Showing posts with label 1977. Show all posts
Showing posts with label 1977. Show all posts
Rigel terus berjalan dan berjalan, matanya menatap lurus ke depan, tanpa melirik sedikitpun pada McFadden yang berjalan beriringan di sampingnya, meski tangannya masih menggenggam tangan kanan McFadden. See? Di mana lagi kau bisa menemukan pria yang begitu pengertian seperti Rigel? Dia tahu kalau McFadden masih terkejut dengan ciuman itu—kau bisa melihatnya dari ekspresi gadis itu yang seperti habis ditampar setelah ciuman itu berakhir—dan perlu waktu untuk menenangkan dirinya. Oh, Rigel juga tidak melupakan kalau McFadden membalas ciumannya dengan sama bergairahnya. Rigel tak melupakan pipi McFadden yang bersemu merah meski berekspresi seperti ingin menampar dirinya. Kesimpulannya: McFadden juga menyukai ciuman itu.
"Noir, about that dance," Kata-kata pertama yang keluar dari bibir gadis itu setelah mereka berciuman. Rigel akhirnya menoleh, mendapati kalau McFadden sudah meletakkan tangannya di atas pundak Rigel. Alisnya terangkat sebelah. Yakin ingin berdansa di sini, eh? Rigel tak keberatan, jelas. Meski dia lebih menyukai berdansa berdua saja di Ruang Rekreasi atau-Kamar Kebutuhan, mungkin? Siapa tahu dia bisa mendapatkan ciuman kedua. Rigel berayun mengikuti gerakan tubuh McFadden, musik yang sama sekali bukan musik waltz mengiringi dansa mereka. Sama sekali bukan masalah. Dengan cepat mereka berua bisa menyesuaikan rima dan tempo dengan musik yang dipersembahkan Klub Musik. Hm. Satu lagi kelebihan McFadden dibanding gadis-gadis lainnya. Gadis ini pintar berdansa.
"Monsieur Noir. That kiss—you will not do it again," Sebentuk senyuman tersungging di wajah Rigel. "A-hah, atau apa, Mademoiselle?" tantangnya. Or I'll make sure you will never see the sunrise again," Tolong jangan buat Rigel tertawa terbahak-bahak. Dia berbisik lirih ditelinga gadis itu, "Koreksi aku kalau aku salah, Mademoiselle, tapi—kau menyukainya—I can see that. Untuk apa mengekang dirimu sendiri kalau kau menginginkannya?" Rigel membalas ucapan gadis itu telak. Plaisez, dia Rigel du Noir. Kalah dari seorang perempuan tak ada dalam kamus seorang Rigel du Noir. "Kau akan menginginkannya lagi. Saat itu tiba, kau akan datang sendiri padaku," tambahnya lagi.
"Akhirnya kita berdansa juga di pesta Halloween, Monsieur Noir," senyuman manis mengiringi kata-katanya, membuat sebuah senyum di wajah Rigel merekah pelan. Kau tahu? Pergi bersama seorang senior ternyata bukanlah sebuah ide buruk. Malah, mungkin, bisa dibilang hampir sempurna. Ingatkan dia untuk memasukkan nama McFadden dalam daftar siapa-gadis-yang-harus-dia-ajak-untuk-jadi-pasangan kalau nanti sebuah pesta lain dilangsungkan. "Sebuah kehormatan bagiku bisa berdansa denganmu, Mademoiselle," jawab Rigel.
This is Halloween, this is Halloween
Halloween! Halloween! Halloween! Halloween!
Halloween! Halloween!
Yeah. Ini Halloween. Halloween seorang du Noir. Dia bersenang-senang dengan caranya.
Sepertinya hanya du Noir yang bisa merubah Halloween menjadi ajang Pesta Dansa.
"Noir, about that dance," Kata-kata pertama yang keluar dari bibir gadis itu setelah mereka berciuman. Rigel akhirnya menoleh, mendapati kalau McFadden sudah meletakkan tangannya di atas pundak Rigel. Alisnya terangkat sebelah. Yakin ingin berdansa di sini, eh? Rigel tak keberatan, jelas. Meski dia lebih menyukai berdansa berdua saja di Ruang Rekreasi atau-Kamar Kebutuhan, mungkin? Siapa tahu dia bisa mendapatkan ciuman kedua. Rigel berayun mengikuti gerakan tubuh McFadden, musik yang sama sekali bukan musik waltz mengiringi dansa mereka. Sama sekali bukan masalah. Dengan cepat mereka berua bisa menyesuaikan rima dan tempo dengan musik yang dipersembahkan Klub Musik. Hm. Satu lagi kelebihan McFadden dibanding gadis-gadis lainnya. Gadis ini pintar berdansa.
"Monsieur Noir. That kiss—you will not do it again," Sebentuk senyuman tersungging di wajah Rigel. "A-hah, atau apa, Mademoiselle?" tantangnya. Or I'll make sure you will never see the sunrise again," Tolong jangan buat Rigel tertawa terbahak-bahak. Dia berbisik lirih ditelinga gadis itu, "Koreksi aku kalau aku salah, Mademoiselle, tapi—kau menyukainya—I can see that. Untuk apa mengekang dirimu sendiri kalau kau menginginkannya?" Rigel membalas ucapan gadis itu telak. Plaisez, dia Rigel du Noir. Kalah dari seorang perempuan tak ada dalam kamus seorang Rigel du Noir. "Kau akan menginginkannya lagi. Saat itu tiba, kau akan datang sendiri padaku," tambahnya lagi.
"Akhirnya kita berdansa juga di pesta Halloween, Monsieur Noir," senyuman manis mengiringi kata-katanya, membuat sebuah senyum di wajah Rigel merekah pelan. Kau tahu? Pergi bersama seorang senior ternyata bukanlah sebuah ide buruk. Malah, mungkin, bisa dibilang hampir sempurna. Ingatkan dia untuk memasukkan nama McFadden dalam daftar siapa-gadis-yang-harus-dia-ajak-untuk-jadi-pasangan kalau nanti sebuah pesta lain dilangsungkan. "Sebuah kehormatan bagiku bisa berdansa denganmu, Mademoiselle," jawab Rigel.
This is Halloween, this is Halloween
Halloween! Halloween! Halloween! Halloween!
Halloween! Halloween!
Yeah. Ini Halloween. Halloween seorang du Noir. Dia bersenang-senang dengan caranya.
Sepertinya hanya du Noir yang bisa merubah Halloween menjadi ajang Pesta Dansa.
Thread Halloween Party, Dedalu Perkasa, 1977. Post ke-4.
Interaksi dengan yang disebutkan di atas. Song Credits: This Is Halloween.
Interaksi dengan yang disebutkan di atas. Song Credits: This Is Halloween.
Labels: 1977, Dedalu Perkasa, Halloween
"Pertanyaan apa yang tidak akan pernah bisa kalian jawab iya?"
Rigel terpekur memikirkannya. Well, untuk saat ini sebenarnya banyak hal yang tidak ingin dia jawab iya. Misalnya, bila dia ditanya apakah dia ingin tinggal di Rumah Hantu ini selamanya. Atau apakah dia bersedia berciuman dengan hantu pria berewokan itu di bawah mistletoe. Ew. Memikirkannya saja Rigel sudah ingin muntah. Masih ada sejuta orang lain yang lebih baik untuk dicium di bawah mistletoe selain pria tua pucat berewokan dengan bau menusuk dan... er, apa itu dagingnya yang mengelupas di wajahnya? Yucks. McFadden, misalnya. Speaking of that— Rigel mencuri pandang penuh arti pada gadis di sebelahnya itu. Sebuah seringai samar tak kentara terbentuk di wajahnya.
"Pertanyaan apa yang tidak akan pernah bisa kalian jawab iya?"
Tok, tok. Hello, Monsieur Rigel. Sebaiknya segera kembalikan pikiranmu ke alam nyata saat ini juga, karena apa? Karena kau sedang terjebak dengan indahnya di dalam sebuah ruangan aneh penuh ramuan yang pasti tak kalah anehnya bersama sesosok pria tua sinting yang dia masih belum yakin apakah itu hantu, poltergeist, mayat hidup, atau manusia. Bahkan McFadden pun setuju dan berkomentar tentang kalau orang itu gila, dan berdiri semakin rapat dengannya. Rigel mengerdipkan matanya pelan, dan kembali memikirkan pertanyaan pria tua itu. Ekor matanya menangkap sebentuk tengkorak di tangan si pria tua, dan—ergh. Mereka saling berbisik. Rigel memutar bola matanya. Rasanya seperti melihat dua orang gadis tukang gosip sedang berbisik-bisik berbagi gosip.
Kedua partnernya tak memberikan bantuan berarti dalam menjawab pertanyaan ini. Rigel mendengus kesal. Okelah, dia maklum kalau McFadden terdiam, mungkin saking ketakutannya gadis itu tak bisa berpikir apa-apa selain berkomentar kalau orang itu sudah gila. Tapi Reiflein? Oh, please. Kalau pemuda itu juga tak berbicara karena membeku saking ketakutannya, Rigel punya bahan tertawaan bagus untuk seluruh Slytherin sampai Chaser itu lulus dari Hogwarts. "Bantu berpikir apa jawaban yang dia minta, bisa kan? Kecuali kalau kalian ingin tinggal di sini selamanya," akhirnya kata-kata itu terucap dari mulut Rigel.
TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET!!
Suara panjang bel terdengar bergema di seluruh ruangan. Mau tak mau Rigel terkejut. Geez. Apa lagi ini? Suatu sinyal-kah? Sebab—Rigel mendapati pria tua dengan cengiran sinting di wajahnya itu tiba-tiba terjatuh dan tertidur. Alisnya terangkat sebelah. Apa ini berarti waktu bermain-main di Rumah Hantu sudah selesai, hm? Well, sayang sekali kalau begitu. Rasanya mereka baru saja akan memulai permainan. Apa ini karena mereka datang terlambat ke Pesta Halloween?
Rigel menyadari sebuah pintu tiba-tiba menjeblak terbuka di belakang si pria tua dengan cengiran sinting di wajahnya itu. Dan—oh! Mereka tiba-tiba bisa bergerak kembali. Sepertinya benar, kalau begitu. Sudah waktunya bagi mereka untuk keluar ruangan. Dia pun mendapati McFadden merangkul lengannya erat saat bunyi bel itu terdengar, dan buru-buru melepaskannya dengan gugup. Roda-roda otak Rigel berputar cepat. Sebelum McFadden sempat melangkah Rigel menarik lembut tangannya, melingkarkan tangan kanannya di pinggang ramping McFadden—dan menciumnya. Tepat di bibir.
Mm—not bad, batin Rigel. Yeah, kapan lagi dia bisa mencium bibir McFadden yang terkenal itu? Rigel yakin ini bukanlah ciuman pertama McFadden—ayolah, dia sudah kelas enam! Keterlaluan kalau belum pernah berciuman. Terutama tahun lalu, saat Pesta Dansa. Rasanya hampir semua pasangan, bahkan anak-anak ingusan yang masih kelas dua atau kelas tiga, sudah berciuman. Tak masalah. Toh ini pun bukan saat pertama baginya. Rigel tak mempermasalahkan dengan siapa McFadden pernah berciuman sebelumnya. Yang penting—saat ini McFadden adalah miliknya. Dan dia tidak salah memilih orang untuk dicium. Rigel memejamkan matanya, berusaha menghirup sebanyak mungkin aroma khas tubuhnya. He wants to capture the taste of her little delicate lips, forever. Rasa manis bibirnya membuat Rigel lupa kalau mereka sedang berada di dalam Rumah Hantu—oh, dan dengan Reiflein berdiri di samping mereka, menonton seluruh adegan ciuman mereka. Tapi—memangnya dia peduli?
And after some times that seems to be forever—they've broke. Wajah Rigel masih berada begitu dekat dengan McFadden, ujung hidungnya hampir menyentuh kulit lembut McFadden yang bagaikan kaca. Rigel menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma khas McFadden yang hampir membuatnya mabuk kepayang sebanyak-banyaknya. Tangan kanan Rigel menyentuh dagu McFadden, Ibu jarinya mengelus pelan bibir mungil gadis itu yang merekah merah. Sebentuk senyuman melengkung di wajahnya.
"There's something that we shouldn't missed under the mistletoe," katanya, tatapan matanya masih terkunci di kedua bola mata hitam milik McFadden. Dia kembali menggamit tangan McFadden, mengenggamnya lembut. Dia mengangguk saat McFadden mengajak mereka keluar, dan menarik tangan gadis itu. "Kau juga, Reiflein. Kecuali kalau kau masih ingin menemani pria tua sinting itu," katanya santai tanpa menoleh lagi ke arah Chaser Slytherin itu. Peduli setan kalaupun nanti dia marah. Bukan urusannya.
Dia mendapati sebuah selasar mirip dengan selasar sebelumnya terbentang di depan mereka. Rigel menyusuri selasar itu hingga mendapati sebuah tangga kayu reyot—menuruninya, kembali menyusuri lorong gelap berdebu penuh sarang laba-laba, hingga—akhirnya. Pintu keluar. Rigel memutar pegangannya yang sudah berkarat dan menariknya.
Udara malam terasa amat sangat segar setelah begitu lama terperangkap di dalam ruangan pengap penuh bau tidak jelas. Rigel menarik napasnya dalam-dalam, membersihkan kembali paru-parunya yang tercemar oleh bau bensin, debu, dan jamur di dalam rumah itu. Samar-samar terdengar suara sekelompok orang menyanyi. Ah, ya. Pesta masih belum selesai rupanya. Di depan mereka tampak sekelompok orang berkerumun, dengan sekelompok lain berdiri terpisah, memakai topeng di wajah mereka. Klub musik, eh? Rigel melirik kedua partnernya sekilas dan meneruskan berjalan menuju kerumunan itu.
"Parfummu wangi, McFadden. Cocok untukmu," ujarnya lirih di telinga gadis itu.
Rigel terpekur memikirkannya. Well, untuk saat ini sebenarnya banyak hal yang tidak ingin dia jawab iya. Misalnya, bila dia ditanya apakah dia ingin tinggal di Rumah Hantu ini selamanya. Atau apakah dia bersedia berciuman dengan hantu pria berewokan itu di bawah mistletoe. Ew. Memikirkannya saja Rigel sudah ingin muntah. Masih ada sejuta orang lain yang lebih baik untuk dicium di bawah mistletoe selain pria tua pucat berewokan dengan bau menusuk dan... er, apa itu dagingnya yang mengelupas di wajahnya? Yucks. McFadden, misalnya. Speaking of that— Rigel mencuri pandang penuh arti pada gadis di sebelahnya itu. Sebuah seringai samar tak kentara terbentuk di wajahnya.
"Pertanyaan apa yang tidak akan pernah bisa kalian jawab iya?"
Tok, tok. Hello, Monsieur Rigel. Sebaiknya segera kembalikan pikiranmu ke alam nyata saat ini juga, karena apa? Karena kau sedang terjebak dengan indahnya di dalam sebuah ruangan aneh penuh ramuan yang pasti tak kalah anehnya bersama sesosok pria tua sinting yang dia masih belum yakin apakah itu hantu, poltergeist, mayat hidup, atau manusia. Bahkan McFadden pun setuju dan berkomentar tentang kalau orang itu gila, dan berdiri semakin rapat dengannya. Rigel mengerdipkan matanya pelan, dan kembali memikirkan pertanyaan pria tua itu. Ekor matanya menangkap sebentuk tengkorak di tangan si pria tua, dan—ergh. Mereka saling berbisik. Rigel memutar bola matanya. Rasanya seperti melihat dua orang gadis tukang gosip sedang berbisik-bisik berbagi gosip.
Kedua partnernya tak memberikan bantuan berarti dalam menjawab pertanyaan ini. Rigel mendengus kesal. Okelah, dia maklum kalau McFadden terdiam, mungkin saking ketakutannya gadis itu tak bisa berpikir apa-apa selain berkomentar kalau orang itu sudah gila. Tapi Reiflein? Oh, please. Kalau pemuda itu juga tak berbicara karena membeku saking ketakutannya, Rigel punya bahan tertawaan bagus untuk seluruh Slytherin sampai Chaser itu lulus dari Hogwarts. "Bantu berpikir apa jawaban yang dia minta, bisa kan? Kecuali kalau kalian ingin tinggal di sini selamanya," akhirnya kata-kata itu terucap dari mulut Rigel.
TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET!!
Suara panjang bel terdengar bergema di seluruh ruangan. Mau tak mau Rigel terkejut. Geez. Apa lagi ini? Suatu sinyal-kah? Sebab—Rigel mendapati pria tua dengan cengiran sinting di wajahnya itu tiba-tiba terjatuh dan tertidur. Alisnya terangkat sebelah. Apa ini berarti waktu bermain-main di Rumah Hantu sudah selesai, hm? Well, sayang sekali kalau begitu. Rasanya mereka baru saja akan memulai permainan. Apa ini karena mereka datang terlambat ke Pesta Halloween?
Rigel menyadari sebuah pintu tiba-tiba menjeblak terbuka di belakang si pria tua dengan cengiran sinting di wajahnya itu. Dan—oh! Mereka tiba-tiba bisa bergerak kembali. Sepertinya benar, kalau begitu. Sudah waktunya bagi mereka untuk keluar ruangan. Dia pun mendapati McFadden merangkul lengannya erat saat bunyi bel itu terdengar, dan buru-buru melepaskannya dengan gugup. Roda-roda otak Rigel berputar cepat. Sebelum McFadden sempat melangkah Rigel menarik lembut tangannya, melingkarkan tangan kanannya di pinggang ramping McFadden—dan menciumnya. Tepat di bibir.
Mm—not bad, batin Rigel. Yeah, kapan lagi dia bisa mencium bibir McFadden yang terkenal itu? Rigel yakin ini bukanlah ciuman pertama McFadden—ayolah, dia sudah kelas enam! Keterlaluan kalau belum pernah berciuman. Terutama tahun lalu, saat Pesta Dansa. Rasanya hampir semua pasangan, bahkan anak-anak ingusan yang masih kelas dua atau kelas tiga, sudah berciuman. Tak masalah. Toh ini pun bukan saat pertama baginya. Rigel tak mempermasalahkan dengan siapa McFadden pernah berciuman sebelumnya. Yang penting—saat ini McFadden adalah miliknya. Dan dia tidak salah memilih orang untuk dicium. Rigel memejamkan matanya, berusaha menghirup sebanyak mungkin aroma khas tubuhnya. He wants to capture the taste of her little delicate lips, forever. Rasa manis bibirnya membuat Rigel lupa kalau mereka sedang berada di dalam Rumah Hantu—oh, dan dengan Reiflein berdiri di samping mereka, menonton seluruh adegan ciuman mereka. Tapi—memangnya dia peduli?
And after some times that seems to be forever—they've broke. Wajah Rigel masih berada begitu dekat dengan McFadden, ujung hidungnya hampir menyentuh kulit lembut McFadden yang bagaikan kaca. Rigel menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma khas McFadden yang hampir membuatnya mabuk kepayang sebanyak-banyaknya. Tangan kanan Rigel menyentuh dagu McFadden, Ibu jarinya mengelus pelan bibir mungil gadis itu yang merekah merah. Sebentuk senyuman melengkung di wajahnya.
"There's something that we shouldn't missed under the mistletoe," katanya, tatapan matanya masih terkunci di kedua bola mata hitam milik McFadden. Dia kembali menggamit tangan McFadden, mengenggamnya lembut. Dia mengangguk saat McFadden mengajak mereka keluar, dan menarik tangan gadis itu. "Kau juga, Reiflein. Kecuali kalau kau masih ingin menemani pria tua sinting itu," katanya santai tanpa menoleh lagi ke arah Chaser Slytherin itu. Peduli setan kalaupun nanti dia marah. Bukan urusannya.
Dia mendapati sebuah selasar mirip dengan selasar sebelumnya terbentang di depan mereka. Rigel menyusuri selasar itu hingga mendapati sebuah tangga kayu reyot—menuruninya, kembali menyusuri lorong gelap berdebu penuh sarang laba-laba, hingga—akhirnya. Pintu keluar. Rigel memutar pegangannya yang sudah berkarat dan menariknya.
Udara malam terasa amat sangat segar setelah begitu lama terperangkap di dalam ruangan pengap penuh bau tidak jelas. Rigel menarik napasnya dalam-dalam, membersihkan kembali paru-parunya yang tercemar oleh bau bensin, debu, dan jamur di dalam rumah itu. Samar-samar terdengar suara sekelompok orang menyanyi. Ah, ya. Pesta masih belum selesai rupanya. Di depan mereka tampak sekelompok orang berkerumun, dengan sekelompok lain berdiri terpisah, memakai topeng di wajah mereka. Klub musik, eh? Rigel melirik kedua partnernya sekilas dan meneruskan berjalan menuju kerumunan itu.
"Parfummu wangi, McFadden. Cocok untukmu," ujarnya lirih di telinga gadis itu.
Labels: 1977, Dedalu Perkasa, Halloween
Boleh saja McFadden menyembunyikan wajahnya dengan alibi apapun. Boleh saja McFadden menyembunyikannya di balik tawa kecil yang dia perdengarkan. Mata Rigel yang jeli tetap dapat menangkap rona kemerahan yang menyemburat di kedua pipi pucatnya sebagai respon atas perkataan Rigel sebelumnya. Bibir Rigel melengkung, membentuk sebuah seringai penuh arti sembari matanya tertuju pada Rumah Hantu yang akan mereka masuki. Tanpa memandang lagi pada McFadden, mereka menuju Rumah Hantu dengan tangan kanan McFadden tergenggam mantap di tangan kirinya.
Langkah mereka terhenti saat sebuah suara memanggil nama McFadden. Atsuko Reiflein, Chaser Slytherin, tahun keenam. Well, kebetulan saja Rigel tahu
, namanya disebut tiga kali dalam setahun di lapangan Quidditch yang selalu dia kunjungi setiap pertandingan. Dia tidak pikun, please. Rigel menaikkan alis kirinya melihat penampilan Reiflein. Persis orang yang baru sadar dari mabuk dan tak ingat dia sedang berada di mana dan sedang melakukan apa. Ditambah kostumnya yang sama sekali tidak sesuai dengan tema, membuat dia semakin terlihat memiliki gangguan otak.
"Euh.. Noir. Apa kau tidak apa-apa jika Atsuko ikut bersama kita?" Rigel mengedikkan bahunya isyarat tidak-apa-silakan-saja-asal-dia-tidak-mengacau-atau-apalah. Oh, yeah. Reputasi Reiflein—terutama di kalangan para Slytherin—lebih daripada sekedar Chaser Tim Quidditch Slytherin. Kau tahu apa maksudnya. "Ayo masuk. Kita tidak diharapkan untuk berdiri terus di sini sampai pagi," tambah Rigel. Sempat tertangkap ekor matanya McFadden yang menggamit lengan Reiflein. Rigel kembali menaikkan sebelah alisnya sebelum dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak bersikap berlebihan. Avance. Jangan biarkan siapapun membuatmu bertindak norak dan memalukan di depan umum.
Udara di dalam Rumah hantu lembap dan apak. Sarang laba-laba menggantung dimana-mana, kertas pelapis dinding terkelupas, menampakkan permukaan plester pelapis, hancur di beberapa bagian, memperlihatkan bata penyusun. SUmber penerangan hanya dari beberapa batang lilin yang menyala di tempat lilin yang menempel di dinding. Rigel menaikkan sebelah alisnya. Begitu bodohnyakah para panitia hingga mereka tak diperbolehkan memakai Lumos, dan diharapkan meraba-raba dalam kegelapan? Oh, please.
Rigel bisa merasakan McFadden bergerak agak ke belakang saat mereka berjalan masuk. Tangan kirinya meremas lembut tangan kanan McFadden, meyakinkannya kalau tak akan ada hal buruk yang terjadi. Apa sih yang bisa disediakan sekumpulan cecunguk berusia tak lebih dari tiga belas tahun? Well, harus dia akui set Rumah Hantu dan segala kuburan serta aksesorisnya ini cukup lumayan. Tapi Rigel tidak berharap lebih dari itu.
Mereka terus berjalan, sesekali mencoba membuka beberapa pintu yang tertutup. Beberapa terkunci, beberapa jelas-jelas terdengar jeritan atau apalah, menandakan kelompok lain ada di dalam. Berjalan semakin jauh dan semakin jauh, mereka akhirnya tiba di depan sebuah tangga yang sepertinya menuju ke lantai dua. Rigel melirik kedua teman sekelompoknya, memberi tanda naik-saja-atau-kita-lumutan-di-sini. Hati-hati, Rigel melangkah naik. Tangga kayu reyot itu berderak setiap kali kakinya menapak. Rien. Jangan sampai tangganya ambruk saat mereka masih menaikinya.
Sebuah koridor panjang dan gelap, dengan kondisi hampir sama seperti lantai di bawah terbentang begitu mereka tiba di lantai dua. Ralat. Agak sedikit berbeda. Udara di sini sedikit tercampur bau cairan pembersih murahan, serta bau sesuatu yang dia kenali sebagai bau bensin. Bahan bakar untuk kendaraan Muggle, yeah, tentu saja dia tahu, dari mana lagi kalau bukan dari Père-nya yangtercinta? Bau bensin itu semakin lama semakin kuat saat mereka berjalan, hingga tiba di ujung koridor dimana terdapat pintu kayu dengan handle berkarat. Mengerling pada kedua partnernya, Rigel membuka pintu itu.
Bau bensin dan cairan pembersih murahan menyengat begitu mereka masuk. Jadi sumber bau itu dari sini? Berbeda dengan ruangan di bawah, dinding dan lantai ruangan ini dari batu hitam licin berlumut. Rak-rak kayu reyot berjejalan miring, dimuati guci dan botol pelbagai ukuran. Rigel hampir muntah melihat sesuatu yang tergantung di dinding di samping kirinya. Foto Potter?! Yang benar saja! Berikutnya apa, muncul di cover buku Hewan-Hewan Fantastis dan Di Mana Mereka Bisa Ditemukan? Sepertinya iya. Potter sudah dikategorikan sebagai dark creatures dengan dipasangnya foto dirinya di RUmah Hantu.
Rigel merasakan tangan McFadden bergelayut di lengan bajunya. Mulai ketakutan, eh? Rigel meremas lagi tangan McFadden, menenangkannya. "Tenanglah, tak perlu ketakutan. Kau bersama dua orang pria yang bisa melindungimu kalau ada apa-apa," ujarnya. Dia kemudian merangkul McFadden sesaat. "Jangan jauh-jauh dariku," tambahnya karena McFadden semakin mundur. Rigel terpaksa berhenti sejenak, menyesuaikan langkahnya dengan McFadden. Saat kakinya kembali hendak melangkah, ingin memeriksa isi ruang—
TUNGGU DULU! Kenapa dia tiba-tiba tak bisa bergerak?! Matanya nanar menyisir seluruh isi ruangan. Tak ada apapun yang aneh. Memutuskan untuk mendongak ke atas, Rigel mendapati sesuatu ebrgelantungan di seluruh langit-langit. Dia tertawa hampa menyadari apa itu. Mistletoe. YANG BENAR SAJA! Dasar anak-anak ingusan tak berotak! Ini Halloween atau Pesta Natal?!
Dia tersentak saat sesosok pria dengan seluruh rambut di kepalanya tumbuh tak beraturan serta mencuat kemana-mana (baca: rambut, kumis, jenggot, cambang, bahkan mungkin bulu hidungnya juga) tiba-tiba muncul di hadapan mereka, mengaduk sesuatu yang menguarkan asap tipis membubung. Sekilas Rigel yakin dia mencium wangi bunga yang sebelum nya pernah dia cium. Tapi dia tak ingat bunga apa dan di mana. Rigel menggelengkan kepalanya pelan. Untuk apa dipikirkan, heh?
Pria itu menatap mereka dengan tatapan aneh disertai seringai mengerikan. Rigel riba-riba merasa jengah ditatap begitu lama oleh seseorang yang nampaknya adalah hantu. Telunjuk pria itu tiba-tiba menunjuk ke arah salah satu dinding. Rigel mengayunkan pandangannya: sebuah tulisan yang nampaknya terbuat dari darah—Rigel yakin masih melihat tulisannya mengalir.
Rigel mengerutkan keningnya. "Maksudnya kita harus menjawab pertanyaan itu?" tanya Rigel pada kedua rekannya. Terus terang dia bingung. Ini benar-benar di luar dugaannya. Tadinya dia mengira akan ditakut-takuti dengan sejumlah hantu norak. Dia sama sekali tidak mengira para hantu itu akan memberi mereka pertanyaan. Pertanyaan yang tak akan bisa kujawab iya? Pertanyaan macam apa itu? "Pertanyaannya menjebak. Bagaimana menurut kalian?" kembali Rigel bertanya pada kedua rekannya.
Langkah mereka terhenti saat sebuah suara memanggil nama McFadden. Atsuko Reiflein, Chaser Slytherin, tahun keenam. Well, kebetulan saja Rigel tahu
, namanya disebut tiga kali dalam setahun di lapangan Quidditch yang selalu dia kunjungi setiap pertandingan. Dia tidak pikun, please. Rigel menaikkan alis kirinya melihat penampilan Reiflein. Persis orang yang baru sadar dari mabuk dan tak ingat dia sedang berada di mana dan sedang melakukan apa. Ditambah kostumnya yang sama sekali tidak sesuai dengan tema, membuat dia semakin terlihat memiliki gangguan otak. "Euh.. Noir. Apa kau tidak apa-apa jika Atsuko ikut bersama kita?" Rigel mengedikkan bahunya isyarat tidak-apa-silakan-saja-asal-dia-tidak-mengacau-atau-apalah. Oh, yeah. Reputasi Reiflein—terutama di kalangan para Slytherin—lebih daripada sekedar Chaser Tim Quidditch Slytherin. Kau tahu apa maksudnya. "Ayo masuk. Kita tidak diharapkan untuk berdiri terus di sini sampai pagi," tambah Rigel. Sempat tertangkap ekor matanya McFadden yang menggamit lengan Reiflein. Rigel kembali menaikkan sebelah alisnya sebelum dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak bersikap berlebihan. Avance. Jangan biarkan siapapun membuatmu bertindak norak dan memalukan di depan umum.
Udara di dalam Rumah hantu lembap dan apak. Sarang laba-laba menggantung dimana-mana, kertas pelapis dinding terkelupas, menampakkan permukaan plester pelapis, hancur di beberapa bagian, memperlihatkan bata penyusun. SUmber penerangan hanya dari beberapa batang lilin yang menyala di tempat lilin yang menempel di dinding. Rigel menaikkan sebelah alisnya. Begitu bodohnyakah para panitia hingga mereka tak diperbolehkan memakai Lumos, dan diharapkan meraba-raba dalam kegelapan? Oh, please.
Rigel bisa merasakan McFadden bergerak agak ke belakang saat mereka berjalan masuk. Tangan kirinya meremas lembut tangan kanan McFadden, meyakinkannya kalau tak akan ada hal buruk yang terjadi. Apa sih yang bisa disediakan sekumpulan cecunguk berusia tak lebih dari tiga belas tahun? Well, harus dia akui set Rumah Hantu dan segala kuburan serta aksesorisnya ini cukup lumayan. Tapi Rigel tidak berharap lebih dari itu.
Mereka terus berjalan, sesekali mencoba membuka beberapa pintu yang tertutup. Beberapa terkunci, beberapa jelas-jelas terdengar jeritan atau apalah, menandakan kelompok lain ada di dalam. Berjalan semakin jauh dan semakin jauh, mereka akhirnya tiba di depan sebuah tangga yang sepertinya menuju ke lantai dua. Rigel melirik kedua teman sekelompoknya, memberi tanda naik-saja-atau-kita-lumutan-di-sini. Hati-hati, Rigel melangkah naik. Tangga kayu reyot itu berderak setiap kali kakinya menapak. Rien. Jangan sampai tangganya ambruk saat mereka masih menaikinya.
Sebuah koridor panjang dan gelap, dengan kondisi hampir sama seperti lantai di bawah terbentang begitu mereka tiba di lantai dua. Ralat. Agak sedikit berbeda. Udara di sini sedikit tercampur bau cairan pembersih murahan, serta bau sesuatu yang dia kenali sebagai bau bensin. Bahan bakar untuk kendaraan Muggle, yeah, tentu saja dia tahu, dari mana lagi kalau bukan dari Père-nya yangtercinta? Bau bensin itu semakin lama semakin kuat saat mereka berjalan, hingga tiba di ujung koridor dimana terdapat pintu kayu dengan handle berkarat. Mengerling pada kedua partnernya, Rigel membuka pintu itu.
Bau bensin dan cairan pembersih murahan menyengat begitu mereka masuk. Jadi sumber bau itu dari sini? Berbeda dengan ruangan di bawah, dinding dan lantai ruangan ini dari batu hitam licin berlumut. Rak-rak kayu reyot berjejalan miring, dimuati guci dan botol pelbagai ukuran. Rigel hampir muntah melihat sesuatu yang tergantung di dinding di samping kirinya. Foto Potter?! Yang benar saja! Berikutnya apa, muncul di cover buku Hewan-Hewan Fantastis dan Di Mana Mereka Bisa Ditemukan? Sepertinya iya. Potter sudah dikategorikan sebagai dark creatures dengan dipasangnya foto dirinya di RUmah Hantu.
Rigel merasakan tangan McFadden bergelayut di lengan bajunya. Mulai ketakutan, eh? Rigel meremas lagi tangan McFadden, menenangkannya. "Tenanglah, tak perlu ketakutan. Kau bersama dua orang pria yang bisa melindungimu kalau ada apa-apa," ujarnya. Dia kemudian merangkul McFadden sesaat. "Jangan jauh-jauh dariku," tambahnya karena McFadden semakin mundur. Rigel terpaksa berhenti sejenak, menyesuaikan langkahnya dengan McFadden. Saat kakinya kembali hendak melangkah, ingin memeriksa isi ruang—
TUNGGU DULU! Kenapa dia tiba-tiba tak bisa bergerak?! Matanya nanar menyisir seluruh isi ruangan. Tak ada apapun yang aneh. Memutuskan untuk mendongak ke atas, Rigel mendapati sesuatu ebrgelantungan di seluruh langit-langit. Dia tertawa hampa menyadari apa itu. Mistletoe. YANG BENAR SAJA! Dasar anak-anak ingusan tak berotak! Ini Halloween atau Pesta Natal?!
Dia tersentak saat sesosok pria dengan seluruh rambut di kepalanya tumbuh tak beraturan serta mencuat kemana-mana (baca: rambut, kumis, jenggot, cambang, bahkan mungkin bulu hidungnya juga) tiba-tiba muncul di hadapan mereka, mengaduk sesuatu yang menguarkan asap tipis membubung. Sekilas Rigel yakin dia mencium wangi bunga yang sebelum nya pernah dia cium. Tapi dia tak ingat bunga apa dan di mana. Rigel menggelengkan kepalanya pelan. Untuk apa dipikirkan, heh?
Pria itu menatap mereka dengan tatapan aneh disertai seringai mengerikan. Rigel riba-riba merasa jengah ditatap begitu lama oleh seseorang yang nampaknya adalah hantu. Telunjuk pria itu tiba-tiba menunjuk ke arah salah satu dinding. Rigel mengayunkan pandangannya: sebuah tulisan yang nampaknya terbuat dari darah—Rigel yakin masih melihat tulisannya mengalir.
"Pertanyaan apa yang tidak akan pernah kalian bisa jawab iya?"
Rigel mengerutkan keningnya. "Maksudnya kita harus menjawab pertanyaan itu?" tanya Rigel pada kedua rekannya. Terus terang dia bingung. Ini benar-benar di luar dugaannya. Tadinya dia mengira akan ditakut-takuti dengan sejumlah hantu norak. Dia sama sekali tidak mengira para hantu itu akan memberi mereka pertanyaan. Pertanyaan yang tak akan bisa kujawab iya? Pertanyaan macam apa itu? "Pertanyaannya menjebak. Bagaimana menurut kalian?" kembali Rigel bertanya pada kedua rekannya.
Labels: 1977, Dedalu Perkasa, Halloween
Sungguh tidak seharusnya pesta seorang Rigel du Noir terganggu hanya karena melihat dia pergi dengan orang lain, bukan dengannya. Come on, Rigel. Apa yang harus kau keluhkan? Kau pergi dengan gadis yang tak kalah hebatnya dengan dia! Yeah. Gadis yang dia ajak atas nama kenekatan. Sepertinya atmosfer Bulan Oktober memang sedang merasuki otaknya kali ini, karena dia melakukan kegilaan itu. Mempertaruhkan harga dirinya dengan mengajak seorang gadis yang bukan hanya dua tingkat di atasnya, tapi juga tidak begitu akrab dengannya.
Seharusnya dia sadar, Halloween tidak sama dengan Pesta Dansa. Seharusnya kata-kata itu tercetak besar-besar di dalam otak Rigel. Mengikuti standar kalangan umum, Halloween seharusnya waktu untuk bersenang-senang dan menggila, bukan untuk berdansa atau ber-romantis ria. But, hey! Lupakah kau kalau yang sedang kita bicarakan di sini adalah Rigel? Karena—dia—adalah—Rigel du Noir.* Pergi dengan para gadis juga merupakan salah satu cara untuk bersenang-senang. Dan menggila. Jadi, nikmati sajalah. Tidak semua orang bisa berhasil mengajak seorang gadis cantik terpelajar. Terlebih kalau dia lebih tua dua tahun darimu. And he must say, Recha McFadden tak sama seperti para gadis kebanyakan.
"Beautiful as always, Mademoiselle. Tak salah aku memintamu untuk pergi bersamaku ke Pesta Halloween. Bolehkah aku mengharapkan satu dansa setelah pesta selesai?" sebuah sapaan, diikuti oleh seulas senyum memuji, tak lupa kecupan ringan di atas punggung tangan kanan si gadis. McFadden menanggapi dengan senyuman, semburat kemerahan muncul di pipinya, membuatnya semakin manis. Sudut bibir Rigel tersungging kecil.
"About the dance. Menurutmu kita akan berdansa dengan lagu hantu?"
"Berdansa berdua saja, maksudku," Rigel menekankan kata-katanya, matanya menatap dalam kedua bola mata hitam itu. Berusaha membuatnya mengerti. Ya, ya, tak mungkin kan mereka menyelipkan satu sesi dansa di Pesta Halloween? Rigel tak yakin anak-anak itu termasuk golongan orang-orang yang senang berdansa.
Sepertinya tidak buruk juga pergi dengan McFadden. Gadis ini tahu tata krama, serta terpelajar. Bukan seperti gadis-gadis kebanyakan. Dia bersiul dalam hatinya. Yeah. Spesial.
Cukup untuk membuatnya melupakan amarah menggelegak yang sesaat dirasakannya saat melihat dia pergi dengan orang lain. Benar juga. Nikmati sajalah.
Rigel tersenyum tipis mendengar tanggapan McFadden saat dia meminjamkan jubahnya. "Yeah, di dalam Kastil jauh lebih hangat, wajar kalau kau tak sadar. Nevermind, kau bisa melepasnya kalau kepanasan di dalam Rumah Hantu nanti," timpalnya. Dia kembali tertawa mendengar tanggapan McFadden tentang candaannya. "Tak mungkin Dumbledore mengizinkan mereka memasukkan Dementor ke sekolah," jawabnya ringan. Oh, please. Dumbledore terlalu baik hati untuk hal itu. "Takut padamu, hm? Aku tak merasa begitu. Takut menghadapi kenyataan kalau mereka sudah mati sementara kau masih hidup, cantik, dan pergi dengan pasangan setampan diriku, mungkin iya," tambah Rigel lagi. Dia menggamit lengan McFadden, dan bersama mereka masuk.
"Be ready, then."
Seharusnya dia sadar, Halloween tidak sama dengan Pesta Dansa. Seharusnya kata-kata itu tercetak besar-besar di dalam otak Rigel. Mengikuti standar kalangan umum, Halloween seharusnya waktu untuk bersenang-senang dan menggila, bukan untuk berdansa atau ber-romantis ria. But, hey! Lupakah kau kalau yang sedang kita bicarakan di sini adalah Rigel? Karena—dia—adalah—Rigel du Noir.* Pergi dengan para gadis juga merupakan salah satu cara untuk bersenang-senang. Dan menggila. Jadi, nikmati sajalah. Tidak semua orang bisa berhasil mengajak seorang gadis cantik terpelajar. Terlebih kalau dia lebih tua dua tahun darimu. And he must say, Recha McFadden tak sama seperti para gadis kebanyakan.
"Beautiful as always, Mademoiselle. Tak salah aku memintamu untuk pergi bersamaku ke Pesta Halloween. Bolehkah aku mengharapkan satu dansa setelah pesta selesai?" sebuah sapaan, diikuti oleh seulas senyum memuji, tak lupa kecupan ringan di atas punggung tangan kanan si gadis. McFadden menanggapi dengan senyuman, semburat kemerahan muncul di pipinya, membuatnya semakin manis. Sudut bibir Rigel tersungging kecil.
"About the dance. Menurutmu kita akan berdansa dengan lagu hantu?"
"Berdansa berdua saja, maksudku," Rigel menekankan kata-katanya, matanya menatap dalam kedua bola mata hitam itu. Berusaha membuatnya mengerti. Ya, ya, tak mungkin kan mereka menyelipkan satu sesi dansa di Pesta Halloween? Rigel tak yakin anak-anak itu termasuk golongan orang-orang yang senang berdansa.
Sepertinya tidak buruk juga pergi dengan McFadden. Gadis ini tahu tata krama, serta terpelajar. Bukan seperti gadis-gadis kebanyakan. Dia bersiul dalam hatinya. Yeah. Spesial.
Cukup untuk membuatnya melupakan amarah menggelegak yang sesaat dirasakannya saat melihat dia pergi dengan orang lain. Benar juga. Nikmati sajalah.
Rigel tersenyum tipis mendengar tanggapan McFadden saat dia meminjamkan jubahnya. "Yeah, di dalam Kastil jauh lebih hangat, wajar kalau kau tak sadar. Nevermind, kau bisa melepasnya kalau kepanasan di dalam Rumah Hantu nanti," timpalnya. Dia kembali tertawa mendengar tanggapan McFadden tentang candaannya. "Tak mungkin Dumbledore mengizinkan mereka memasukkan Dementor ke sekolah," jawabnya ringan. Oh, please. Dumbledore terlalu baik hati untuk hal itu. "Takut padamu, hm? Aku tak merasa begitu. Takut menghadapi kenyataan kalau mereka sudah mati sementara kau masih hidup, cantik, dan pergi dengan pasangan setampan diriku, mungkin iya," tambah Rigel lagi. Dia menggamit lengan McFadden, dan bersama mereka masuk.
"Be ready, then."
Labels: 1977, Dedalu Perkasa, Halloween
Pesta Halloween, hm? Merayakan hari yang, menurut sejarah, sebenarnya adalah hari dimana roh para orang mati turun ke bumi. Semua orang yang masih hidup memakai kostum hantu,
berusaha membuat para roh orang mati tersebut mengira mereka adalah bagian dari para roh, sehingga terbebas dari gangguan. Entah kenapa Rigel tak pernah bisa menganggap hal itu sebagai sesuatu yang serius. Alih-alih, amat sangat konyol. Yang benar saja. Anak usia lima tahun juga tahu kalau sekali lihat saja manusia dan hantu itu berbeda. Atau mungkin, setelah jadi roh tingkat kecerdasan mereka menurun hingga tak bisa membedakan sesama roh dengan manusia hidup? Mungkin. Mana dia tahu, dia kan belum pernah jadi roh? Setahunya, Baron Berdarah tidak kehilangan keagungan dan wibawa yang dimilikinya semasa dia hidup, meski dia sudah jadi roh. Atau hantu, menurut bahasa awamnya. Tidak seperti Peeves yang sudah kehilangan otak. Oh, ralat. Peeves Poltergeist, bukan hantu.
Jangan bertanya kenapa benak Rigel langsung melayang kemana-mana. Dia sendiri tak tahu kenapa benaknya lebih sering melayang tanpa izin akhir-akhir ini. Dan lagi —mimpi buruk. Ya. Setiap malam mimpi demi mimpi yang menggelisahkan bergiliran menghantui tidurnya. Terasa begitu jelas hingga membuatnya lelah dalam tidurnya, dan menguap secepat embun pagi saat dia membuka mata. Sudah berapa lama? Seminggu? Dua minggu? Entahlah, dia tak menghitung. Apa katamu? Karena atmosfer bulan Oktober yang menyeramkan? Oh, simpan pikiranmu. Seorang pemuda tegap seperti Rigel yang mendapatkan ruang bawah tanah dengan koridor batu lembap dan suram sebagai tempat tinggalnya sebagai empat tahun terakhir, kini terkena efek samping dari aura Bulan Oktober yang kau bilang menyeramkan? Peeves bakal lebih dulu jadi Menteri Sihir sebelum itu terjadi—
Okay, STOP! Geez, Rigel, tak sadarkah kau sedang berada di mana dan dengan siapa? Tengok ke sampingmu kalau kau lupa sedang bersama siapa, yang jelas kau-tidak-sendirian. Atau setidaknya ini sudah memasuki waktu yang mereka janjikan untuk bertemu dan berangkat bersama dari Ruang Rekreasi Asrama Slytherin ke Pesta Halloween sebagai satu grup. Grup? Rigel mengangkat alisnya. Setahunya baru ada dia dengan gadis itu di grupnya. Entah apakah itu bisa disebut grup. Tapi, apa menurutmu Rigel akan peduli? Yang penting dia bisa bersenang-senang. Dia butuh bersenang-senang untuk mengalihkan pikirannya dari firasat buruk yang selalu menghantuinya.
"Beautiful as always, Mademoiselle. Tak salah aku memintamu untuk pergi bersamaku ke Pesta Halloween. Bolehkah aku mengharapkan satu dansa setelah pesta selesai?" sebuah sapaan, diikuti oleh seulas senyum memuji, tak lupa kecupan ringan di atas punggung tangan kanan si gadis. "Shall we go now, Miss McFadden?" kali ini, sikunya terulur otomatis. Okay, okay. Dia tahu ini Pesta Halloween, bukannya pesta dansa. Dia sadar dandanan mereka berdua lebih mirip pakaian yang dikenakan para putri dan pangeran saat pesta dibanding kostum Halloween (Termasuk pedang panjang di pinggangnya. Dia jadi rindu berlatih pedang. Sudah berapa lama keahliannya tak diasah?). Salahkan para panitia yang melarang mereka mengenakan kostum hantu, kalau begitu. Well, tapi dia harus bersyukur Mère-nya tidak mengirimkan pakaian yang terlalu aneh. Kemeja plus tunik kulit berwarna cokelat-lithium, celana kulit, ditambah jubah dan pedang, membuatnya benar-benar terlihat seperti pangeran. Yeah. Dia kan Pangeran keluarga Noir.. Oh, dan jangan lupakan tongkat sihirnya. Pikirmu Rigel lupa identitasnya sebagai penyihir? Seorang penyihir tak akan pernah meninggalkan tongkat sihirnya sembarangan.
Walking hand in hand with a magnificent woman, in a magnificent attributes. Semua yang melihat juga mengira mereka akan pergi ke Pesta Dansa. Atau bergosip ria untuk mereka yang menyadari siapa gadis yang berjalan bersamanya ini. Berani taruhan, mereka bergosip tentang dirinya, yang baru kelas empat, pergi dengan anak kelas enam. Comme si il s'inquiète. Belum tentu Merlin Yang Agung sendiri tahu kenapa Rigel berpikir akan mengajak anak perempuan pertama yang tertangkap oleh ekor matanya saat dia membaca pengumuman Pesta Halloween di Papan Pengumuman Slytherin Common Room.
Udara dingin menusuk tulang menyambut mereka begitu melangkahkan kaki di pelataran Kastil. Rigel melirik McFadden yang hanya mengenakan sehelai gaun, tanpa mantel atau apapun. "Tak membawa mantelmu, McFadden? Ini hampir penghujung musim gugur," ujar Rigel. Dia menghentikan langkahnya, dan membuka simpul tali emas pengikat jubahnya, dan menyampirkannya ke sekeliling bahu gadis itu. "Forgive my rudeness of not remind you about this weather before we go," katanya.
Atau mungkin, nasib sudah sengaja mengaturnya agar saat itu hanya melihat McFadden di depannya, dan mengajak gadis itu? Entahlah. Rigel malas memikirkannya. Terlalu banyak hal lain yang juga memerlukan perhatiannya. Saat ini, misalnya. Dimana mereka telah tiba di tempat Pesta, tepatnya beberapa puluh meter dari Dedalu Perkasa. Rigel terkejut sendiri melihat tempat itu sudah berubah begitu drastis. RUmah hantu, tanah pekuburan, tumpukan Jack-O-Lantern, bahkan kelelawar hidup. Okay. Meski panitia terdiri dari anak-anak yang masih bau kencur, patut dia akui dekorasinya bagus.
Alis Rigel sedikit terangkat saat mendengar mereka diharuskan masuk ke dalam Rumah Hantu itu. Terlebih, dilarang menggunakan tongkat sihir. Well, membawa bukan berarti menggunakan, kan? Lagipula tak akan ada yang melihat tongkat sihirnya tersembunyi di dalam kantung khusus di sarung pedangnya. Dia melirik McFadden yang berjalan beriringan dengannya.
"Tanpa tongkat sihir, eh? Yah, kurasa apapun yang ada di dalam sana sudah cukup gentar dengan pedang," ujarnya mengomentari perkataan MC. "Kurasa lebih baik kita masuk sekarang. Kau tak takut hantu, kan?" Rigel mengedip di akhir kalimatnya, sedikit menggoda Seniornya itu. Melangkah beriringan, mereka memasuki Rumah Hantu—
Itu Jane, kan? Pikiran Rigel langsung teralih. Jane. Dengan dia. Rahang Rigel mengeras sesaat. Monsieur Rigel, sebaiknya kau tidak melupakan kau sedang bersama siapa sekarang. Oh, dia tidak lupa kalau dia sedang bersama McFadden, jelas. Rigel gentleman sejati. Dia tak akan mengecewakan siapapun wanita yang sedang bersamanya. Hanya saja—
Merasa sedikit kesepian, boleh, kan?
- Comme si il s'inquiète = Kayak dia peduli saja.
berusaha membuat para roh orang mati tersebut mengira mereka adalah bagian dari para roh, sehingga terbebas dari gangguan. Entah kenapa Rigel tak pernah bisa menganggap hal itu sebagai sesuatu yang serius. Alih-alih, amat sangat konyol. Yang benar saja. Anak usia lima tahun juga tahu kalau sekali lihat saja manusia dan hantu itu berbeda. Atau mungkin, setelah jadi roh tingkat kecerdasan mereka menurun hingga tak bisa membedakan sesama roh dengan manusia hidup? Mungkin. Mana dia tahu, dia kan belum pernah jadi roh? Setahunya, Baron Berdarah tidak kehilangan keagungan dan wibawa yang dimilikinya semasa dia hidup, meski dia sudah jadi roh. Atau hantu, menurut bahasa awamnya. Tidak seperti Peeves yang sudah kehilangan otak. Oh, ralat. Peeves Poltergeist, bukan hantu.Jangan bertanya kenapa benak Rigel langsung melayang kemana-mana. Dia sendiri tak tahu kenapa benaknya lebih sering melayang tanpa izin akhir-akhir ini. Dan lagi —mimpi buruk. Ya. Setiap malam mimpi demi mimpi yang menggelisahkan bergiliran menghantui tidurnya. Terasa begitu jelas hingga membuatnya lelah dalam tidurnya, dan menguap secepat embun pagi saat dia membuka mata. Sudah berapa lama? Seminggu? Dua minggu? Entahlah, dia tak menghitung. Apa katamu? Karena atmosfer bulan Oktober yang menyeramkan? Oh, simpan pikiranmu. Seorang pemuda tegap seperti Rigel yang mendapatkan ruang bawah tanah dengan koridor batu lembap dan suram sebagai tempat tinggalnya sebagai empat tahun terakhir, kini terkena efek samping dari aura Bulan Oktober yang kau bilang menyeramkan? Peeves bakal lebih dulu jadi Menteri Sihir sebelum itu terjadi—
Okay, STOP! Geez, Rigel, tak sadarkah kau sedang berada di mana dan dengan siapa? Tengok ke sampingmu kalau kau lupa sedang bersama siapa, yang jelas kau-tidak-sendirian. Atau setidaknya ini sudah memasuki waktu yang mereka janjikan untuk bertemu dan berangkat bersama dari Ruang Rekreasi Asrama Slytherin ke Pesta Halloween sebagai satu grup. Grup? Rigel mengangkat alisnya. Setahunya baru ada dia dengan gadis itu di grupnya. Entah apakah itu bisa disebut grup. Tapi, apa menurutmu Rigel akan peduli? Yang penting dia bisa bersenang-senang. Dia butuh bersenang-senang untuk mengalihkan pikirannya dari firasat buruk yang selalu menghantuinya.
"Beautiful as always, Mademoiselle. Tak salah aku memintamu untuk pergi bersamaku ke Pesta Halloween. Bolehkah aku mengharapkan satu dansa setelah pesta selesai?" sebuah sapaan, diikuti oleh seulas senyum memuji, tak lupa kecupan ringan di atas punggung tangan kanan si gadis. "Shall we go now, Miss McFadden?" kali ini, sikunya terulur otomatis. Okay, okay. Dia tahu ini Pesta Halloween, bukannya pesta dansa. Dia sadar dandanan mereka berdua lebih mirip pakaian yang dikenakan para putri dan pangeran saat pesta dibanding kostum Halloween (Termasuk pedang panjang di pinggangnya. Dia jadi rindu berlatih pedang. Sudah berapa lama keahliannya tak diasah?). Salahkan para panitia yang melarang mereka mengenakan kostum hantu, kalau begitu. Well, tapi dia harus bersyukur Mère-nya tidak mengirimkan pakaian yang terlalu aneh. Kemeja plus tunik kulit berwarna cokelat-lithium, celana kulit, ditambah jubah dan pedang, membuatnya benar-benar terlihat seperti pangeran. Yeah. Dia kan Pangeran keluarga Noir.. Oh, dan jangan lupakan tongkat sihirnya. Pikirmu Rigel lupa identitasnya sebagai penyihir? Seorang penyihir tak akan pernah meninggalkan tongkat sihirnya sembarangan.
Walking hand in hand with a magnificent woman, in a magnificent attributes. Semua yang melihat juga mengira mereka akan pergi ke Pesta Dansa. Atau bergosip ria untuk mereka yang menyadari siapa gadis yang berjalan bersamanya ini. Berani taruhan, mereka bergosip tentang dirinya, yang baru kelas empat, pergi dengan anak kelas enam. Comme si il s'inquiète. Belum tentu Merlin Yang Agung sendiri tahu kenapa Rigel berpikir akan mengajak anak perempuan pertama yang tertangkap oleh ekor matanya saat dia membaca pengumuman Pesta Halloween di Papan Pengumuman Slytherin Common Room.
Udara dingin menusuk tulang menyambut mereka begitu melangkahkan kaki di pelataran Kastil. Rigel melirik McFadden yang hanya mengenakan sehelai gaun, tanpa mantel atau apapun. "Tak membawa mantelmu, McFadden? Ini hampir penghujung musim gugur," ujar Rigel. Dia menghentikan langkahnya, dan membuka simpul tali emas pengikat jubahnya, dan menyampirkannya ke sekeliling bahu gadis itu. "Forgive my rudeness of not remind you about this weather before we go," katanya.
Atau mungkin, nasib sudah sengaja mengaturnya agar saat itu hanya melihat McFadden di depannya, dan mengajak gadis itu? Entahlah. Rigel malas memikirkannya. Terlalu banyak hal lain yang juga memerlukan perhatiannya. Saat ini, misalnya. Dimana mereka telah tiba di tempat Pesta, tepatnya beberapa puluh meter dari Dedalu Perkasa. Rigel terkejut sendiri melihat tempat itu sudah berubah begitu drastis. RUmah hantu, tanah pekuburan, tumpukan Jack-O-Lantern, bahkan kelelawar hidup. Okay. Meski panitia terdiri dari anak-anak yang masih bau kencur, patut dia akui dekorasinya bagus.
Alis Rigel sedikit terangkat saat mendengar mereka diharuskan masuk ke dalam Rumah Hantu itu. Terlebih, dilarang menggunakan tongkat sihir. Well, membawa bukan berarti menggunakan, kan? Lagipula tak akan ada yang melihat tongkat sihirnya tersembunyi di dalam kantung khusus di sarung pedangnya. Dia melirik McFadden yang berjalan beriringan dengannya.
"Tanpa tongkat sihir, eh? Yah, kurasa apapun yang ada di dalam sana sudah cukup gentar dengan pedang," ujarnya mengomentari perkataan MC. "Kurasa lebih baik kita masuk sekarang. Kau tak takut hantu, kan?" Rigel mengedip di akhir kalimatnya, sedikit menggoda Seniornya itu. Melangkah beriringan, mereka memasuki Rumah Hantu—
Itu Jane, kan? Pikiran Rigel langsung teralih. Jane. Dengan dia. Rahang Rigel mengeras sesaat. Monsieur Rigel, sebaiknya kau tidak melupakan kau sedang bersama siapa sekarang. Oh, dia tidak lupa kalau dia sedang bersama McFadden, jelas. Rigel gentleman sejati. Dia tak akan mengecewakan siapapun wanita yang sedang bersamanya. Hanya saja—
Merasa sedikit kesepian, boleh, kan?
- Comme si il s'inquiète = Kayak dia peduli saja.
Thread Event Halloween Party, Dedalu Perkasa, 1977. Post ke-1.
Interaksi dengan chara-chara yang disebutkan, credits beberapa quote dan deskripsi pada mereka -mulai males-
Interaksi dengan chara-chara yang disebutkan, credits beberapa quote dan deskripsi pada mereka -mulai males-
Labels: 1977, Dedalu Perkasa, Halloween
Subscribe to:
Posts (Atom)