Showing posts with label 1974. Show all posts
Showing posts with label 1974. Show all posts

Friday nampak salah tingkah saat Rigel menyapanya. Rigel mengedikkan bahunya sedikit. Malu, mungkin? Well, dia kan memang belle, apa salahnya kalau Rigel jujur dan bilang dia cantik? Rigel memang tak pernah tega melihat perempuan bersedih dan murung. Hal itu selalu membuatnya merasa bersalah, merasa tidak bisa melindungi mereka dengan baik. Meski itu gadis yang baru saja dia kenal, seperti Friday. Rigel tersenyum, mengingat kalimat dari surat Callista yang baru saja dibacanya. Tak masalah bagi dia, dia sudah terbiasa dikelilingi para perempuan. Dia sudah terbiasa memperhatikan mereka, dan memastikan mereka baik-baik saja. Rasanya, sudah seperti naluri dalam dirinya sendiri. Dorongan untuk selalu melihat setiap perempuan yang dikenalnya tersenyum bahagia.

"Aku tidak murung kok, aku cuma serius memandangi danau. Duduklah, Noir."

Friday akhirnya menampakkan senyumnya. Agak berbeda dari senyumnya yang biasa, yang ini membuatnya terlihat lebih manis. Rigel membalas senyumnya, dan duduk di sebelah Friday. Matahari bergerak turun perlahan, menyelimuti mereka dengan sinar keemasan. Betul-betul sore menjelang musim gugur yang indah, kalau mengabaikan angin semakin kencang dan semakin dingin. Rigel merapatkan jubahnya, masih enggan kembali ke kastil. Kalau perlu, dia ingin berada di luar selama mungkin. DIa benci memikirkan dia harus kembali ke kamarnya. Oh, bukan. Itu bukan kamarnya. Itu kamar dia dan beberapa anak lain. Rigel semakin benci mengingat fakta kalau sekarang dia harus berbagi kamar dengan yang lain.

"Sepertinya bukan hanya kau yang serius menikmati pemandangan di danau," ucapnya. Rigel mengedikkan kepalanya ke arah beberapa orang yang juga berada di situ. Pemain biola yang sepertinya kakak kelasnya, dan sekarang mengganti lagunya, beberapa anak lain yang baru saja datang, dan.. Rigel mengenali sosoknya hanya dengan sekali lihat. Kapten Tim Quidditch Slytherin! Siapa anak Slytherin yang tidak mengenalnya? Tim asrama mereka terkenal karena tahun kemarin memenangkan Piala Asrama dan tidak pernah dikalahkan. Melipatgandakan keinginan Rigel unuk ikut bergabung dengan Tim Asrama. Well, untuk yang satu ini, dia bersedia bersikap rendah hati. Dia tidak tahu kemampuannya sejauh apa, karena jarang sekali mendapat kesempatan bisa bermain dengan orang lain.

Terlihat jelas dari ekspresi si Kapten, kalau dia masih terpukul karena pertandingan kemarin. Bukan cuma dia. Rigel pun terpukul. Dia kecewa karena merasa permainan Tim Slytherin yang kemarin dia saksikan, tidak pantas disebut sebagai permainan Tim pemenang Piala Quidditch. Entahlah. Mungkin dia memang belum melihat yang terbaik dari tim asramanya. Membuatnya semakin bernafsu mengikuti seleksi.

"Kau anak tunggal, Noir? Atau punya kakak? Aku punya kakak lelaki yang keren sekali, tetapi dia sekolah di Durmstrang."

Rigel mengalihkan pandangannya dari si Kapten. Dia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Friday. Terlihat sekali kalau Friday sangat membanggakan kakaknya.

"Aku punya dua kakak, keduanya perempuan dan sekolah di Beauxbatons. Callista kelas lima, Clémence kelas tiga," jawab Rigel. "Kau harus tahu bagaimana rasanya punya dua kakak perempuan. Mereka cerewet, dan kadang bisa jadi sangat menyebalkan karena sok mengatur. Tapi biar bagaimanapun," tatapan matanya menerawang saat mengingat kedua kakaknya, rasa rindu yang bertumpuk semakin membuncah di dadanya, "Mereka berdua kakak terbaik di seluruh dunia. Aku berharap aku sekolah di Beauxbatons juga alih-alih di sini. Jadi tidak perlu terpisah dari mereka. Apalagi Clémence, tubuhnya lemah. Aku selalu khawatir terjadi sesuatu yang buruk kalau tidak melihatnya," katanya, tanpa sadar malah bercerita panjang lebar tentang Clémence.

"Aku jadi ingin kenal dengan kakakmu, BonClay. Kenapa dia tidak sekolah di sini?" Rigel balas bertanya. Pertanyaan bodoh, sebetulnya. Bisa dibilang, mereka berdua berada dalam kondisi yang sama. Sama-sama sekolah di sekolah yang berbeda dengan saudara kandung mereka.

"Maaf kalau pertanyaanku salah. Hanya ingin tahu, tak ada maksud apa-apa. Tak perlu menjawab kalau pertanyaanku ini menyinggungmu," Rigel berkata dengan nada meminta maaf dalam kata-katanya. Rigel benar-benar berharap dia tidak salah bicara. Stupide! Untuk apa menanya-nanyakan hal itu? Ikut campur urusan orang saja!

Suara mendesis di belakangnya menarik perhatiannya. Rigel sontak menoleh, dan melihat seorang gadis berambut coklat lebat menyulut beberapa batang kembang api. Rigel menghela napas, lega ada yang bisa membuatnya mengalihkan topik pembicaraan. Bibirnya terbuka, hendak berkomentar, ketika dia menyadari ada sesuatu yang salah pada kembang api itu. Sangat salah.

"Kembang api Muggle," dengusnya pelan. Rigel tahu, tidak baik mengumpat di depan seorang gadis. Ketidaksukaannya pada apapun yang berembel-embel Muggle membuatnya tidak bisa mengontrol sikapnya. Rigel segera memperhatikan ekspresi Friday. Friday sepertinya Pureblood, karena gadis itu masuk Slytherin juga, dan menulis menggunakan pena bulu. Tapi, siapa yang tahu tentang pendapatnya mengenai Muggle? Terus terang, Rigel belum pernah berhadapan dengan Pureblood Pecinta Muggle, meski dia sudah pernah beberapa kali mendengar mereka. Rigel tak tahu harus berbuat apa. Dia berharap dalam hati, semoga apapun reaksi Friday selanjutnya, tidak membuat mereka jadi saling membenci.


Thread You're Still The One, Danau, 1974 (Best Thread). Post ke-2. (dan sukses WB serta berakhir dengan menelantarkan thread)

Interaksi dengan Friday BonClay (peserta thread banyak).

Entah sudah berapa lama Rigel berdiri termenung di tepi danau, matanya memandang kosong riak air yang memantulkan langit musim gugur. Makin menjelang musim gugur, cuaca semakin dingin, tapi dia lebih memilih berada di luar kastil daripada berada di dalam. Semakin lama, suasana di dalam kastil semakin mirip... Palais du Noir. Satu-satunya tempat yang dia rindukan saat ini, tempat dimana Rigel ingin sekali pulang. Istana tempat dia menghabiskan masa kecilnya, dimana setiap sudutnya sudah habis ia jelajahi, setiap sentinya sudah pernah dia datangi. Di musim gugur seperti ini, dia biasa menghabiskan waktu di pekarangan istananya, memetik buah apel atau beri, atau membantu Mère di kebun bunganya.

Rigel menutup matanya, menghirup angin yang membawa aroma musim gugur dalam-dalam. Mencoba memutar ulang kembali film kenangan akan dia dan Mère di Palais, sebagai pengobat rindu. Apa yang sedang dilakukan Mère saat ini? Siapa yang membantunya mengurus kebun bunganya sekarang? Ya Rigel tahu para peri rumahnya pasti akan dengan sigap membantu. Tapi mereka bukanlah manusia. Madame Noir tak bisa mengajak para peri rumah itu bercengkerama sementara mereka mengurus kebun bunga bersama. Itu yang dikhawatirkan Rigel, tak ada yang menemani Madame Noir mengobrol saat menjelang musim gugur seperti ini.

Tangan Rigel menggenggam erat sebuah perkamen dan amplop dengan segel lilin yang sudah terkoyak. Surat dari Callista. Callista dan Clémence sudah kembali ke Beauxbatons beberapa hari setelah Rigel berangkat ke Hogwarts. Rigel membuka lipatan perkamen itu lagi, dan membaca ulang surat dari kakaknya entah untuk yang keberapa kali. Bayangan tentang kedua kakaknya enggan pergi dari benaknya.

Mon petit frère,

Comment allez-vous? Apa kau sudah betah di sekolah barumu? Ayo, cerita padaku tentang sekolah barumu. Jangan sampai ada yang terlewat, ya! Sudah dapat teman di sana? Pasti kau hanya berteman dengan para gadis. Carilah teman sesama laki-laki, Rigel. Kalau bisa yang tampan, dan undang mereka ke Château du Noir saat liburan musim panas, jadi aku bisa bertemu dengan mereka, hahaha.

Clémence tidak ingin aku mengatakannya, tapi kupikir tidak baik menyembunyikannya darimu. Kau tahu kan, aku selalu jujur tentang segala hal padamu. Kondisi tubuhnya melemah sepulang dari Inggris, jadi sampai sekarang dia belum bisa kembali ke sekolah karena dirawat di rumah. Ini hanya ketakutanku, semoga saja tidak benar, tapi sepertinya Père tidak akan mengizinkan Clémence kembali lagi ke Inggris. Yeah, aku tahu ini juga demi Clémence, tapi kalau itu berarti kalian tidak bisa bertemu selamanya, aku tidak terima. Ini salahku juga, tidak menjaga Clémence dengan baik selama di Inggris kemarin. Tenang saja, aku akan berusaha bicara lagi dengan Père. Apapun akan kulakukan agar Père mengizinkan Clémence bisa kembali lagi ke Inggris. Tidak adil kalau hanya kalian berdua yang menanggung kesalahanku. Clémence menyukai Inggris, terutama ruang baca di Château du Noir. Tunggu kabar selanjutnya dariku, ok?

Jaga dirimu baik-baik disana, Mon petit frère. Jangan dekat-dekat dengan para Darah-Lumpur itu. Meski dia tampan, jangan berteman dengannya, apalagi mengundang dia ke rumah. Percuma saja, aku tak mau bertemu dengannya, hahaha. Au revoir. Kapan-kapan aku tulis surat lagi untukmu.

Votre belle soeur,

Callista

PS: Temanku baru tahu kalau kau tidak masuk Beauxbatons. Dia langsung bilang ingin pindah ke Hogwarts, hahaha. Enak saja, aku ogah kalau dia mengincarmu yang masih imut ini. Akan kupastikan dia tidak bisa pindah.


Kakinya melangkah menyusuri tepi danau. Rigel tersenyum-senyum sendiri membaca surat dari Callista. Kakaknya yang satu itu memang kocak, dan juga lugas. Tak bisa dipungkiri, dia juga merasa khawatir dengan Clémence. Tubuh Clémence memang lemah. Saat berada di Inggris pun, beberapa kali dia batuk-batuk kecil. Rigel gemas, dia benar-benar penasaran. Seberapa parah kondisi kakaknya itu sampai Père melarangnya kembali ke Inggris? Dia tak ingin memberatkan Clémence, sampai memaksanya kembali ke Inggris hanya demi bertemu dengannya di liburan musim panas. Haruskah dia yang menentang perintah Père dengan nekat kembali ke Perancis saat liburan musim panas?

Suara alunan musik menyadarkan Rigel dari lamunannya. Dia mengangkat kepalanya dari surat Callista, dan baru sadar kalau dia berada di tengah-tengah anak-anak lain. Kebanyakan perempuan, dan sepertinya mereka bukan anak setingkatnya. Rigel tidak melihat mereka saat Seleksi Asrama. Seorang memainkan biola dengan mendayu-dayu, diiringi petikan gitar gadis lain. Permainan mereka sangat bagus, membuat Rigel kembali tenggelam dalam kerinduannya pada Perancis, Mère dan kedua kakaknya.

Sosok seseorang menarik perhatiannya. Gadis dengan pena bulu pink dan jurnal yang sepertinya tak pernah lepas dari tangannya. Rigel yang biasa melihat gadis itu penuh senyum dan ceria, kini terheran-heran melihatnya terpekur memeluk lututnya. Que se produisent dedans ici? Semuanya terlihat bersedih, batinnya. Rigel paling tidak tahan bila melihat perempuan, terutama yang dikenalnya, bersedih. Rigel mendekati gadis itu, berusaha mengingat namanya yang disebut saat Malam Seleksi. Friday. Ya, itu namanya.

"Tidak biasanya kau murung seperti ini. Tersenyumlah seperti biasa, kecantikanmu tidak terpancar sempurna kalau kau murung," sapa Rigel pada Friday.


- Mon petit frère = Adik kecilku.
- Comment allez-vous? = Apa kabar?
- Au revoir. = Sampai jumpa.
- Votre belle soeur = Kakakmu tersayang
- Que se produisent dedans ici? = Apa yang terjadi di sini?


Thread You're Still The One, Danau, 1974 (Best Thread). Post ke-1.

Interaksi dengan Friday BonClay (peserta thread banyak).

Seleksi Asrama

Tiba di Stasiun, Rigel dan para murid kelas satu lainnya disambut seseorang —sepertinya dia lebih pantas disebut makhluk— tinggi besar dengan kumis dan jenggot lebat dan acak-acakan. Rigel menaikkan sebelah alis saat melihatnya. Setengah raksasa, dia sudah bisa menebak saat pertama kali melihat makhluk itu. Rigel mendengus merendahkan. Bahkan disebut sebagai seseorang saja, dia tidak berhak mendapatkannya. Sekolah macam apa ini, mempekerjakan makhluk setengah raksasa? Seperti Darah-Lumpur belum cukup saja. Benar-benar sekolah rendahan.

Rigel mengikuti makhluk itu dengan terpaksa ke arah danau, dan menaiki perahu. Sepertinya ini khusus hanya untuk kelas satu, karena kelas tingkat atas pergi ke arah lain. Rigel melakukan semuanya dengan setengah hati. Dia sudah lelah, dan dia ingin segera tiba. Bukan karena dia tidak sabar ingin bersekolah di situ. DIa hanya kelelahan, dan ingin bisa tidur sesegera mungkin. Rigel teringat perkataan Mère-nya saat di toko es krim. Mereka mengadakan semacam seleksi untuk memasukkan para murid baru ke 4 asrama berbeda. Oh, semoga saja acara seleksi ini tidak berlangsung lama. Rigel ragu dia masih sanggup untuk bangun.

Makhluk setengah raksasa itu memandu mereka ke arah kastil. Oke, tidak buruk. Kastilnya lumayan. Terlihat tua, tapi lumayan besar. Di depan pintu masuk ganda besar, seorang wanita paruh baya dengan wajah serius sudah menanti mereka. Sekali lihat, Rigel sudah mendapatkan pesan untuk tidak berbuat macam-macam di hadapan wanita ini kalau dia tidak mau mendapatkan masalah. Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai wakil Kepala Sekolah, dan meminta mereka berbaris dalam barisan dua-dua dan masuk ke dalam Kastil. Berbaris, aku bukan anak kecil lagi, dengus Rigel. Mereka melewati pintu ganda tinggi besar yang mengingatkannya akan pintu Bank Gringotts. Hanya saja, ini terbuat dari kayu.

Mereka menyeberangi ruangan kosong yang cukup luas di balik pintu, dan masuk ke pintu ganda lain lagi. Rigel disambut dengan suara celotehan ramai dan sinar kuning lembut, yang ternyata berasal dari ratusan lilin yang melayang sebagai penerangan. Rigel mengangkat kepalanya, melihat ke arah langit-langit. Persis seperti langit di luar. Langit-langit sihir, batinnya. Agak kampungan, meski sekarang telihat bagus karena kebetulan langit di luar sedang bagus. Ruangan yang ini benar-benar besar. Rigel Tampaknya seluruh murid Hogwarts berkumpul di sini. Semacam tempat untuk makan, barangkali? RIgel memperhatikan, ada 4 meja berbeda. Mungkin setiap meja untuk setiap asrama? Rigel mrmandang sekilas ke arah keempat meja itu, mencari-cari anak-anak bertampang superior dan aristokrat. Biasanya mereka yang seperti itulah yang berdarah murni.

Tiba di bagian depan ruangan, Profrsor McGonagall menyuruh mereka berhenti dan menghadap ke arah keempat meja. Rigel lagi-lagi menaikkan alisnya. Plaisez, mereka bukanlah barang pameran. Apa yang akan mereka lakukan terhadap para murid kelas satu? Rigel benar-benar penasaran apa seleksinya. Semoga saja bukan duel satu lawan satu. Bukan berarti Rigel tidak berani melawan mereka. Dia sedang berada dalam kondisi sangat kelelahan. Dia bahkan tidak yakin dia sanggup untuk mengangkat tongkatnya.

Profesor McGonagall mengeluarkan sebuah bangku berkaki tiga, can meletakkan sesuatu —yang membuat Rigel langsung mual saat melihatnya— di atasnya. Rigel bersyukur dia belum makan apapun selain makanan yang dibelinya dari troli di kereta tadi siang. Dia merasa dia bisa muntah saat itu juga. Benda itu terlihat sangat kumuh, dekil, penuh tambalan dan robekan. Mirip dengan sesuatu yang sering dipakai para peri-rumah.

Rigel terkejut melihat apa yang dilakukan benda itu setelahnya. Benda itu bernyanyi! Rigel hampir pingsan, kupingnya sakit mendengar suara dari benda itu. Topi, ternyata. Benda itu sebuah topi. Lagunya menceritakan perbedaan keempat asrama di Hogwarts. Lalu mana asrama yang berisi para Darah Murni? Stupide topi, kau tidak menjelaskan dengan tuntas. Rigel mengira tidak ada yang bisa mengejutkannya lebih dari itu. Oh, dia salah. Berikutnya, saat Profesor McGonagall mengatakan mereka harus mengenakan topi itu, Rigel ingin berlari pulang saat itu juga. Dia tidak peduli dia akan mendapat masalah dengan Père-nya. Apapunakan dia lakukan demi agar tidak menggunakan topi jelek kumal dan bodoh itu. Bagaimana kalau nanti kebodohan si topi berpindah padanya? Oh, tidak, tidak! Dia tidak bisa menjadi bodoh. Dia tampan, Darah Murni, kaya, dan seorang bangsawan. Dia tidak boleh jadi bodoh, atau itu akan menghancurkan semua reputasi baiknya.

Tapi Rigel tidak bisa berkutik. Tampaknya inilah seleksi yang dimaksud oleh Madame Noir. Seleksi, melihat siapa yang paling tahan utnuk direndahkan sedemikian rupa di depan ratusan orang, eh? Aku harus siap-siap untuk membawa koperku pulang, kalau begitu. Aku tidak sudi dipermalukan seperti itu. Si topi tampaknya meneriakkan nama asrama untuk setiap anak setelah berbisik-bisik sebentar dengan si anak. Rigel komat kamit dalam hati, benar-benar berharap si topi tidak menularkan kebodohan atau hipnotis untuk menjadi Pecinta-Muggle padanya. Harga dirinya akan hancur seketika itu juga.

du Noir, Rigel Deveraux!

Rigel tidak bisa mengelak lagi. Perlahan tapi pasti, urutan absen mendekati namanya. Dan akhirnya, tibalah gilirannya. Rigel masih terus saja berdoa agar topi butut itu tidak merubahnya menjadi Pecinta-Muggle sementara dia berjalan ke arah bangku dan duduk. Dia mengernyit saat topi itu dipakaikan ke kepalanya, dan bersumpah akan mencuci rambutnya sampai benar-benar bersih setelah ini. Oh, ayolah topi bodoh, cepat putuskan! Jangan racuni pikiranku dengan berbagai macam hal tentang menjadi Pecinta-Muggle, awas saja! Dan masukkan aku ke asrama yang berisi para Darah Murni. Kau pasti tidak ingin aku kabur pulang di hari pertama, kan? Karena aku akan melakukannya kalau kau memasukkanku ke sarang para Darah Lumpur itu, ancam Rigel pada si topi.


Disturbed Sanctuary #3

''Kau bisa berbahasa Belanda juga?''

Rigel tersenyum kecil. Oui , de trajet. Aku menjawabnya dalam bahasa Belanda juga, kan? Masa itu belum jelas? Tapi kata-katanya itu tidak sampai terucap. Tidak. Dia tidak ingin menghancurkan kesan pertama anak itu padanya. Gadis yang unik, Rigel bisa tahu walau baru melihatnya beberapa kali. SIapa tahu bisa jadi temannya? Lagipula, sampai sekarang Rigel belum punya satu kenalan pun. Dia terlalu fokus dengan kepindahannya ke Inggris, dengan dia akan berpisah dari Mère dan kakak-kakaknya, sehingga tidak begitu memperhatikan bagian mencari teman baru. Dan, dia juga tidak ingin salah memilih teman.

"Ja. Père mengharuskanku untuk belajar bahasa-bahasa di Eropa, untuk memudahkan koneksi, katanya. Tapi baru beberapa yang sudah lancar aku kuasai. Lainnya, sebatas mengenal ditambah sedikit ucapan sehari-hari," jawab Rigel. Sebuah pikiran mengerikan merasuk ke dalam kepalanya. Tunggu dulu. Bagaimana kalau anak ini bukan Pure-Blood? Ditaruh ke mana mukanya kalau semua orang nanti mengetahui dia mengajak kenalan anak yang bukan Pureblood? Oh, tidak, tidak, tidak. Jangan sampai.

''Namanya Void. Dia iguana vegetarian, tapi tetap menggigit.''

Gadis itu malah memperkenalkan iguananya lebih dulu sebelum namanya. Jelaslah sekarang, kalau gadis itu sangat sayang pada iguananya. Rigel mengulurkan tangannya, ingin membelai iguana itu.

"Void, artinya kosong, hampa. Ada maksud tertentu menamainya seperti itu?" tanya Rigel, sama sekali tidak bermaksud merendahkan. Hanya penasaran akan nama yang tidak umum itu. Rigel sekarang mengulurkan kedua tangannya, matanya memberikan tatapan bertanya apakah boleh dia menggendong Void. Rigel belum pernah bermain dnegan iguana. Dia tidak pernah menemukan iguana di hutan belakang rumahnya, dan di rumahnya pun tidak ada iguana.

"Namanya Void, lalu namamu siapa?" ulang Rigel lagi.

''Janette Blizzard. Lengkapnya Janetianne Ver Leth Blizzard. Panggil aku J saja, atau Janette juga boleh. Asal jangan Janetianne.''

Akhirnya anak itu menjawab juga. Namanya cukup panjang. Rigel kira hanya dia dan keluarganya yang bernama panjang.

"Kupanggil Jane, boleh? Panjang juga, namamu. Namaku Rigel Deveraux du Noir. Panggil saja Rigel," ujar Rigel, tidak tahan untuk tidak memamerkan nama panjangnya juga. Sebuah pertanyaan lain mendesak di dalam kepalanya, mendesak untuk keluar. Rigel menghela napas. Semoga saja gadis ini Pureblood. Kalau tidak, semoga tak ada yang tahu aku sudah berkenalan dengannya, batinnya.

"Kau Pureblood?" tanya Rigel. Akhirnya. Kata itu terucap juga dari mulutnya.


Thread Disturbed Sanctuary, Diagon Alley, 1974, post ke-3.

Interaksi dengan Mikey Romanceheart dan Janette Blizzard (yang ikut banyak tapi Rigel hanya interaksi dengan kedua chara tersebut) Credits quote and some descriptions to those chara.

Disturbed Sanctuary #2

Anak lelaki bodoh itu akhirnya meminta maaf pada gadis berambut hitam si pemilik iguana. Alasan bodoh, mencerminkan kalau orangnya juga bodoh. Jelas saja akan kabur, orang waras mana yang dengan sengaja membuka kandang hewan peliharaannya, terutama yang masih baru? Hewan peliharaanmu akan lepas begitu saja. Kecuali kalau memang burung hantu itu dimaksudkan untuk mengirim surat. Namun gadis si pemilik iguana itu masih bisa menerima alasan anak laki-laki itu. Kalau aku jadi dia, mungkin sudah kumantrai anak laki-laki itu, batin Rigel.

Gadis itu mengajak iguananya berbicara. Seketika, raut wajahnya menjadi lembut saat berbicara dengan peliharaannya. Persis seperti raut wajah Callista yang melembut saat membantu Mère berkebun. Terlihat jelas kalau anak ini sangat menyayangi iguananya. Yeah, iguana memang keren. Hanya satu hambatan yang membuat Rigel enggan memelihara hewan: Dia tidak begitu suka melakukan pekerjaan mengurus hewan. Hewan-hewan di Palais du Noir semuanya bukan dia yang mengurus, melainkan para peri-rumahnya. Rigel hanya bermain dengan mereka sekali-kali.

Gadis itu mengucapkan terima kasih padanya dalam Bahasa Belanda. Lagi-lagi Rigel mengangkat alisnya. Mungkin gadis ini tidak mengira aku bisa berbahasa Inggris? Hm, bagaimana aku harus membalasnya? Dalam bahasa Belanda atau Inggris? Rigel bimbang sesaat. Tapi keluar juga kata-kata dari mulutnya.

"U bent welkom," katanya sambil tersenyum. Ekspresi lembut gadis itu saat berbicara dengan reptilnya masih terbayang dengan jelas di ingatannya. "Boleh aku tahu siapa namamu, Nona? Murid Hogwarts juga?" tanya Rigel.


Thread Disturbed Sanctuary, Diagon Alley, 1974, post ke-2.

Interaksi dengan Mikey Romanceheart dan Janette Blizzard (yang ikut banyak tapi Rigel hanya interaksi dengan kedua chara tersebut) Credits quote and some descriptions to those chara.

Disturbed Sanctuary #1

Hari sudah semakin sore ketika mereka akhirnya selesai belanja. Tidak, bukan mereka. Rigel-lah yang sudah selesai. Kedua kakaknya, Callista dan Clémence yang baru saja tiba, segera bergabung dengan Madame Noir, berburu jubah baru di toko jubah. Rigel hanya bisa memutar bola matanya melihat Mère dan kedua kakaknya memburu toko jubah seperti anak kecil memburu penjual es krim. Rigel sudah bosan hanya berdiri mematung tanpa mengerjakan apa-apa. Dia pamit pada Mère dan kedua kakaknya, ingin berjalan-jalan sendirian. Dia mengakui, Diagon Alley bukanlah tempat menarik dan bukan tempat yang cocok untuk berjalan-jalan. Tapi lebih baik daripada harus berdiri menunggui Mère dan kedua kakaknya berbelanja entah sampai kapan.

Semakin sore, jalanan ini semakin sepi. Amat sangat konrtas dengan Diagon Alley saat siang tadi, dimana jalanan penuh sesak dengan orang-orang dari segala macam usia, sampai Rigel merasa udara menyusut saking banyaknya orang yang menghirup udara yang sama di tempat yang sama. Jujur, Rigel lebih menyukai jalanan Diagon Alley saat sepi seperti ini. Dia bisa berjalan dengan santai, tanpa harus tertabrak orang lain atau tersenggol barang belanjaan orang lain. Seorang bangsawan memang seharusnya seperti ini. Sangat tidak pantas seorang bangsawan harus berdesak-desakan pula dengan orang lain.

Berbelok di tikungan dekat Toko Hewan Sihir, Rigel mendapati beberapa anak sedang berdiri berkerumun. Saling membandingkan hewan peliharaannya, mungkin. Rigel sedang tidak ingin masuk ke toko hewan dan menghirup aroma aneh lagi. Sudah cukup tadi dia hampir sesak napas di toko ramuan. Mungkin nanti dia akan membawa salah satu burung hantu yang dipelihara di Château saja. Cukup sebagai alat komunikasi. Rigel memang senang hewan, tapi dia tidak begitu rajin merawatnya. Rigel hanya senang bermain dengan mereka.

Seorang anak lelaki berambut hitam dengan bodohnya membuka sangkar burung hantu miliknya. Rigel menaikkan alis. Tidak berpikir kalau burung hantunya itu bisa terbang jauh dan kabur? Sungguh bodoh. Sejak tadi dia hanya bertemu dengan orang-orang bodoh. Bagaimana mungkin dia diharapkan bersekolah di sekolah yang penuh dengan Darah-Lumpur dan orang-orang bodoh?

Benar dugaannya. Burung hantu itu terbang seenaknya, menyerang reptil yang digendong seorang anak perempuan berambut hitam. Rigel ingat, ini anak yang duduk semeja dengannya saat pertama dia tiba di Leaky Cauldron. Anak dengan iguana hijaunya yang besar. Apa anak itu menambah peliharaannya lagi sekarang? Berani bertaruh, peliharannya yang lain pastilah reptil juga.

Anak perempuan itu tampaknya panik saat iguananya diserang. Rigel bergegas mendekat, dan membantu mengusir burung itu. Gadis itu marah-marah pada anak lelaki si pemilik burung hantu dan memaki-makinya.

"Kau juga bodoh, membuka sangkar burung hantumu begitu saja. Kalau dia kabur, kau akan menyesal seumur hidup sudah menyia-nyiakan uangmu," tambah Rigel.



Thread Disturbed Sanctuary, Diagon Alley, 1974, post ke-1.

Interaksi dengan Mikey Romanceheart dan Janette Blizzard (yang ikut banyak tapi Rigel hanya interaksi dengan kedua chara tersebut) Credits quote and some descriptions to those chara.

Semilir angin yang berhembus mempermainkan rambut pirang Madame Noir yang tergerai panjang. Udara panas rasanya tidak terasa di bawah naungan payung besar di beranda toko. Meski efeknya membuat es krim mereka cepat mencair, Rigel tidak keberatan. Suasana ini membuatnya merasa sedang berada di Perancis, di beranda favoritnya di Palais du Noir, tempat dia sering menghabiskan sore hari. Hampir saja Rigel kelepasan mengatakan kalau dia rindu Perancis. Tidak, dia harus terlihat tegar di depan Mère-nya. DIa tidak mau Madame Noir menjadi khawatir karena belum apa-apa Rigel sudah tidak betah di Inggris.

Rigel mengalihkan pandangannya, melihat-lihat jalanan di sekelilingnya. Sangat ramai, Diagon Alley jadi terlihat sangat sumpek karena banyaknya orang yang berlalu lalang. Rigel mengernyitkan hidungnya. Diagon Alley jadi terlihat kumuh dan berantakan. Kalau tak ada toko ini yang membuatnya betah, sejak tadi dia mungkin sudah menarik tangan ibunya untuk cepat-cepat menyelesaikan berbelanja. Rigel tak begitu suka berdesakan di tengah kerumunan orang. Dia bangsawan, tidak seharusnya berdesak-desakan dan berebutan tempat layaknya rakyat jelata. Mungkin itu juga yang membuat Madame Noir sudah mengajaknya makan es krim, padahal mereka belum mulai berbelanja. Menghindari kerumunan orang banyak yang membuat sesak.

Mata Rigel menangkap sesosok gadis Asia yang satu meja dengannya saat di leaky Cauldron tadi. Gadis itu sudah ada di dalam toko, entah sejak kapan. Dia memandangi Rigel dan Madame Noir dengan tatapan ketus. Rigel mengangkat alisnya sedikit. Tadi pun, saat di Leaky Cauldron, gadis itu beberapa kali meliriknya tajam. Entah apa yang salah dengannya. Rigel merasa penampilannya sekarang baik-baik saja, tak ada yang aneh. Terlalu tampan, barangkali? Rigel tersenyum geli memikirkan kata-katanya sendiri.

"Memperhatikan siapa, Rigel?" tanya Madame Noir. Rigel tersentak, dia gelagapan. Tidak menyangka Mère-nya memperhatikan tindak tanduknya sejak tadi. Rigel cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Elle est une belle fille," perkataan Madame Noir berikutnya membuat Rigel hampir tersedak. Rien! Kenapa Mère bisa tahu? Rigel mengumpat-umpat dalam hatinya.

"Memangnya kalau cantik kenapa?" Rigel akhirnya bersuara. Sedetik kemudian, dia menyesali perkataannya. Itu malah memancing Madame Noir menggodanya lebih jauh. "Mère, dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang anak perempuan yang menatapku tajam saat di leaky tadi. Entahlah, apa salahku padanya. Kenal juga tidak," tambah Rigel. Madame Noir hanya menatap dengan pandangan penuh arti. Rigel memutar bola matanya. Sudahlah. Percuma melayani godaan Mère-nya lebih lanjut. Hanya akan memancing godaan berikutnya.

Seorang gadis berambut hitam mendatangi meja mereka, wajahnya nampak cemas. Rigel amat bersyukur melihat kedatangannya, menyelamatkan dia dari godaan Madame Noir berikutnya. Detik berikutnya, anak itu malah membuat Rigel lagi-lagi hampir menyemburkan es krimnya, kali ini karena tak kuat menahan tawa. Sepertinya gadis itu mengira Rigel dan Madame Noir tidak mengerti bahasa Inggris, karena dia berbicara dalam Bahasa Perancis yang amat sangat buruk sekali, sepatah-sepatah.

"Ada apa, Nona?" tanya Madame Noir dalam Bahasa Inggris. Rupanya, Madame Noir pun mengerti kalau gadis ini tidak bisa berbahasa Prancis. Madame Noir hanya tersenyum, dan mengikuti arah yang ditunjukkan gadis itu. Tampak di dalam toko sudah terjadi sedikit kekacauan. Seorang gadis lain menumpahkan es krimnya. Rigel geleng-geleng kepala. Apa di Inggris menumpahkan es krim sudah jadi kebudayaan? Tadi di Leaky Cauldron pun, ada seorang anak yang menumpahkan es krimnya ke kepala orang lain.

"Itu temanmu yang terkena es krim?" tanya Madame Noir lagi. Dia memberi isyarat pada Rigel untuk masuk. Rigel mengikuti dengan enggan. Untuk apa Mère susah payah menolong anak itu? Rigel menggerutu dalam hati. Meski sebenarnya dia sudah tahu alasannya. Seorang bangsawan yang baik, harus ramah pada para rakyatnya. Jangan sampai rakyatnya mengira mereka sombong dan tinggi hati. Rigel memasang senyumnya yang biasa, berusaha menyembunyikan kekesalannya.

Madame Noir mendekati gadis berambut coklat yang ketumpahan es krim itu. DI sebelahnya, seorang gadis berambut hitam berusaha membersihkan noda es krimnya dengan panik. "Tak usah panik, Nak. Biar kubantu membersihkannya," kata Madame Noir, lagi-lagi dalam bahasa Inggris, dan melambaikan tongkatnya, sambil menggumamkan "Scourgivy." Seketika noda es krim tersebut hilang. Madame Noir kembali tersenyum. Mulutnya terbuka hendak berkata sesuatu, namun apapun yang hendak dia katakan, seketika tenggelam dalam suara ledakan yang cukup keras.

DHUARRRR...

"Mère, montre dehors!!" Rigel refleks menarik Madame Noir tiarap di balik meja terdekat. Dia tidak peduli lagi pada ketiga gadis di sekitarnya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah jangan sampai Mère-nya terluka sedikitpun. Ledakan apa itu?! Apa ada yang menyerang toko ini? Namun bau yang menguar sedetik kemudian membuatnya langsung tahu apa yang baru saja meledak. Bom Kotoran.

" Pour l'amour de Merlin! Siapa orang bodoh yang melemparkan Bom Kotoran di dalam toko?!" seru Rigel marah. Jelas saja dia marah. Dia sudah terlanjur punya perasaan khusus pada toko ini, yang dianggapnya sebagai obat kerinduannya pada Perancis, kampung halamannya. Dan sekarang ada orang bodoh yang melemparkan Bom Kotoran di dalam toko? Rigel bertaruh, orang itu pastilah Darah-Lumpur yang tidak tahu apa-apa tentang dunia sihir, apalagi Bom Kotoran. Orang-orang norak! umpatnya.

Baru saat ledakan sepertinya sudah mereda, Rigel dan Madame Noir bangun. Seluruh toko tercemari bau kotoran, cipratan kotoran bertebaran di mana-mana. Sekarang berganti dengan hiruk pikuk para pelanggan yang panik dan juga para pelayan toko yang berteriak-teriak menenangkan suasana.

"Siapa orang bodoh yang sudah mengacau ini? Tak akan kuampuni!" Madame Noir berseru kesal. Matanya menjelajah sekeliling ruangan, dan berhenti melihat seorang anak berambut coklat pendek yang dikuncir dua, berdiri di tengah kekacauan itu. Kedua tangannya kotor, seperti sudah bisa diduga. Madame Noir langsung menghampiri anak itu.

"Anak bodoh! Kau pasti hanya Darah-Lumpur pengacau yang tidak tahu apa-apa dan hanya mengotori Dunia Sihir! Tindakanmu barusan sudah merugikan toko ini! Kemana otakmu?! Kau layak mendapat hukuman!" Madame Noir membentak anak itu, ekspresi kemarahannya benar-benar mengerikan. Seumur hidup, Rigel belum pernah melihat Mère-nya semarah itu. Rigel bergidik, bersyukur bukan dia yang menyebabkan Mère-nya semarah itu. Firasatnya mengatakan, akan terjadi sesuatu karena kemarahan Madame Noir.

"Petrificus Totalus!" seruan mantap terdengar disusul kilatan cahaya yang menerpa tubuh anak perempuan itu. Seketika badannya menjadi kaku. Rigel hanya melongo, tidak mengira dengan tindakan drastis Mère-nya. Mère yang selama ini selalu anggun dan menjaga tata krama bisa mengerikan seperti itu. Dia mencatat dalam hati untuk tidak membuat Mère-nya marah besar seperti ini. Dia tidak mau menjadi sasaran mantera sebagai hukuman, merci.

"BEGINIKAH CARA KALIAN MEMPERLAKUKAN PELANGGAN??! DASAR MAKHLUK TOLOL KAMPUNG RENDAHAN!"

Rigel menoleh, melihat seorang gadis lainnya yang berteriak marah kepada pegawai toko es krim. Rigel yang tidak terima mereka dimarahi karena kesalahan tolol gadis yang kemungkinan besar Darah-Lumpur itu, balas berteriak,

"Apa kau buta? Jelas-jelas anak itu yang melemparkannya, ini sepenuhnya bukan kesalahan pemilik toko!" teriak Rigel emosi, tangannya menunjuk ke arah anak perempuan yang sekarang sudah mematung di tempatnya. Madame Noir sepertinya tidak menyadari telah terjadi pertengkaran kecil lain, karena sibuk mencari pemilik toko itu di antara beberapa pegawai yang sedang sibuk membersihkan kembali seluruh ruangan. Dalam sekejap, seluruh pelanggan sudah pergi. Tampaknya tinggal mereka yang masih tersisa di dalam.

"Mère, kita pergi saja dari sini!" seru Rigel kesal pada Madame Noir yang sedang berbicara dengan si pemilik. Kontan wanita itu mengangguk. "Aku sudah mengurus pelakunya. Dia sudah kuberi hukuman, terserah pada kalian anak itu mau diapakan. Aku pergi dulu, terima kasih atas jamuan es krimnya," ujar Madame Noir pada si pemilik yang hanya bisa terbengong-bengong dengan wajah pucat melihat tokonya porak poranda hanya dalam beberapa detik. Rigel sudah tidak tahan. Dia berlari ke luar toko, mencari udara segar yang tidak tercemar bau kotoran. Dia bau. Sial. Rupanya tadi dia terkena kotorannya. Aku minta Mère saja untuk membersihkan, batinnya kesal. Dia semakin membenci Inggris.


Thread Florean Fortescue’s Ice Cream Parlour v.2 (1974), Diagon Alley, 1974, post ke-2.

Satu thread dengan Arzu Evenstar, Aria Duncan, Athalie Ng, Evania Goldwin, Kathleen C. Herdma, Destiny McLight, Dreirtne T Droweseunravel, Sella Bloompicers, Arianne Ravell, Rebelnackle Talented, Charisa Victoricallus, Gabrielle N. McMoney, Reyfan N. Mentzer
(Rigel keluar sebelum chara baru bergabung masuk). Credit quotes and some descriptions to those chara.

Kenyang dengan butterbeer dan sepotong cake, Rigel dan Madame Noir meneruskan perjalanan mereka ke Diagon Alley, melakukan tujuan mereka sebenarnya, berbelanja. Madame Noir jelas sedang berada dalam mood terbaiknya. Sejak tadi wajahnya selalu berseri-seri, tak henti-hentinya dia bercerita pada Rigel tentang sejarah Leaky Cauldron yang sepertinya dia dapatkan dari si bartender --Rigel curiga itu penyebab Madame Noir menghabiskan waktu begitu lama hanya untuk memesan minuman-- tentang Diagon Alley, tentang toko-tokonya, tentang Hogwarts, asrama-asrama di Hogwarts --Rigel hanya bisa melongo setelah hampir lima belas menit Mère-nya bercerita. Dari mana Mère-nya dapat cerita sebanyak itu? Rasanya tadi Rigel hanya berpisah dari Mère-nya sebentar saja. Rigel geleng-geleng kepala. Semakin lama, dia semakin meragukan kebenaran cerita Mère-nya.

Rigel tidak menyangkal, dia senang melihat Mère bahagia seperti ini. Lepas dari tekanan Monsieur Noir si penguasa segalanya, Madame Noir kelihatan kembali jadi dirinya sendiri, yang senang bercerita tentang segala sesuatu, menyapa setiap orang yang berpapasan, senang berbelanja, layaknya wanita normal. Well, tidak begitu drastis memang, Madame Noir masih tetap memperlihatkan keanggunan seorang wanita bangsawan. Dia hanya menyapa orang-orang yang memperlihatkan tanda-tanda pureblood. Sekilas, mungkin tidak ada bedanya dengan Madame Noir yang biasa, tetap seorang wanita bangsawan terhormat yang anggun. Namun Rigel bisa merasakan aura bahagia yang dipancarkan Madame Noir. Dan Rigel bahagia karenanya. Dia rela melakukan apa saja, demi melihat Mère bahagia.

"....Ramon bilang, di Hogwarts nanti ada 4 asrama. Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin. Keempat asrama itu dinamakan sesuai dengan nama keluarga para pendiri Hogwarts. Persis seperti yang dikatakan votre Père. Vous savez, Amoureux, Xavier sudah menyelidiki sedikit tentang Hogwarts ini. Sejauh ini keterangannya sesuai dengan cerita Ramon. Sedikit berbeda sistemnya dengan Beauxbatons. Callista dan Clémence bilang, di sana hanya ada asrama Putra dan Putri," Madame Noir masih terus bercerita.

"Mère, beda keempat asrama itu apa? Dari mana mereka menentukan aku masuk ke asrama mana?" tanya Rigel, tidak tahan berkomentar setelah lebih dari lima belas menit mendengarkan. Bagaimanapun, dia yang akan bersekolah, dan dia perlu tahu. Sesaat dia merasa kesal pada Père-nya. Dia baru tahu kalau Père sudah menyelidiki sekolah ini terlebih dulu. Kenapa Père tidak pernah cerita padaku sedikitpun?Setidaknya, Rigel bisa mempersiapkan diri menghadapi sekolah barunya, membandingkannya dengan Beauxbatons dari cerita kedua kakak perempuannya, Callista dan Clémence.

"Nanti akan ada semacam seleksi. Sayangnya Ramon tidak mau memberitahuku seleksi seperti apa yang akan mereka adakan. Tapi tenang saja, Mon fils, kau anak cerdas. Kau pasti akan masuk asrama terbaik," balas Madame Noir, sambil tersenyum dan membelai kepala putra tersayangnya lembut. Rigel tidak menjawab apapun. Mau tidak mau, dia sedikit tegang mengetahui kalau mereka akan mengadakan seleksi. Non, Père sudah tahu, tentu saja. Apa yang tidak Père tahu? Dia selalu tahu semuanya. Tapi tak pernah mau memberitahuku apapun, Rigel membatin pahit.

"Mère, kita ke toko mana dulu? Sejak tadi kita berjalan, tapi belum masuk ke toko manapun," tanya Rigel, berusaha membelokkan pikirannya dari kekesalan pada Père-nya. Madame Noir tersenyum, menghentikan jalannya sesaat.

"Kita ke Gringotts dulu. Ambil uang. Xavier sengaja tidak membawa uang banyak saat perjalanan dari Prancis. Berbahaya, katanya. Dia hanya meminta pada Gringotts di Prancis untuk membuka lemari besi untukmu di Gringotts Inggris, dan memindahkan sejumlah uang untuk biaya hidupmu di sini selama tujuh tahun," jawab Madame Noir lembut. Rigel hanya mengangguk. Seperti biasa, semua atas instruksi Père. Rasanya seumur hidupnya belum pernah melakukan sesuatu tanpa lepas dari instruksi Père. Kesal, tapi mau tak mau dia mengakui, Père selalu memikirkan segalanya dengan rinci. Mereka hampir tak pernah menemui kesalahan saat mengikuti instruksi Père.

"Kau tidak merasa kepanasan, Mon fils? Aku rasanya hampir meleleh. Aku tidak menyangka musim panas di Inggris akan sepanas ini. Istirahat sebentar, bagaimana? Ada toko es krim di sebelah sana. Semoga saja seenak es krim di Prancis," ujar Madame Noir. Rigel membenarkan dalam hati. Dia juga sudah hampir meleleh dipanggang di bawah matahari musim panas. Dia mengikuti arah yang ditunjukkan Madame Noir, dan melihat papan reklame sebuah toko es krim yang sepertinya cukup ramai. Beberapa kursi disusun di beranda toko, lengkap dengan payungnya yang berwarna cerah. Mengingatkannya akan kafe-kafe di Prancis.

"Aku anak laki-laki, tidak selemah itu, Mère," balas Rigel sengit. Madame Noir hanya tertawa kecil, dan menjawil ujung hidung putranya. "Oui, je sais, mon fils. Kau kesatria kecilku, tidak boleh lemah," katanya. Rigel meringis pelan.

Florean Fortescue’s Ice Cream Parlour, begitu bunyi papan reklame yang tergantung di atas pintu toko. Rigel menebak, pemiliknya mungkin orang Prancis juga. Begitu memasuki toko, Rigel benar-benar merasakan suasana Prancis. Seolah dia baru saja masuk ke kafe di Prancis. Dia langsugn jatuh cinta pada tempat ini. Tempat pertama yang dia sukai di Inggris, sejak dia datang kemarin. Bahkan tempat ini terasa lebih Prancis daripada Château-nya. Membuatnya merindukan tanah kelahirannya itu. Tanpa dia sadari, ekspresinya berubah sendu.

"Aku mau es krim Tiramisu, Mère," katanya tiba-tiba. Madame Noir memandangi wajah putranya, seolah menangkap ekspresi rindu di wajah Rigel. Dia tersenyum, dan mengangguk. Sementara Madame Noir memesan es krim, mata Rigel menelusuri setiap sudut toko itu, semakin lama perasaan rindunya semakin menggebu.

"Mau duduk dimana, Amoreux?" suara Madame Noir membuat Rigel tersentak, tersadar dari lamunannya. Rigel memandang ke arah luar, tanpa berbicara menunjuk pada meja di bawah naungan payung berwarna cerah itu.

"Tak ingin duduk di dalam dan berkenalan dengan teman-teman barumu? Sepertinya ada banyak anak-anak seumuranmu di sini. Siapa tahu mereka murid Hogwarts juga," kata Madame Noir. Saat itu Rigel baru menyadari kehadiran orang lain di dalam toko. Benar juga kata Mère-nya. Hampir setengah toko itu berisi anak-anak seumurannya. kebanyakan gadis. Belle, gumamnya pelan. Sesaat kemudian dia menggeleng.

"Non, Mère. Aku dengan Mère saja," jawabnya. Aku bisa berkenalan dengan mereka nanti, di sekolah. Sedangkan Mère, entah kapan aku bisa bertemu lagi, batinnya pedih. Tiba-tiba saja dia sadar, kalau dia akan berpisah lama dari Mère-nya. Apa Mère tak akan apa-apa hanya tinggal berdua saja dengan Père di rumah? Siapa yang akan menemani Mère merawat kebun bunganya? Père terlalu sibuk, Callista dan Clémence pun hanya ada di rumah saat liburan musim panas. Siapa yang akan menemani Mère sehari-hari? Peri rumah? Pikiran itu berkecamuk di benaknya, menambah keengganannya untuk bersekolah di Hogwarts. Dia tidak ingin meninggalkan Mère sendirian.


Thread Florean Fortescue’s Ice Cream Parlour v.2 (1974), Diagon Alley, 1974.

Satu thread dengan Arzu Evenstar, Aria Duncan, Athalie Ng, Evania Goldwin, Kathleen C. Herdma, Destiny McLight, Dreirtne T Droweseunravel, Sella Bloompicers, Arianne Ravell, Rebelnackle Talented, Charisa Victoricallus, Gabrielle N. McMoney, Reyfan N. Mentzer (Rigel keluar sebelum chara baru bergabung masuk). Credit quotes and some descriptions to those chara.

All Alone 2

Rigel melirik ke arah counter bar, memperhatikan Madame Noir yang masih saja sibuk melakukan entah apa di counter. Rigel menghela napasnya. Se presser en haut , Mère. Je suis tellement qui a soif. Beli minum saja kenapa mesti lama. Rigel duduk di kursi yang masih kosong, tanpa menunggu salah seorang dari mereka menjawab sapaannya dia sebelumnya. Toh dia sudah minta izin. Ini bar umum, apa hak mereka melarang?

"Waarom jullie spraken niet Engels?"

Lagi, seseorang yang berbahasa asing. Bahasa Belanda, Rigel mengenalinya. Rigel mengangkat alisnya. Étrange. Dia sendiri bisa bahasa Inggris atau tidak, nih? Bertanya kenapa mereka tidak berbahasa Inggris, tapi pakai Bahasa Belanda. Rigel memperhatikan gadis yang barusan berbicara. Rambutnya hitam, tangannya memegang seekor... iguana? Peliharaannya kah? Effronté, jarang ada anak perempuan mau memelihara reptil. Apa dia juga suka reptil lainnya? Suka bertualang juga kah? Aku harus tanya nanti batin Rigel.

"Tak ada alasan khusus. Hanya iseng, karena Nona itu bicara Bahasa Norwegia," jawab Rigel sekenanya, masih tetap memberikan senyumannya. Senyum adalah alat paling ampuh untuk menghadapi para gadis, begitu yang selalu dikatakan Monsieur Noir padanya. Rigel ingin mengujinya sekarang, apakah kata-kata Père-nya benar? Sebelum ini dia jarang sekali berkesempatan bertemu dengan banyak gadis dalam waktu bersamaan, jadi dia belum pernah membuktikan semua kata-kata ayahnya tentang para gadis.

Seorang gadis bertubuh imut kembali mendatangi meja mereka. Belum apa-apa, gadis itu melemparkan es krim ke anak laki-laki berambut hitam yang duduk semeja dengan mereka. Lagi-lagi, pikiran bahwa orang Inggris semuanya gila merasuk ke dalam otaknya. Sejak pertama tiba di Inggris, tak ada satupun yang berkenan di hatinya. Well, mungkin dia bisa betah nanti di Château du Noir. Bukan, dia harus bisa betah. Pour l'amour de Dieu, itu tempat tinggalnya selama tujuh tahun ke depan! Mau tak mau, dia harus betah.

"Ada apa denganmu, Nona? Tersandung sampai es krim-mu jatuh?" sapa Rigel pada anak itu. Sesaat ada rasa ragu dalam hatinya. Apakah anak ini Pureblood? Dia tidak sudi kalau sampai harus menolong Darah-Lumpur. Mengucapkannya saja sudah membuatnya jijik. Di sisi lain, dia seorang gadis. Sudah seharusnya Rigel menolongnya. Akhirnya Rigel menyodorkan sapu tangannya, untuk membantu anak itu membersihkan es krimnya. "Kau Pureblood?" tanya Rigel otomatis. Sepertinya pertanyaan yang selalu ditanyakannya pada setiap orang yang dia temui, kalau dia tidak yakin akan status darah orang itu. Tidak sopan, memang. Monsieur Noir pasti akan memukul kepalanya, karena Rigel bertanya secara eksplisit. Tanyakan secara halus, Rigel! Jangan sampai dia PureBlood dan tersinggung dengan perkataanmu! Kau bisa tanya apa ayah dan ibunya penyihir, itu lebih baik, begitu selalu yang diucapkan Monsieur Noir. Rigel mengedikkan bahunya. Comme je m'inquiète, itu terlalu panjang. Père tak akan tahu.

"O , Parece venimos desde diferente país does no él?"

Lagi, ada yang berbicara bahasa asing, seorang gadis berambut hitam dengan wajah ceria. Oke, kali ini dia menyerah. Dia tidak tahu anak ini bicara bahasa apa. Yang jelas bukan bahasa di dataran Eropa, meski sedikit mirip dengan bahasa Spanyol. Dia pasti tahu kalau itu bahasa yang digunakan di Eropa, hasil dari pelajaran Bahasa-nya di rumah. Seperti biasa, Monsieur Noir-lah yang memaksanya belajar bahasa-bahasa Eropa. Penting kalau mereka ingin perusahaannya merambah seluruh Eropa, katanya. Rigel sekarang menyadari betapa pergunanya pelajaran bahasa ini. Dia bersumpah tidak akan kabur lagi selama pelajaran bahasa. Anak itu bukan dari Eropa, barangkali? batin Rigel. Rigel yang mulutnya sudah setengah terbuka akan menyapa anak itu, urung saat mendengar apa yang selanjutnya dikatakan gadis itu. Membuatnya tiba-tiba jijik padanya.

"Ternyata penyihir itu berasal dari semua negara yah. Aku malah menyangka penyihir itu berasal dari bulan, terutama nenek sihir yang cekikikan dan siluetnya menutupi sinar bulan. Ternyata penyihir hanya berasal dari masing-masing negara. Bukankah begitu?"

"Darah-Lumpur," desis Rigel pelan. Dia sama sekali tidak bermaksud menyembunyikan ketidaksukaannya pada gadis itu. Cantik, Rigel mengakui. Tapi percuma kalau Darah-Lumpur. Gadis itu harus tahu kalau dia sama sekali tidak berhak berada di dunia ini, keberadaannya hanya menambah sampah di dunia sihir. Rigel sama sekali tidak berminat mendengar ocehan gadis itu selanjutnya. Tidak penting. Sejujurnya, saat itu juga Rigel ingin sekali pergi dari situ, dan mencari tempat lain. Tapi, tunggu dulu. Anak yang pakai pena bulu itu masih betah di sini. Jangan-jangan dia bukan Pureblood? Mereka berdua jelas-jelas sudah duduk bersama sejak tadi, kecurigaan memenuhi benaknya.

Anak yang menulis memakai pena bulu pink itu sekarang mengoceh dalam Bahasa Spanyol tentang mereka harus bicara dalam bahasa Inggris. Gadis Asia yang duduk di sebelahnya juga menimpali pelan, setuju dengan kata-kata gadis itu. Avancé, dia baru berbicara satu kalimat dalam bahasa asing! Dan itu bukan karena dia tidak sanggup berbahasa Inggris. Rigel hanya iseng, karena ada yang berbicara bahasa Norwegia. Karena Rigel merasa senasib, sama-sama bukan orang Inggris? Rigel mengira gadis itu sama sepertinya, enggan berbahasa Inggris. Darah-Lumpur itu kembali mengoceh dalam bahasa yang tadi dia gunakan, dan gadis yang memegang pena bulu menerjemahkannya. Quoi que, aku tak peduli dengan apa yang dikatakan Darah Lumpur itu. Buang-buang waktu.

"Maaf saja, Nona, aku hanya berkata sekali dalam bahasa Norwegia. Maafkan aku sudah membuatmu terintimidasi karena kau tidak mengerti bahasa tersebut," ujar Rigel pada gadis berambut hitam dan gadis Asia itu.

"Snakkar du norsk?"

Gadis pirang itu bertanya balik pada Rigel. Rigel hanya tersenyum samar, dan menjawab, "Rettferdig en smule. JEG tenke du er ubenyttet å samtalen inne Engelske."

"Walaupun kita berasal dari negara yang berbeda... kurasa aku berbeda jauh dari kalian. Kalian orang rendahan, sementara aku.. bangsawan."

Gadis ini bangsawan juga? Quelle coïncidence! Rigel tak menyangka bisa bertemu bangsawan lain di sini. Dia kira tak ada bangsawan lain yang sudi bersekolah di Hogwarts selain dirinya, yang alasannya tidak lain dan tidak bukan karena dipaksa oleh Monsieur Noir. Dan perintah Monsieur Noir adalah segalanya, kalau dia tidak mau dicoret dari daftar ahli waris. Tampaknya gadis ini pun tidak nyaman dengan suasana di bar ini, terlihat jelas dari kata-katanya yang merendahkan mereka. Jujur saja, Rigel pun tidak suka dia direndahkan seperti itu. Dia juga bangsawan, dan tidak pantas direndahkan seperti itu. Dialah yang harusnya merendahkan orang, bukan direndahkan.

"Maaf kalau aku membuatmu marah, Nona. Aku tidak mengira kalau Anda juga bangsawan, sama sepertiku. Penampilan bisa menipu, rupanya," kata Rigel pada gadis itu, sengaja memberikan penekanan pada kata 'juga'. Gadis ini harus tahu, kalau dia bukanlah satu-satunya bangsawan di sini.

Seorang anak lain mendatangi mereka. Anak lelaki berambut hitam dan berwajah muram. Mungkin dia juga mendengar pembicaraan di meja mereka, karena anak itu tiba-tiba mengeluarkan penanya, menulis di atas secarik perkamen, dan mengedarkan perkamennya ke seluruh meja saat dia selesai. Anak ini bisu ya, sampai harus menulis kalau mau bicara? Rigel membaca tulisan di atas perkamen itu. Ya ampun. Sekarang huruf Yunani. Anak itu tidak tahu alfabet, eh? Atau dia lebih mendukung kekaisaran Yunani sehingga enggan menggunakan huruf alfabet yang berasal dari Romawi, dan lebih memilih menggunakan huruf Yunani?

"Kalian--kalian mengapa tidak menggunakan bahasa internasional? Bahasa Inggris?"

Rigel memandangi anak itu dengan pandangan melecehkan. Anak ini bisa bicara, ternyata. Bisa bahasa Inggris pula. Lalu apa maksudnya mengedarkan perkamen dengan tulisan huruf Yunani? Apa dia tidak mengira kalau ada yang bisa membacanya selain dia? Yeah, Rigel bisa membacanya. Sekarang dia benar-benar bersyukur Monsieur Noir sudah memfasilitasi dia untuk mempelajari bahasa-bahasa di Eropa. Yeah, tidak semua dia kuasai dengan baik memang. Paling tidak, ada beberapa yang bisa dia kuasai dengan baik.

"Bukan berarti aku tidak bisa Bahasa Inggris. Aku hanya belum terbiasa berbahasa Inggris. Aku baru tiba di negara ini dua hari lalu, pour l'amour de Dieu!" jawab Rigel, membalas ucapan sinis anak itu dengan tingkat kesinisan yang sama. Dia mungkin Pureblood, tapi sikapnya membuat Rigel ingin menjejalkan kepala anak itu ke sarang Acromantula.


- Se presser en haut , Mère. Je suis tellement qui a soif. = Cepatlah, Ibu. Aku sudah kehausan.
- Étrange = Aneh.
- Effronté = Cool.
- Pour l'amour de Dieu = For heaven's sake -really, I don't know what's this meaning in Indonesia. Please forgive me.-
- Comme je m'inquiète = Like I care
- Avancé = Ayolah
- Quoi que = Terserahlah
- Quelle coïncidence = Kebetulan sekali
- Rettferdig en smule. JEG tenke du er ubenyttet å samtalen inne Engelske = Hanya sedikit. Kupikir kau tidak terbiasa berbahasa Inggris.


Thread All Alone, Leaky Cauldron 1974, Post ke-2

Interaksi dengan Friday BonClay, Janette Blizzard, Cassandra Almendarez, Persia V. Byrce, Arianne Ravell, Septimus J. Tybalt. Credit quote to those chara.

All Alone 1

Père tak salah saat menyuruh Rigel menyiapkan fisiknya untuk perjalanan jauh. Ini pertama kalinya Rigel menaiki kapal laut. Awalnya memang mengasyikkan, angin berhembus mempermainkan mantel bepergiannya --Père melarang dia memakai jubahnya yang biasa. Katanya, karena mereka akan naik transportasi Muggle, dan jubah akan membuat penampilan mereka mencolok-- lama-lama, Rigel mulai merasa pusing diombang-ambing di atas kapal. Sungguh tidak praktis, transportasi Muggle ini. Portkey seribu kali lebih baik. Oke, sensasinya amat sangat tidak menyenangkan. Setidaknya Portkey hanya sebentar, dan dia sudah bisa tiba di tempat tujuannya.

Rigel juga tak menyangka kalau yang dimaksudkan Père 'pergi ke Inggris' berarti dia pindah ke Inggris. Yeah, benar. Rigel mengira mereka hanya akan berbelanja di Inggris, kemudian kembali lagi ke rumah mereka, Palais du Noir, dan pergi lagi ke Inggris saat hari keberangkatannya tiba. Tapi tidak. Oh, tentu saja rencana Monsieur Noir lebih dari itu. Selama masa sekolahnya, Rigel akan tinggal di Inggris. Oke, Rigel tinggal di Hogwarts selama dia bersekolah. Selama liburan Natal dan musim panas, Rigel akan tinggal di Château du Noir, kastil milik keluarga mereka di Cambridgeshire. Rigel bahkan baru tahu kalau mereka punya kastil di Inggris. Antara kaget dan kesal, mau tak mau Rigel mengakui kalau Père-nya sangat brilian. Monsieur Noir sudah merencanakan semuanya sampai detil. Boleh dibilang, Rigel hanya tinggal pergi keesokan harinya, tanpa perlu mengepak barang-barangnya lagi. Semuanya sudah disiapkan, dan tinggal berangkat. Dan Rigel tak bisa membantah, seperti biasa. Perintah Père adalah nomor satu.

Mereka melanjutkan perjalanan dari Pelabuhan ke Château du Noir dengan menggunakan Portkey. Rigel benar-benar bersyukur. Kalau mereka meneruskan perjalanan dengan transportasi Muggle lagi, Rigel lebih memilih menginap di pelabuhan. Masa bodoh kalau Mère meledeknya pengecut. Dia sudah terlalu lelah. Barulah keesokan harinya, Rigel, Monsieur dan Madame Noir bisa pergi ke Diagon Alley. Kali ini, mereka ber-Apparate dan muncul di tengah-tengah Leaky Cauldron, karena jaringan perapian di Château du Noir belum didaftarkan ke Kantor Jaringan Floo. Rigel langsung menekuk wajahnya saat tahu Père tak akan mengantar dia berbelanja, seperti janjinya dulu.

"Oh, mes fils. Jangan cemberut begitu. Pikirkan keuntungannya, kau tahu kan kalau banyak aturannya kalau pergi dengan Père? Lebih enak kalau kita berbelanja berdua, bukan begitu?" hibur Madame Noir, tangannya menjawil ujung hidung putra kesayangannya. Rigel otomatis menjauh dari tangan iseng Mère-nya.

"La mère, arrêtez-le! Aku bukan anak kecil lagi!" rajuk Rigel. Madame Noir hanya tertawa geli melihat tingkah putranya. Rigel pura-pura acuh, dan mengalihkan pandangannya melihat-lihat isi ruangan. Sale, dengusnya pelan. Kumuh dan tidak berkelas. Sama sekali bukan tempat yang pantas untuknya.

"Mes fils, carilah tempat duduk dulu. Sepertinya bar ini mulai ramai, nanti kita tak bisa dapat tempat duduk. Aku pesan minuman dulu," kata Madame Noir. Rigel memutar bola matanya.

"Tak ada meja yang kosong, Mère. Aku malas kalau harus bergabung dengan mereka. Siapa tahu mereka Darah Lumpur?" jawab Rigel. Madame Noir hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Rigel, mes fils, kau anak yang cerdas. Masa yang begitu saja tidak bisa membedakan? Kuberi satu petunjuk. Ada perbedaan antara sikap para Darah Lumpur di dunia sihir dengan Darah Murni. Silakan kau cari sendiri apa itu," sambung Madame Noir sambil mengedipkan matanya. Tanpa menunggu respon Rigel, Madame Noir berlalu menuju bar, memesan minuman. Rigel tak sempat berbuat apa-apa.

Rigel mengamati anak-anak yang memenuhi bar tersebut. Apa? Mère bilang ada perbedaannya. Apa bedanya? batinnya, otaknya berpikir keras. Rigel berdiri mematung di tepi ruangan, matanya menyisir seisi ruangan. Perbedaan, yeah. Lama-lama Rigel mulai bisa menangkap maksud Mère-nya. Anak-anak seusianya terlihat seperti terpisah ke dalam dua macam. Anak-anak yang bersikap takjub melihat isi bar, seolah mereka sedang mengunjungi Palais du Versailles, dan anak-anak yang bersikap seolah mereka sudah pernah ribuan kali ke tempat ini. Ya, Rigel mengerti maksud Mère sekarang.

Mata Rigel berhenti di meja yang berisi beberapa anak. Satu anak perempuan berambut hitam, sedang menulis sesuatu di bukunya, menggunakan pena bulu berwarna... pink? Tidak salah? Tapi anak itu menggunakan pena bulu, pasti dia berdarah murni. Rigel mengangkat bahunya. Elle est tout à fait jolie, meski sedikit norak. Pink, yang benar saja. Tapi, lebih baik daripada Darah Lumpur, batin Rigel.

Tanpa sengaja, Rigel mendengarkan pembicaraan mereka. Rigel baru sadar meja ini diisi oleh perempuan. Hanya dua orang anak laki-laki selain dia. Senyuman tersungging di sudut bibirnya. Parfait. Anak perempuan berambut pirang yang juga baru datang mengatakan sesuatu, bukan dalam bahasa Inggris maupun Prancis. Rigel mengerutkan keningnya. Itu... bahasa... Norwegia? Anak ini dari Norwegia? Apa yang membuat dia mau-maunya datang ke Inggris? Yeah, Rigel sudah punya sentimen buruk terhadap Inggris sejak pertama kali dia tiba. Rigel iseng ingin menyapa anak itu dalam bahasa Norwegia. Untung saja dulu dia pernah belajar, meski tidak sefasih Bahasa Inggrisnya.

"God etter middag , Frk. Kanskje JEG sitte her over?" sapa Rigel pada gadis itu ramah, tak lupa senyumannya. Rigel mengedikkan kepalanya sedikit pada anak-anak lainnya, dan mengulangi sapaannya dalam Bahasa Inggris. "Halo. Keberatan kalau aku ikut duduk?" katanya.


- mes fils = Anakku
- La mère, arrêtez-le! = Ibu, hentikan!
- Sale = Kotor.
- Elle est tout à fait jolie = Dia cukup cantik
- God etter middag , Frk. Kanskje JEG sitte her over? = Selamat siang, Nona. Boleh aku duduk di sini?


Thread All Alone, Leaky Cauldron 1974. Post ke-1.

Interaksi dengan Friday BonClay, Janette Blizzard, Cassandra Almendarez, Persia V. Byrce, Arianne Ravell, Septimus J. Tybalt. Credit quote to those chara.

Dengan peluh yang masih mengalir di tubuhnya, Rigel melangkah memasuki beranda belakang rumahnya, sebelah tangannya memanggul sapu. Matahari sudah naik tinggi di atas kepala. Rigel sudah bangun saat seisi rumahnya masih gelap, dan menyelinap berjalan-jalan di kebun rumahnya yang cukup luas. Memanjat pohon, lari sprint, mengejar jembalang, dan diakhiri dengan terbang beberapa lama, mencoba sapu hadiah ulang tahunnya. Ya, dia baru saja berulang tahun 5 Juni lalu. Père-nya menepati janji memberikan sapu terbang sebagai hadiah ulang tahun, sesuatu yang amat mustahil terjadi. Jarang sekali Père ingat akan janji-janjinya pada Rigel. Tak heran, Rigel amat menyayangi sapunya.

Sesosok Peri Rumah berbalut serbet teh yang dibentuk seperti toga tergesa-gesa menghampirinya. Tanpa berkata apa-apa, Rigel menyodorkan sapunya, memberi isyarat pada peri rumah itu untuk menyimpannya.

"Le maître, Monsieur Noir attend dans son atelier," ucap si Peri Rumah terbungkuk-bungkuk. Rigel yang sedianya akan bergerak ke Ruang Makan, terhenti. Dia balas memandang peri rumahnya, alisnya terangkat sebelah.

"Dites-lui, je veux prendre le petit déjeuner d'abord," kata Rigel cuek, kakinya terus melangkah menuju Ruang Makan. Dimana peri rumah lainnya sudah menunggu, dan membungkukkan badannya dalam-dalam saat Rigel masuk. Sarapan --atau mungkin sekarang lebih pantas disebut brunch-- sudah terhidang di atas meja. Tanpa mengganti bajunya yang bersimbah peluh terlebih dulu, Rigel duduk dan menyambar makanannya. Kalau Madame Noir melihatnya, Rigel akan mendapat pelototan dan ocehan Madame Noir panjang lebar, tentang dia harus menjaga manner meski sedang berada di rumah sendiri. Dia memang lapar berat.

"Mais le Maître, Monsieur Noir veut que vous veniez maintenant," tambah si peri rumah takut-takut. Rigel mendengus kesal, membanting garpu yang baru dipegangnya ke piring, dan melempar serbetnya. Kedua peri rumahnya tersentak, dan mengkerut ketakutan.

"D'accord! Dites-lui que je viendrai!" bentak Rigel, kesal dengan keegoisan Père-nya. Tidakkah Père-nya mengerti, kalau dia sedang kelaparan dan ingin mengisi perut sebelum diceramahi panjang lebar entah-karena-apa oleh Père-nya? Dipanggil ke ruang kerja ayahnya, hanya satu hal yang pasti. Dia baru melakukan sesuatu yang menurut Père-nya itu adalah kesalahan, atau Père memerintahkan sesuatu untuk dia lakukan, dan tidak menerima bantahan. Yang manapun, rasanya sama saja bagi Rigel. Tak ada yang bagus.

Rigel mengganti bajunya dengan tergesa-gesa di kamar. Hal lain yang membuatnya benci jika harus menemui Père, adalah dia harus selalu menghadap dengan pakaian rapi, tanpa ada keringat. Menemui Père dengan baju basah bersimbah peluh akan mengundang kemarahan lainnya, dan itu berarti ditahan tiga kali lipat lebih lama di Ruang Kerja Père. Cuma menghadap saja kenapa mesti pakai baju rapi, Rigel menggerutu.

"Bonjour, Père," sapanya sopan saat memasuki ruang kerja Monsieur Noir. Peraturan lain saat menemui Monsieur Noir: Berbicara dengan bahasa yang sopan. Entah itu dalam Prancis atau Inggris, Rigel harus selalu berbicara dengan sopan. Tidak buruk, memang. Hanya saja Rigel pegal jika harus berbicara sopan terus menerus.

"Aku baru dapat laporan dari guru Bahasa Inggris-mu. Perkembangan pelajaranmu buruk! Ada apa denganmu? Lupa kalau kau akan sekolah di Hogwarts September ini, dan kau harus menguasai Bahasa Inggris dengan baik?" Belum apa-apa, Monsieur Noir sudah membentak Rigel. Rigel mengertakkan giginya, marah, namun tak bisa berbuat apa-apa. Bukan berarti dia tidak pandai berbahasa Inggris. Sejak umurnya lima tahun, dia sudah fasih berbahasa Inggris, Spanyol, dan juga Belanda. Prancis, jangan ditanya lagi. Itu bahasa ibunya.

Ada hal lain yang membuatnya sengaja tampak bodoh saat pelajaran Bahasa Inggris. Dia enggan bersekolah di Hogwarts. Dia tidak habis pikir, kenapa Père memaksanya untuk bersekolah di sekolah yang penuh dengan Darah Lumpur itu? Amat sangat bertentangan dengan prinsip keluarganya selama ini. Selalu Berdarah Murni. Kenapa Père bukannya memasukkan dia ke Beauxbatons saja? Sekolah itu di Prancis, lebih dekat. Dan Darah-Lumpurnya tidak sebanyak di Hogwarts.

"Kalau begitu, aku tidak perlu bersekolah di Hogwarts, kan? Bahasa Inggrisku buruk, bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan mereka? Lebih baik aku masuk Beauxbatons saja," ucap Rigel penuh harap. Ya, semoga saja. Semoga saja kalau Monsieur Noir mengira kemampuan Bahasa Inggris Rigel buruk, dia tidak akan dikirim ke Hogwarts.

Monsieur Noir memandangnya tajam. Saat itu juga, Rigel menyesal telah berkata seperti itu. Kalau Père sudah marah, itu artinya bencana. Namun, apa yang terjadi berikutnya benar-benar diluar dugaan Rigel. Monsieur Noir memandangnya dengan tatapan yang membuatnya terlihat berkali-kali lebih tua. Bulu kuduk Rigel berdiri. Ternyata, Père-nya yang seperti ini malah membuatnya tambah takut.

"Aku mengerti alasanmu tidak ingin pergi ke Hogwarts. Kau pikir aku tidak tahu kau pura-pura bodoh saat belajar Bahasa Inggris?" ucapan Monsieur Noir seolah menamparnya terang-terangan. Bagus. Akal-akalannya sudah ketahuan. Kesenangannya hilang. Sial.

"Jujur saja, Rigel. Aku pun berat melepasmu pergi ke sekolah yang penuh dengan Darah-Lumpur itu. Aku tidak rela membiarkan kau terkotori mereka," lanjut Monsieur Noir. Rigel mengangguk-angguk, sambil dalam hati mencecar pernyataan Père-nya. Kalau tidak rela, kenapa tetap memaksaku pergi? Étrange "Tapi, kupikir kau tidak akan cocok dengan sistem di Beauxbatons," Hei, Père, masuk saja belum, bagaimana aku bisa tahu aku cocok atau tidak dengan sistem di sana? "Mereka terlalu mengutamakan murid-murid perempuan. Terlalu feminin," Rigel mengangkat alisnya. "Kakak-kakakmu semua perempuan, wajar kalau aku memasukkan mereka ke sana. Tapi kau? TIdak, tidak. Kau terlalu berharga untuk masuk ke sekolah perempuan, Rigel," Rigel tertegun mendengar perkataan Père-nya. Berharga? Dia dianggap berharga? Jarang sekali Monsieur Noir memperhatikannya. Yeah, dia adalah anak laki-kali satu-satunya di keluarga Noir, dengan begitu, dia mendapatkan semua perhatian dan kasih sayang Madame Noir, fasilitas termudah, dan sebagainya. Tapi perhatian sang ayah, jangan harap. Monsieur Noir lebih dingin daripada gunung es.

"Inggris juga merupakan tempat yang sangat bagus untuk mengembangkan usaha. Sebelum kita membuka cabang di sana, alangkah baiknya kalau kau bisa tinggal lebih dulu di Inggris dan berbaur dengan masyarakat Inggris, mempelajari dan memahami kebiasaan mereka. Target konsumen perusahaan kita bukan hanya Penyihir, tapi juga Muggle. Benar, mereka hanyalah sampah-sampah tidak berguna. Karena itu, kitalah yang harus menguasai mereka, mengontrol mereka. Jalan yang terbaik adalah memulainya dari perekonomian," jelas Monsieur Noir selanjutnya. Perkataannya hampir menghapus rasa terharu yang sebelumnya Rigel rasakan. Ternyata benar, Père hanya memanfaatkan keberadaanku untuk memperlebar perusahaannya, batinnya pahit.

"Keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Kau tetap akan pergi ke Hogwarts tanggal satu September nanti. Kau juga sudah menerima suratnya, kan? Jangan coba-coba menyembunyikannya. Aku tahu kalau surat dari Hogwarts sudah tiba," Rigel hanya tertunduk lesu mendengarnya. Lagi-lagi, rencananya gagal. Suratnya memang sudah sampai kemarin siang. Rigel sengaja menyembunyikanya, berharap dia bisa batal bersekolah di Hogwarts dan pergi ke Beauxbatons kalau kedua orangtuanya mengira Hogwarts tidak mengirimkan surat untuk Rigel.

"Berikan daftar keperluanmu pada Mère. Kita berangkat besok untuk berbelanja. Perjalanan ini akan panjang, jadi persiapkan fisikmu. Kita akan memakai Ferry menyebrangi Selat Channel, baru melanjutkan dengan Portkey," Kali ini, Rigel benar-benar tidak mempercayai pendengarannya. Apa? Apa yang barusan Père bilang? Dia akan ikut mengantarku berbelanja? Ini bagaikan mimpi di siang bolong. Seketika Rigel mengubah pendapatnya. Dia rela melakukan apa saja kalau itu untuk mendapatkan perhatian Monsieur Noir. Meski itu berarti dia harus terjun di tengah-tengah sampah berdarah lumpur. Non, je serai parfait. Aku hanya tidak perlu bergaul dengan mereka. Cukup mempelajari mereka dari jauh. Itu saja. Aku pasti bisa bertahan.

"D'accord, Père. Aku permisi dulu," jawabnya, kepalanya sedikit mengedik tanda memberi hormat, dan keluar ruangan. Rigel merasa saat ini dia bisa terbang tanpa harus bertransfigurasi menjadi burung ataupun memakai mantera Levitasi.


- Le maître, Monsieur Noir attend dans son atelier = Master, Mr. Noir meninggu Anda di ruang kerjanya.
- Dites-lui, je veux prendre le petit déjeuner d'abord = Katakan padanya, aku ingin sarapan dulu.
- Mais le Maître, Monsieur Noir veut que vous veniez maintenant = Tapi Master, Mr. Noir ingin Anda datang sekarang juga.
- D'accord! Dites-lui que je viendrai! = Baiklah! Katakan padanya aku akan datang!
- Bonjour, Père = Selamat siang, Ayah.
- Étrange = Aneh.
- Mère = Ibu.
- Non, je serai parfait. = Tidak, aku akan baik-baik saja.
- D'accord, Père = Baiklah, Ayah.

Older Posts Home