Showing posts with label 1978. Show all posts
Showing posts with label 1978. Show all posts
Amarah tak akan membawa manusia kemanapun. Seperti gelombang tsunami besar yang datang bergulung-gulung tanpa diundang, menyapu habis pantai dan peradaban manusia, dan pergi sama cepatnya dengan menyisakan kerusakan besar dan penderitaan. So anger is. Dia datang begitu mendadak, membutakan mata manusia, dan pergi sama mendadaknya dengan hanya menyisakan kerusakan yang terkadang sulit untuk diperbaiki. Dan penyesalan. Penyesalan tak tampak, yang akan lebih sulit untuk diperbaiki.
Persisnya itulah yang terjadi pada diri pemuda pirang jangkung berusia lima belas tahun ini. Sorot mata hijaunya yang keruh dan membara karena amarah, perlahan melunak saat sosok seorang gadis muda seusianya yang berurai air mata tertangkap oleh daerah pandangan matanya. Janette menangis. Bahkan saat gadis itu berkata dia tak apa, bahasa tubuhnya mengatakan hal yang bertolak belakang. Rigel sudah menakutinya, mungkin? Pemuda itu sudah berlagak seperti seekor kucing betina sombong yang terinjak ekornya dan mencakar membabi buta. Sempurna. Aku menghancurkan harga diriku sendiri di depan Jane, pikir pemuda itu pahit.
Amarah yang tadi begitu membara menghilang begitu saja, tanpa meninggalkan bekas apapun kecuali penyesalan. Seseorang dalam dirinya yang tadi begitu semangat memakinya bodoh dan memompa sejumlah besar tenaga pada otot-ototnya sehingga dia berlari tanpa dia sadari saat melihat Kane Dietrich Pavarell —bolehkah dia tambahkan kata 'brengsek' di sini?— menyentuh bibir Janette dan melayangkan tinjunya tanpa henti, kini menguap seperti vampir terkena matahari San Francisco. Oke. Bukan berarti Pavarell tidak berhak mendapatkan hukuman. Tapi kan dia bisa menggunakan cara lain, bukannya cara kasar seperti kuli pelabuhan? Menggunakan Cruciatus, misalnya. Atau meng-Imperio pemuda Asia itu untuk menjatuhkan dirinya sendiri dari menara Astronomi. Atau apapun yang tidak mengharuskannya mengotori tangannya sendiri.
And her tears made him being more miserable. Melihat butiran bening itu berjatuhan tanpa henti dan suara terpatah-patah gadis itu karena masih terisak, amarah Rigel kembali menggelegak —dan merasa menyesal sekaligus amat sangat bodoh di saat yang sama. Kepalan tangannya bergemeretak, berusaha menekan amarah yang mungkin akan membuatnya melakukan entah-apa yang lebih merusak. Dan untunglah Pavarell brengsek itu sudah menghilang dari hadapan mereka dengan ekor terkulai di antara kedua kakinya. Emosi Rigel pada pemuda itu sudah mencapai taraf yang bisa membuat Rigel mendatangkan seekor Naga Ekor-Berduri dewasa, dan mengumpankan Pavarell. Ibu jari Rigel dengan lembut menghapus butiran bening itu dari pipi Janette. Lembut. Mengingatkan Rigel akan marshmallow yang selalu dipanggangnya di perapian Palais du Noir saat musim dingin di masa kanak-kanaknya. Menyadari Janette tidak keberatan ketika Rigel merangkulnya, dia merasa lega. Dibimbingnya gadis itu melewati lubang dinding pintu masuk asrama.
"Rigel, kau seharusnya tidak memukul Pavarell." Pemuda itu menyeringai miris. Jane, tahukah kau kalau ucapanmu itu malah menambah berat penyesalanku? Dan Rigel hanya bisa membisu. Merasakan dingin tubuh Janette yang bersandar padanya. "Badanmu dingin sekali. Sini, duduk dekat perapian," katanya, dan membawa gadis itu duduk di sofa depan perapian. Iya. Dia sadar kalau kata-katanya itu bukanlah jawaban atau sanggahan atas perkataan Janette. Malah, terdengar lebih seperti mengalihkan topik pembicaraan. Entahlah. Rigel sendiri tak tahu harus berkata apa. Membela diri? Memaki Pavarell? Hell.
Pecundang.
Oh, akuilah Rigel, kau hanyalah seonggok pecundang yang bergerak tanpa berpikir terlebih dulu. Pecundang yang berlagak seperti seorang pangeran gagah berkuda putih yang menghunuskan pedangnya demi menyelamatkan sang Puteri, tapi ternyata hanyalah onggokan pecundang tak berotak. Dan kau masih belum juga sadar kenapa Rigel bisa menyesal seperti ini? Satu: Janette bukanlah gadisnya. Terlebih lagi, dia bukan milik siapa-siapa. Dia bebas. Jadi siapa dia, berhak memukuli pria lain yang menyentuh kedua bibir ranum itu? Apa matamu buta? Tidakkah kau lihat Pavarell mabuk berat sampai tidak sadar siapa yang diciumnya? Aku tak bisa membiarkan Janette dicium orang semacam itu! Yeah. Tetap saja, Rigel bukanlah siapa-siapa. Hanya seseorang yang kebetulan dekat dengan Janette.
Dua: Suka tidak suka Kane Dietrich Pavarell adalah seniornya. AbdiNya, yang meskipun bertentangan dengan nurani remaja tanggung itu karena Pavarell brengsek dan selalu memasang ekspresi apa-kau-lihat-lihat-kucolok-matamu itu, dia adalah abdiNya. Abdi Sang Pangeran Kegelapan nan agung. Abdi seseorang yang dipujanya.
Dan tiga: Demi Dewa Neptunus sang Penguasa Lautan, tolong kirimkan ombakmu yang terbesar untuk membersihkan kerak yang menutupi otak Rigel, agar dia ingat kalau dia adalah Prefek. Terlebih, ini malam pertamanya menjalankan tugas resmi sebagai Prefek. Dan dia sudah menghancurkannya, dengan bertindak gegabah dan berlagak seperti tukang pukul bayaran. Sempurna. Dia tak akan heran kalau besok pagi Dumbledore memanggilnya ke kantornya, dan mencopot lencana Prefeknya.
Embusan napas panjang keluar dari hidung pemuda itu. Berat. Tangannya membelai rambut halus Janette, berusaha mengulur waktu untuk menjawab. "Maaf," bisiknya parau. Dan kenapa malah kata itu yang keluar? "Gelap mata, yeah. Aku emosi dan sakit hati melihat dia mencium paksa dirimu, dan detik berikutnya aku bahkan tak sadar apa yang kulakukan," penyangkalan? Mungkin. Entahlah. Rigel meletakkan dagunya di puncak kepala Janette, dan mereguk aroma khas gadis itu, membiarkannya merasuk melalui kedua hidungnya, dan menenangkan otot-ototnya yang tegang.
Tahukah kau, Jane, kalau aku sakit hati melihatnya menciummu? He beats me. Dia mencurimu dariku. Dia mencuri dirimu yang sangat berharga untukku.
Rigel mengangkat kepalanya, menatap kedua bola mata sembab Janette. Berusaha menghiraukan rasa pedihnya setiap kali melihat kedua mata itu sembab. "Kau marah?"
Persisnya itulah yang terjadi pada diri pemuda pirang jangkung berusia lima belas tahun ini. Sorot mata hijaunya yang keruh dan membara karena amarah, perlahan melunak saat sosok seorang gadis muda seusianya yang berurai air mata tertangkap oleh daerah pandangan matanya. Janette menangis. Bahkan saat gadis itu berkata dia tak apa, bahasa tubuhnya mengatakan hal yang bertolak belakang. Rigel sudah menakutinya, mungkin? Pemuda itu sudah berlagak seperti seekor kucing betina sombong yang terinjak ekornya dan mencakar membabi buta. Sempurna. Aku menghancurkan harga diriku sendiri di depan Jane, pikir pemuda itu pahit.
Amarah yang tadi begitu membara menghilang begitu saja, tanpa meninggalkan bekas apapun kecuali penyesalan. Seseorang dalam dirinya yang tadi begitu semangat memakinya bodoh dan memompa sejumlah besar tenaga pada otot-ototnya sehingga dia berlari tanpa dia sadari saat melihat Kane Dietrich Pavarell —bolehkah dia tambahkan kata 'brengsek' di sini?— menyentuh bibir Janette dan melayangkan tinjunya tanpa henti, kini menguap seperti vampir terkena matahari San Francisco. Oke. Bukan berarti Pavarell tidak berhak mendapatkan hukuman. Tapi kan dia bisa menggunakan cara lain, bukannya cara kasar seperti kuli pelabuhan? Menggunakan Cruciatus, misalnya. Atau meng-Imperio pemuda Asia itu untuk menjatuhkan dirinya sendiri dari menara Astronomi. Atau apapun yang tidak mengharuskannya mengotori tangannya sendiri.
And her tears made him being more miserable. Melihat butiran bening itu berjatuhan tanpa henti dan suara terpatah-patah gadis itu karena masih terisak, amarah Rigel kembali menggelegak —dan merasa menyesal sekaligus amat sangat bodoh di saat yang sama. Kepalan tangannya bergemeretak, berusaha menekan amarah yang mungkin akan membuatnya melakukan entah-apa yang lebih merusak. Dan untunglah Pavarell brengsek itu sudah menghilang dari hadapan mereka dengan ekor terkulai di antara kedua kakinya. Emosi Rigel pada pemuda itu sudah mencapai taraf yang bisa membuat Rigel mendatangkan seekor Naga Ekor-Berduri dewasa, dan mengumpankan Pavarell. Ibu jari Rigel dengan lembut menghapus butiran bening itu dari pipi Janette. Lembut. Mengingatkan Rigel akan marshmallow yang selalu dipanggangnya di perapian Palais du Noir saat musim dingin di masa kanak-kanaknya. Menyadari Janette tidak keberatan ketika Rigel merangkulnya, dia merasa lega. Dibimbingnya gadis itu melewati lubang dinding pintu masuk asrama.
"Rigel, kau seharusnya tidak memukul Pavarell." Pemuda itu menyeringai miris. Jane, tahukah kau kalau ucapanmu itu malah menambah berat penyesalanku? Dan Rigel hanya bisa membisu. Merasakan dingin tubuh Janette yang bersandar padanya. "Badanmu dingin sekali. Sini, duduk dekat perapian," katanya, dan membawa gadis itu duduk di sofa depan perapian. Iya. Dia sadar kalau kata-katanya itu bukanlah jawaban atau sanggahan atas perkataan Janette. Malah, terdengar lebih seperti mengalihkan topik pembicaraan. Entahlah. Rigel sendiri tak tahu harus berkata apa. Membela diri? Memaki Pavarell? Hell.
Pecundang.
Oh, akuilah Rigel, kau hanyalah seonggok pecundang yang bergerak tanpa berpikir terlebih dulu. Pecundang yang berlagak seperti seorang pangeran gagah berkuda putih yang menghunuskan pedangnya demi menyelamatkan sang Puteri, tapi ternyata hanyalah onggokan pecundang tak berotak. Dan kau masih belum juga sadar kenapa Rigel bisa menyesal seperti ini? Satu: Janette bukanlah gadisnya. Terlebih lagi, dia bukan milik siapa-siapa. Dia bebas. Jadi siapa dia, berhak memukuli pria lain yang menyentuh kedua bibir ranum itu? Apa matamu buta? Tidakkah kau lihat Pavarell mabuk berat sampai tidak sadar siapa yang diciumnya? Aku tak bisa membiarkan Janette dicium orang semacam itu! Yeah. Tetap saja, Rigel bukanlah siapa-siapa. Hanya seseorang yang kebetulan dekat dengan Janette.
Dua: Suka tidak suka Kane Dietrich Pavarell adalah seniornya. AbdiNya, yang meskipun bertentangan dengan nurani remaja tanggung itu karena Pavarell brengsek dan selalu memasang ekspresi apa-kau-lihat-lihat-kucolok-matamu itu, dia adalah abdiNya. Abdi Sang Pangeran Kegelapan nan agung. Abdi seseorang yang dipujanya.
Dan tiga: Demi Dewa Neptunus sang Penguasa Lautan, tolong kirimkan ombakmu yang terbesar untuk membersihkan kerak yang menutupi otak Rigel, agar dia ingat kalau dia adalah Prefek. Terlebih, ini malam pertamanya menjalankan tugas resmi sebagai Prefek. Dan dia sudah menghancurkannya, dengan bertindak gegabah dan berlagak seperti tukang pukul bayaran. Sempurna. Dia tak akan heran kalau besok pagi Dumbledore memanggilnya ke kantornya, dan mencopot lencana Prefeknya.
Embusan napas panjang keluar dari hidung pemuda itu. Berat. Tangannya membelai rambut halus Janette, berusaha mengulur waktu untuk menjawab. "Maaf," bisiknya parau. Dan kenapa malah kata itu yang keluar? "Gelap mata, yeah. Aku emosi dan sakit hati melihat dia mencium paksa dirimu, dan detik berikutnya aku bahkan tak sadar apa yang kulakukan," penyangkalan? Mungkin. Entahlah. Rigel meletakkan dagunya di puncak kepala Janette, dan mereguk aroma khas gadis itu, membiarkannya merasuk melalui kedua hidungnya, dan menenangkan otot-ototnya yang tegang.
Tahukah kau, Jane, kalau aku sakit hati melihatnya menciummu? He beats me. Dia mencurimu dariku. Dia mencuri dirimu yang sangat berharga untukku.
Rigel mengangkat kepalanya, menatap kedua bola mata sembab Janette. Berusaha menghiraukan rasa pedihnya setiap kali melihat kedua mata itu sembab. "Kau marah?"
Thread Here, Ruang Bawah Tanah, 1978. Post ke-2. Timeline setelah Pesta Awal Tahun Ajaran 1978/1979.
Interaksi dengan Kane Dietrich Pavarell, Shaula Khan, dan Janette Blizzard.
Interaksi dengan Kane Dietrich Pavarell, Shaula Khan, dan Janette Blizzard.
Labels: 1978, Here, Ruang Bawah Tanah
Tahu sesuatu yang disebut insting? Atau firasat, atau naluri, semua itu sama saja. Well, dia tinggal bertahun-tahun dengan tiga orang wanita yang selalu meributkan mengenai sesuatu yang mereka sebut sebagai 'insting wanita', jadi jangan salahkan Rigel kalau lama kelamaan dia sedikit banyak memperhatikan firasatnya. Terutama kalau dia merasakan sesuatu yang buruk akan datang.
Dan malam ini perasaan itu menghinggapinya begitu tiba-tiba.
Kalau saja dia bisa, Rigel ingin menyerahkan tugas mengantar anak-anak kelas satu ini ke asrama pada Prefek lain dan bergelung di dalam selimutnya, mencoba menyingkirkan perasaan tidak enak yang menyapanya tiba-tiba. Slytherin punya empat Prefek, dan, well, meski berat mengakuinya, satu Ketua Murid, jadi, kenapa harus dia dan Goscinny yang membawa barisan bocah-bocah ini seperti guru Taman Kanak-Kanak? Sekalian saja beri dia maraccas, dan suruh dia menyanyikan lagu anak-anak. But—yeah, dia memerlukan lencana itu tetap berada di tangannya, jadi dia tak bisa melempar tugasnya begitu saja. Mon Dieu.
Ekor matanya menangkap sosok Janette yang juga ikut rombongan mereka keluar Aula Besar. Timah yang menggelayuti perutnya seketika bertambah berat dan menggelegak. Taruhan seratus Galleon, ini ada apa-apanya dengan Pavarell. Seseorang dalam tubuhnya meneriakkan kata-kata perintah untuk tetap di luar dan menemani gadis itu saat Janette menelengkan kepalanya, menyapa Rigel yang berdiri di depan tembok batu berlumut kehijauan —pintu masuk Asrama Slytherin, kalau kau belum tahu— sebelum pemuda jangkung itu membisikkan kata kuncinya. Ragu. Jelas-jelas seluruh anggota tubuhnya, bahkan pikirannya, meneriakkan satu perintah yang sama: Ajak Janette masuk. Atau temani dia, kalau gadis itu berkeras untuk tetap menemui Pavarell.
Terkadang kenyataan tak mengizinkan semua keinginan manusia terwujud. Melawan nalurinya, Rigel menyunggingkan senyum perpisahan pada Janette. Mengikuti anak-anak kelas satu masuk, dan menerangkan pada mereka di mana kamar mereka—serta membacakan peraturan dalam asrama. Persis seperti lima tahun lalu: hanya saja, kali ini Rigel yang memberikan instruksi. Dan —demi sesuatu yang disebut 'menghargai privasi orang lain'— Rigel memilih mengawasi Janette dari ambang pintu asrama. Melawan seseorang dari dalam dirinya yang terus menerus memaki-nya stupide karena tidak menarik Janette masuk.
All hail Lucifer the King of the Devil.
Bahkan kalau kau merebus Rigel di dasar neraka terdalam, rasa bersalah itu tak bisa hilang. Karena, guess what? He probably had done the biggest mistake in his life. Rien! Sial! Sial! SIAL! Bodoh! "Jane!" seru Rigel begitu keluar dari Asrama. Seseorang dalam dirinya kini mengalirkan kekuatan yang cukup besar pada kedua tangannya.
"YOU!" umpat Rigel—kedua tangannya menarik kerah kemeja idiot pemabuk itu.
"FILTHY—!" satu pukulan.
"—IDIOT—!" itu dua.
"—PATHETIC—!" itu tiga.
"—DRUNKER!!" empat. Empat tinjunya melayang sekuat tenaga, satu-satu seiring kata-katanya ke wajah tampan Pavarell. Haruskah dia tambahkan, hidung itu tak akan lurus lagi setelah beberapa pukulan darinya?
"Sebelumnya aku menaruh sedikit hormat padamu, terlebih karena kau adalah abdi-Nya. Ternyata aku salah, eh?" desis Rigel rajam, suaranya sarat dengan amarah yang membara di matanya. Tak pernah dia berbicara sekejam ini pada seorang Pureblood. "Sampah. Pengecut menyedihkan yang lari pada minuman keras karena kehilangan kekuasaan," Rigel menggertakkan giginya. Seolah belum puas, tinjunya kembali melayang. Lima. "Sudah sadar dari mabukmu, sekarang? HAH?!" Enam. "Sampah! Sekotor Muggle! Kau layak dihancurkan dengan cara Muggle!" Tujuh. Total tujuh tinju sarat dengan kekuatan seorang pemuda murka mendarat di wajah dan ulu hati anak Asia itu.
Seolah jijik dengan kata-katanya sendiri, Rigel melepaskan cengkeramannya di kerah baju Pavarell, dan mendorongnya keras, membuat pemuda Asia itu jatuh tersungkur. Tepat di kaki seorang gadis yang baru Rigel sadari keberadaannya di sana kira-kira lima detik yang lalu.
"Sekarang kau sadar kalau pacar kecilmu ini tidak sesuci kelihatannya, Miss Khan?" ujarnya kasar. "Kalian berdua punya banyak hal untuk dibicarakan, tampaknya," kesinisan semakin terasa di setiap kata-katanya. Rigel berbalik. Dia sudah muak bahkan hanya melihat wajah menyedihkan Pavarell. Sosok Janette terlihat rapuh di hadapannya dengan air mata membasahi seluruh wajahnya. Dipikir-pikir lagi, baru kali ini Rigel melihat gadis itu menangis. Sial. Pemikiran itu malah menambah rasa bersalahnya, membuatnya semakin menjadi-jadi.
"Kau tak apa, Jane?" tanya Rigel penuh kecemasan. Perlahan, disentuhnya kedua bahu gadis itu yang terpaku bersandar ke dinding. Merlin, hukum aku yang membiarkannya berduaan dengan setan pemabuk itu, batinnya miris. "Kita masuk sekarang, ya?" tawarnya, masih dengan suara penuh kelembutan. Perlahan, seolah memperlakukan porselen mahal dari Cina, Rigel merengkuh tubuh gadis itu. Berharap bisa melakukan sesuatu untuk menebus rasa bersalahnya.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya kutinggalkan kau berduaan dengan bajingan pemabuk itu," sesalnya. Penyesalan yang tak akan bisa hilang.
Dan malam ini perasaan itu menghinggapinya begitu tiba-tiba.
Kalau saja dia bisa, Rigel ingin menyerahkan tugas mengantar anak-anak kelas satu ini ke asrama pada Prefek lain dan bergelung di dalam selimutnya, mencoba menyingkirkan perasaan tidak enak yang menyapanya tiba-tiba. Slytherin punya empat Prefek, dan, well, meski berat mengakuinya, satu Ketua Murid, jadi, kenapa harus dia dan Goscinny yang membawa barisan bocah-bocah ini seperti guru Taman Kanak-Kanak? Sekalian saja beri dia maraccas, dan suruh dia menyanyikan lagu anak-anak. But—yeah, dia memerlukan lencana itu tetap berada di tangannya, jadi dia tak bisa melempar tugasnya begitu saja. Mon Dieu.
Ekor matanya menangkap sosok Janette yang juga ikut rombongan mereka keluar Aula Besar. Timah yang menggelayuti perutnya seketika bertambah berat dan menggelegak. Taruhan seratus Galleon, ini ada apa-apanya dengan Pavarell. Seseorang dalam tubuhnya meneriakkan kata-kata perintah untuk tetap di luar dan menemani gadis itu saat Janette menelengkan kepalanya, menyapa Rigel yang berdiri di depan tembok batu berlumut kehijauan —pintu masuk Asrama Slytherin, kalau kau belum tahu— sebelum pemuda jangkung itu membisikkan kata kuncinya. Ragu. Jelas-jelas seluruh anggota tubuhnya, bahkan pikirannya, meneriakkan satu perintah yang sama: Ajak Janette masuk. Atau temani dia, kalau gadis itu berkeras untuk tetap menemui Pavarell.
Terkadang kenyataan tak mengizinkan semua keinginan manusia terwujud. Melawan nalurinya, Rigel menyunggingkan senyum perpisahan pada Janette. Mengikuti anak-anak kelas satu masuk, dan menerangkan pada mereka di mana kamar mereka—serta membacakan peraturan dalam asrama. Persis seperti lima tahun lalu: hanya saja, kali ini Rigel yang memberikan instruksi. Dan —demi sesuatu yang disebut 'menghargai privasi orang lain'— Rigel memilih mengawasi Janette dari ambang pintu asrama. Melawan seseorang dari dalam dirinya yang terus menerus memaki-nya stupide karena tidak menarik Janette masuk.
All hail Lucifer the King of the Devil.
Bahkan kalau kau merebus Rigel di dasar neraka terdalam, rasa bersalah itu tak bisa hilang. Karena, guess what? He probably had done the biggest mistake in his life. Rien! Sial! Sial! SIAL! Bodoh! "Jane!" seru Rigel begitu keluar dari Asrama. Seseorang dalam dirinya kini mengalirkan kekuatan yang cukup besar pada kedua tangannya.
"YOU!" umpat Rigel—kedua tangannya menarik kerah kemeja idiot pemabuk itu.
"FILTHY—!" satu pukulan.
"—IDIOT—!" itu dua.
"—PATHETIC—!" itu tiga.
"—DRUNKER!!" empat. Empat tinjunya melayang sekuat tenaga, satu-satu seiring kata-katanya ke wajah tampan Pavarell. Haruskah dia tambahkan, hidung itu tak akan lurus lagi setelah beberapa pukulan darinya?
"Sebelumnya aku menaruh sedikit hormat padamu, terlebih karena kau adalah abdi-Nya. Ternyata aku salah, eh?" desis Rigel rajam, suaranya sarat dengan amarah yang membara di matanya. Tak pernah dia berbicara sekejam ini pada seorang Pureblood. "Sampah. Pengecut menyedihkan yang lari pada minuman keras karena kehilangan kekuasaan," Rigel menggertakkan giginya. Seolah belum puas, tinjunya kembali melayang. Lima. "Sudah sadar dari mabukmu, sekarang? HAH?!" Enam. "Sampah! Sekotor Muggle! Kau layak dihancurkan dengan cara Muggle!" Tujuh. Total tujuh tinju sarat dengan kekuatan seorang pemuda murka mendarat di wajah dan ulu hati anak Asia itu.
Seolah jijik dengan kata-katanya sendiri, Rigel melepaskan cengkeramannya di kerah baju Pavarell, dan mendorongnya keras, membuat pemuda Asia itu jatuh tersungkur. Tepat di kaki seorang gadis yang baru Rigel sadari keberadaannya di sana kira-kira lima detik yang lalu.
"Sekarang kau sadar kalau pacar kecilmu ini tidak sesuci kelihatannya, Miss Khan?" ujarnya kasar. "Kalian berdua punya banyak hal untuk dibicarakan, tampaknya," kesinisan semakin terasa di setiap kata-katanya. Rigel berbalik. Dia sudah muak bahkan hanya melihat wajah menyedihkan Pavarell. Sosok Janette terlihat rapuh di hadapannya dengan air mata membasahi seluruh wajahnya. Dipikir-pikir lagi, baru kali ini Rigel melihat gadis itu menangis. Sial. Pemikiran itu malah menambah rasa bersalahnya, membuatnya semakin menjadi-jadi.
"Kau tak apa, Jane?" tanya Rigel penuh kecemasan. Perlahan, disentuhnya kedua bahu gadis itu yang terpaku bersandar ke dinding. Merlin, hukum aku yang membiarkannya berduaan dengan setan pemabuk itu, batinnya miris. "Kita masuk sekarang, ya?" tawarnya, masih dengan suara penuh kelembutan. Perlahan, seolah memperlakukan porselen mahal dari Cina, Rigel merengkuh tubuh gadis itu. Berharap bisa melakukan sesuatu untuk menebus rasa bersalahnya.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya kutinggalkan kau berduaan dengan bajingan pemabuk itu," sesalnya. Penyesalan yang tak akan bisa hilang.
Thread Here, Ruang Bawah Tanah, 1978. Post ke-1. Timeline setelah Pesta Awal Tahun Ajaran 1978/1979.
Interaksi dengan Kane Dietrich Pavarell, Shaula Khan, dan Janette Blizzard.
Interaksi dengan Kane Dietrich Pavarell, Shaula Khan, dan Janette Blizzard.
Labels: 1978, Here, Ruang Bawah Tanah
MEJA SLYTHERIN
Ah, serpents. Tak bisa bertahan untuk tidak mendesis, hmm? Sebuah asrama dimana para anggotanya saling mendesis, menggigit, dan mencabik demi keuntungan sendiri. How beautiful. Seleksi alam yang menentukan, Cher. Apakah para penghuninya bisa bertahan dalam sarang ular ini, atau mati seiring waktu diterkam oleh ular lain. Memilih menyerah dan membiarkan ular lain menerkammu? In your dream. Hal terakhir yang akan dilakukan Rigel, bahkan jika dia sedang mabuk setelah menenggak sepuluh krat Whiski-Api. Tidak sebelum dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Père-nya tersayang mati.
"For you too, du Noir. Siapa bilang kau akan hidup melewatinya? Mungkin kau tidak akan seberuntung Pavarell... Who knows?" Got what he mean? Seringai sinis terbentuk di wajah Rigel seraya mengangkat piala ke arah Morcerf. "Kehormatan besar seorang Morcerf mau bersulang untukku. Mau sekalian bertaruh, Morcerf? Well, kalau kau sebegitu yakinnya aku tak bisa bertahan lebih dari Pavarell," balas Rigel ringan, dengan nada seperti hanya membicarakan apa-menu-makan-siang-kali-ini.
Omong-omong soal makanan, desisan para ular usil itu berhasil mengalihkan perhatian Rigel berkali-kali dari steak salmon saus lemon yang sedang dia hadapi. Geez. Dia tak bisa bertarung dengan perut kosong, kan? Peduli setan dengan mereka yang masih berminat melanjutkan drama yang baru berlangsung setengah babak itu. Biarkan dia menghabiskan makan malamnya dengan tenang, bisa kan? Salahmu, stupide. Abaikan saja desisan mereka. Besar kepala sekali kau, mencaplok setiap pembicaraan yang berdengung di sekitarmu? FINE, then. Dia menulikan telinganya terhadap cemoohan-cemoohan berikutnya yang saling dilontarkan para penghuni sarang ular ini. Selesaikan makan, antar para bocah kelas satu ini ke asrama, dan tidur. Tulis surat dulu untuk Mère, Callista dan Clémence sebelumnya. Rencana yang sempurna, eh? Awas saja kalau ada yang berani menghancurkan rencana sempurnanya.
"—Goscinny, Du Noir, Amakusa, McLight, orang-orang berkualitas, membuat bangga Salazar Slytherin, dan tentu saja Pangeran Kegalapan, eh? Karena aku yakin tidak ada di antara kalian yang sudah mengurangi nilai asrama secara signifikan, setelahku.—" Hmm? Kembali Pavarell berkoar-koar dengan tatapan matanya yang sudah tidak fokus. Hiburan yang menyenangkan, bukan? Melihat mantan Prefek kita yang tercinta mabuk di malam Pesta Awal Tahun —terlebih lagi, di hadapan seluruh isi Aula Besar. Stress karena Darah-Lumpur itu yang terpilih menjadi Ketua Murid, alih-alih dirinya, eh? Well, well. Rigel berbaik hati meluangkan waktunya meladeni lelucon ini. "Senang kalau kau sudah menyadari kualitas kami bahkan melebihi dirimu, Pavarell," pemuda tanggung berambut pirang itu tak bermaksud menuangkan bensin di atas api. Hanya ingin bersenang-senang. Kalau Pavarell diizinkan bersenang-senang, kenapa dia tidak?
Demi otak karatan si Penyihir Sinting Merlin. Demi si Terkutuk Godric Gryffindor yang tak lupa merasuki Topi Seleksi butut dengan ideologi-ideologi tidak masuk akal tentang membela para Darah-Lumpur. Apa yang kau pikirkan, ingin menyiksa Salazar Slytherin dalam kuburnya dengan memasukkan para Darah-Lumpur itu ke asrama kami? Genggaman tangan Rigel yang memegang pisau dan garpu mengeras. Giginya bergemeletuk menahan emosi. Harus berapa ekor tikus kotor lagi yang ingin kau masukkan ke sarang ular ini, topi terkutuk? Okay. Tenang, Rigel. Tenang. Jangan hancurkan wibawamu dengan melangkah tergesa-gesa dan tanpa perhitungan.
"Alangkah baiknya hatimu, Pavarell, mengkhawatirkan junior manis kita yang satu ini. Well, we have a bunch of nice seniors who are willing to teach this filthy ragged waste from the nobility of blood. Don't be worry, eh, Pavarell?" dan pemuda Asia pendek berambut pirang itu bersulang, demi Pangeran Kegelapan. Sekarang sudah pasti otaknya tercemar Whiski-Api yang entah sudah berapa gelas ditenggaknya sedari tadi. Seringai sinis kembali menghiasi wajah Rigel. "To the Dark Lord!" Rigel mengikuti kata-kata Pavarell, juga bersulang mengangkat pialanya. Again, semata-mata hanya untuk menekankan pada gadis Darah-Lumpur itu kalau dia tak memiliki tempat di meja ini.
Tak urung, Rigel menangkap Pavarell mengajak janette yang duduk di sampingnya, dan berbisik mencurigakan di telinga gadis itu sebelum beranjak dari Aula Besar. Raut wajah Rigel kembali mengeruh. Black. Sudah pasti tentang dia. Jangan buat dia bertambah murung, Pavarell. Or you'll be sorry. Rigel mengerling Janette, memberinya sebuah senyuman sebelum berdiri.
"Ayo, Goscinny," ujarnya, memberi isyarat pada gadis kurus tinggi itu untuk bangkit dan pergi bersamanya. "All first year. Asrama Slytherin. Tertinggal, aku tak jamin kalian tak akan tersesat," dengan suara lantang Rigel berbicara pada semua junior kelas satunya, dan memberi pandangan pada mereka untuk mengikutinya.
Malam yang panjang ini harus berakhir, suka atau tidak suka.
Ah, serpents. Tak bisa bertahan untuk tidak mendesis, hmm? Sebuah asrama dimana para anggotanya saling mendesis, menggigit, dan mencabik demi keuntungan sendiri. How beautiful. Seleksi alam yang menentukan, Cher. Apakah para penghuninya bisa bertahan dalam sarang ular ini, atau mati seiring waktu diterkam oleh ular lain. Memilih menyerah dan membiarkan ular lain menerkammu? In your dream. Hal terakhir yang akan dilakukan Rigel, bahkan jika dia sedang mabuk setelah menenggak sepuluh krat Whiski-Api. Tidak sebelum dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Père-nya tersayang mati.
"For you too, du Noir. Siapa bilang kau akan hidup melewatinya? Mungkin kau tidak akan seberuntung Pavarell... Who knows?" Got what he mean? Seringai sinis terbentuk di wajah Rigel seraya mengangkat piala ke arah Morcerf. "Kehormatan besar seorang Morcerf mau bersulang untukku. Mau sekalian bertaruh, Morcerf? Well, kalau kau sebegitu yakinnya aku tak bisa bertahan lebih dari Pavarell," balas Rigel ringan, dengan nada seperti hanya membicarakan apa-menu-makan-siang-kali-ini.
Omong-omong soal makanan, desisan para ular usil itu berhasil mengalihkan perhatian Rigel berkali-kali dari steak salmon saus lemon yang sedang dia hadapi. Geez. Dia tak bisa bertarung dengan perut kosong, kan? Peduli setan dengan mereka yang masih berminat melanjutkan drama yang baru berlangsung setengah babak itu. Biarkan dia menghabiskan makan malamnya dengan tenang, bisa kan? Salahmu, stupide. Abaikan saja desisan mereka. Besar kepala sekali kau, mencaplok setiap pembicaraan yang berdengung di sekitarmu? FINE, then. Dia menulikan telinganya terhadap cemoohan-cemoohan berikutnya yang saling dilontarkan para penghuni sarang ular ini. Selesaikan makan, antar para bocah kelas satu ini ke asrama, dan tidur. Tulis surat dulu untuk Mère, Callista dan Clémence sebelumnya. Rencana yang sempurna, eh? Awas saja kalau ada yang berani menghancurkan rencana sempurnanya.
"—Goscinny, Du Noir, Amakusa, McLight, orang-orang berkualitas, membuat bangga Salazar Slytherin, dan tentu saja Pangeran Kegalapan, eh? Karena aku yakin tidak ada di antara kalian yang sudah mengurangi nilai asrama secara signifikan, setelahku.—" Hmm? Kembali Pavarell berkoar-koar dengan tatapan matanya yang sudah tidak fokus. Hiburan yang menyenangkan, bukan? Melihat mantan Prefek kita yang tercinta mabuk di malam Pesta Awal Tahun —terlebih lagi, di hadapan seluruh isi Aula Besar. Stress karena Darah-Lumpur itu yang terpilih menjadi Ketua Murid, alih-alih dirinya, eh? Well, well. Rigel berbaik hati meluangkan waktunya meladeni lelucon ini. "Senang kalau kau sudah menyadari kualitas kami bahkan melebihi dirimu, Pavarell," pemuda tanggung berambut pirang itu tak bermaksud menuangkan bensin di atas api. Hanya ingin bersenang-senang. Kalau Pavarell diizinkan bersenang-senang, kenapa dia tidak?
Demi otak karatan si Penyihir Sinting Merlin. Demi si Terkutuk Godric Gryffindor yang tak lupa merasuki Topi Seleksi butut dengan ideologi-ideologi tidak masuk akal tentang membela para Darah-Lumpur. Apa yang kau pikirkan, ingin menyiksa Salazar Slytherin dalam kuburnya dengan memasukkan para Darah-Lumpur itu ke asrama kami? Genggaman tangan Rigel yang memegang pisau dan garpu mengeras. Giginya bergemeletuk menahan emosi. Harus berapa ekor tikus kotor lagi yang ingin kau masukkan ke sarang ular ini, topi terkutuk? Okay. Tenang, Rigel. Tenang. Jangan hancurkan wibawamu dengan melangkah tergesa-gesa dan tanpa perhitungan.
"Alangkah baiknya hatimu, Pavarell, mengkhawatirkan junior manis kita yang satu ini. Well, we have a bunch of nice seniors who are willing to teach this filthy ragged waste from the nobility of blood. Don't be worry, eh, Pavarell?" dan pemuda Asia pendek berambut pirang itu bersulang, demi Pangeran Kegelapan. Sekarang sudah pasti otaknya tercemar Whiski-Api yang entah sudah berapa gelas ditenggaknya sedari tadi. Seringai sinis kembali menghiasi wajah Rigel. "To the Dark Lord!" Rigel mengikuti kata-kata Pavarell, juga bersulang mengangkat pialanya. Again, semata-mata hanya untuk menekankan pada gadis Darah-Lumpur itu kalau dia tak memiliki tempat di meja ini.
Tak urung, Rigel menangkap Pavarell mengajak janette yang duduk di sampingnya, dan berbisik mencurigakan di telinga gadis itu sebelum beranjak dari Aula Besar. Raut wajah Rigel kembali mengeruh. Black. Sudah pasti tentang dia. Jangan buat dia bertambah murung, Pavarell. Or you'll be sorry. Rigel mengerling Janette, memberinya sebuah senyuman sebelum berdiri.
"Ayo, Goscinny," ujarnya, memberi isyarat pada gadis kurus tinggi itu untuk bangkit dan pergi bersamanya. "All first year. Asrama Slytherin. Tertinggal, aku tak jamin kalian tak akan tersesat," dengan suara lantang Rigel berbicara pada semua junior kelas satunya, dan memberi pandangan pada mereka untuk mengikutinya.
Malam yang panjang ini harus berakhir, suka atau tidak suka.
Thread Pesta Awal Tahun Ajaran, Aula Besar, 1978. Post ke-3.
Interaksi dengan Nicolas Morcerf, Kane Dietrich Pavarell, Janette Blizzard, Voe Goscinny, dan seluruh siswa kelas satu Slytherin.
Interaksi dengan Nicolas Morcerf, Kane Dietrich Pavarell, Janette Blizzard, Voe Goscinny, dan seluruh siswa kelas satu Slytherin.
Labels: 1978, Aula Besar, Pesta Awal Tahun
MEJA SLYTHERIN
"—Berharap menemukan knut tapi kau malah menemukan galleon kutukan, eh? Berdoa saja kau tidak sekedar-ah. Ya. Menjadi pajangan dan tidak melakukan apa-apa selagi benda itu tersemat di dadamu," ucapan yang membuat Rigel tak bisa menahan dirinya untuk menyeringai meremehkan senior Asia pendeknya yang sama sekali tidak pantas memiliki rambut pirang. Jadi itu yang kau lakukan selama menjadi Prefek, Pavarell? "Galleon kutukan, Pavarell? Hm. Tak bisa tahu galleon itu akan mengutukku atau malah bisa kugunakan untuk mengutuk orang lain sebelum digunakan, am I right? And thanks for your advice. Melihat dirimu yang sekarang—" Rigel mendelik sinis pada Pavarell yang seolah ingin muntah saat berbicara dengannya "—aku tahu betapa efektifnya nasehatmu itu," tutupnya.
"—jangan tunjukkan ketidaksukaanmu pada Ketua Murid pilihan Dumbledore, eh? Tidak saat mereka pikir tempat ini adalah tempat paling aman yang ada di muka bumi," Rigel tertawa seketika mendengar kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Pavarell. "Lelucon yang bagus, mantan Prefek. Seolah seluruh isi Slytherin tidak menunjukkan ketidaksukaan mereka pada Sang Ketua Murid, yeah. Kreatif sekali," Rigel hampir bertepuk tangan menyoraki lelucon murahan Pavarell. "Perlukah kutambahkan kalau kau dan komplotanmu akan semakin kegirangan seperti para tikus di pembuangan sampah organik karena mendapatkan semakin banyak mainan?" Rigel merendahkan suaranya, memastikan hanya dia dan Pavarell yang mendengar.
Kejadian selanjutnya membuat Rigel malas melanjutkan perbincangan menyenangkannya lagi dengan Pavarell. Beradu mulut dengan Morcerf layaknya anak kecil, Rigel semakin kepayahan menahan dengusan meremehkannya untuk mereka berdua. Oh, dan Pavarell berhasil membuatnya lupa kalau di sana ada Friday juga. Benar-benar sempurna.—Meski kalau boleh dia menambahkan, malas rasanya Rigel terlibat dalam pembicaraan gadis itu dengan Goscinny mengenai, apa lagi kalau bukan Zeev?— Setidaknya Rigel mendapatkan apa yang dilihat si tua bangka pecinta Muggle itu pada diri Pavarell yang membuatnya tidak bisa menjadi Ketua Murid.
Seseorang tolong pukul kepala Rigel juga agar dia tidak berubah menjadi kekanakan seperti itu setelah menerima lencana Prefek, bisa kan? Siapa tahu itu penyakit yang menyebar dari lencana Prefek yang sudah entah berapa abad diturunkan. HA.
Meski begitu, Rigel masih sempat menangkap akhir pembicaraan mereka dimana Pavarell mengajak seisi meja untuk bersulang demi kejayaan Slytherin. Tak urung pemuda tanggung itu mengangkat pialanya juga, dan berhasil menahan senyum mendengar akhir kalimat yang diucapkan Morcerf keras-keras. "Tak bisa lebih setuju lagi denganmu, Morcerf," Rigel iseng menimpali.
Perhatian yang ia curahkan pada sepotong steak salmon di hadapannya sedikit terusik saat seseorang mengambil tempat duduk di sebelahnya, menggumamkan selamat pada mereka. Seringai Rigel sebelumnya seketika berubah menjadi senyuman khasnya melihat siapa yang datang. "Thanks a lot, again, Jane. Juga untuk ucapan selamatmu saat di kereta," ujarnya lembut. Matanya yang jeli menangkap raut wajah murung Janette yang sama sekali tidak berubah. Sekuali timah panas kembali diguyur ke perut Rigel, menyadari kalau mungkin saja Janette masih murung karena berita Prophet yang itu. Well, okay, okay. Dia sadar dia terlalu jauh menduga. Bisa saja gadis itu murung karena Void masih sakit. Tak ada salahnya dia tanya, kan? "Bagaimana keadaan Void, Jane? Aku tak keberatan mengantarmu menemui Profesor Kettleburn ataupun Hagrid malam ini. Atau mungkin besok pagi, kalau kau tak mau mengganggu istirahat malam mereka," sambung Rigel.
Ucapan selamat Janette berlanjut pada Pavarell. Hmph. Jane sayang, apa kau belum tahu siapa yang sebenarnya berhak mendapatkan ucapan selamatmu itu? Atau, justru mungkin tidak berhak? Tergantung dari sisi mana kau melihatnya. Sebelum bibirnya terbuka untuk menanggapi, Goscinny dengan baik hati memberitahu Janette lebih dulu kalau Pavarell tidak memerlukan ucapan selamat. "Beat me, Jane. Kau bahkan tak mau mengucapkan selamat bila tahu siapa yang sesungguhnya harus kau ucapi selamat," Rigel merendahkan nada bicaranya di telinga Janette.
"Aku tidak mengerti kenapa kalian begitu senang hanya karena menjadi Prefek? Aku bahkan tidak mengerti tujuan menjadi Prefek—" Seorang juniornya kembali berkoar-koar. Maksudnya ingin berkomentar betapa tidak penting dan menyedihkannya para Prefek ini, begitu? Hm, beat me. Aku pun berpendapat sama denganmu, juniorku yang manis. Hanya saja, tidak semua orang di dunia ini berpendapat sama dengan kita, sayangnya. Termasuk Père-ku 'tersayang', yang sedihnya menghargaiku hanya seharga lencana murahan ini. Maafkan aku jika kali ini aku harus membantahmu, juniorku. Nasib leherku bergantung pada berhasil tidaknya aku mempertahankan lencana ini. Dan Friday dengan manisnya menimpali kata-kata Latimer —ternyata itu namanya— telak.
"Life, Latimer, is more complicated than what you could expect. So human are. Senang menjadi Prefek? Well, define happy, then. Tak ada satu manusia pun yang tidak suka bila tangannya dijatuhi kekuasaan. And trust me, neither of you," Rigel tidak tahan ingin menambahkan kata-kata Friday.
You'll never understand even a single thing.
"—Berharap menemukan knut tapi kau malah menemukan galleon kutukan, eh? Berdoa saja kau tidak sekedar-ah. Ya. Menjadi pajangan dan tidak melakukan apa-apa selagi benda itu tersemat di dadamu," ucapan yang membuat Rigel tak bisa menahan dirinya untuk menyeringai meremehkan senior Asia pendeknya yang sama sekali tidak pantas memiliki rambut pirang. Jadi itu yang kau lakukan selama menjadi Prefek, Pavarell? "Galleon kutukan, Pavarell? Hm. Tak bisa tahu galleon itu akan mengutukku atau malah bisa kugunakan untuk mengutuk orang lain sebelum digunakan, am I right? And thanks for your advice. Melihat dirimu yang sekarang—" Rigel mendelik sinis pada Pavarell yang seolah ingin muntah saat berbicara dengannya "—aku tahu betapa efektifnya nasehatmu itu," tutupnya.
"—jangan tunjukkan ketidaksukaanmu pada Ketua Murid pilihan Dumbledore, eh? Tidak saat mereka pikir tempat ini adalah tempat paling aman yang ada di muka bumi," Rigel tertawa seketika mendengar kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Pavarell. "Lelucon yang bagus, mantan Prefek. Seolah seluruh isi Slytherin tidak menunjukkan ketidaksukaan mereka pada Sang Ketua Murid, yeah. Kreatif sekali," Rigel hampir bertepuk tangan menyoraki lelucon murahan Pavarell. "Perlukah kutambahkan kalau kau dan komplotanmu akan semakin kegirangan seperti para tikus di pembuangan sampah organik karena mendapatkan semakin banyak mainan?" Rigel merendahkan suaranya, memastikan hanya dia dan Pavarell yang mendengar.
Kejadian selanjutnya membuat Rigel malas melanjutkan perbincangan menyenangkannya lagi dengan Pavarell. Beradu mulut dengan Morcerf layaknya anak kecil, Rigel semakin kepayahan menahan dengusan meremehkannya untuk mereka berdua. Oh, dan Pavarell berhasil membuatnya lupa kalau di sana ada Friday juga. Benar-benar sempurna.—Meski kalau boleh dia menambahkan, malas rasanya Rigel terlibat dalam pembicaraan gadis itu dengan Goscinny mengenai, apa lagi kalau bukan Zeev?— Setidaknya Rigel mendapatkan apa yang dilihat si tua bangka pecinta Muggle itu pada diri Pavarell yang membuatnya tidak bisa menjadi Ketua Murid.
Seseorang tolong pukul kepala Rigel juga agar dia tidak berubah menjadi kekanakan seperti itu setelah menerima lencana Prefek, bisa kan? Siapa tahu itu penyakit yang menyebar dari lencana Prefek yang sudah entah berapa abad diturunkan. HA.
Meski begitu, Rigel masih sempat menangkap akhir pembicaraan mereka dimana Pavarell mengajak seisi meja untuk bersulang demi kejayaan Slytherin. Tak urung pemuda tanggung itu mengangkat pialanya juga, dan berhasil menahan senyum mendengar akhir kalimat yang diucapkan Morcerf keras-keras. "Tak bisa lebih setuju lagi denganmu, Morcerf," Rigel iseng menimpali.
Perhatian yang ia curahkan pada sepotong steak salmon di hadapannya sedikit terusik saat seseorang mengambil tempat duduk di sebelahnya, menggumamkan selamat pada mereka. Seringai Rigel sebelumnya seketika berubah menjadi senyuman khasnya melihat siapa yang datang. "Thanks a lot, again, Jane. Juga untuk ucapan selamatmu saat di kereta," ujarnya lembut. Matanya yang jeli menangkap raut wajah murung Janette yang sama sekali tidak berubah. Sekuali timah panas kembali diguyur ke perut Rigel, menyadari kalau mungkin saja Janette masih murung karena berita Prophet yang itu. Well, okay, okay. Dia sadar dia terlalu jauh menduga. Bisa saja gadis itu murung karena Void masih sakit. Tak ada salahnya dia tanya, kan? "Bagaimana keadaan Void, Jane? Aku tak keberatan mengantarmu menemui Profesor Kettleburn ataupun Hagrid malam ini. Atau mungkin besok pagi, kalau kau tak mau mengganggu istirahat malam mereka," sambung Rigel.
Ucapan selamat Janette berlanjut pada Pavarell. Hmph. Jane sayang, apa kau belum tahu siapa yang sebenarnya berhak mendapatkan ucapan selamatmu itu? Atau, justru mungkin tidak berhak? Tergantung dari sisi mana kau melihatnya. Sebelum bibirnya terbuka untuk menanggapi, Goscinny dengan baik hati memberitahu Janette lebih dulu kalau Pavarell tidak memerlukan ucapan selamat. "Beat me, Jane. Kau bahkan tak mau mengucapkan selamat bila tahu siapa yang sesungguhnya harus kau ucapi selamat," Rigel merendahkan nada bicaranya di telinga Janette.
"Aku tidak mengerti kenapa kalian begitu senang hanya karena menjadi Prefek? Aku bahkan tidak mengerti tujuan menjadi Prefek—" Seorang juniornya kembali berkoar-koar. Maksudnya ingin berkomentar betapa tidak penting dan menyedihkannya para Prefek ini, begitu? Hm, beat me. Aku pun berpendapat sama denganmu, juniorku yang manis. Hanya saja, tidak semua orang di dunia ini berpendapat sama dengan kita, sayangnya. Termasuk Père-ku 'tersayang', yang sedihnya menghargaiku hanya seharga lencana murahan ini. Maafkan aku jika kali ini aku harus membantahmu, juniorku. Nasib leherku bergantung pada berhasil tidaknya aku mempertahankan lencana ini. Dan Friday dengan manisnya menimpali kata-kata Latimer —ternyata itu namanya— telak.
"Life, Latimer, is more complicated than what you could expect. So human are. Senang menjadi Prefek? Well, define happy, then. Tak ada satu manusia pun yang tidak suka bila tangannya dijatuhi kekuasaan. And trust me, neither of you," Rigel tidak tahan ingin menambahkan kata-kata Friday.
You'll never understand even a single thing.
Thread Pesta Awal Tahun Ajaran, Aula Besar, 1978. Post ke-2.
Interaksi dengan Kane Dietritch Pavarell, Nicolas Morcerf, Janette Blizzard, Voe Goscinny, Ralph K. Latimer.
Interaksi dengan Kane Dietritch Pavarell, Nicolas Morcerf, Janette Blizzard, Voe Goscinny, Ralph K. Latimer.
Labels: 1978, Aula Besar, Pesta Awal Tahun
AULA DEPAN

Prefek, eh?
Berjalan perlahan menaiki undakan depan Kastil Hogwarts, tangan kanan Rigel memain-mainkan lencana keemasan itu di dalam saku jubahnya. Pemuda tanggung berambut pirang kecokelatan itu sengaja berjalan lamat-lamat, menunggu arus manusia yang bergelung saling berebut ingin lebih dulu masuk ke Kastil berlalu begitu saja di hadapannya. Please, dia sudah bukan anak kecil yang menjadikan permainan siapa-yang-duduk-di-meja-asrama-lebih-dulu sebagai pertaruhan hidup-dan-mati seperti yang tampaknya dilakukan banyak junior-juniornya —yang mana, sebenarnya, tak pernah dilakukan Rigel sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya di kastil tua ini. Apa itu berarti dia tak pernah jadi anak kecil, huh? Tch, bocah-bocah itu saja yang terlalu ingusan. Mental bocah usia lima tahun yang sayangnya terperangkap dalam tubuh remaja usia belasan tahun. Maaf saja, harga diri Rigel terlalu tinggi untuk menjadikan permainan konyol itu sebagai medan pertarungan hidup-dan-mati.
Arus anak-anak yang turun dari kereta Thestral di Undakan Depan mulai berkurang—dia tak bisa melihat Thestral-nya, jelas. Dia belum pernah melihat kematian secara langsung. Tapi itu tidak menjadi penghalang untuk tahu kereta itu ditarik oleh apa, kan? Hm, mungkin dia bisa membunuh Père-nya tersayang kapan-kapan. Orang tua botak pengatur itu hilang, dan dia bisa melihat Thestral. Sekali tepuk, dua ekor lalat kena— tangan Rigel yang memain-mainkan lencana Prefek, menarik potongan lempeng logam itu keluar, membuatnya menari-nari di antara jari jemarinya. Anak-anak kelas satu belum tiba, tampaknya? Bisakah dia menarik kesimpulan kalau itu berarti tugasnya belum dimulai? Karena murid-murid kelas dua ke atas sudah tidak lagi memerlukan sambutan Prefek di Meja Asrama mereka—jangan lakukan kalau kau tak ingin dilempari kentang atau tomat— dan mereka juga tak perlu diantar-antar ke Asrama seperti anak umur dua tahun. Oh—oke, dia tetap harus masuk, tak peduli betapapun enggannya dia. Pikiran tinggalkan-saja-tugas-Prefek-merepotkan-itu-pada-Prefek-lain dikalahkan dengan tidak hormat oleh rasa lapar.
Prefek, eh?
Rigel sebenarnya tidak begitu antusias untuk bergabung dalam perebutan tahta Prefek dan Ketua Murid. Untuk apa merepotkan diri sendiri melakukan pekerjaan sukarela mengurus murid-murid Hogwarts? Seolah mereka tak punya Penjaga Sekolah saja. Ironis. Karena ternyata lencana itulah yang justru membuat dia selamat dari pidato rutin Monsieur Noir yang menyembur setiap melihat nilai-nilai Rigel. Tua bangka itu tak bisa diam kalau tidak melihat daftar nilainya dipenuhi dengan huruf O. Rigel mendengus. Seolah aku sudi saja belajar di sini, batinnya perlahan. Dan karena hal itulah, Rigel harus memastikan lencana itu akan tetap berada di tangannya hingga akhir tahun, dan juga tahun depan. Yang berarti dia harus mulai bertingkah seperti anjing-penjilat dan menghadiahkan beberapa detensi pada beberapa anak, dan memakai label "Penjual Teman" di wajahnya sendiri. Demi agar Père-nya kembali mengizinkannya pulang ke Perancis musim panas tahun depan. Ironis. Haruskah ia mulai memakai kata itu sebagai nama tengah?
MEJA SLYTHERIN
Oh, bagus.
Tepat di saat Rigel mengingat-ingat kembali siapa partnernya yang tertulis di daftar Prefek yang dia terima saat di Kompartemen Prefek tadi, gadis itu berdiri dan melakukan penyambutan untuk para murid kelas satu yang baru selesai diseleksi. Sebelah alisnya terangkat. Okay. Tak ada yang istimewa. Hanya berpartner dengan seorang cewek psycho yang membawa-bawa belati perak kemanapun dia pergi dan tak segan-segan menusukkannya ke jantungmu kalau dia sedang kesal. Tak ada yang istimewa, kecuali peluang Rigel mati lebih dulu daripada Père-nya tiba-tiba meningkat jadi 99,99% karena harus selalu bekerja bersama gadis itu setiap hari, sepanjang tahun, dengan resiko dia mengorek jantungnya satu detik setelah Rigel membuatnya kesal.
Heh. Bagaimanapun, dia itu perempuan. Putar otak, Rigel. Ke mana harga dirimu kalau kau bertekuk lutut di bawah belati peraknya? Benar juga. Perempuan. Rigel sudah memegang kartu As-nya, kalau begitu.
"My, my. Terimakasih Goscinny, sudah menyambut para junior kita yang manis ini bahkan sebelum Prefek yang lain muncul. Keberadaan kami tidak dianggap cukup penting bagimu, rupanya," sapa Rigel. Ups. Did he just say something bad? Like he cares. Lagipula dia memang sengaja datang agak terlambat. "Izinkan aku mengucapkan bagianku sekarang, Mademoiselle," Rigel menatap Goscinny dengan sorot mata penuh arti. "Rigel du Noir, your another fifth year Prefect starting from now on. Selamat datang di Slytherin, meski aku yakin partnerku ini sudah mengucapkannya tadi," suara berat pemuda tanggung itu mengalun renyah, diakhiri dengan seringai khasnya yang merekah perlahan. Sadar lencana Prefek-nya masih tergenggam di tangan kanannya—bukannya tersemat secara rapi di dada seperti Goscinny— "Ah, dan ini?" Rigel menjentikkannya ke udara, dan menangkapnya dengan sempurna— "lencana Prefek-ku, tapi kurasa tanpa memakai ini pun kedudukan Prefek tetap ada padaku, kan? Belajarlah untuk mengingat wajahku sebagai Prefek tanpa harus ditempeli lencana ini," ujarnya tangkas, memasukkan kembali lencananya ke dalam saku jubah, dan duduk.
Setahun lalu, dia masih termasuk dalam kelompok orang yang membenci kelompok Prefek tukang pamer tapi tak bisa apa-apa.
Kali ini, dia punya resiko dibenci orang lain karena dianggap sebagai Prefek tukang pamer yang tak bisa apa-apa.
Seperti Pavarell yang ternyata duduk dua anak dari seberangnya, kalau dia boleh menambahkan.
Tak percaya? Buktinya kedudukan Ketua Murid diserahkan pada Darah Lumpur Tukang Sepatu itu alih-alih Pavarell. Padahal Shoemaker bukanlah siapa-siapa di tahun sebelumnya. Bukan Prefek, juga bukan Kapten Quidditch. Sungguh memalukan.
"Ah, halo Senior Pavarell. Sedang merayakan ketidakberhasilanmu mendapatkan Lencana Ketua Murid? Kalau saja pemakainya sekarang bukanlah Darah-Lumpur, aku sudah bersulang dari tadi," ujarnya santai.
Ingatkan Rigel untuk waspada agar tidak bernasib sama seperti mantan Prefek dan mantan Beater di depannya itu.

Prefek, eh?
Berjalan perlahan menaiki undakan depan Kastil Hogwarts, tangan kanan Rigel memain-mainkan lencana keemasan itu di dalam saku jubahnya. Pemuda tanggung berambut pirang kecokelatan itu sengaja berjalan lamat-lamat, menunggu arus manusia yang bergelung saling berebut ingin lebih dulu masuk ke Kastil berlalu begitu saja di hadapannya. Please, dia sudah bukan anak kecil yang menjadikan permainan siapa-yang-duduk-di-meja-asrama-lebih-dulu sebagai pertaruhan hidup-dan-mati seperti yang tampaknya dilakukan banyak junior-juniornya —yang mana, sebenarnya, tak pernah dilakukan Rigel sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya di kastil tua ini. Apa itu berarti dia tak pernah jadi anak kecil, huh? Tch, bocah-bocah itu saja yang terlalu ingusan. Mental bocah usia lima tahun yang sayangnya terperangkap dalam tubuh remaja usia belasan tahun. Maaf saja, harga diri Rigel terlalu tinggi untuk menjadikan permainan konyol itu sebagai medan pertarungan hidup-dan-mati.
Arus anak-anak yang turun dari kereta Thestral di Undakan Depan mulai berkurang—dia tak bisa melihat Thestral-nya, jelas. Dia belum pernah melihat kematian secara langsung. Tapi itu tidak menjadi penghalang untuk tahu kereta itu ditarik oleh apa, kan? Hm, mungkin dia bisa membunuh Père-nya tersayang kapan-kapan. Orang tua botak pengatur itu hilang, dan dia bisa melihat Thestral. Sekali tepuk, dua ekor lalat kena— tangan Rigel yang memain-mainkan lencana Prefek, menarik potongan lempeng logam itu keluar, membuatnya menari-nari di antara jari jemarinya. Anak-anak kelas satu belum tiba, tampaknya? Bisakah dia menarik kesimpulan kalau itu berarti tugasnya belum dimulai? Karena murid-murid kelas dua ke atas sudah tidak lagi memerlukan sambutan Prefek di Meja Asrama mereka—jangan lakukan kalau kau tak ingin dilempari kentang atau tomat— dan mereka juga tak perlu diantar-antar ke Asrama seperti anak umur dua tahun. Oh—oke, dia tetap harus masuk, tak peduli betapapun enggannya dia. Pikiran tinggalkan-saja-tugas-Prefek-merepotkan-itu-pada-Prefek-lain dikalahkan dengan tidak hormat oleh rasa lapar.
Prefek, eh?
Rigel sebenarnya tidak begitu antusias untuk bergabung dalam perebutan tahta Prefek dan Ketua Murid. Untuk apa merepotkan diri sendiri melakukan pekerjaan sukarela mengurus murid-murid Hogwarts? Seolah mereka tak punya Penjaga Sekolah saja. Ironis. Karena ternyata lencana itulah yang justru membuat dia selamat dari pidato rutin Monsieur Noir yang menyembur setiap melihat nilai-nilai Rigel. Tua bangka itu tak bisa diam kalau tidak melihat daftar nilainya dipenuhi dengan huruf O. Rigel mendengus. Seolah aku sudi saja belajar di sini, batinnya perlahan. Dan karena hal itulah, Rigel harus memastikan lencana itu akan tetap berada di tangannya hingga akhir tahun, dan juga tahun depan. Yang berarti dia harus mulai bertingkah seperti anjing-penjilat dan menghadiahkan beberapa detensi pada beberapa anak, dan memakai label "Penjual Teman" di wajahnya sendiri. Demi agar Père-nya kembali mengizinkannya pulang ke Perancis musim panas tahun depan. Ironis. Haruskah ia mulai memakai kata itu sebagai nama tengah?
MEJA SLYTHERIN
Oh, bagus.
Tepat di saat Rigel mengingat-ingat kembali siapa partnernya yang tertulis di daftar Prefek yang dia terima saat di Kompartemen Prefek tadi, gadis itu berdiri dan melakukan penyambutan untuk para murid kelas satu yang baru selesai diseleksi. Sebelah alisnya terangkat. Okay. Tak ada yang istimewa. Hanya berpartner dengan seorang cewek psycho yang membawa-bawa belati perak kemanapun dia pergi dan tak segan-segan menusukkannya ke jantungmu kalau dia sedang kesal. Tak ada yang istimewa, kecuali peluang Rigel mati lebih dulu daripada Père-nya tiba-tiba meningkat jadi 99,99% karena harus selalu bekerja bersama gadis itu setiap hari, sepanjang tahun, dengan resiko dia mengorek jantungnya satu detik setelah Rigel membuatnya kesal.
Heh. Bagaimanapun, dia itu perempuan. Putar otak, Rigel. Ke mana harga dirimu kalau kau bertekuk lutut di bawah belati peraknya? Benar juga. Perempuan. Rigel sudah memegang kartu As-nya, kalau begitu.
"My, my. Terimakasih Goscinny, sudah menyambut para junior kita yang manis ini bahkan sebelum Prefek yang lain muncul. Keberadaan kami tidak dianggap cukup penting bagimu, rupanya," sapa Rigel. Ups. Did he just say something bad? Like he cares. Lagipula dia memang sengaja datang agak terlambat. "Izinkan aku mengucapkan bagianku sekarang, Mademoiselle," Rigel menatap Goscinny dengan sorot mata penuh arti. "Rigel du Noir, your another fifth year Prefect starting from now on. Selamat datang di Slytherin, meski aku yakin partnerku ini sudah mengucapkannya tadi," suara berat pemuda tanggung itu mengalun renyah, diakhiri dengan seringai khasnya yang merekah perlahan. Sadar lencana Prefek-nya masih tergenggam di tangan kanannya—bukannya tersemat secara rapi di dada seperti Goscinny— "Ah, dan ini?" Rigel menjentikkannya ke udara, dan menangkapnya dengan sempurna— "lencana Prefek-ku, tapi kurasa tanpa memakai ini pun kedudukan Prefek tetap ada padaku, kan? Belajarlah untuk mengingat wajahku sebagai Prefek tanpa harus ditempeli lencana ini," ujarnya tangkas, memasukkan kembali lencananya ke dalam saku jubah, dan duduk.
Setahun lalu, dia masih termasuk dalam kelompok orang yang membenci kelompok Prefek tukang pamer tapi tak bisa apa-apa.
Kali ini, dia punya resiko dibenci orang lain karena dianggap sebagai Prefek tukang pamer yang tak bisa apa-apa.
Seperti Pavarell yang ternyata duduk dua anak dari seberangnya, kalau dia boleh menambahkan.
Tak percaya? Buktinya kedudukan Ketua Murid diserahkan pada Darah Lumpur Tukang Sepatu itu alih-alih Pavarell. Padahal Shoemaker bukanlah siapa-siapa di tahun sebelumnya. Bukan Prefek, juga bukan Kapten Quidditch. Sungguh memalukan.
"Ah, halo Senior Pavarell. Sedang merayakan ketidakberhasilanmu mendapatkan Lencana Ketua Murid? Kalau saja pemakainya sekarang bukanlah Darah-Lumpur, aku sudah bersulang dari tadi," ujarnya santai.
Ingatkan Rigel untuk waspada agar tidak bernasib sama seperti mantan Prefek dan mantan Beater di depannya itu.
Thread Pesta Awal Tahun Ajaran, Aula Besar, 1978. Post ke-1.
Interaksi dengan Voe Goscinny, Kane Dietritch Pavarell dan seluruh siswa di meja Slytherin.
Interaksi dengan Voe Goscinny, Kane Dietritch Pavarell dan seluruh siswa di meja Slytherin.
Labels: 1978, Aula Besar, Pesta Awal Tahun
Subscribe to:
Posts (Atom)