasa yang tadi dia gunakan, dan gadis yang memegang pena bulu menerjemahkannya. &lt;em&gt;Quoi que, aku tak peduli dengan apa yang dikatakan Darah Lumpur itu.  Buang-buang waktu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf saja, Nona, aku hanya berkata sekali dalam bahasa Norwegia. Maafkan aku sudah membuatmu terintimidasi karena kau tidak mengerti bahasa tersebut," ujar Rigel pada gadis berambut hitam dan gadis Asia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Snakkar du norsk?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis pirang itu bertanya balik pada Rigel. Rigel hanya tersenyum samar, dan menjawab, "Rettferdig en smule. JEG tenke du er ubenyttet å samtalen inne Engelske."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; "Walaupun kita berasal dari negara yang berbeda... kurasa aku berbeda jauh dari kalian. Kalian orang rendahan, sementara aku.. bangsawan."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gadis ini bangsawan juga? Quelle coïncidence!&lt;/em&gt; Rigel tak menyangka bisa bertemu bangsawan lain di sini. Dia kira tak ada bangsawan lain yang sudi bersekolah di Hogwarts selain dirinya, yang alasannya tidak lain dan tidak bukan karena dipaksa oleh Monsieur Noir. Dan perintah Monsieur Noir adalah segalanya, kalau dia tidak mau dicoret dari daftar ahli waris. Tampaknya gadis ini pun tidak nyaman dengan suasana di bar ini, terlihat jelas dari kata-katanya yang merendahkan mereka. Jujur saja, Rigel pun tidak suka dia direndahkan seperti itu. Dia juga bangsawan, dan tidak pantas direndahkan seperti itu. Dialah yang harusnya merendahkan orang, bukan direndahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf kalau aku membuatmu marah, Nona. Aku tidak mengira kalau Anda juga bangsawan, sama sepertiku. Penampilan bisa menipu, rupanya," kata Rigel pada gadis itu, sengaja memberikan penekanan pada kata 'juga'. Gadis ini harus tahu, kalau dia bukanlah satu-satunya bangsawan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak lain mendatangi mereka. Anak lelaki berambut hitam dan berwajah muram. Mungkin dia juga mendengar pembicaraan di meja mereka, karena anak itu tiba-tiba mengeluarkan penanya, menulis di atas secarik perkamen, dan mengedarkan perkamennya ke seluruh meja saat dia selesai. &lt;em&gt;Anak ini bisu ya, sampai harus menulis kalau mau bicara?&lt;/em&gt; Rigel membaca tulisan di atas perkamen itu. Ya ampun. Sekarang huruf Yunani. Anak itu tidak tahu alfabet, eh? Atau dia lebih mendukung kekaisaran Yunani sehingga enggan menggunakan huruf alfabet yang berasal dari Romawi, dan lebih memilih menggunakan huruf Yunani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; "Kalian--kalian mengapa tidak menggunakan bahasa internasional? Bahasa Inggris?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel memandangi anak itu dengan pandangan melecehkan. Anak ini bisa bicara, ternyata. Bisa bahasa Inggris pula. Lalu apa maksudnya mengedarkan perkamen dengan tulisan huruf Yunani? Apa dia tidak mengira kalau ada yang bisa membacanya selain dia? Yeah, Rigel bisa membacanya. Sekarang dia benar-benar bersyukur Monsieur Noir sudah memfasilitasi dia untuk mempelajari bahasa-bahasa di Eropa. Yeah, tidak semua dia kuasai dengan baik memang. Paling tidak, ada beberapa yang bisa dia kuasai dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan berarti aku tidak bisa Bahasa Inggris. Aku hanya belum terbiasa berbahasa Inggris. Aku baru tiba di negara ini dua hari lalu, pour l'amour de Dieu!" jawab Rigel, membalas ucapan sinis anak itu dengan tingkat kesinisan yang sama. Dia mungkin Pureblood, tapi sikapnya membuat Rigel ingin menjejalkan kepala anak itu ke sarang Acromantula.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;- &lt;strong&gt;Se presser en haut , Mère. Je suis tellement qui a soif.&lt;/strong&gt; = Cepatlah, Ibu.  Aku sudah kehausan.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Étrange&lt;/strong&gt; = Aneh.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Effronté&lt;/strong&gt; = Cool.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Pour l'amour de Dieu&lt;/strong&gt; = For heaven's sake -really, I don't know what's this meaning in Indonesia.  Please forgive me.-&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Comme je m'inquiète&lt;/strong&gt; = Like I care&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Avancé&lt;/strong&gt; = Ayolah&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Quoi que&lt;/strong&gt; = Terserahlah&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Quelle coïncidence&lt;/strong&gt; = Kebetulan sekali&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Rettferdig en smule. JEG tenke du er ubenyttet å samtalen inne Engelske&lt;/strong&gt; = Hanya sedikit.  Kupikir kau tidak terbiasa berbahasa Inggris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/446290/"&gt;All Alone&lt;/a&gt;, Leaky Cauldron 1974, Post ke-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dengan Friday BonClay, Janette Blizzard, Cassandra Almendarez, Persia V. Byrce, Arianne Ravell, Septimus J. Tybalt.  Credit quote to those chara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-4472027555270023107?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/4472027555270023107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=4472027555270023107&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/4472027555270023107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/4472027555270023107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/all-alone-2.html' title='All Alone 2'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-6190735292863463372</id><published>2009-04-03T12:34:00.003+07:00</published><updated>2009-04-03T13:28:14.768+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='All Alone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leaky Cauldron'/><title type='text'>All Alone 1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Père tak salah saat menyuruh Rigel menyiapkan fisiknya untuk perjalanan jauh. Ini pertama kalinya Rigel menaiki kapal laut. Awalnya memang mengasyikkan, angin berhembus mempermainkan mantel bepergiannya --Père melarang dia memakai jubahnya yang biasa. Katanya, karena mereka akan naik transportasi Muggle, dan jubah akan membuat penampilan mereka mencolok-- lama-lama, Rigel mulai merasa pusing diombang-ambing di atas kapal. Sungguh tidak praktis, transportasi Muggle ini. Portkey seribu kali lebih baik. Oke, sensasinya amat sangat tidak menyenangkan. Setidaknya Portkey hanya sebentar, dan dia sudah bisa tiba di tempat tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel juga tak menyangka kalau yang dimaksudkan Père 'pergi ke Inggris' berarti dia pindah ke Inggris. Yeah, benar. Rigel mengira mereka hanya akan berbelanja di Inggris, kemudian kembali lagi ke rumah mereka, Palais du Noir, dan pergi lagi ke Inggris saat hari keberangkatannya tiba. Tapi tidak. Oh, tentu saja rencana Monsieur Noir lebih dari itu. Selama masa sekolahnya, Rigel akan tinggal di Inggris. Oke, Rigel tinggal di Hogwarts selama dia bersekolah. Selama liburan Natal dan musim panas, Rigel akan tinggal di Château du Noir, kastil milik keluarga mereka di Cambridgeshire. Rigel bahkan baru tahu kalau mereka punya kastil di Inggris. Antara kaget dan kesal, mau tak mau Rigel mengakui kalau Père-nya sangat brilian. Monsieur Noir sudah merencanakan semuanya sampai detil. Boleh dibilang, Rigel hanya tinggal pergi keesokan harinya, tanpa perlu mengepak barang-barangnya lagi. Semuanya sudah disiapkan, dan tinggal berangkat. Dan Rigel tak bisa membantah, seperti biasa. Perintah Père adalah nomor satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka melanjutkan perjalanan dari Pelabuhan ke Château du Noir dengan menggunakan Portkey. Rigel benar-benar bersyukur. Kalau mereka meneruskan perjalanan dengan transportasi Muggle lagi, Rigel lebih memilih menginap di pelabuhan. Masa bodoh kalau Mère meledeknya pengecut. Dia sudah terlalu lelah. Barulah keesokan harinya, Rigel, Monsieur dan Madame Noir bisa pergi ke Diagon Alley. Kali ini, mereka ber-Apparate dan muncul di tengah-tengah Leaky Cauldron, karena jaringan perapian di Château du Noir belum didaftarkan ke Kantor Jaringan Floo. Rigel langsung menekuk wajahnya saat tahu Père tak akan mengantar dia berbelanja, seperti janjinya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, mes fils. Jangan cemberut begitu. Pikirkan keuntungannya, kau tahu kan kalau banyak aturannya kalau pergi dengan Père? Lebih enak kalau kita berbelanja berdua, bukan begitu?" hibur Madame Noir, tangannya menjawil ujung hidung putra kesayangannya. Rigel otomatis menjauh dari tangan iseng Mère-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"La mère, arrêtez-le! Aku bukan anak kecil lagi!" rajuk Rigel. Madame Noir hanya tertawa geli melihat tingkah putranya. Rigel pura-pura acuh, dan mengalihkan pandangannya melihat-lihat isi ruangan. &lt;em&gt;Sale,&lt;/em&gt; dengusnya pelan.  Kumuh dan tidak berkelas.  Sama sekali bukan tempat yang pantas untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mes fils, carilah tempat duduk dulu. Sepertinya bar ini mulai ramai, nanti kita tak bisa dapat tempat duduk. Aku pesan minuman dulu," kata Madame Noir. Rigel memutar bola matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak ada meja yang kosong, Mère. Aku malas kalau harus bergabung dengan mereka. Siapa tahu mereka Darah Lumpur?" jawab Rigel. Madame Noir hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rigel, mes fils, kau anak yang cerdas. Masa yang begitu saja tidak bisa membedakan? Kuberi satu petunjuk. Ada perbedaan antara sikap para Darah Lumpur di dunia sihir dengan Darah Murni. Silakan kau cari sendiri apa itu," sambung Madame Noir sambil mengedipkan matanya. Tanpa menunggu respon Rigel, Madame Noir berlalu menuju bar, memesan minuman. Rigel tak sempat berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel mengamati anak-anak yang memenuhi bar tersebut.  &lt;em&gt;Apa? Mère bilang ada perbedaannya.  Apa bedanya?&lt;/em&gt; batinnya, otaknya berpikir keras. Rigel berdiri mematung di tepi ruangan, matanya menyisir seisi ruangan. Perbedaan, yeah. Lama-lama Rigel mulai bisa menangkap maksud Mère-nya. Anak-anak seusianya terlihat seperti terpisah ke dalam dua macam. Anak-anak yang bersikap takjub melihat isi bar, seolah mereka sedang mengunjungi Palais du Versailles, dan anak-anak yang bersikap seolah mereka sudah pernah ribuan kali ke tempat ini. Ya, Rigel mengerti maksud Mère sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Rigel berhenti di meja yang berisi beberapa anak. Satu anak perempuan berambut hitam, sedang menulis sesuatu di bukunya, menggunakan pena bulu berwarna... pink? Tidak salah? Tapi anak itu menggunakan pena bulu, pasti dia berdarah murni. Rigel mengangkat bahunya. &lt;em&gt;Elle est tout à fait jolie, meski sedikit norak.  Pink, yang benar saja.  Tapi, lebih baik daripada Darah Lumpur,&lt;/em&gt; batin Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja, Rigel mendengarkan pembicaraan mereka. Rigel baru sadar meja ini diisi oleh perempuan. Hanya dua orang anak laki-laki selain dia. Senyuman tersungging di sudut bibirnya. &lt;em&gt;Parfait.&lt;/em&gt; Anak perempuan berambut pirang yang juga baru datang mengatakan sesuatu, bukan dalam bahasa Inggris maupun Prancis. Rigel mengerutkan keningnya. &lt;em&gt;Itu... bahasa... Norwegia? Anak ini dari Norwegia? Apa yang membuat dia mau-maunya datang ke Inggris?&lt;/em&gt; Yeah, Rigel sudah punya sentimen buruk terhadap Inggris sejak pertama kali dia tiba. Rigel iseng ingin menyapa anak itu dalam bahasa Norwegia. Untung saja dulu dia pernah belajar, meski tidak sefasih Bahasa Inggrisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"God etter middag , Frk. Kanskje JEG sitte her over?" sapa Rigel pada gadis itu ramah, tak lupa senyumannya. Rigel mengedikkan kepalanya sedikit pada anak-anak lainnya, dan mengulangi sapaannya dalam Bahasa Inggris. "Halo. Keberatan kalau aku ikut duduk?" katanya.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;- &lt;strong&gt;mes fils&lt;/strong&gt; = Anakku&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;La mère, arrêtez-le!&lt;/strong&gt; = Ibu, hentikan!&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Sale&lt;/strong&gt; = Kotor.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Elle est tout à fait jolie&lt;/strong&gt; = Dia cukup cantik&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;God etter middag , Frk. Kanskje JEG sitte her over?&lt;/strong&gt; = Selamat siang, Nona.  Boleh aku duduk di sini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;Thread &lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/446290/"&gt;All Alone&lt;/a&gt;, Leaky Cauldron 1974.  Post ke-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dengan Friday BonClay, Janette Blizzard, Cassandra Almendarez, Persia V. Byrce, Arianne Ravell, Septimus J. Tybalt.  Credit quote to those chara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-6190735292863463372?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/6190735292863463372/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=6190735292863463372&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/6190735292863463372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/6190735292863463372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/all-alone-1.html' title='All Alone 1'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-4060282758161497995</id><published>2009-04-03T09:09:00.007+07:00</published><updated>2009-04-04T21:23:09.348+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='family'/><title type='text'>Family</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Xavier Thibault du Noir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SdcNcfZk4-I/AAAAAAAAAGk/tPDYMSY0rf8/s1600-h/xavier.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SdcNcfZk4-I/AAAAAAAAAGk/tPDYMSY0rf8/s400/xavier.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320736267877802978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Signature (c) to Mikan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama: &lt;/span&gt;Xavier Thibault du Noir (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Xavier:&lt;/span&gt; Derived from the Basque place name &lt;i&gt;Etxaberri&lt;/i&gt; meaning "the new house"; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Thibault:&lt;/span&gt; French form of Theobald, Derived from the &lt;a href="http://www.behindthename.com/glossary/view/germanic_languages"&gt;Germanic&lt;/a&gt; elements &lt;i&gt;þeud&lt;/i&gt; "people" and &lt;i&gt;bald&lt;/i&gt; "bold")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Posisi di keluarga:&lt;/span&gt; Ayah; Kepala Keluarga du Noir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Status Darah: &lt;/span&gt;Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suku Bangsa:&lt;/span&gt; Perancis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sifat dan Latar Belakang:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencana ulung, spekulan sejati yang selalu mempertimbangkan segala faktor dalam berbisnis. Saham dan aset keluarganya tersebar di hampir setengah daratan Perancis. Berprinsip kalau Muggle harus bertekuk lutut di bawah kaki penyihir, termasuk dalam bidang perekonomian. Oleh karena itu, Xavier berambisi menyebarluaskan kekuatannya dan para penyihir lain dalam Pasar Muggle. Segala tindak tanduknya terencana, sudah memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang dia inginkan dan apa yang harus dia lakukan demi mendapatkannya. Sayang, hal ini berdampak pada terlibatnya anak dan istrinya dalam semua rencana besarnya. Xavier menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau, meski itu harus mengorbankan keluarganya. Istri dan ketiga anaknya diwajibkan menuruti segala perintah, pola dan rencana yang sudah dibuat Xavier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak sakit parah di penghujung Desember 1979.  Seluruh bisnisnya di Perancis sementara dikelola oleh Jean-Baptiste du Noir, sementara Rigel menjadi wakilnya untuk perusahaan-perusahaan di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Eléonore Margaux Grimaldi du Noir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SdcNce9pO0I/AAAAAAAAAGc/AUJIL1GygM0/s1600-h/eleonore.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SdcNce9pO0I/AAAAAAAAAGc/AUJIL1GygM0/s400/eleonore.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320736267760646978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Signature (c) to Mikan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama:&lt;/span&gt; Eléonore Margaux Grimaldi du Noir (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eléonore:&lt;/span&gt; French form of Eleanor, from the Old French form of the Provençal name &lt;i&gt;Aliénor&lt;/i&gt;; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Margaux:&lt;/span&gt; variant from Margaret, Derived from Latin &lt;i&gt;Margarita&lt;/i&gt;, which was from Greek &lt;i&gt;μαργαριτης (margarites)&lt;/i&gt; meaning "pearl"; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Grimaldi: &lt;/span&gt;maiden name of Eléonore)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Posisi di Keluarga:&lt;/span&gt; Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Status Darah:&lt;/span&gt; Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suku Bangsa:&lt;/span&gt; Perancis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sifat dan Latar Belakang:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewarisi darah bangsawan penyihir pureblood dari keluarganya —meski tingkatannya di bawah tingkatan keluarga bangsawan du Noir, sehingga sekarang dia memakai nama keluarga du Noir— Eléonore seorang wanita cantik, anggun, kharismatik, dan tahu bagaimana cara seorang wanita bangsawan bersikap kala berada di depan umum. Tak pernah menyesali menikah dengan Xavier meski nampaknya pria itu hanya memanfaatkannya saja demi kepentingannya sendiri, karena yakin di lubuk hati Xavier, masih tersisa cinta untuknya. Pemikirannya tentang Muggle-lah satu-satunya yang tak bisa cocok dengan Xavier. Menurutnya, Muggle adalah makhluk yang harus dihindari sejauh-jauhnya, dan mengurangi kontak sesedikit mungkin. Muggle bagaikan sebutir kotoran di gaun indahnya. Di luar kebenciannya terhadap Muggle, Eléonore adalah ibu yang baik. Sangat memperhatikan kebahagiaan ketiga anaknya, dan tak pernah sekalipun terlihat meneteskan air mata di depan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Callista Dorian Grimaldi du Roze&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SdcvEhzExiI/AAAAAAAAAG0/kMPwHjEwUxE/s1600-h/callista.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SdcvEhzExiI/AAAAAAAAAG0/kMPwHjEwUxE/s400/callista.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320773239600104994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Signature (c) to Mikan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Nama:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Comtess&lt;/span&gt; Callista Dorian Grimaldi Noir du Roze (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Callista:&lt;/span&gt; Feminine form of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Callistus&lt;/span&gt;, Late Latin name which was derived from Greek &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.behindthename.com/support/transcribe.php?type=GR&amp;amp;target=kallistos" class="trn"&gt;καλλιστος&lt;/a&gt; (kallistos)&lt;/i&gt; "most beautiful"; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dorian:&lt;/span&gt; from the name of the ancient Greek tribe the Dorians)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Posisi di Keluarga:&lt;/span&gt; Anak perempuan pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Status Darah:&lt;/span&gt; Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suku Bangsa:&lt;/span&gt; Perancis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marital Status:&lt;/span&gt; Menikah dengan Comte Alphonse du Roze&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sifat dan latar Belakang: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh hidupnya diabadikan untuk menjaga Clémence (lebih jauh alasan kenapa Clémence amat membutuhkan penjagaan Callista, lihat latar belakang Clémence). Lugas, pemberani, benci berbohong.  Gadis bangsawan terpelajar, namun jangan sepelekan kekuatannya.  Menghajar siapa saja yang berani mengganggu Clémence, mengatakan sesuatu yang kira-kira akan menyakiti perasaannya. Membenci ayahnya karena semua peraturan dan rencananya tak jarang menyakiti perasaan Clémence. Juga membenci Muggle, yang menurutnya telah membuat ayahnya menjadi ambisius. Masih menganggap Rigel adik kecil yang imut, dan ini selalu membuat Rigel kesal setengah mati. Sebenarnya, dalam lubuk hati Rigel yang terdalam, dia tidak tega melihat Callista mengorbankan kehidupannya seperti itu. Rigel rela melakukan apa saja demi kebahagiaan Callista.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah dengan Comte Alphonse du Roze sejak Agustus 1980 dan pindah ke Château du Roze.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Clémence Mignonette Grimaldi du Noir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama:&lt;/span&gt; Clémence Mignonette Grimaldi du Noir (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Clémence:&lt;/span&gt; French feminine form of &lt;i&gt;Clementius, &lt;/i&gt;which meant "merciful, gentle"; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mignonette:&lt;/span&gt; means "little cute one")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Posisi di Keluarga:&lt;/span&gt; Anak perempuan kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Status Darah:&lt;/span&gt; Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suku Bangsa:&lt;/span&gt; Perancis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marital Status:&lt;/span&gt; Bertunangan dengan Maximillian Morcerf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat dan Latar Belakang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri bangsawan yang sempurna, mungkin itu yang pertama kali terlintas saat melihat Clémence. Anggun, cantik, memesona, gerak geriknya lembut, penuh tata krama. Tak heran semua murid laki-laki di Beauxbatons mengejarnya. Sayang, tidak diiringi dengan kondisi fisik dan mental yang sehat. Tubuh Clémence sangat lemah dan gampang sakit. Bahkan dia tidak bisa tinggal terlalu lama di Inggris karena udara Inggris yang penuh polusi berakibat buruk pada kesehatan paru-parunya. Selain itu, mental Clémence amat labil. Sering histeris berlebihan, sensitif, dan perasaannya mudah terluka. Sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri karena tertekan dengan segala kewajiban yang dibebankan padanya oleh sang ayah, membuat sang ayah memandang Clémence dengan sebelah mata dan tidak menganggapnya ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertunangan dengan Hector Beauregarde pada November 1978.  Clémence tidak menginginkan pertunangan tersebut karena tahu Hector bukanlah pria baik-baik, namun tak kuasa menolak perintah ayahnya.  Januari 1979 Hector terjerat skandal berat yang mempertaruhkan seluruh aset yang dimilikinya.   Februari 1979, pertunangan mereka dibatalkan.  Clémence kembali bertunangan dengan Maximillian Morcerf pada Agustus 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jean-Baptiste du Noir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Nama: Jean-Baptiste du Noir (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jean-Baptiste:&lt;/span&gt; Combination of &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jean&lt;/span&gt;, French form of &lt;i&gt;Jehan&lt;/i&gt;, the Old French form of &lt;i&gt;Iohannes, &lt;/i&gt;meaning "Yahweh is gracious"; and &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Baptiste&lt;/span&gt;, means "baptist" in French, originally deriving from Greek &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.behindthename.com/support/transcribe.php?type=GR&amp;amp;target=baptw" class="trn"&gt;βαπτω&lt;/a&gt; (bapto)&lt;/i&gt; "to dip")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Posisi di Keluarga:&lt;/span&gt; Adik Xavier, anak kedua dari dua bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Status Darah:&lt;/span&gt; Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suku Bangsa:&lt;/span&gt; Perancis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marital Status:&lt;/span&gt; Menikah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Esther&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Synnöve (Hildegard) du Noir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama:&lt;/span&gt; Esther &lt;span&gt;Synnöve&lt;/span&gt; (Hildegard) du Noir (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Esther:&lt;/span&gt; means "star" in Persian; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Synnöve: &lt;/span&gt;Sweddish form of the &lt;a href="http://www.behindthename.com/glossary/view/old_english" class="ngl"&gt;Old English&lt;/a&gt; name &lt;i&gt;Sunngifu&lt;/i&gt;, which meant "sun gift" from the Old English &lt;a href="http://www.behindthename.com/glossary/view/name_element" class="ngl"&gt;elements&lt;/a&gt; &lt;i&gt;sunne&lt;/i&gt; "sun" and &lt;i&gt;giefu&lt;/i&gt; "gift")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi di Keluarga: Istri dari Jean-Baptiste du Noir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Status Darah:&lt;/span&gt; Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suku Bangsa:&lt;/span&gt; Swedia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marital Status:&lt;/span&gt; Menikah dengan Jean-Baptiste du Noir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Coraline R&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;onja du Noir&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddKnVnrtNI/AAAAAAAAAG8/58Ru-YufL9g/s1600-h/coraline.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SddKnVnrtNI/AAAAAAAAAG8/58Ru-YufL9g/s400/coraline.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320803524440470738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Signature (c) to Mikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama:&lt;/span&gt; Coraline Ronja du Noir (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Coraline:&lt;/span&gt; From the English word &lt;i&gt;coral&lt;/i&gt; for the underwater skeletal deposits which can form reefs. It is ultimately derived (via Old French and Latin) from Greek &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.behindthename.com/support/transcribe.php?type=GR&amp;amp;target=korallion" class="trn"&gt;κοραλλιον&lt;/a&gt; (korallion)&lt;/i&gt;; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ronja:&lt;/span&gt; based on the middle portion of &lt;i&gt;Juronjaure&lt;/i&gt;, the name of a lake in Sweden)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanggal Lahir:&lt;/span&gt; 7 April 1970&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Posisi di Keluarga:&lt;/span&gt; Putri tunggal Jean-Baptiste&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Status Darah:&lt;/span&gt; Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suku Bangsa:&lt;/span&gt; Perancis-Swedia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-4060282758161497995?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/4060282758161497995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=4060282758161497995&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/4060282758161497995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/4060282758161497995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/family.html' title='Family'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_a0MzGQly9L0/SdcNcfZk4-I/AAAAAAAAAGk/tPDYMSY0rf8/s72-c/xavier.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-477899603450014979</id><published>2009-04-03T02:33:00.003+07:00</published><updated>2009-04-03T02:39:39.952+07:00</updated><title type='text'>In The Name of Our Blood: Camaraderie Side Story</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Disclaimer:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JK Rowling&lt;/span&gt; untuk Hogwarts, Madam Pince, Slughorn, dan semua universenya.&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Cassandra Almendarez dan Cassanova Lopez milik Manda, Friday BonClay milik Cicak, Janette Blizzard milik Talith, Voe Goscinny, Edgard Jones dan Mrs. Jones milik Aji, Laverne Zeev milik Rhea, Francis MacManus milik Ferlip, Maria A. Roslane milik Reina, Lucifer Dubrinsky milik Ayu, Rigel du Noir milik Mikan yang selama ini dimainkan oleh saya, Bartemius Crouch Jr. milik JKR yang dimainkan oleh Talith dan PM yang dulu, Schutz Macbeth milik Susi, Tristain F. Steinegger milik PMnya. &lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Saya minta maaf sudah memakai beberapa chara di atas sebagai cameo tanpa minta izin terlebih dulu, maaf kalau sudah meng-OOC-kan para chara yang disebut, dan maaf kalau mengacaukan plot masing-masing&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Timeline: Masa sekolah Cassie, Voe, Friday, Janette, dan Rigel.  Oh, dan di sini Cassie dan Lucifer gak tinggal kelas.  LOL&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Catatan: Side Story dari Camaraderie, ini merupakan plot RPG yang belum pernah terealisasi sampai sekarang. Jadi saya bikin aja FFnya –grins- Anggap yang terjadi di FF ini pada timeline sebelum timeline sekarang, sudah terjadi.&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Camaraderie: Side Story&lt;/strong&gt;&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;In The Name of Our Blood&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau aku ke dapur dan meminta Peri-Rumah membuatkan kita berlima cokelat panas?” suara seorang pemuda pirang tampan berusia tujuh belas tahun memecah keheningan, membuat seorang gadis melirik dengan tajam ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu sendiri kalau Madam Pince akan menggorengmu hidup-hidup kalau kau coba-coba makan atau minum di perpustakaan,” desis gadis berwajah Latin dengan rambut hitam legam itu ketus. Membuat si pemuda hanya mendengus meremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya, kubilang kita belajar di Ruang Rekreasi saja. Mau minum segalon cokelat panas pun tak akan ada yang protes,” ucap si pemuda itu lagi. Seorang gadis Latin lain dengan binar kepolosan di matanya menampakkan perasaan tak enak. Gadis Latin yang pertama meliriknya, dan kembali menyerang si pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah? Lalu Cassie mau kau simpan di mana? Diselundupkan masuk seperti ide gilamu itu? Aku tak percaya kau lupa banyak ular berbisa yang mengincar Cassie di dalam sana,” si pemuda menggulirkan bola matanya tak sabar. “Oh, come on. Seisi sekolah sudah tahu kalau kita selalu bersama-sama. Melihat Cassie masuk Ruang Rekreasi Asrama kita tak akan membuat mereka terkena serangan jantung atau apa,” tukas si pemuda lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah kalian berdua sadar kita hanya akan membuang waktu duduk sampai larut malam di Perpustakaan bila kalian hanya berdebat?” suara tenang namun tajam seorang gadis kurus dengan rambut pirang dan mata hazel keruh memotong perdebatan si pemuda dengan gadis Latin itu. Si gadis Latin memandangi si pemuda dengan tatapan puas penuh kemenangan. Tak hilang akal, si pemuda kembali menyeletuk lima menit kemudian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedetik lagi aku memandangi buku Sejarah Sihir ini, otakku akan menciut karena gosong,” celetuknya. Kali ini, empat pasang mata memandanginya gemas, seolah ingin menggantikan peran Madam Pince dan menggoreng pemuda ini dengan senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” tambah si pemuda dengan nada menantang. “Aku tak tahan duduk berjam-jam dan menghapalkan tanggal-tanggal peristiwa yang terjadi bahkan ratusan tahun sebelum aku lahir, oke? Untuk apa aku peduli?” seorang gadis berkulit pucat dengan bahu bidang, membuka mulutnya tanpa berhasil mengeluarkan pendapatnya karena dipotong kembali oleh pemuda itu, “Dan jangan katakan aku harus peduli karena NEWT, Jane. Siapa yang peduli aku lulus NEWT Sejarah Sihir atau tidak? Toh pada akhirnya karierku sudah ditetapkan,” kata-kata si pemuda selanjutnya membuat keempat gadis yang duduk bersamanya gatal ingin melemparkan buku mereka ke kepala si pemuda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, yeah.  Kau dan seluruh perusahaan serta kekayaanmu yang akan kau warisi begitu lulus nanti.  Bisakah kau peduli &lt;em&gt;sedikit&lt;/em&gt; pada kami yang nasibnya bergantung pada seberapa banyak nilai NEWT yang kami dapat agar bisa mendapatkan pekerjaan?” balas si gadis Latin dengan ketus, membuat si pemuda terkekeh pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah.  No offense, Friday, &lt;em&gt;Dear.&lt;/em&gt; Aku hanya mengatakan kenyataan,” ujarnya, tangannya terulur merangkul pundak si gadis Latin. Hanya bermaksud untuk menggodanya. “&lt;em&gt;Besides,&lt;/em&gt; kau juga tak perlu bekerja kan, Dear Friday? Ada Francis &lt;em&gt;tersayang&lt;/em&gt; yang siap melamarmu begitu kau lulus nanti. Kudengar dia cukup sukses dengan peternakan sapinya. Emasnya pasti cukup untuk menghidupi kalian berdua,” ujarnya di telinga gadis Latin itu. Ada kenikmatan tersendiri bagi pemuda itu dengan memiliki teman-teman perempuan. Bisa dengan bebas menggoda mereka kapan saja, menikmati betapa manisnya para gadis itu saat wajah mereka memerah, dan mereka tak akan membunuhmu seketika. Paling hanya memukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dilakukan gadis yang dipanggil Friday itu kali ini. Sayang sekali, karena pemuda itu dengan sigap meloncat berdiri dan menghindar dari sambitan buku Sejarah Sihir yang setebal batu bata. Tak lupa tertawa tertahan—oh yeah, tertahan. Da masih punya akal untuk tidak tertawa terbahak-bahak di dalam perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan senang hati aku akan menerimamu ke pelukanku kalau kau bosan dengan status Nyonya Pemilik Peternakan,” masih belum kapok, pemuda itu meneruskan godaannya dan mengelus pipi Friday yang halus sebelum tangan Friday bergerak untuk memukulnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau bosan belajar, Rigel, bisakah setidaknya kau tidak mengganggu kami? Heran.  Padahal ini ide &lt;em&gt;brilian&lt;/em&gt;mu untuk belajar bersama tiga kali seminggu di Perpustakaan. Cassie yang cerewet saja tidak semenyebalkan kau hari ini,” ujar Friday kesal. Pemuda yang dipanggil Rigel itu hanya tertawa pelan, penuh nada kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Come to think of it, rasanya Cassie memang &lt;em&gt;sedikit&lt;/em&gt; diam dari tadi,” timpal si gadis berbahu bidang yang dipanggil Jane. Sontak mereka berempat memandangi gadis Latin berwajah polos itu, yang sedang tersenyum-senyum sendiri membaca sesuatu di pangkuannya. Dari ekspresinya, bisa dipastikan gadis itu tidak mengikuti perdebatan yang terjadi di antara teman-temannya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar kalau keempat temannya sedang menatapnya dalam-dalam, gadis Latin itu cepat mengalihkan pandangannya dari buku dan menutup buku di pangkuannya—tidak terlalu cepat, karena tangan kokoh Rigel segera terulur dan menarik buku di pangkuan Cassie. Mata keempatnya membulat mengetahui apa yang sedang dibaca gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi uban Merlin, pantas saja kau diam dari tadi!” seruan tertahan Rigel terdengar amat gemas. Wajar saja, karena sejak tadi Cassandra sibuk membaca buku dongeng ‘Sleeping Beauty’ di balik buku Sejarah Sihir besar yang terbuka di pangkuannya. Mana ada sih yang membaca buku Sejarah Sihir sampai tersenyum-senyum sendiri? Tertangkap basah oleh teman-temannya, Cassandra hanya tersenyum polos seolah tak bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup. Aku menyerah. Friday benar, ide belajar bersama ini tak lebih dari sekedar ide bodoh. Dari tadi tak satu katapun yang masuk ke otakku,” ujar si gadis pirang dengan nada putus asa. Tangan kurusnya menutup buku Sejarah Sihir-nya perlahan, dan mulai menggulung perkamen-perkamen catatannya selama tujuh tahun yang berserak terbuka di atas meja. Membuat Janette menghembuskan napas, dan ikut menutup bukunya juga sementara Friday masih menatap Rigel dengan pandangan ini-semua-gara-gara-kau-ribut-terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, bukan salahku, oke? Ide belajar bersama ini masih tetap ide brilian. Sejarah Sihir-nya yang membuat kacau. Minggu lalu saat kita belajar Transfigurasi, kita berhasil mengulang setidaknya semua catatan kelas satu dan kelas dua kita,” Rigel membela diri. “Aku lebih memilih mendengarkan dongeng Cassie daripada belajar Sejarah Sihir. Kalian tahu sendiri seluruh anak akan tertidur sepuluh menit begitu Binns mulai meracau. Lima menit kalau musim panas,” mau tak mau, ucapan Rigel ini ada benarnya. Kali ini mereka berhasil bertahan setidaknya selama satu jam karena Binns tak ada di sekitar mereka. Tapi hanya sampai di situ kekuatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutku Sejarah Sihir menarik, kok,” celetuk Cassandra. Sontak empat pasang mata memandanginya, dan bergulir bersamaan. Bukan rahasia umum lagi kalau Cassandra begitu menyukai Sejarah Sihir. Tindakannya barusan membaca buku dongeng Sleeping Beauty pun sebenarnya tak perlu dipermasalahkan, karena Cassandra hanya &lt;em&gt;menemani&lt;/em&gt; mereka belajar Sejarah Sihir, karena, well, gadis itu sudah hapal semua materinya. Sebuah ide brilian lain terlintas di kepala Rigel. Pemuda itu mendadak duduk tegak menghadap Cassandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Cass. Bagaimana kalau kau mendongeng saja untuk kita?” Rigel mengucapkannya dalam nada yang membuat keempat gadis itu tercengang dan berpikir kalau Rigel sudah sinting. “Kau sudah hapal semua materi Sejarah Sihir, kan? Bagaimana kalau kau dongengkan pada kami? Berani bertaruh dongengmu seribu kali lebih menarik daripada Binns,” lanjut Rigel dengan mata berbinar, menatap Cassandra yang sedang sibuk berpikir dan ketiga gadis lainnya mencerna kalimat Rigel dalam-dalam, sebelum memutuskan kalau ide Rigel memang ide bagus dan ikut menatap Cassandra dalam pandangan memohon. Dan gadis itu pun menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, well… Baiklah baiklah. Mau mulai dari mana?” jawab Cassandra akhirnya. Senyuman polos terpasang lebar di wajahnya, membuat keempat temannya tersenyum penuh kelegaan. Andai mereka tak ingat Madam Pince bisa menusuk mereka dengan tusukan besi dan memanggang mereka di atas perapian, mungkin mereka sudah bersorak gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa dimulai dari peperangan antara Muggle dan penyihir di abad ke-18?” ujar Friday. Ada bayang gelap yang memadamkan kerlip di mata Cassandra mendengar kata peperangan antara Muggle dan penyihir. Tapi hanya sesaat. Gadis berambut pirang itu mengerling Friday dengan mata hazelnya yang keruh dalam tatapan memperingatkan, tapi Friday hanya mengangkat bahunya tanda tak peduli, seolah berkata, ‘Apa? Itu materi kita saat kelas satu, kan?’ membuat si gadis pirang berdecak tak sabar. “Er, kau bisa memilih topik lain kalau kau mau, Cass. Kami tak memaksa,” ujarnya kalem, tersenyum menenangkan Cassandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis Latin itu menggeleng kecil, cengiran polos kembali terpasang di wajahnya. Seolah kabut yang baru saja menutupi kerlip matanya itu tak pernah ada. “Aduh Voe, tak apa, kok. Thanks, anyway. Ayo kita kembali ke pelajaran kelas satu!" ujarnya dengan keriangannya yang biasa. Keempat temannya langsung sigap dan membuat diri mereka masing-masing nyaman di sofa perpustakaan yang mereka duduki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Kita mulai saja. Pada zaman dahulu kala, tepatnya saat peradaban manusia belum semaju sekarang dan beberapa bangsa di dunia masih mencari makan dengan cara berburu, tersebutlah suatu bangsa yang tinggal di dataran Afrika Utara. Peradaban mereka sudah sangat maju, mereka bahkan sudah bisa menggunakan Astronomi untuk menghitung hari dan menentukan musim. Di sana, penyihir dan kaum Muggle hidup berdampingan…” Cassandra mengambil posisi duduk yang nyaman, dan mulai bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika mereka berempat tenggelam dalam dongeng seorang Cassandra Almendarez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friday BonClay, Cassandra Almendarez, Rigel du Noir, Voe Goscinny, dan Janette Blizzard. Bila menilik latar belakang serta sejarah masing-masing, kau mungkin akan heran bagaimana kelima orang yang beragam itu bisa dipersatukan. Terutama, karena beberapa dari mereka membenci Muggleborn dan Cassandra Almendarez nyata-nyata seorang Muggleborn. Mari kita mundur sejenak menilik tahun-tahun yang sudah dilalui kelima orang itu di Hogwarts, untuk bisa mengerti apa yang mempersatukan mereka berlima dalam keragaman. Tepatnya, kita mundur ke waktu dimana mereka berlima baru saja memulai tahun ketiga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat dengan Cassandra Almendarez? Tokoh kita yang amat sangat menyukai dongeng. Di malam Pesta Awal Tahun di tahun ketiganya, Cassandra memilih untuk tidak menghadiri pesta dan berjalan-jalan. Pikirannya penuh dengan bagaimana caranya agar bisa kembali bertemu dengan Cassanova yang sudah menjadi bintang di langit malam. Kau tahu? Pikirannya penuh dengan berbagai macam fantasi aneh. Saat baru pertama kali mengetahui dirinya adalah seorang penyihir, berbagai macam cerita dongeng bermunculan dengan ramai di kepalanya, membentuk satu pemikiran bahwa sebagai penyihir, dia bisa melakukan apa saja. Termasuk memanggil kembali Cassanova yang sudah menjadi bintang, atau sebaliknya, merubah dirinya menjadi bintang dan terbang menyusul Cassanova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun sudah Cassandra bersekolah di Hogwarts. Cukup untuk memberitahunya, kalau impiannya merubah dirinya menjadi bintang dengan tongkat sihirnya dan terbang mengunjungi Cassanova adalah hal yang mustahil. Cassanova, Cassanova dan Cassanova. Hidupnya hanya dipenuhi dengan Cassanova dan dongeng bintangnya, membuat Cassandra praktis tidak mempunyai teman. Mungkin itu pulalah yang membuat Cassandra lebih memilih berpetualang mengelilingi kastil yang sunyi daripada duduk di dalam Aula Besar dan menyelamati setiap anak yang diseleksi masuk ke asrama Ravenclaw seperti dirinya. Cassanova, dan Cassanova. Bahkan saat Cassandra tanpa sadar memasuki kamar mandi Myrtle Merana di lantai dua pun, Cassanova masih belum lepas dari ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika gadis itu berharap hanya ada dia sendiri di kamar mandi agar bisa bebas melamunkan tentang Cassanova, maka dia harus kecewa. Karena tak lama berselang seorang gadis berambut hitam panjang dengan wajah pucat memasuki kamar mandi itu. Janette Blizzard. Demam tinggi yang dia rasakan begitu tiba ke Hogwarts membuat gadis itu terpaksa harus terbaring lemah di atas tempat tidurnya di saat teman-temannya yang lain merayakan pesta Awal Tahun Ajaran. Percayalah, Janette sama sekali tidak bermaksud memasuki kamar mandi itu. Dia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil resiko pingsan di tengah-tengah koridor kastil yang sepi bukan untuk masuk ke kamar mandi Myrtle dan berbincang-bincang dengan hantu genit itu. Bukan. Janette bermaksud untuk pergi ke Hospital Wing, yang sebenarnya terletak di lantai satu. Salahkan demam tingginya yang membuat Janette seolah kehilangan kesadaran dan tak ingat sudah berapa lantai dia naik tangga. Begitu tiba di depan pintu kamar mandi, dia hanya bisa mengerjapkan matanya sesaat, dan masuk masih dengan perasaan melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kesadarannya tidak hilang saat melihat Cassandra duduk di bawah jajaran wastafel batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedang apa kau di sini? Menangisi takdirmu--" kata-katanya terhenti, dan Janette menambahkannya dengan dingin, "--sebagai Darah Lumpur?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang akan Janette lakukan dalam keadaan sakit ataupun sehat. Merasa terganggu dengan keberadaan mereka yang dia sebut sebagai Darah-Lumpur, dan menghina mereka. Andai dia sedang sehat dan beberapa tahun lebih tua, mungkin Janette tak akan menghina mereka. Dia akan langsung memantrai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Merasa kau tak pantas hidup mengotori dunia sihir yang agung, Mudblood? Aku dengan senang hati bersedia menyingkirkanmu,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara pecah seorang pemuda tanggung terdengar, entah dari mana dia muncul. Hantu lainnya seperti Myrtle? Sayangnya bukan, meski kedatangannya yang tiba-tiba mirip dengan hantu. Rigel du Noir. Seorang aristokrat yang biasanya selalu menjaga tindak-tanduknya agar tetap sopan dan ramah, namun kali ini dengan telak menyerang Cassandra yang nyata-nyata seorang Muggleborn. Bukan berarti sebelumnya Rigel tidak membenci Muggleborn. Sejak lahir pemuda itu membenci Muggle dan segala jenis keturunannya sampai ke tetes darah terakhirnya. Hanya saja, biasanya Rigel bisa menutupinya dengan baik dan tidak bertindak sembarangan yang pada akhirnya hanya akan menghancurkan harga dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak untuk kali ini. Pikiran Rigel luar biasa kalut, sampai-sampai membuatnya muak berada di tengah keramaian Pesta Awal Tahun Ajaran bersama teman-teman seasramanya. Padahal kapan lagi Rigel bisa bersorak saat ada murid Slytherin yang diseleksi, atau mencemooh saat ada anak Gryffindor baru yang diseleksi tanpa harus merasa malu dan kekanak-kanakan? Entahlah. Otaknya terlalu penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini gara-gara Muggle. Xavier, Père-nya, terlalu terobsesi pada ambisinya menaklukkan Muggle dalam kekuatan pemerintahan dan ekonomi miliknya. Terobsesi memastikan setiap Muggle tergantung sepenuhnya pada kekuatan ekonomi yang dikuasainya. Memanfaatkan semua yang dia miliki termasuk keluarga untuk bisa mencapai tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rigel benci itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel benci pada Xavier yang memperlakukan istri dan anak-anaknya bagaikan alat. Mengatur setiap langkah dan tindak-tanduk mereka demi kesuksesan rencananya. Tua bangka botak menyebalkan. Diatas segalanya, Rigel membenci Muggle yang telah membuat ayahnya terobsesi dan gila kekuasaan. Membuat Xavier ‘membuang’ Rigel ke Inggris dan melarangnya bertemu dengan ibu dan kedua kakaknya, demi kelancaran rencana Xavier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu seperti apa Cassandra dalam pandangan Rigel yang sedang kalut saat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah. Parasit kotor yang hanya mengotori dunia sihir. Sampah yang harus dimusnahkan demi kelangsungan keberadaan dunia sihir. Itulah mengapa Rigel mengacungkan tongkatnya pada Cassandra. Ingin memusnahkan gadis itu dari muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hello, &lt;em&gt;Purebloods,&lt;/em&gt;" suara manis bernada sinis memecah keheningan. Milik siapa lagi kalau bukan Friday BonClay? Seorang gadis Latin ramah dengan senyuman yang mampu membuat banyak pria gemetaran bahkan hanya melihatnya dari jarak dua meter. Sayangnya, hanya satu pria yang memenuhi seluruh relung otaknya selama berbulan-bulan. Laverne Zeev. Pria dingin misterius yang diidolakan oleh gadis-gadis seisi Hogwarts, namun sayangnya sudah melabuhkan cintanya pada sosok seorang Maria Antoinatte Roslane. Membuat banyak gadis berkeinginan untuk mengutuk mati gadis Ravenclaw baik hati itu, atau mencuri persediaan Amortentia milik Slughorn dan meneteskannya pada makanan milik Zeev.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Friday tak bisa. Harga dirinya yang tinggi tidak mengizinkannya untuk memuja sosok seorang Laverne Zeev begitu dalamnya seperti gadis-gadis yang lain. Oh, tidak. Alih-alih menunjukkan kalau dia memuja Zeev dan mencari cara untuk mencekokinya Amortentia, Friday menampakkan wajah tak suka dan menebarkan tameng permusuhan setiap kali berada dalam radius beberapa meter dari Zeev. Kontradiktif. Membuat Friday terjebak dalam jaring laba-laba yang dipintalnya sendiri. Dalam kekalutannya, Friday menghindari Aula Besar karena tak tahan melihat Zeev selalu melabuhkan pandangannya ke Meja Ravenclaw, dimana Roslane duduk, dan berjalan-jalan tanpa arah sampai akhirnya memergoki Rigel yang memasuki toilet perempuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, yeah.  Sudahkah kuberitahu kalau ini toilet perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Merasa cukup jago untuk menyiksa mudblood seperti para Pelahap Maut, eh? Coba lakukan, aku mau lihat," lanjut Friday dengan nada meremehkan. Tangannya menggenggam tongkat Reed-nya, bersiaga untuk yang paling tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai kau tahu, kalau Friday sekalipun tidak tega untuk menyakiti Cassandra. Dalam hatinya yang terdalam, Friday berharap agar mereka tidak benar-benar berniat menyakiti Cassandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini kenapa, kerasukan sesuatu? Ini bukan saatnya bersikap seperti orang suci dan menyelamatkan Mudblood kotor ini,” timpal Janette. Bahkan dalam demam tingginya, gadis itu tetap mengacungkan tongkat Hawthorn-nya ke arah Friday. Jangan coba-coba remehkan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberatan, Friday? Ada apa denganmu yang biasanya juga melecehkan para Mudblood ini di belakang?” Rigel membalas dengan tak kalah dinginnya. Jangan kaget melihat Rigel saat ini. Kebenciannya pada Muggle sudah pada puncaknya. “Para Muggle dan Mudblood, mereka tak pantas ada di dunia ini! Bukankah kau juga berpikiran hal yang sama? Kau juga membenci Muggle yang sudah merebut ayah dan Juan Carlos-mu, kan, Friday? Jangan munafik,” dengus Rigel. Dia tak menyangka ucapannya akan membuat pipinya memerah dan perih sedetik kemudian. Dalam luapan emosi dan malu skandal keluarganya diumbar begitu saja, Friday menampar Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“CUKUP, RIGEL! Jangan berani-berani lagi kau umbar masalah keluargaku! Tahu apa kau tentang keluargaku?!” teriaknya kalap. Hilang sudah image tenang yang sejak tadi berusaha ia pertahankan. Friday kalap, karena sesungguhnya, dalam hati dia mengakui kalau kata-kata Rigel benar. Muggle brengsek itu sudah merebut ayah dan kakak yang sangat dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku benar, kan?! Akui sajalah, Friday! Tak perlu kau pelihara gengsimu itu untuk melindungi Muggle yang jelas-jelas kotor ini! Aku saja tak malu mengakui keluargaku berantakan karena Muggle-Muggle brengsek!” teriakan penuh amarah pemuda tanggung itu menggema di seluruh dinding kamar mandi. Dan hebatnya Myrtle tak kunjung muncul. Sedang mengadakan kunjungan ke Danau Hitam, mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya! Ayahku menelantarkan keluarganya hanya karena obsesi bodohnya yang ingin menguasai para Muggle! Kalau saja Muggle-Muggle bodoh itu dilenyapkan, ayahku tak akan dikuasai ambisi kosong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berteriak-teriak dan mengancam seorang wanita dengan tongkat membuatmu lebih menyedihkan daripada Muggle, Noir,” dengusan merendahkan seseorang mengalihkan perhatian mereka. Ada orang lain yang bergabung. Rigel menaikkan alisnya, menatap sosok yang baru saja memasuki kamar mandi. Voe Goscinny, gadis psikopat yang digosipkan menyimpan belati perak untuk mengorek jantung siapa saja yang berdiri di antara dia dan Laverne Zeev. Sungguh, hanya suatu kebetulan saja gadis itu ‘terdampar’ di toilet ini. Gadis itu telah mengalami musim panas yang berat, dan kini dia memerlukan tempat untuk menenangkan pikirannya. Semuanya gara-gara wanita gila itu. Dia yang sudah menuduh Voe mengidap penyakit jiwa, dan membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Wanita itulah yang harus disalahkan, karena dia juga sudah merebut Edgard-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama gadis itu berhasil menyingkirkan Laverne Zeev dari ingatannya? Semuanya karena Edgard Jones. Lagi, pria itu pulalah yang membuat Voe kembali rapuh, bahkan lebih rapuh dari biasanya. Kala pria itu mengatakan kalau mereka tak bisa lagi bersama, dan meninggalkannya sendirian, kembali ke jurangnya yang lama. Lama-lama Voe merasa dirinya seperti orang bodoh. Mengikuti Friday yang keluar dari Aula Besar demi sesuatu yang disebut persahabatan meski Voe berani bertaruh itu hanyalah omong kosong belaka, dan meninggalkan kegiatan memperhatikan wajah Zeev. Seharusnya tadi dia tetap di meja saja. Untuk apa dia mengikuti Friday bila akhirnya hanya akan menjerat dirinya sendiri ke dalam masalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringai mencibir terbentuk di wajah Rigel menyadari siapa yang datang. “Jangan. Ikut. Campur. Kuperingatkan, Goscinny,” setiap kata-katanya diucapkan Rigel dengan penuh ketegasan. Lagipula, untuk apa gadis psikopat itu ikut campur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilatan aneh tertangkap pada tatapan Voe yang biasanya keruh dan sayu. Seringai menyeramkan terbentuk di bibirnya. Tanpa menghiraukan kata-kata Rigel, Voe bergerak mendekat. Menarik pisau lipat peraknya dari saku mantelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, yeah? Lalu kalau aku ikut campur, kenapa? Apa yang akan kau lakukan, Noir?” bisik Voe dalam nada mistis. Pisaunya yang dingin menyentuh permukaan kulit Rigel, terasa begitu mencekam. Voe menggerakkan pisaunya, menyusuri lekuk tulang pipi Rigel, kemudian turun menuju lehernya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KLONTRAANG!!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuat tenaga Rigel menepiskan tangan kanan Voe yang menggenggam pisau itu. Gila. Gadis ini gila. Siapa yang tahu dia akan menggorok lehernya atau tidak barusan? Ngeri, Rigel menatap gadis itu terdorong ke belakang seolah dalam gerakan lambat, pisaunya melayang. Mendarat di dekat kaki Cassandra, yang sejak tadi hanya terdiam, seolah sedang berada di luar tubuhnya dan menonton dirinya sendiri sedang ditindas oleh para Pureblood. Kilau cahaya tongkat Janette memantul di pisau perak itu, membuat kilatan aneh di mata Cassandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa sih kalian selalu ribut-ribut menyebutku Mudblood? Darahku sama saja dengan kalian, sama-sama merah,” celetuknya tiba-tiba. Tak ada satupun yang menyadari, kalau Cassandra sudah memungut pisau lipat milik Voe. Janette mendengus geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah jelas kan, Mudblood bodoh? Apa perlu kuberitahu lagi? Kau hanyalah Mudblood kotor. Jangan kira hanya dengan kebetulan memiliki bakat sihir, membuatmu sederajat dengan kami. Kau tak lebih dari sampah kotor yang memiliki bakat sihir karena merebutnya dari para penyihir berdarah murni,” ujarnya dingin. Tongkatnya masih di tangan, diacungkan tinggi-tinggi demi penerangan ruangan. Tapi berani bertaruh, bila Cassandra berani berbuat macam-macam, tongkat itu akan segera bertindak. Meski pemiliknya sedang demam tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kubilang, darahku dan darah kalian sama-sama merah. Aku tak punya lumpur yang mengalir dalam darahku, berani sumpah! Masa kalian tak percaya? Sini, lihat sendiri kalau tak percaya,” dengan menggunakan pisau milik Voe, gadis Latin itu menyayat pergelangan tangannya sendiri. Tak dalam, tapi cukup dalam untuk membuat darah menyembur segar dari lukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada seorangpun yang mengira, kalau gadis Latin yang dianggap tolol dan hina oleh mereka karena terlalu polos dan mempercayai kalau dunia penyihir itu sama indahnya seperti dongeng-dongeng yang selalu ia baca, kini dengan nekat menyayat pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat? Darahku merah. Tak ada lumpur yang keluar, kan?” meringis menahan perih, gadis itu berkata polos sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang kini berlumuran darah. Sebagian darahnya menetes ke lantai, mengalir mengikuti alur keramik di lantai menuju lubang pembuangan terdekat. Tangannya yang lain mengulurkan pisau perak milik Voe, seolah menantang mereka untuk juga menyayat tangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, buktikan kalau ucapanku salah! Buktikan kalau darah kalian lebih murni daripada darahku! Aku ingin tahu seperti apa yang disebut darah murni itu,” tantang gadis itu. Dengan cepat, Voe menyambar pisau miliknya dan menyayat tangannya tanpa banyak bicara. Berbeda dengan Cassandra, Voe seolah merasakan kenikmatan tersendiri saat menyayat tangannya. Kedua kelopak matanya terpejam erat, napasnya tertahan saat pisau merobek kulit mulusnya. Sebuah senyum mengerikan terkembang begitu darahnya mengucur deras. Bisa dipastikan, lukanya lebih dalam daripada luka Cassandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat, darahku dan darahnya sama-sama merah, kan?” tunjuk Cassandra dengan tangannya yang sehat, pada tetesan darah yang mengalir dari tangan Voe ke lantai. Membentuk satu alur dengan aliran darah Cassandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maumu?” akhirnya Janette sanggup mengeluarkan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau lihat darah kalian,” jawab Cassandra keras kepala. Entah kerasukan apa, Janette menyambar pisau lipat itu dari tangan Voe, dan mengiris pergelangan tangannya alih-alih memantrai Cassandra. ‘Mantera’ itu rupanya tidak berhenti sampai di sini. Rigel menatap kosong tetesan darah yang menetes satu-satu dari tangan Janette, dan tangannya terulur mengambil pisau Voe. Untuk menyayat tangannya sendiri. Kemudian, seolah daging pergelangan tangannya tidak menganga dan tak ada darah mengucur deras, Rigel menyodorkan pisau itu ke depan hidung Friday yang mengamati dengan raut wajah mual. Oh, tapi dia tak bisa menolak, kan? Kemana harga dirinya kalau dia menolak? Meski dengan menyayat tangannya membuat Friday resmi masuk kumpulan orang gila. Matilah dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika kamar mandi itu berubah menjadi sungai darah. Tetesan demi tetesan darah mengalir, menutupi lantai dengan warna merah. Bau amis yang menyengat menusuk hidung mereka. Senyum aneh kembali terkembang di wajah Cassandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada lumpur dalam darahku. Darah yang mengalir di tubuhku sama seperti darah yang mengalir di tubuh kalian,” sambung Cassandra lagi. Kali ini, telunjuknya menunjuk pada genangan darah mereka berlima yang membentuk satu kubangan, kemudian mengalir dalam alur lambat yang besar menuju lubang pembuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janette, Rigel dan Friday hanya bisa menatap aliran darah mereka yang berkelok-kelok mengikuti celah alur lantai keramik dengan tatapan mata kosong. Seolah yang mengisi tubuh mereka bukan lagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AH! Senior! Tunggu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara nyaring seorang gadis junior mereka, disusul derap langkahnya yang berlari menyusul mereka, sontak membuat mereka menoleh. Schutzie Macbeth. Junior Slytherin kelas lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Macbeth?” tanya Friday.  Gadis itu nampak membawa-bawa kamera besar yang tergantung di lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Difoto dulu, Senior. Protokoler acara, untuk dokumentasi,” jawabnya sambil nyengir. Kedua tangannya bersiap-siap mengambil gambar dua pemuda dan tiga orang gadis yang datang bersamaan, dan refleks kelimanya berpose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nice pose, Senior.  Thanks,” seru gadis itu, kembali beranjak untuk mencari korban lain untuk difoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wait! Macbeth!” seru Rigel, tangannya bergerak menghentikan gadis itu pergi. Dengan tatapan mata penuh keheranan, Schutzie tak urung pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Senior?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm, foto-foto ini, setelah kau cuci akan disimpan di mana?” tanya Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk dokumen kami. Kenapa memangnya?” jawab Schutzie, membuat Rigel menunduk dan membisikkan beberapa kata di telinga gadis itu. Bola mata gadis itu membulat, dengan khusyuk dia mendengarkan tiap kata yang dibisikkan Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“How? Mau kan?” tanya Rigel, kedua mata hijaunya menatap gadis berambut hitam itu penuh harap. Senyum Schutzie terkembang lebar, dan mengacungkan jempolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beres, Senior. Tak sulit, kok. Mau berfoto di mana?” ujarnya, kembali bersiap dengan kamera hitamnya. Rigel mengembangkan senyuman penuh terima kasih, dan segera kembali pada teman-temannya yang menunggu dengan penuh tanda tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rigel, ada apa—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hooi!! Maaf aku terlambat!” ucapan Janette terpotong saat satu suara riang menyapa mereka dari belakang. Cassandra, langkahnya tergesa menyusul mereka dari arah menara Ravenclaw. Senyum Rigel kembali terkembang. “Bagus, kau sudah datang,” ujarnya. “Lucifer, tak keberatan kalau kami berlima berfoto dulu?” sambung Rigel pada seorang pemuda berambut hitam yang datang bersama mereka. Lucifer mengangkat bahu, seolah mengatakan ‘boleh-saja-aku-tak-keberatan’ dan menepi, sementara Rigel menarik tangan Cassandra agar sejajar dengan dirinya dan ketiga gadis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya kita baru saja difoto, Rigel?” tanya Voe. Rigel tersenyum misterius alih-alih menjawab pertanyaan Voe, dan balas memandangnya dengan tatapan ‘lihat-saja-nanti-sekarang-kau-berpose-dulu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah siap belum?” tanya Schutzie dari balik kameranya. Rigel nyengir dan mengacungkan jempolnya, tanda mereka sudah siap berpose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siap, satu, dua, tiga,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JEPRET!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keren. Kujamin hasilnya juga keren,” ujar Schutzie puas. Gadis itu pun melambaikan tangannya dan berlalu dari depan mereka, kembali memotret para murid yang berdatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hobi sekali sih kau difoto, Rigel. Merasa diri paling tampan, padahal kau tak begitu tampan,” celetuk Friday, tak tahan ingin menggoda Rigel yang bahkan sampai meminta difoto ulang. Rigel hanya meliriknya, dan mendengus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti juga kau akan tahu kenapa aku minta difoto ulang,” ujar Rigel dengan ekspresi sok-misterius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh kuminta kembali gadisku, Rigel?” ujar Lucifer, membuat wajah seorang gadis Latin yang berdiri di antara mereka bersemu merah. Membuat Rigel tak tahan ingin menggodanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kubilang tak boleh?” ujar Rigel dengan nada jahil. Rona merah di wajah gadis Latin itu menghilang, ekspresinya riangnya berubah cemberut. Tak tahan, Rigel tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bercanda Cass, aku bercanda. Sana, Lucifer sudah menunggumu,” Rigel menepuk pundak Cassandra, mendorongnya ke arah Lucifer. Sepertinya wajah Cassandra tak bisa lebih merah lagi dari ini. Dengan ekspresi menahan tawa, Lucifer mengedikkan kepalanya, berpamitan dan masuk ke Aula Besar lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Voe, acara sudah mau dimulai,” panggilan seorang pemuda jangkung berambut jerami dari arah pintu Aula Besar mengalihkan perhatian mereka. Gadis pirang kurus itu pun mengangguk kecil tanda mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar, Barty,” jawabnya. “Aku duluan, teman-teman. Dansa Ketua Murid, pembuka acara,” lanjutnya pada Friday, Rigel dan Janette yang masih berdiri di Aula Depan. Gadis itu melambai, dan berjalan anggun menyusul partnernya yang sudah menunggu di dalam Aula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana Tristain?” tanya Rigel, menyadari kalau Janette masih berdiri bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah duluan.  Tugas Prefek atau apalah.  Dia minta aku menyusulnya setelah tugasnya selesai,” jawab Janette.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So, just three of us left, eh?” celetuk Rigel. Mau tak mau Janette dan Friday mengiyakan, meski itu terlihat seperti mengakui kalau mereka adalah pecundang karena tak membawa pasangan. Padahal ini adalah Prom Night kelulusan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dumbledore pelit sekali sih, tak mengizinkan kita mengundang murid yang sudah lulus,” ujar Friday, seolah seluruh hidup dan matinya tergantung pada hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebegitu cintanya kau pada Francis,” timpal Janette. Friday menggulirkan bola matanya, memperlihatkan ekspresi ‘gembala-sapi-itu-lebih-baik-daripada-tak-ada-sama-sekali’ di wajahnya. Rigel menahan diri untuk tidak mengatakan 'Sebenarnya kau lebih memilih Laverne Zeev daripada MacManus, kan?' di depan kedua gadis itu. Laverne Zeev adalah topik yang 'sensitif' untuk disentuh. Meski tampaknya Janette, Friday dan Voe sudah bisa melakukan gencatan senjata untuk hal yang satu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, kita masuk saja. Barty akan menemanimu setelah tugasnya selesai, kan?” ucap Rigel, berusaha mendamaikan suasana. Tak urung Friday mengangguk juga. “Yeah, dan selagi kau menunggu Voe menyelesaikan tugasnya dengan Barty, kau bisa menemani kami berdua,” timpalnya, entah kenapa merasa senang melihat Rigel juga ‘kehilangan’ pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Well, if that's what you want, I'm gladly to escort both of you, Ladies," Rigel membungkukkan badannya ke arah Friday dan Janette, kemudian menyodorkan kedua sikunya pada Friday dan Janette yang berdiri di kedua sisinya. Seringai penuh arti terpasang di wajahnya, matanya berkilat nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo masuk. Nanti ketinggalan dansa Voe dan Barty. Ini malam terakhir kita di Hogwarts. Kita harus bersenang-senang sampai mampus,” lanjut Rigel, cengiran nakalnya mengundang guliran bola mata Friday dan Janette. Meski mereka mau tak mau mengakui juga dalam hati dan tak urung menggandeng masing-masing lengan Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini malam terakhir mereka sebagai murid Hogwarts.  Kenangan terakhir mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan harus menjadi malam paling indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kepak sayap seekor burung hantu serak berbulu cokelat gelap di jendela membangunkan seorang gadis yang masih terkubur di bawah selimutnya. Hari masih pagi. Gadis Latin itu menggeliat pelan, bangun setelah si burung hantu menggaruk-garukkan cakarnya di kaca.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“Aku datang, aku datang. Sabar sebentar bisa tidak sih,” rutuknya dengan suara-bantal, mencari-cari sandal kamarnya dan berjalan menuju jendela.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:times new roman;" &gt;Sesosok lengan kurus dan ringkih terulur, membuka kunci jendela. Membiarkan seekor burung hantu berbulu seputih salju memasuki kamarnya. Kakinya terulur, menyodorkan amplop cokelat untuk dilepaskan dari ikatannya. Gadis itu menyibakkan rambut pirangnya yang masih meneteskan air, mengernyit membaca nama pengirimnya. Rigel du Noir. Penasaran, gadis itu duduk di tepi tempat tidurnya, merobek amplop suratnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia; font-style: italic;font-family:lucida grande;" &gt;Sehelai foto jatuh ke atas piringnya kala dia merobek amplop cokelat itu. Beruntung ibunya belum menuangkan isi sarapannya ke dalam piring. Bola mata hitam besarnya terbelalak, penuh rasa penasaran dan terpesona melihat foto itu. Meski sudah tujuh tahun bergelut dengan dunia sihir, rasa kagumnya akan foto bergerak tak pernah pudar. Dengan mulut ternganga seperti huruf O, gadis Latin itu mengamati foto di hadapannya. Foto mereka berlima. Perlahan, dibalikkannya foto itu. Ada tulisan tertera di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia; font-style: italic;font-family:lucida grande;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia; font-style: italic;"&gt;“In the name—“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;”—of our blood, who stands in here from left to the right,” kata-kata gadis tinggi dengan rambut hitam itu terhenti, sorot matanya yang biasanya tenang dan kalem kini terpana, seolah terperangkap dalam sihir yang dirangkai oleh kata-kata itu. Teringat kembali akan memori bertahun-tahun ke belakang, saat mereka disatukan oleh darah yang menggenang di lantai kamar mandi Myrtle Merana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial; font-style: italic;font-family:times;" &gt;”Friday BonClay, Cassandra Almendarez, Rigel du Noir, Voe Goscinny, and Janette Blizzard,” suara matang seorang pemuda berusia tujuh belas tahun, terdengar bergumam pelan. Mengeja satu persatu nama yang tertera di belakang foto dalam genggamannya. Foto lima orang sahabat yang dipersatukan dalam keragaman oleh merahnya darah. Seulas senyum tersungging di bibir pemuda itu. Meloncat dari sofa di kamarnya, berlari turun mencari pigura kosong. Dia yakin melihat satu di kamar tidur kakaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:optima;"&gt;&lt;strong&gt;As we go on, we remember&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:optima;"&gt;&lt;strong&gt;All the times we had together&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:optima;"&gt;&lt;strong&gt;And as our lives change, come whatever&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:optima;"&gt;&lt;strong&gt;We will still be, friends forever&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Song Credits to Vitamin C - Graduation&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Some paragraphs credit to: Moaning thread in Moaning Myrtle Bathroom&lt;/small&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-477899603450014979?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/477899603450014979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=477899603450014979&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/477899603450014979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/477899603450014979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/in-name-of-our-blood-camaraderie-side.html' title='In The Name of Our Blood: Camaraderie Side Story'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-5326038250166636715</id><published>2009-04-03T02:14:00.003+07:00</published><updated>2009-04-03T02:23:50.244+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1974'/><title type='text'>Surat Dari Hogwarts (1974)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan peluh yang masih mengalir di tubuhnya, Rigel melangkah memasuki beranda belakang rumahnya, sebelah tangannya memanggul sapu. Matahari sudah naik tinggi di atas kepala. Rigel sudah bangun saat seisi rumahnya masih gelap, dan menyelinap berjalan-jalan di kebun rumahnya yang cukup luas. Memanjat pohon, lari sprint, mengejar jembalang, dan diakhiri dengan terbang beberapa lama, mencoba sapu hadiah ulang tahunnya. Ya, dia baru saja berulang tahun 5 Juni lalu. Père-nya menepati janji memberikan sapu terbang sebagai hadiah ulang tahun, sesuatu yang amat mustahil terjadi. Jarang sekali Père ingat akan janji-janjinya pada Rigel. Tak heran, Rigel amat menyayangi sapunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesosok Peri Rumah berbalut serbet teh yang dibentuk seperti toga tergesa-gesa menghampirinya. Tanpa berkata apa-apa, Rigel menyodorkan sapunya, memberi isyarat pada peri rumah itu untuk menyimpannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Le maître, Monsieur Noir attend dans son atelier," ucap si Peri Rumah terbungkuk-bungkuk. Rigel yang sedianya akan bergerak ke Ruang Makan, terhenti. Dia balas memandang peri rumahnya, alisnya terangkat sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dites-lui, je veux prendre le petit déjeuner d'abord," kata Rigel cuek, kakinya terus melangkah menuju Ruang Makan. Dimana peri rumah lainnya sudah menunggu, dan membungkukkan badannya dalam-dalam saat Rigel masuk. Sarapan --atau mungkin sekarang lebih pantas disebut &lt;em&gt;brunch&lt;/em&gt;-- sudah terhidang di atas meja. Tanpa mengganti bajunya yang bersimbah peluh terlebih dulu, Rigel duduk dan menyambar makanannya. Kalau Madame Noir melihatnya, Rigel akan mendapat pelototan dan ocehan Madame Noir panjang lebar, tentang dia harus menjaga manner meski sedang berada di rumah sendiri. Dia memang lapar berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mais le Maître, Monsieur Noir veut que vous veniez maintenant," tambah si peri rumah takut-takut. Rigel mendengus kesal, membanting garpu yang baru dipegangnya ke piring, dan melempar serbetnya. Kedua peri rumahnya tersentak, dan mengkerut ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"D'accord! Dites-lui que je viendrai!" bentak Rigel, kesal dengan keegoisan Père-nya. Tidakkah Père-nya mengerti, kalau dia sedang kelaparan dan ingin mengisi perut sebelum diceramahi panjang lebar entah-karena-apa oleh Père-nya? Dipanggil ke ruang kerja ayahnya, hanya satu hal yang pasti. Dia baru melakukan sesuatu yang menurut Père-nya itu adalah kesalahan, atau Père memerintahkan sesuatu untuk dia lakukan, dan tidak menerima bantahan. Yang manapun, rasanya sama saja bagi Rigel. Tak ada yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigel mengganti bajunya dengan tergesa-gesa di kamar. Hal lain yang membuatnya benci jika harus menemui Père, adalah dia harus selalu menghadap dengan pakaian rapi, tanpa ada keringat. Menemui Père dengan baju basah bersimbah peluh akan mengundang kemarahan lainnya, dan itu berarti ditahan tiga kali lipat lebih lama di Ruang Kerja Père. &lt;em&gt;Cuma menghadap saja kenapa mesti pakai baju rapi,&lt;/em&gt; Rigel menggerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bonjour, Père," sapanya sopan saat memasuki ruang kerja Monsieur Noir. Peraturan lain saat menemui Monsieur Noir: Berbicara dengan bahasa yang sopan. Entah itu dalam Prancis atau Inggris, Rigel harus selalu berbicara dengan sopan. Tidak buruk, memang. Hanya saja Rigel pegal jika harus berbicara sopan terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku baru dapat laporan dari guru Bahasa Inggris-mu. Perkembangan pelajaranmu buruk! Ada apa denganmu? Lupa kalau kau akan sekolah di Hogwarts September ini, dan kau harus menguasai Bahasa Inggris dengan baik?" Belum apa-apa, Monsieur Noir sudah membentak Rigel. Rigel mengertakkan giginya, marah, namun tak bisa berbuat apa-apa. Bukan berarti dia tidak pandai berbahasa Inggris. Sejak umurnya lima tahun, dia sudah fasih berbahasa Inggris, Spanyol, dan juga Belanda. Prancis, jangan ditanya lagi. Itu bahasa ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal lain yang membuatnya sengaja tampak bodoh saat pelajaran Bahasa Inggris. Dia enggan bersekolah di Hogwarts. Dia tidak habis pikir, kenapa Père memaksanya untuk bersekolah di sekolah yang penuh dengan Darah Lumpur itu? Amat sangat bertentangan dengan prinsip keluarganya selama ini. Selalu Berdarah Murni. Kenapa Père bukannya memasukkan dia ke Beauxbatons saja? Sekolah itu di Prancis, lebih dekat. Dan Darah-Lumpurnya tidak sebanyak di Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, aku tidak perlu bersekolah di Hogwarts, kan? Bahasa Inggrisku buruk, bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan mereka? Lebih baik aku masuk Beauxbatons saja," ucap Rigel penuh harap. Ya, semoga saja. Semoga saja kalau Monsieur Noir mengira kemampuan Bahasa Inggris Rigel buruk, dia tidak akan dikirim ke Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monsieur Noir memandangnya tajam. Saat itu juga, Rigel menyesal telah berkata seperti itu. Kalau Père sudah marah, itu artinya bencana. Namun, apa yang terjadi berikutnya benar-benar diluar dugaan Rigel. Monsieur Noir memandangnya dengan tatapan yang membuatnya terlihat berkali-kali lebih tua. Bulu kuduk Rigel berdiri. Ternyata, Père-nya yang seperti ini malah membuatnya tambah takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mengerti alasanmu tidak ingin pergi ke Hogwarts. Kau pikir aku tidak tahu kau pura-pura bodoh saat belajar Bahasa Inggris?" ucapan Monsieur Noir seolah menamparnya terang-terangan. Bagus. Akal-akalannya sudah ketahuan. Kesenangannya hilang. Sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jujur saja, Rigel. Aku pun berat melepasmu pergi ke sekolah yang penuh dengan Darah-Lumpur itu. Aku tidak rela membiarkan kau terkotori mereka," lanjut Monsieur Noir. Rigel mengangguk-angguk, sambil dalam hati mencecar pernyataan Père-nya. &lt;em&gt;Kalau tidak rela, kenapa tetap memaksaku pergi? Étrange&lt;/em&gt; "Tapi, kupikir kau tidak akan cocok dengan sistem di Beauxbatons," &lt;em&gt;Hei, Père, masuk saja belum, bagaimana aku bisa tahu aku cocok atau tidak dengan sistem di sana?&lt;/em&gt; "Mereka terlalu mengutamakan murid-murid perempuan. Terlalu feminin," Rigel mengangkat alisnya. "Kakak-kakakmu semua perempuan, wajar kalau aku memasukkan mereka ke sana. Tapi kau? TIdak, tidak. Kau terlalu berharga untuk masuk ke sekolah perempuan, Rigel," Rigel tertegun mendengar perkataan Père-nya. Berharga? Dia dianggap berharga? Jarang sekali Monsieur Noir memperhatikannya. Yeah, dia adalah anak laki-kali satu-satunya di keluarga Noir, dengan begitu, dia mendapatkan semua perhatian dan kasih sayang Madame Noir, fasilitas termudah, dan sebagainya. Tapi perhatian sang ayah, jangan harap. Monsieur Noir lebih dingin daripada gunung es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inggris juga merupakan tempat yang sangat bagus untuk mengembangkan usaha. Sebelum kita membuka cabang di sana, alangkah baiknya kalau kau bisa tinggal lebih dulu di Inggris dan berbaur dengan masyarakat Inggris, mempelajari dan memahami kebiasaan mereka. Target konsumen perusahaan kita bukan hanya Penyihir, tapi juga Muggle. Benar, mereka hanyalah sampah-sampah tidak berguna. Karena itu, kitalah yang harus menguasai mereka, mengontrol mereka. Jalan yang terbaik adalah memulainya dari perekonomian," jelas Monsieur Noir selanjutnya. Perkataannya hampir menghapus rasa terharu yang sebelumnya Rigel rasakan. &lt;em&gt;Ternyata benar, Père hanya memanfaatkan keberadaanku untuk memperlebar perusahaannya,&lt;/em&gt; batinnya pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Kau tetap akan pergi ke Hogwarts tanggal satu September nanti. Kau juga sudah menerima suratnya, kan? Jangan coba-coba menyembunyikannya. Aku tahu kalau surat dari Hogwarts sudah tiba," Rigel hanya tertunduk lesu mendengarnya. Lagi-lagi, rencananya gagal. Suratnya memang sudah sampai kemarin siang. Rigel sengaja menyembunyikanya, berharap dia bisa batal bersekolah di Hogwarts dan pergi ke Beauxbatons kalau kedua orangtuanya mengira Hogwarts tidak mengirimkan surat untuk Rigel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berikan daftar keperluanmu pada Mère. Kita berangkat besok untuk berbelanja. Perjalanan ini akan panjang, jadi persiapkan fisikmu. Kita akan memakai Ferry menyebrangi Selat Channel, baru melanjutkan dengan Portkey," Kali ini, Rigel benar-benar tidak mempercayai pendengarannya. &lt;em&gt;Apa? Apa yang barusan Père bilang? Dia akan ikut mengantarku berbelanja?&lt;/em&gt; Ini bagaikan mimpi di siang bolong. Seketika Rigel mengubah pendapatnya. Dia rela melakukan apa saja kalau itu untuk mendapatkan perhatian Monsieur Noir. Meski itu berarti dia harus terjun di tengah-tengah sampah berdarah lumpur. &lt;em&gt;Non, je serai parfait. Aku hanya tidak perlu bergaul dengan mereka. Cukup mempelajari mereka dari jauh. Itu saja. Aku pasti bisa bertahan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"D'accord, Père. Aku permisi dulu," jawabnya, kepalanya sedikit mengedik tanda memberi hormat, dan keluar ruangan. Rigel merasa saat ini dia bisa terbang tanpa harus bertransfigurasi menjadi burung ataupun memakai mantera Levitasi.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;- &lt;strong&gt;Le maître, Monsieur Noir attend dans son atelier&lt;/strong&gt; = Master, Mr. Noir meninggu Anda di ruang kerjanya.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Dites-lui, je veux prendre le petit déjeuner d'abord&lt;/strong&gt; = Katakan padanya, aku ingin sarapan dulu.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Mais le Maître, Monsieur Noir veut que vous veniez maintenant&lt;/strong&gt; = Tapi Master, Mr. Noir ingin Anda datang sekarang juga.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;D'accord! Dites-lui que je viendrai!&lt;/strong&gt; = Baiklah! Katakan padanya aku akan datang!&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Bonjour, Père&lt;/strong&gt; = Selamat siang, Ayah.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Étrange&lt;/strong&gt; = Aneh.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Mère&lt;/strong&gt; = Ibu.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Non, je serai parfait.&lt;/strong&gt; = Tidak, aku akan baik-baik saja.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;D'accord, Père&lt;/strong&gt; = Baiklah, Ayah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-5326038250166636715?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/5326038250166636715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=5326038250166636715&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/5326038250166636715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/5326038250166636715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/surat-dari-hogwarts-1974.html' title='Surat Dari Hogwarts (1974)'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-8503737680138681548</id><published>2009-04-03T01:24:00.005+07:00</published><updated>2009-04-03T03:57:10.388+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profile'/><title type='text'>Full Profile</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kw7a8txq98o/SdUDwKKTtXI/AAAAAAAAAAU/ewLDLw3x-dc/s1600-h/Rigel.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kw7a8txq98o/SdUDwKKTtXI/AAAAAAAAAAU/ewLDLw3x-dc/s400/Rigel.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320162660704302450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Signature (c) to Mikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;[Nama -- Panggilan]:&lt;/strong&gt; Rigel Deveraux Grimaldi du Noir -- Rigel; Amoreux - Khusus Ibu; Mon petite frère - Panggilan 'ejekan' kedua kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Status Darah]:&lt;/strong&gt; Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Tempat dan Tanggal Lahir]:&lt;/strong&gt; Vallée de la Loire, June 5th, 1963&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Suku Bangsa Karakter]:&lt;/strong&gt; Caucasian - France&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Asrama]:&lt;/strong&gt; Slytherin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Tahun Masuk Hogwarts]&lt;/strong&gt;: 1974&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Peliharaan]&lt;/strong&gt;: Burung hantu milik keluarga, untuk berhubungan dengan orang rumah.  Tak pernah peduli apa namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Tongkat sihir]:&lt;/strong&gt; Hawthorn, 32 cm, Hungarian Horntail's scale.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Sapu terbang]:&lt;/strong&gt; Tak bernama.  Rigel bukan tipe anak perempuan romantis yang menamai setiap barangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Posisi di Tim Quidditch]:&lt;/strong&gt; Nope.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 100%;font-size:130%;" &gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Nama Ayah]:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i177.photobucket.com/albums/w204/konayuki_2007/Indohogwarts/john_malkovich__2_.jpg"&gt;Xavier Thibault du Noir&lt;/a&gt; - Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Nama Ibu]:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i177.photobucket.com/albums/w204/konayuki_2007/Indohogwarts/normal_tttcap-059.jpg"&gt;Eléonore Margaux Grimaldi du Noir&lt;/a&gt; - Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Nama Saudara]:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Kakak pertama: &lt;a href="http://i177.photobucket.com/albums/w204/konayuki_2007/Indohogwarts/2006-photoshoot13-003.jpg"&gt;Callista Dorian Grimaldi du Roze&lt;/a&gt; &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;- Pureblood, 4 tahun lebih tua daripada Rigel, lulusan Akademi Sihir Beauxbatons.&lt;br /&gt;- Kakak kedua: &lt;a href="http://i177.photobucket.com/albums/w204/konayuki_2007/Indohogwarts/tn2_diane_kruger_3.jpg"&gt;Clémence Mignonette Grimaldi du Noir&lt;/a&gt; - Pureblood, 2 tahun lebih tua daripada Rigel, lulusan di Akademi Sihir Beauxbatons.&lt;br /&gt;- Jean-Baptiste du Noir - adik kandung Xavier.  Menjalankan setengah dari bisnis milik Xavier di Perancis.&lt;br /&gt;- Comte Alphonse du Roze - Suami dari Callista, Pureblood.&lt;br /&gt;- Maximillian Morcerf - Tunangan Clémence, Pureblood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Personaliti Karakter]&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;Vallée de la Loire, 5 Juni 1963. Bayi laki-laki pertama dalam keluarga Grimaldi du Noir menghirup udara dunia untuk pertama kalinya. Dilahirkan di dalam keluarga bangsawan Pureblood yang menempati strata tinggi dalam tingkatan masyarakat membentuk dirinya menjadi seorang gentleman bertatakrama tinggi, meski dia masih sedikit alergi bila berhubungan dengan rakyat jelata. Menggemari sekali Quidditch, terutama karena kegiatan lain yang bisa dilakukannya tanpa merasa cepat bosan hanyalah terbang. Hampir tiap hari Rigel berlatih terbang, serta sesekali melempar-lempar Quafffle dari jarak tertentu. Terkadang dia meminta ibunya menyihir beberapa bola golf untuk terbang sendiri sehingga bisa dia tangkap. Rigel memohon pada ayahnya agar dibelikan sapu terbang baru sebagai hadiah ulang tahunnya yang kesebelas. Di luar dugaan, Xavier mengabulkannya. Rigel amat senang sebelum akhirnya dia mencurigai tindakan Xavier ini untuk menyogok Rigel agar dia mau bersekolah di Hogwarts. Rigel kecil amat membenci Mudblood, terutama karena alasan Mudblood membuat ayahnya menjadi workaholic dan menggunakan keluarga sebagai alat. Alasan lain, karena menurutnya Mudblood serta Muggle tidak berhak tinggal di dunia sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi sebagai anak bungsu serta anak laki-laki satu-satunya di keluarga membuat Rigel mendapatkan porsi perhatian ayahnya lebih dari kakak-kakaknya. Sang ayah menjejali Rigel dengan berbagai macam pengetahuan, baik umum maupun tentang sihir. Terutama tentang ekonomi serta politik. Mndapat surat dari Beauxbatons juga saat dia berusia 11 tahun, namun perintah ayahnya membuat dia bersekolah di Hogwarts. Sang ayah berambisi meluaskan pasar bisnisnya hingga ke Inggris sehingga Rigel harus bersekolah di Inggris untuk mempelajari pola masyarakat dan perekonomian di Inggris. Alasan lainnya, Xavier menganggap Beauxbatons terlalu feminin untuk seorang laki-laki seperti Rigel. Xavier bahkan melarang Rigel pulang ke Perancis di liburan musim dingin dan liburan musim panas. Akhir Juli 1974, Rigel pindah ke Inggris diantar ibu dan ketiga kakaknya. Dia tak perlu menyiapkan apapun lagi, jelas. Seluruh kopernya sudah siap dipak begitu dia bangun pagi, bahkan sang ayah sudah menyiapkan rumah untuknya tinggal selama liburan. Château du Noir, puri tua yang berlokasi di Cambridgeshire. Puri itu dibeli oleh Xavier tidak lama setelah Rigel lahir, demi kelangsungan rencananya menempatkan Rigel di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada satupun aturan sang ayah yang membuatnya nyaman. Bagaimanapun, dia tidak bisa melawan. Rigel amat menyayangi ibu dan kedua kakaknya. Baginya, mereka bertiga adalah wanita terpenting dalam hidupnya. Mungkin tekanan dari Xavier pulalah yang menyebabkan Rigel amat Protektif pada mereka bertiga. Hal yang paling tidak rela dia tinggalkan saat pindah ke Inggris, karena harus meninggalkan ibunya sendirian di Palais du Noir, istana mereka di Vallée de la Loire, Perancis. Sendirian, karena sang ayah jarang pulang. Sibuk mengurus bisnis. Rigel juga amat ingin bisa satu sekolah dengan kedua kakaknya. Dia tidak peduli dengan sekolah yang terlalu feminin atau apa. Dia hanya ingin bisa berada dekat dengan mereka, dan menggantikan Callista melindungi Clémence. Menurutnya, Callista juga berhak mencari kebahagiaannya sendiri, dan dia sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga-lah yang memiliki kewajiban melindungi seluruh keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pahamnya yang membenci Muggle dan Muggleborn, Rigel muda amat sangat berambisi untuk bergabung dengan para Pelahap Maut. Sejak dia menginjakkan kaki di Inggris, dia sudah mendengar desas desus tentang sepak terjang Lord Kau-Tahu-Siapa dan para pengikutnya. Mereka benar-benar sepaham dengan Rigel mengenai Muggle dan para Mudblood. Di Hogwarts, selain berusaha agar tidak terlalu tertinggal di kelas demi menyenangkan Xavier meski dia tidak bernafsu sekolah di sini dan menghindari para Mudblood sebisa mungkin, Rigel mencari informasi apapun mengenai para Pelahap Maut ini. Dia amat sangat lega mendapati kenyataan kalau asramanya satu-satunya asrama di Hogwarts yang menolak keberadaan Muggle serta mendukung penuh Lord Kau-Tahu-Siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Bakat dan Kekurangan]&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jago Quidditch, dan sempat menjadi cadangan di tim Quidditch Slytherin, namun keluar sebelum mendapat kesempatan bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Di pelajaran lain tidak begitu menonjol, karena Rigel sama sekali tidak memiliki niat belajar secara penuh. Padahal, sejak kecil dia sudah mempelajari berbagai mantera-mantera sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Senang memperlakukan perempuan secara istimewa, terlebih apabila perlakuannya itu membuat mereka senang. Dia bersikap ramah pada semua perempuan —kecuali Muggle, meski sekarang kedewasaan membuat pola pikir Rigel berubah— dan tak jarang membuat mereka merasa tersanjung secara berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sejak kecil mempelajari bahasa-bahasa di dataran Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bahasa yang dikuasai sangat lancar: Rusia, Italia, Perancis, Inggris, Belanda, Spanyol, dan Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Baru menguasai dasarnya: Irlandia, Norwegia, Swedia, Bulgaria, dan bahasa di Dataran Eropa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sedang mempelajari Bahasa Cina serta Jepang, dikarenakan harus berhadapan dengan klien-klien yang berasal dari kedua negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 100%;font-size:14;" &gt;&lt;strong&gt;Keterangan Lain&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak menyukai apapun yang ada di Inggris dan menganggap Bahasa Perancis sebagai bahasa paling elit, sehingga berusaha sesedikit mungkin berbicara bahasa Inggris. Tapi lama-kelamaan pertahanannya runtuh juga, karena dia tinggal di Inggris dimana tak semua orang mengerti Bahasa Perancis. Hanya pada beberapa orang tertentu Rigel masih ngotot berbahasa Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Nilai-nilai pelajarannya hampir mendekati hancur, karena Rigel berharap dengan begitu ayahnya menyerah dan memindahkannya ke Beauxbatons. Ternyata, hal itu membuat Xavier menghukumnya dengan melarang ibu dan kedua kakak Rigel mengunjunginya saat liburan musim panas Tahun Ketiga. Rigel sadar dan berhenti pura-pura bodoh di kelas lagi demi ibu dan kedua kakaknya kembali diizinkan datang ke Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Semakin bertambah dewasa, pola pikir Rigel semakin terbuka. Berbagai kejadian yang terjadi di sekitarnya mempengaruhi cara berpikir Rigel. Dia tidak begitu keberatan berhadapan dengan Halfblood dan Muggleborn, juga bisa sedikit bertoleransi pada Muggle asalkan mereka berguna untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menjadi C.E.O dari perusahaan-perusahaan yang dikelola di bawah nama keluarganya di Inggris (satu perusahaan perhiasan yang khusus untuk ekspor ke Perancis, tiga perusahaan garmen serta satu perusahaan ekspor hasil laut) sejak Januari 1980 karena Xavier tiba-tiba terserang 'penyakit'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Semakin dalam Rigel terlibat dalam manajemen perusahaan-perusahaannya, dia semakin memahami pola pikir Xavier yang alih-alih menyingkirkan para Muggle, lebih cenderung untuk 'memanfaatkan' serta 'memperbudak' mereka. Agak keberatan dengan sepak terjang Pelahap Maut akhir-akhir ini karena kestabilan perusahaannya terganggu sejak kondisi di Inggris terguncang berbagai teror. (Sebenarnya, kalau keuntungan serta pertumbuhan perusahaannya tidak terganggu, Rigel tidak memiliki masalah dengan sepak terjang para Pelahap Maut tersebut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-8503737680138681548?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/8503737680138681548/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=8503737680138681548&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/8503737680138681548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/8503737680138681548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/full-profile.html' title='Full Profile'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_kw7a8txq98o/SdUDwKKTtXI/AAAAAAAAAAU/ewLDLw3x-dc/s72-c/Rigel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-6467858974687499092</id><published>2009-04-03T00:41:00.002+07:00</published><updated>2009-04-03T01:11:07.645+07:00</updated><title type='text'>Ethymology</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ténèbres Aile: Étage de Noir Étoile&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul blog di atas diambil dari Bahasa Perancis yang berarti Dark Wings: Story of Black Stars.  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Black&lt;/span&gt;, adalah bahasa Inggris dari kata "Noir", nama keluarga Rigel.  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Stars&lt;/span&gt;, karena nama &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rigel"&gt;Rigel&lt;/a&gt; sendiri diambil dari nama bintang keenam terterang di Rasi Bintang Orion.  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Stars&lt;/span&gt;, bukan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a Star&lt;/span&gt;, karena dalam blog ini tidak hanya akan diceritakan tentang karakter dan plot Rigel seorang, tapi juga mengenai orangtua serta saudara-saudaranya, juga istri dan anaknya kelak.  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dark Wings&lt;/span&gt;, berarti sayap hitam.  Ini adalah konotasi yang menggambarkan perjalanan hidup Rigel sebagai pelindung keluarganya seperti sepasang sayap, dan jalan kehidupannya yang gelap dan tidak selalu mulus. &lt;span style="font-weight: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-6467858974687499092?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/6467858974687499092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=6467858974687499092&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/6467858974687499092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/6467858974687499092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/ethymology.html' title='Ethymology'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6536071882721008135.post-3875623913425952311</id><published>2009-04-03T00:21:00.001+07:00</published><updated>2009-04-03T11:24:07.749+07:00</updated><title type='text'>Disclaimer</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Blog ini dimiliki dan dikelola oleh PM Rigel du Noir beserta Mastermind-nya, ditujukan sebagai arsip serta tempat pengembangan karakter Rigel du Noir beserta keluarga du Noir, karakter-karakter fiksi yang tercipta untuk &lt;a href="http://www.blogger.com/s15.zetaboards.com/hogwartsnox/index/"&gt;Forum Indohogwarts&lt;/a&gt;, sebuah forum Role-Playing Text-Based yang berbasis dunia Harry Potter. Semua yang tertulis dalam blog ini adalah fiksi. Kesamaan mengenai nama orang, tempat, kejadian, serta tanggal dan lain-lainnya adalah kebetulan semata. Segala informasi yang tertulis dalam blog ini, baik RPG maupun pengembangan karakter adalah sepenuhnya hak cipta pemilik blog beserta partnernya, dengan pengecualian yang disebutkan dalam setiap post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog ini sama sekali tidak berafiliasi dengan J.K. Rowling, Scholastic Books, Carlsen Verlag, Bloomsbury Publishing atau Warner Bros. Segala material yang berhubungan dengan Harry Potter (Hogwarts, karakter-karakter dalam buku Harry Potter, gambar) sepenuhnya milik JK. Rowling, Scholastic Books (US), Carlsen Verlag (D), dan Bloomsbury Publishing (UK). Blog ini semata-mata dibuat untuk pelengkap keberadaan sebuah chara bernama Rigel du Noir di &lt;a href="http://www.blogger.com/s15.zetaboards.com/hogwartsnox/index/"&gt;Forum Indohogwarts&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;Disclaimer (c) to Disclaimer Indohogwarts.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6536071882721008135-3875623913425952311?l=de-noir-etoile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/feeds/3875623913425952311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6536071882721008135&amp;postID=3875623913425952311&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/3875623913425952311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6536071882721008135/posts/default/3875623913425952311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://de-noir-etoile.blogspot.com/2009/04/disclaimer.html' title='Disclaimer'/><author><name>Bagas Keren</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07408050814217656582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
